Diva berlari masuk ke dalam lift sambil menangis. Ia menengadahkan kepala ke atas, ingin mencegah lebih banyak air mata yang keluar. Namun sebanyak apapun ia berusaha, sebanyak itu pula tangisannya terus mengalis membasahi pipi.
Sempat lift berhenti dan segerombolan orang masuk, membuat Diva mundur ke belakang dan menunduk untuk menyembunyikan tangis. Tak lupa ia juga menarik rok dressnya ke bawah agar lebih sopan sebab beberapa pasang mata laki-laki menatap pahanya penuh arti.
Beruntung, gerom-bolan itu tidak turun sampai ke lobi. Mereka berhenti di lantai 3.
Diva mendesah lega, kemudian mencari tisu dari dalam tas. Ia memakainya untuk mengelap pipi yang basah dan juga ingus dari hidung.
Ting!
Lift terbuka, menampakkan lobi apartemen yang luas dan sepi.
Diva melangkah keluar. Ia mengeluarkan ponsel untuk memesan taksi online. Sayangnya, baterai ponsel Diva malah habis di saat yang tidak tepat. Benda pipih tersebut pun mati total.
“Kok mati sih?” ucap Diva dengan suara sumbang khas habis menangis. Ia mengetuk-ngetuk ponsel tapi tetap saja sia-sia. Tidak akan menyala tanpa di charge lebih dulu.
Berinisiatif meminjam ke pos Satpam, ternyata malah kosong tidak ada orang. Terdapat tulisan “sedang keluar sebentar” di kaca jendelanya.
Diva menggigit bibir, alisnya bertaut untuk berpikir apakah ia harus menunggu pak satpam sampai kembali, atau ia pulang jalan kaki saja? Toh nanti pasti Diva menemukan satu taksi di jalan raya, meski jarang sekali ada taksi lewat di jalan tersebut. Lebih-lebih saat malam hari.
Akhirnya Diva memutuskan untuk menunggu. Baru sekitar dua menit, ada dua orang pria keluar dari lift dan bersitatap dengan Diva. Pertama Diva berusaha tidak peduli, akan tetapi dua pria yang berusia sekitar kepala empat tersebut malah menghampiri Diva.
“Nunggu siapa Dek?” tanyanya ramah.
Diva hanya mengangguk kecil sambil tersenyum tipis. Ia mengambil satu langkah mundur untuk menjaga jarak dengan dua pria tersebut.
“Pak Satpam, Om.”
“Emang ada masalah apa?”
“Nggak apa-apa,” jawab Diva singkat.
Keduanya saling menatap satu sama lain, lalu kembali menatap Diva. Hal yang membuat Diva langsung tidak nyaman sebab mereka terus memelototi kaki jenjang Diva.
“Kamu mau berkunjung di salah satu apartemen gedung ini tapi bingung ya? Kalau mau, biar kami antar. Nggak usah takut, kami orang baik kok.”
Mendengar kata kami orang baik, justru mengakibatkan Diva takut. Sebab di dunia ini tidak ada orang baik yang akan mengaku dirinya baik, terlebih dalam situasi seperti ini.
Diva membuka tas slempanya, kemudian mengambil ponsel dan pura-pura mendapat telepon. Setelah beberapa saat kemudian, barulah Diva berbalik pada dua pria tersebut lagi.
“Makasih tawarannya Om, tapi Diva harus pergi sekarang. Kayaknya Diva salah gedung deh. Permisi,” pamit Diva. Dia segera pergi dari sana.
Menuju jalan raya, Diva menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari-cari apakah ada taksi yang akan lewat. Namun sejauh mata memandang, hanya kendaraan-kendaraan pribadi yang ada.
Diva menghela napas, ia pun memutuskan berjalan kaki saja. Nanti jika ada taksi yang lewat, Diva akan mencegatnya. Yang jelas ia harus segera pergi dari sana karena sudut mata Diva menangkap dua pria asing tadi mengawasinya dari jauh.
Beberapa meter Diva berjalan, ia mulai gelisah sebab merasa ada yang mengikuti di belakang. Diva mempercepat langkah dan berharap ada taksi yang lewat. Tapi tidak ada kendaraan umum apapun. Jalanan pun entah bagaimana nampak sedikit lengang seiring waktu yang berjalan dan kian larut.
“Akh!” Diva terpekik karena seseorang menarik tangannya ke belakang. Baru saja a hendak berteriak namun urung karena sosok Samudra lah yang ia lihat.
Membentangkan jaket yang ia bawa, Samudra mengikatkannya melingkar di perut Diva.
“Kenapa pulang duluan?” tanya Samudra. “Bukannya gue udah suruh lo buat nunggu?”
Alis Diva bertautan bingung. Ia hendak membuka mulut tapi dengan cepat Samudra memotongnya.
“Gue kan udah bilang mau antar lo pulang. Ayo!” Tiba-tiba Samudra menarik tangan Diva, kemudian merangkul bahunya, mengajaknya kembali berjalan ke gedung apartemen.
Diva menurut. Kepalanya sedikit menunduk ketika berpapasan dengan dua orang pria yang tadi di pos satpam ia temui. Sementara Samudra berjalan dengan santai, memberikan senyum tipis pada mereka.
Samudra mengajak Diva turun ke basement, di mana banyak sekali kendaraan berjejer. Ia mengeluarkan sebuah kunci mobil dan membawa Diva ke sana. Itu adalah mobil milik tetangganya.
Flashback on ~
Sepeninggal Diva, tanpa pikir panjang Samudra kembali naik ke lantai dua dan masuk ke dalam kamar. Ia menghempaskan tubuh di atas kasur, berusaha memejamkan mata dan melupakan apa yang baru saja terjadi.
“Ini buat Samudra.” Bayangan Diva kembali terngiang, dengan seragam abu-abu dan wajah polos menyerahkan satu kotak bekal yang Samudra tau pasti selalu berisi nasi goreng dan telur ceplok mata sapi.
“Ini buat Samudra.” Kali ini bayangan Diva di lapangan basket yang muncul. Gadis dengan pakaian olah raga yang sedikit kebesaran, menyodorkan air mineral untuknya.
“Butuh bantuan?” Tempat berganti, menampakkan sosok Diva di depan pintu toilet sementara Samudra tengah muntah di wastafel karena tak tahan harus membersihkan seluruh bilik sebagai hukuman terlambat masuk sekolah.
Mengerang, Samudra membuka mata. Ia beringsut bangun dan mengacak rambut hitamnya.
Menatap ke arah jaket yang tersampir di kursi belajarnya, Samudra berdiri dan meraih benda tersebut. Ia pun langsung keluar dari kamar.
“Motor gue,” gumam Samudra, ingat pada kendaraannya yang tidak bisa ia naiki.
Samudra merogoh ponsel yang berada di saku celana, ingin memesan taksi online tapi urung. Memilih untuk segera keluar dari apartemen dan menuju apartemen sebelah.
Setelah membunyikan bel dua kali, pintu tersebut terbuka. Menampakkan sosok pria yang selama beberapa tahun sudah menjadi tetangga baiknya. Ia adalah seorang model ternama dalam negeri. Teuku Arsya, sosok pria tampan yang katanya menjadi idaman suami bagi 90 persen para wanita.
“Bang, boleh pinjam mobil nggak?” tanya Samudra.
Alis sebelah Arsya naik ke atas. “Tumben mau pakai mobil? Biasanya gue pinjami lo nggak mau?”
“Iya, Bang.”
“Tunggu bentar ya.”
Kurang dari lima menit kemudian pria itu keluar, memberikan sebuah kunci mobil pada Samudra. “Kalau mau, pakai aja ke sekolah. Dari pada nggak ada yang pakai itu mobil, sayang banget.”
Samudra hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Arsya selalu baik padanya sejak dulu. Ia sudah seperti kakak Samudra, pun Arsya menganggap Samudra demikian. Ia sering mengaku-ngaku pada teman-temannya yang mampir ke apartemen bahwa dia dan Samudra bersaudara.
Setelah itu Samudra pamit dan segera masuk ke dalam lift. Jaket yang ia bawa Samudra tenteng di bahu. Tepat saat pintu terbuka, Samudra melihat Diva pergi berjalan kaki diikuti dua orang pria. Refleks saja, kaki Samudra mengikuti mereka.
Setelah beberapa meter, Samudra baru bisa menyusul Diva dengan berjalan cepat dan setengah berlari.
Flashback off ~
“Masuk.” Samudra membuka pintu dan mendorong Diva masuk ke dalam.
Lantas ia pun menutup pintu Diva, kemudian mengitari mobil dan masuk ke dalam bangku kemudi. Samudra menghidupkan mesin mobil, memundurkannya dan melajukannya keluar dari basement.
Selama perjalanan, Samudra sekali-sekali melirik ke arah Diva. Ia merasa aneh dengan keheningan yang terjadi dalam mobil. Sebab biasanya Diva terus berbicara tanpa henti dan menceritakan hal-hal random.
Diva sendiri sibuk membuang muka ke luar jendela. Mengamati gedung-gedung besar yang terlihat di hampir sepanjang jalan.
Sebenarnya Diva ingin sekali mengucapkan terima kasih pada Samudra, akan tetapi ia takut jika satu patah kata keluar dari mulut, Samudra akan menjawabnya dengan kalimat dingin. Selain itu, Diva masih ingat ucapan dan tatapan merendahkan Samudra padanya di apartemen tadi yang membuat hatinya sampai sekarang terasa cenut-cenut. Diva tentu tidak ingin membuat hatinya lebih sakit dan menangis lagi.
Mobil mereka akhirnya sampai setelah sekitar setengah jam kemudian. Samudra menghentikan mobil tepat di halaman rumah Diva.
Gluduk gluduk gluduk
Jedaaarr!
Jresshhh
Suara guntur dan petir tiba-tiba saling bersahutan, dan rintik air dari langit mulai turun membasahi bumi. Baik Diva maupun Samudra sama-sama tidak menyangka, sebab tadi sepertinya langit tidak semendung itu untuk menurunkan air hujan.
Diva mengigit bibir. Ia harus segera turun karena sudah sampai. Tapi sebelum itu, rasanya tidak sopan jika Diva tidak mengucapkan terima kasih. Bagaimana pun tadi Samudra sudah menolongnya dari penguntit, ia juga mengantar Diva selamat sampai ke rumah.
“Makasih Samudra,” cicit Diva yang lebih mirip sebuah gumaman. Gadis itu melepas seat belt dan meraih handle pintu, akan tetapi sebelum ia menariknya, Samudra menahan tangan kanan Diva terlebih dahulu.
“Tunggu!”
Diva menoleh heran, lantas menatap tangan Samudra yang masih mencekal lengannya.
Sadar dengan apa yang dilakukan, Samudra langsung melepas cekalannya.
Mereka bertatapan cukup lama. Diva yang menunggu Samudra berbicara sedangkan Samudra yang bingung harus memulai dari mana.
Di atas sana, hujan semakin turun dengan deras. Petir pun menyambar-nyambar tak kalah keras. Seolah memberi tanda bagi para penduduk bumi untuk mendekam saja di dalam rumah dengan selimut tebal sebagai pelindung.
“Kalau nggak ada yang mau diomong, Diva turun dulu. Makasih sekali lagi Samudra.”
Samudra jadi gelagapan. Ia pun langsung berseru.
“D-di luar masih hujan!”
“Nggak apa-apa kok. Diva tinggal lari. Lagian dekat banget kan? Cuma berapa meter.”
“Tu-tunggu!” Samudra mencegah Diva keluar lagi.
Diva menoleh dengan sabar. Lagi, ia menunggu Samudra untuk berbicara.
“Mmm ... maaf,” kata Samudra dengan sedikit terbata. Pipinya bersemu sedikit merah karena dipikir-pikir ini adalah pertama kalinya ia meminta maaf pada seseorang.
Bibir Diva setengah terbuka, ternganga pada apa yang baru saja Samudra katakan.
Maaf katanya? Apa Diva nggak salah dengar? Batin Diva tak percaya.
Karena Diva terus menatap Samudra, Samudra pun berdehem. Tapi tetap gadis itu tidak merespon. Diva masih tenggelam dalam pikirannya sendiri.
“Diva?” panggil Samudra sambil melambaikan tangan di depan wajah gadis itu.
Diva mengerjabkan mata cepat. “I-iya. Diva maafin Samudra.”
“Okay. Thanks.”
Diva tersenyum tipis. Masih dalam euforia tidak percaya, kembali Diva membuka pintu mobil.
“Tunggu!” Samudra pun mencegah Diva pergi lagi, membuat Diva lagi-lagi langsung menoleh.
“Tunggu sebentar,” ulang Samudra. Ia pun membuka pintu mobil dan langsung turun.
“Lho, Samudra mau ke mana?” seru Diva yang diabaikan oleh laki-laki tersebut. Samudra sudah berlari menerobos air hujan untuk membuka pintu bagian belakang.
Tak lama kemudian, ia kembali dan membukakan pintu Diva. Sebuah payung sudah terbuka lebar di tangan Samudra.
“Pakai ini, biar nggak kehujanan,” ucap Samudra. Ia memayungi Diva yang turun dari mobil.
“Kamu basah!” tunjuk Diva, merasa khawatir.
“Nggak apa-apa. Udah sana pulang. Dingin. Nanti lo sakit.”
“Tapi—“
Kalimat Diva terhenti sebab Samudra sudah meraih tangan Diva dan memaksa gadis itu untuk menerima payung darinya. Lalu tanpa berkata apapun lagi, Samudra sudah berlari meninggalkan Diva, masuk kembali ke dalam mobil dengan pakaian yang basah kuyup.
Kaca jendela mobil terbuka, Samudra mengangguk kecil dan memberikan senyum tipis pada Diva. “Gue pulang dulu,” pamitnya setengah berseru.
Diva mengangguk dengan napas tertahan. Merasa bahwa ia sedang bermimpi.
Bagaimana tidak jika Samudra yang sekarang mengatakan kata maaf dan tersenyum tipis padanya?
Setelah mobil Samudra melaju pergi dari halaman rumah Diva, barulah ia menghembuskan napas. Kemudian, bagaikan kembang api yang baru saja disulut dengan api, jantung Diva terasa meledak-ledak.
“Kyaaaaaa!!” teriaknya. Melempar begitu saja payung dari Samudra saking senangnya. Membuat air hujan yang masih deras mengguyur tubuh Diva.
Tapi tak lama kemudian Diva sadar jika payung itu adalah pemberian dari Samudra. Jadi gadis itu berlari dengan cepat dan meraih kembali benda tersebut. Tapi tak lantas juga Diva menghentikan tariannya di bawah payung dan hujan.
Diva bahagia. Sangat!
Sedangkan Bi Inah yang sejak tadi mendengar suara mobil heran karena untuk waktu yang cukup lama tidak ada siapapun yang masuk. Beliau mengecek dari kaca dan menemukan Diva hujan-hujanan. Wanita tersebut pun segera keluar dari rumah dan berteriak-teriak pada Diva untuk segera masuk ke dalam.