Setelah menemani Aaron membeli dua gelas boba—pria itu memang selalu menolak jika hanya dibelikan satu gelas saja—Diva dan Aaron berjalan bersama di trotoar jalan raya. Diva mengurungkan niat untuk memanggil taksi online, alih-alih ia memilih pulang dengan berjalan kaki saja. Lagi pula jaraknya dengan rumah sekarang hanya sekitar 500 meter lagi. Dan enak juga jalan-jalan di malam hari.
“Aaakhhh ... enak banget!” ucap Aaron setelah menyeruput minuman boba di tangan. “Kamu mau? Eiit ... beli sendiri! Bwee!” lanjut Aaron yang membuat Diva mendengus kecil. Kelakuan Aaron bak anak kecil saja.
“Jadi gimana?”
“Apanya?” tanya Diva.
“Tadi jalan sama Bari.”
“Oh, tadi cari kado buat adiknya. Soalnya besok ulang tahun.”
Aaron mengangguk-angguk. “Kamu sama Bari sudah berteman sejak lama?”
“Sejak TK malah. Kita terus satu sekolahan.”
“Oh ya?”
Diva mengangguk sambil tersenyum. “Dia itu definisi sahabat sejati! Selalu ada buat Diva. Di masa depan perempuan yang akan jadi kekasih Bari pasti bahagia lahir batin.”
“Dari mana kamu tau?”
“Diva kan kenal baik Bari, jadi tau lah.”
“Kalau dia sebaik itu, kenapa kamu nggak jatuh cintanya sama dia?”
“Hah?”
“Ya maksudnya kalau kamu sukanya sama si Bari, aku yakin bakal lebih mudah buat kamu dapatin dia.”
“Hahahaha, ya enggak lah. Diva sama Bari itu udah seperti kakak adik. Nggak bakal ada suka-sukaan kayak gitu!”
Mengernyit, Aaron bertanya, “Kakak adik gimana? Kan kalian bukan saudara?”
“Ya emang bukan, tapi hubungan kita itu udah kayak saudara. Diva udah anggap Bari kayak Kakak Diva sendiri, dan Diva yakin Bari juga anggep Diva kayak adik sendiri,” jelas Diva.
“Tapi dari yang aku lihat kayaknya nggak gitu deh. Bari suka sama kamu. Bukan sebagai adik, tapi seorang wanita.”
Diva baru akan membuka mulut menjawab, namun tiba-tiba iris matanya menangkap seseorang yang familiar. Gadis itu memicingkan mata, kemudian refleks bibirnya mengembang senyum. Detik berikutnya ekspresi Diva berubah datar lagi karena ingat ia harusnya masih marah pada sosok lelaki yang saat ini ia lihat di jarak 5 meter dari tempatnya.
Samudra.
“Eh, ada Samudra tuh! Nggak mau nyamperin?” tanya Aaron.
INGIN! Tapi Diva menahan diri. Ia masih sangat kesal jika ingat kejadian di sekolah tadi, yang ternyata selama ini semua bekal makan siang yang diberikan Diva selalu berakhir di perut orang lain. Padahal kan Diva menyiapkannya khusus buat Samudra, tapi malah cowok itu sama sekali tidak menghargainya.
“Pura-pura nggak lihat aja,” balas Diva. Ia mendongakkan dagu untuk berjalan angkuh. Diva ingin sekali ini saja bisa bersikap cuek pada Samudra.
Namun ditengah perjalanannya, Diva terkejut karena suara hantaman keras yang menyita perhatian hampir seluruh orang di sekitar. Diva menoleh cepat dan matanya terbelalak menyaksikan motor besar Samudra ambruk.
Di sampingnya, Samudra menunduk. Kedua tangannya terkepal kuat sementara di depan pria itu seorang wanita berusia 40 tahunan yang memakai pakaian kelewat seksi membentuk tubuh nampak menunjuk-nunjuk Samudra. Wanita itu terlihat marah dan mengeluarkan berbagai macam makian tak pantas di dengar, bahkan Diva sendiri merasa ngeri pada apa yang diucapkan wanita tersebut.
“Anak haram nggak usah ikut campur lo! Sampai kapanpun lo bukan siapa-siapa gue! Kalau lo mau mempermalukan gue, lo bakal tau akibatnya! Bocah sia-lan! Seharusnya lo nggak pernah lahir di dunia ini! Pergi sana! Muak gue lihat muka lo!”
Wanita itu mendorong-dorong tubuh Samudra, mempermalukannya di depan umum.
Rahang Samudra nampak mengeras, tapi ia tidak melakukan apapun. Ia hanya menatap tajam dan penuh benci pada si wanita.
Bisik-bisik orang di sekitar mulai terdengar. Herannya, tidak ada satupun yang mau maju dan melerai mereka. Malah lebih sibuk mengeluarkan ponsel dan mengabadikan momen tersebut.
Sampai-sampai si wanita mengangkat tas tangannya dan mulai memukuli Samudra, Diva langsung berlari menghampiri. Dengan berani ia mendorong wanita tersebut menjauh dari Samudra.
“Tante apa-apaan, sih! Jahat banget sama Samudra!” seru Diva tak senang.
Samudra nampak terkejut dengan keberadaan Diva, akan tetapi ia tidak memprotes saat Diva mengambil helm-nya yang tergeletak di jalan. Tanpa banyak bicara, Diva memakaikan helm tersebut menutupi wajah Samudra.
Melayangkan pandangan ke orang-orang yang mengerubungi, Diva berkata, “Please, kalian ini! Gimana mau maju kalau ngelihat kayak gini aja kalian videoin. Terus apa habis itu? Meng-uploadnya ke media sosial? Awas ya, kalau sampai ada video tersebar tanpa ijin kami, kami akan tuntut kalian ke pengadilan!” peringat Diva, membuat orang-orang langsung mematikan ponselnya.
“Siapa lo ikut campur urusan gue sama dia? Oh tapi bagus sih lo ada di sini. Bawa dia pergi dari sini!” Lagi, si ibu-ibu bermake-up tebal itu mencoba mendorong Samudra tapi Diva dengan cepat mencegahnya.
“Nggak usah kasar dong, Tante! Iya ini Diva bawa Samudra pergi!”
Menoleh, Diva menggenggam tangan Samudra. Melalui kaca helm yang terbuka di bagian mata, gadis itu bisa melihat bagaimana Samudra menatap wanita itu penuh benci, namun entah bagaimana di saat yang sama juga Diva bisa melihat ada rasa sakit yang dalam yang sedang Samudra coba sembunyikan.
“Ayo, pergi,” ajak Diva.
Untuk sejenak, Samudra ganti melayangkan tatapan dingin pada Diva. Tapi tak urung jua ia menurut.
Samudra mendirikan sepeda motornya dan langsung naik ke atas. Ia menyalakan sepeda motornya.
Awalnya Diva hanya diam tidak berniat untuk naik. Tapi lantas Samudra menoleh dan mengindikkan dagu, mengisyaratkan pada Diva agar naik ke boncengannya.
Jika dalam keadaan normal, mungkin Diva akan salah tingkah, lompat-lompat di tempat atau berseru histeris tidak percaya. Namun saat ini situasinya begitu berbeda. Diva bisa menyesuaikan dengan cepat.
Maka dengan gerakan anggun, Diva naik ke atas motor Samudra. Melirik sejenak pada wanita tersebut, motor Samudra sudah melaju cepat ke jalan raya.
***
“Turun!” perintah Samudra pada Diva. Ia berhenti tepat di depan rumah Diva, mengantarkan gadis itu pulang.
Setelah Diva turun dari sepeda motor, Samudra melepas helm yang ia pakai untuk berbicara serius dengan Diva.
“Anggap aja malam ini lo nggak lihat apapun.”
“Kenapa?”
Samudra memicingkan mata sejenak, menatap Diva curiga.
“Atau jangan-jangan dari pulang sekolah tadi lo ngikutin gue? Stalkerin gue?”
“Samudra ngomong apa sih, Diva nggak ngerti! Tadi itu Diva habis jalan sama Bari buat cari kado ulang tahun adiknya. Kita pergi ke toko buku lalu ke toko aksesoris. Nah, karena mendadak Bari dihubungi Mamanya buat cepat pulang, jadi Diva balik sendiri naik taksi. Eh, tau-tau teman Diva muncul dan minta beliin boba. Makanya Diva mampir ke toko boba. Habis itu, karena Diva pikir jarak antara toko boba dengan rumah Diva nggak cukup jauh, Diva pilih jalan kaki aja. Tapi, Diva malah lihat—“
Samudra menghela napas. Tak mengerti lagi betapa polos otak gadis yang sedang dihadapinya ini.
Ia baru akan menyela kalimat Diva tapi Diva sendirilah yang nyatanya mengubah topik.
“—Astaga, Samudra! Ini pipi kamu kegores!” serunya panik. Ingin menyentuh goresan di tulang pipi namun Samudra dengan cepat menepis.
“Gue nggak apa-apa.”
“Tapi itu—“
“Diva! Gue bilang gue nggak apa-apa!” bentak Samudra. Membuat Diva terkejut dan sedikit terlonjak.
Mengacak rambut hitamnya. Samudra mengamati penampilan Diva yang masih terbalut dengan seragam putih abu-abu. Meski tanpa make-up pun, wajah Diva memang terbilang ayu.
“Intinya setelah ini anggap tadi lo nggak lihat apapun! Lupain dan anggap nggak pernah terjadi. Ngerti?!”
Diva diam saja. Tapi iris matanya terus melihat wajah Samudra.
Sungguh saat itu Samudra sangat sulit menebak pikiran Diva.
Keduanya terdiam cukup lama. Dan karena tidak ada satu patah katapun keluar lagi dari bibir Samudra, Diva berkata, “Udah ngomelnya?”
“Gue—“
“Tenang aja. Diva nggak ember kok. Diva tau mana privasi mana yang bukan,” potong Diva cepat. Ia meraih ransel di punggung dan mengambil sebuah hansaplast dari dalam sana. Membuka bungkusnya, Diva berjalan selangkah lebih dekat pada Samudra.
“Mau apa lo?” Refleks saja, Samudra menjauhkan wajahnya pada Diva.
Diva memutar bola mata, kemudian meraih tengkuk Samudra. Dengan gerakan selembut mungkin, Diva menempelkan hansaplast tersebut menutupi luka gores di pipi Samudra.
“Dan asal Samudra tau, nggak semua perempuan sejahat itu.”
Dahi Samudra mengernyit, membuat Diva menjelaskan lebih jauh.
“Kalau ini alasan kenapa selama ini Samudra dingin banget sama perempuan, Samudra salah. Karena nggak semua perempuan sejahat wanita itu.”
Samudra mendengus kecil. Ia memakai helmnya lagi dan menghidupkan sepeda motor. Sebelum ia memutar gas, Samudra sempat berkata, “Lo nggak tau apa-apa tentang hidup gue, jadi jangan sok ambil kesimpulan.”