Chapter 23 - Manajer Tim Basket

1629 Words
Samudra tidak tau terbuat dari apa hati seorang Diva anak kelas IPA 5. Gadis dengan iris mata hitam yang selalu nampak berbinar penuh semangat, hidung yang lumayang tinggi, bibir mungil yang suka berceloteh tiada henti dan mengerucut saat kesal, juga rambut yang lebih suka diurai daripada diikat. Jika Samudra ingat-ingat kembali, tak terhitung sudah berapa puluh kali ia menolak Diva, berkata kasar hingga menyakiti hati Diva sampai sering sekali membuat gadis itu kesal  sebab kelakuannya. Sebenarnya bukan hanya pada Diva, namun pada semua gadis yang mendekatinya. Samudra selalu bersikap kasar dan dingin pada mereka. Membuat kebanyakan dari mereka lantas menyerah, atau hanya menjadi pengagum dari jauh. Wanita normal pasti akan melakukan itu dari pada mengorbankan hati mereka mendengar penolakan dan makian dari mulut Samudra. Tapi Samudra dibuat hilang kata-kata oleh seorang Diva. Gadis itu terus datang tanpa henti atau mau menyerah. Membawakan bekal makanan, membelikan minuman saat latihan basket, pun menemani Samudra dihukum. Diva adalah satu-satunya gadis yang tahan banting. Satu cewek yang menurut Samudra sangat tidak normal. “Buat Samudra.” Diva menyerahkan satu botol air mineral pada lelaki itu. Menyapu pandangan sekitar, Samudra mendapati seluruh anggota tim sedang meminum air mineral dengan merek yang sama seperti yang dibawa oleh Diva. Kentara jika hari ini Diva juga mentraktir semua anggota tim basket. “Nggak perlu, gue udah beli sendiri,” tolak Samudra sambil lalu. Ia mengambil ranselnya yang tergeletak di bangku pemain, membukanya dan menemukan botol air mineralnya hilang. Membuat laki-laki itu mencari-cari. “Rin! Lo ambil air gue di tas?” tanya Samudra sedikit berseru. “Nggak lah! Ini gue minum dari Diva. Hehe... Makasih banyak Diva. Jangan ngambeg-ngambeg lagi ya, karena kalau lo lagi ngambeg, tim basket ini jadi kesulitan,” sambungnya malah cengengesan memuji Diva. Menoleh ke Farrel, dengan cepat pria itu pun menjawab hal yang serupa. “Bukan gue ya. Nih! Botol gue sama kayak punya yang lain!” sambar Farrel. Sekali lagi Samudra menyapukan pandangan ke sekitar di mana para anggota juga meminum dengan botol yang sama persis, jadi tidak ada satu pun yang mengambil air milik Samudra. Lalu, bagaimana botol itu bisa hilang? Diam-diam, Farrel berjalan ke arah Diva,  melirik botol air mineral yang masih dipegang oleh gadis itu, ia berbisik, “Tenang aja, Manajer! Kita semua udah sekongkol buat ngambil airnya Samudra diam-diam tadi. Sekarang, tinggal paksa sedikit lagi aja agar dia mau nerima air dari lo.” Mendengar hal itu, bibir Diva separuh terbuka, tidak percaya apa yang telah dilakukan oleh teman-teman Samudra. Mereka semua ternyata mampu melihat kegigihan Diva dan mencoba untuk sedikit membantunya. “Sana, kasih lagi! Pasti sekarang udah mau. Keringatnya banyak gitu. Dia pasti haus,” ucap Farrel, sedikit mendorong tubuh Diva ke depan. Diva mengikuti saran dari Farrel. Ia kembali mendekati Samudra dan menyodorkan botol air mineral di tangan. “Masih nggak mau? Nanti haus lho! Nggak bisa lanjutin main di babak dua.” Nampak berpikir sejenak, Diva berkata lagi, “Udah nggak usah kebanyakan mikir. Terima aja apa susahnya sih?” Ia pun meraih tangan Samudra dan menyelipkan botol tersebut di sana. Kemudian ia tersenyum dan melanjutkan kalimatnya. “Semangat, Samudra!” “Cieeeee,” seruan dari teman-teman Samudra membuat pipi Diva sedikit memanas. Ia pun berbalik dan langsung meninggalkan tempat tersebut, menuju tempat di mana tim basket putri sedang berada. Apa yang dilakukan oleh Diva disaksikan oleh para anggota tim basket putri. Saat Diva menghampiri mereka, tatapan-tatapan benci penuh iri dengki mulai saling terlihat, melirik sinis pada Diva. “Dasar keganjenan!” “Murahan!” “Sok banget!” Sindiran-sindiran itu terdengar di telinga Diva namun Diva sama sekali tidak peduli. Ia justru tetap memasang senyum lebar dan melambaikan tangan pada mereka. “Udah selesai juga latihannya? Ini Diva beliin air mineral buat kalian. Dan ini Sara, es jeruk yang kamu minta belikan tadi,” kata Diva sambil menyodorkan gelas plastik berisi es jeruk. Sara menerimanya tapi saat itu juga ia langsung menjatuhkan gelas tersebut, membuat isinya berceceran di lantai. “Ups, tangan gue licin. Sorry,” ujar Sara. Ia menendang gelas yang sudah kosong kemudian berkata pada Diva. “Lo beresin tumpahan air ini. Gue nggak mau nanti ada yang kepleset!” Setelah berkata demikian, Sara dan para tim basket putri berbalik meninggalkan Diva. Diva menghela napas, menatap tumpahan air di lantai, berikut dengan botol-botol air yang sudah ia beli. Menghela napas sabar, Diva pergi ke gudang peralatan dan mulai mengepel lantai. Di sisi lain, para tim basket putra yang sudah kembali bertanding mengawasi kejadian tersebut. Terutama Rino dan Farrel. Sambil mendrible bola, mereka mendekati Samudra dan mengobrol. “Baru kali ini gue lihat dengan mata kepala sendiri pembullyan terjadi di sekolah. Perlu lapor ke Ambar nggak sih?” tanya Rino. Ia mengoper bola pada Malik. “Itu lawannya Sara, bro! Ponakan kepala sekolah,” sahut Farrel. “Setau gue, Bapak kepala sekolah kita adil orangnya.” “Iya sih.” Obrolan mereka terpotong karena sibuk dan fokus pada latihan. Hingga setengah jam berlalu dan peluit tanda latihan telah usai berbunyi, anak-anak mulai menepi. Mereka menghampiri Pak Jaka selaku pelatih yang bertanggung jawab pada tim basket putra. Pak Jaka melakukan briefing singkat sebagai finishing, memberikan sedikit evaluasi dan masukan-masukan. “Sampai sini sudah jelas?” tanya Pak Jaka. “Jelas, Pak!” seru semuanya dengan kompak. “Ada pertanyaan lain? Atau mungkin uneg-uneg? Pertandingan sebentar lagi jadi kalian semua harus dalam keadaan yang benar-benar clear. Jika ada sesuatu yang membuat kalian kurang nyaman, mungkin posisi kalian di pertandingan atau apa, boleh kalian berbicara pada saya.” Tidak ada yang berkata apapun, tanda bahwa mereka semua sudah berada di posisi yang tepat. Baik pada pemain utama maupun cadangan. “Pak!” seru Rino yang tiba-tiba mengangkat tangan. “Iya?” “Kayaknya kita butuh manajer, deh! Ya, buat selama pertandingan aja. Gimana?” “Manajer tim?” “Iya, Pak!” “Tapi waktu kalian sudah mepet. Dan siswa terakhir yang menjadi manajer tim yang bergabung malah membuat kekacauan dari pada membantu,” keluh Pak Jaka, ingat pada sosok Diana. “Kalau yang ini saya yakin nggak akan bikin kekacauan Pak. Soalnya udah berhari-hari ini ngurusin kita!” seru Farrel. Yang diangguki oleh anggota yang lain. “Siapa?” “Itu, Pak. Diva. Anak kelas 2 IPA 5. Yang lagi ngepel itu!” tunjuk Rino, membuat Pak Jaka ikut menoleh. Pak Jaka tau Diva. Seorang gadis yang wara-wiri membelikan minuman untuk anggota tim. Meski Pak Jaka tidak selalu mengawasi jalannya latihan, namun sesekali beliau melihat Diva melakukan hal itu. “Oh, saya pikir dia sama seperti Diana. Pasti dia juga suka salah satu di antara kalian, bukan?” Semuanya menahan tawa, diam-diam melirik Samudra. “Gimana kalau adain masa training satu minggu Pak? Lagian kalau nanti pas tanding nggak ada manajer, kita juga repot Pak. Nggak ada yang siapin air minum, handuk, keperluan P3K.” Lagi dan lagi, Pak Jaka mulai memikirkan ulang. Benar juga kata anak-anak ini. Dia tidak mungkin terus mengandalkan Bu Wede yang biasanya ikut menyiapkan semua itu karena beliau baru saja melahirkan. “Ya sudah. Andi!” “Iya Pak,” jawab Andi. “Karena kamu kapten tim, kamu yang bicara sama Diva. Jelaskan juga pekerjaannya sebagai manajer seperti apa.” “Siap, Pak!” “Kalau begitu, latihan sore hari ini cukup sampai di sini. Silakan pulang dan hati-hati di jalan. Bawa motor jangan ngebut! Akhir-akhir ini banyak pengendara ugal-ugalan. Saya ingin kalian tetap sehat sampai hari H nanti.” “Baik, Pak.” Semua menjawab serempak. Pak Jaka pamit pulang terlebih dahulu. Ia mengatakan pada mereka agar jangan lupa membereskan bola. “Diva pasti senang banget,” kekeh Rino di samping Samudra dan Farrel. Farrel ikut tertawa kecil sementara Samudra hanya memutar bola mata. Tak tahu lagi, kenapa pula teman-temannya kini seolah sedang berpihak pada Diva. Semuanya pun bubar dan pulang. Seperti kebiasaan mereka, tidak mau membereskan lapangan kembali, tapi menyerahkannya pada Andi. “Tim kam-pret!” umpat Andi. Ingat tugas, ia pun menghampiri Diva. Menyampaikan pada gadis itu bahwa tim basket putra ingin dia jadi manajer tim. “Beneran ini?” tanya Diva tidak percaya. “Iya, sampai pertandingan selesai. Lo kan tau sebulan lagi kita udah tanding.” “Jangankan satu bulan. Dua bulan, tiga bulan atau setahun Diva mau!” “Tapi lo harus tau tugas-tugasnya dulu Div. Berat loh!” “Emang apa tugasnya?” “Misal, beresin seluruh bola saat kami selesai latihan, beliin air mineral tiap latihan, sediain handuk kecil, cuci seragam tim basket kita, ngurusin akomodasi termasuk nanti transport kita mau diatur bagaimana dan bla .. bla .. bla ..” Diva mendengarkan dengan seksama. Dan saat Andi selesai dengan penjelasannya Diva langsung menyetujui tanpa pikir panjang. “Serius mau?” tanya Andi. “Iya!” angguk Diva. “Tapi harus profesional ya Div. Kita nggak mau manajer kita nggak profesional. Seperti misal: hanya memperhatikan satu member saja, terus bla .. bla .. bla ...” “Diva bisa kok!” jawab Diva kemudian. “Pokoknya, serahin semuanya sama Diva.” “Haha, oke. Lo akan ada dalam masa percobaan selama satu minggu. Kalau kerja lo bagus, Pak Jaka akan acc, tapi kalau nggak kita terpaksa nggak bisa terima lo.” “Oke.” “Terus ... gimana sama ekstrakulikuler lo? Kan lo juga anggota tim basket putri?” tanya Andi. Menghela napas, Diva menjawab dengan tanpa ragu. “Diva bakal keluar. Lagian, Diva diajak latihan Cuma sekali. Habis itu lihat ini, Cuma jadi pesuruh. Mending sekalian jadi manajer aja, bisa lebih dekat sama Samudra. Hehe,” Andi terkekeh, sedikit merasa gemas pada kepolosan seorang Diva. “Ya sudah. Kalau gitu mulai besok, lo jadi manajer tim kita.” Diva mengangguk. Senang sekali. Karena ia tahu mulai besok, jalannya untuk mendekati Samudra bisa lebih mulus. Diva harap seiring berjalannya waktu es batu itu dapat mencair. Semoga, Doa Diva dalam hati.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD