Bayi Yang Kau Bawa Pulang
Amarta terbangun oleh suara tangis bayi yang memecah keheningan malam. Dia mengerutkan kening, merasa bingung karena tidak ada bayi di rumah mereka. Dia segera bangkit dari ranjang, mengenakan jubah tidurnya, dan melangkah keluar kamar menuju sumber suara.
Langkahnya terhenti di ruang tamu ketika melihat Evan, suaminya, tengah berdiri bersama seorang wanita cantik berpakaian rapi. Di gendongannya, seorang bayi mungil yang masih menangis keras.
"Evan, siapa mereka?" tanya Amarta dengan suara bergetar.
Evan terkejut melihat Amarta berdiri di ambang pintu. Matanya sempat melirik Selina, wanita di sampingnya, sebelum akhirnya dengan tenang menjawab, "Ini Selina, dan ini anakku."
"Anakmu?" Suara Amarta meninggi, tubuhnya terasa lemas.
Evan menghela napas seolah sedang menjelaskan sesuatu yang sederhana, "Ya, anakku dengan Selina. Dia tidak bisa mengurus anak ini karena pekerjaannya sebagai wanita karir yang sibuk. Sedangkan kamu, Amarta, kan cuma di rumah. Kamu bisa menjaga bayi ini."
Amarta merasa dunia seolah runtuh di atas kepalanya. Tubuhnya membeku, dan matanya terpaku pada bayi kecil itu yang kini mulai tenang di pelukan Selina. Air mata Amarta mengalir tanpa bisa ditahan.
"Jadi, kamu memintaku untuk membesarkan anak hasil perselingkuhanmu?" tanyanya, suaranya bergetar antara marah dan sedih.
"Amarta, kamu lebih dari mampu untuk ini," Evan melanjutkan, seolah tidak menyadari betapa dalamnya luka yang baru saja ia buat. "Aku melakukan ini untuk kita. Anak ini tidak salah apa-apa, dan aku percaya kamu bisa jadi ibu yang baik."
Selina yang sejak tadi diam hanya tersenyum tipis dan berkata, "Maaf kalau ini merepotkan, Amarta. Tapi Evan bilang kamu memang seorang wanita yang penyayang."
Amarta tidak bisa menahan rasa marahnya lagi. "Kalian gila! Evan, kamu menghancurkan kepercayaanku, pernikahan kita, dan sekarang kamu ingin aku membesarkan bukti pengkhianatanmu? Apa kamu tidak punya hati?"
Evan mendekat, mencoba meraih tangan Amarta, tetapi dia segera mundur. "Aku tidak mau mendengar apa-apa lagi darimu malam ini," katanya sambil menahan tangis. "Keluar dari rumah ini. Kalian berdua!"
Evan tampak tertegun, sementara Selina hanya mengangkat alis, tidak menyangka reaksi Amarta akan sekeras itu.
"Aku memberimu waktu sampai besok pagi untuk mengambil keputusan," Amarta berkata tegas sebelum kembali masuk ke kamar, meninggalkan Evan dan Selina yang terdiam di ruang tamu.
Di balik pintu kamarnya, Amarta akhirnya membiarkan air matanya mengalir deras. Cinta, kepercayaan, dan harga dirinya seolah dihempaskan dalam satu malam.
Pagi harinya, Amarta terbangun dengan perasaan berat. Setelah malam yang panjang dengan air mata, dia memutuskan untuk tetap berusaha kuat. Namun, ketukan di pintu kamar membuatnya terpaksa menghadapi kenyataan yang belum siap dia hadapi.
"Amarta, kita perlu bicara," suara Evan terdengar dari balik pintu.
Dengan enggan, Amarta membuka pintu dan melihat Evan berdiri di sana, wajahnya menunjukkan keseriusan. Di belakangnya, Selina duduk di sofa ruang tamu sambil menimang bayi itu.
"Kita sudah memutuskan," Evan memulai tanpa basa-basi. "Aku dan Selina harus ke Kalimantan untuk kepentingan perusahaan. Proyek ini tidak bisa ditunda, dan aku tahu kamu adalah orang yang paling bisa aku percayai untuk menjaga bayi ini."
Amarta menatapnya dengan penuh rasa tidak percaya. "Percaya? Evan, kamu menghancurkan kepercayaan itu sejak malam tadi. Dan sekarang kamu serius meninggalkan bayi ini di tanganku? Apa kamu benar-benar tidak peduli pada perasaanku?"
"Amarta, aku peduli padamu," jawab Evan dengan nada yang terdengar seperti pembenaran diri. "Tapi ini situasi yang harus kita hadapi. Selina adalah mitra kerjaku, dan kita berdua dibutuhkan di proyek besar ini. Bayi ini tidak punya siapa-siapa selain kita."
Amarta menahan amarahnya. "Dan kamu pikir aku, istrimu, yang seharusnya menanggung semua konsekuensi dari perselingkuhanmu? Apa aku terlihat seperti pengasuh gratis bagimu, Evan?"
Selina yang sedari tadi diam akhirnya ikut angkat bicara. "Amarta, aku tahu ini sulit, tapi aku harap kamu mengerti. Bayi ini tidak bersalah. Lagipula, Evan bilang kamu adalah wanita yang baik hati. Aku yakin kamu bisa melakukannya."
Mendengar ucapan Selina, emosi Amarta meledak. "Kamu tidak tahu apa-apa tentangku, Selina! Kamu punya keberanian untuk berdiri di rumahku dan berbicara seolah-olah aku ini pelayanmu!"
Evan mencoba menenangkan situasi. "Sudah cukup, Amarta. Ini bukan tentang kita, ini tentang anak ini. Aku akan memberikan apa pun yang kamu butuhkan untuk merawatnya. Ini hanya sementara."
"Sementara? Kamu pikir ini hanya soal waktu? Bagaimana dengan luka yang kamu buat? Itu tidak akan sembuh begitu saja!"
Evan menunduk sejenak, lalu berkata dengan tegas, "Amarta, aku tahu ini berat, tapi aku tidak punya pilihan lain. Kamu orang yang paling bisa kupercayai. Kami harus berangkat pagi ini. Bayi ini aman bersamamu. Lagipula, kau kan selalu inginkan seorang anak."
Amarta tidak menjawab. Hatinya hancur berkeping-keping, dengan mudah dan entengnya pria itu berbuat tidak adil kepadanya.
"Kenapa kamu sejahat ini, Evan?" Lirih Amarta.
Dia merasa terjebak dalam situasi yang tidak adil, namun cinta yang masih tersisa di hatinya untuk Evan membuatnya bimbang.
Amarta masih belum berkata sepatah katapun kepada Evan, tapi dia melihat Evan dan Selina pergi meninggalkan rumah, membawa serta koper mereka. Di ruang tamu, bayi kecil itu tertidur dalam keranjang yang diletakkan Evan sebelum pergi.
Amarta duduk di sofa, menatap bayi itu dengan perasaan campur aduk. Di balik tangisannya, ada perasaan iba dan kasih sayang pada makhluk kecil yang tidak tahu apa-apa tentang kesalahan orang tuanya. Namun, ada juga luka yang tak terkatakan, karena dia tahu keputusan ini bukan pilihan, melainkan paksaan.
Tetesan tangis semakin deras mengalir di wajahnya, bingung dan juga putus asa membelit batinnya saat ini.
Hari semakin siang, Amarta duduk di samping keranjang bayi itu. Tangisan kecil sesekali terdengar, memecah kesunyian rumah.
"Kenapa kamu harus datang padaku?" Dengan hati yang berat, Amarta menggendong bayi itu, mencoba menenangkannya meskipun hatinya sendiri penuh luka.
"Apa salahku sampai harus menerima semua ini?" bisiknya, menatap wajah mungil yang mulai tenang di pelukannya.
Amarta mencoba menjalani rutinitas seperti biasa. Namun, setiap langkahnya terasa berat, terutama saat dia harus mengurus bayi itu. Suara telepon yang tiba-tiba berbunyi mengalihkan perhatiannya.
“Amarta,” suara Evan terdengar di ujung sana, terdengar seperti pria yang merasa semua baik-baik saja. “Kami sudah sampai di Kalimantan. Bagaimana keadaan bayi itu? Kamu baik-baik saja, kan?”
Amarta menggigit bibirnya, menahan amarah yang kembali muncul. "Evan, kamu meninggalkan beban yang bukan milikku, lalu bertanya apakah aku baik-baik saja? Apa kamu bahkan mengerti apa yang aku rasakan?"
"Aku mengerti ini berat, Amarta," jawab Evan. "Tapi aku yakin kamu bisa melewati ini. Aku melakukan ini untuk kita semua."
"Untuk kita semua? Apa maksudmu?" Amarta mulai meninggikan suara. "Ini semua untuk kamu dan Selina. Aku hanya alat untuk meringankan hidup kalian!"
“Amarta, aku mohon jangan memperumit situasi ini,” Evan memotong dengan nada tegas. "Aku akan memberimu uang lebih banyak jika itu yang kamu inginkan."
Amarta terdiam. Uang? Evan pikir semuanya bisa diselesaikan dengan uang?
"Ini bukan soal uang, Evan," jawab Amarta dengan suara dingin. "Ini soal harga diri. Kamu sudah merusaknya, dan sekarang kamu ingin aku menerima semua ini tanpa perlawanan? Jangan harap."
Telepon diputus oleh Amarta tanpa memberi Evan kesempatan untuk berbicara lebih jauh. Dia melempar ponsel ke sofa, lalu duduk dengan tubuh gemetar.