Parasit?
Prang!
Ibu mertuaku menjatuhkan sebuah barang yang terbuat dari kaca. Hal ini sontak membuatku terkejut setengah mati. Aku yang masih duduk di dapur sembari mencuci sayuran reflek berdiri, dan melihat kearah ibu mertuaku.
"Kamu itu bisa bekerja tidak si?" tanya Ibu mertuaku dengan intonasi tinggi.
"Lihat itu, membersihkan debu di vas bunga saja tidak becus!" cerca nya.
Matanya melotot ke arahku, mungkin bisa di bilang sampai bola matanya hampir keluar dari tempatnya. Ku telan Saliva ku, sambil memungut vas bunga yang sudah hancur di atas lantai.
Sedangkan mertuaku masih berdiri di ambang pintu dapur, mengatupkan kedua tangannya dan melihatku dengan tatapan yang tajam. Dia masih mengucapkan kalimat-kalimat yang menyakiti hatiku, tapi aku hanya bisa diam dan menerimanya begitu saja.
Tidak ingin membuat masalah makin membesar, aku bangun dari posisi dudukku untuk mencari sapu yang ku letakkan di sudut dinding dapur rumah ini. Aku mulai membersihkan sisa-sisa serpihan beling yang mungkin masih ada di atas lantai.
Tapi, saat ku arahkan sapu itu menuju bawah kaki Ibu mertuaku. Beliau malah mendendangnya hingga sapu itu tepat mengenai wajahku. Ku tahan rasa sakit pada bagian hidungku, yang terkena dari gagang sapu tersebut.
"Kerjakan semuanya! Kalau masih ada yang kotor, ulangi lagi sampai bersih!" Ibu mertuaku menekan telunjuknya di dahiku.
"Iya Ibu," sahutku terbata. Seperti ada rasa yang ingin sekali aku ungkapkan dengan sebuah teriakan, atau air mata.
"Begini kalau cari istri tidak benar, aku menyesal memiliki menantu seperti dirimu!" masih bisa ku dengar Ibu mertuaku, yang mengoceh di ruang tamu.
Ku sapu air mata yang mengalir menggunakan bajuku, aku mengelus perlahan dadaku dan ku tambahkan lagi kesabaran di dalam jiwaku. Aku menarik nafas panjang, yang sudah mulai terasa berat. Kemudian ku kerjakan lagi semua pekerjaan yang tadi sempat ku tinggalkan.
Aku duduk di meja makan sambil terus mencegah bulir di netraku agar tidak tumpah. Saat aku sedang menyandarkan punggung dan kepalaku di kursi. Lagi, mertuaku datang. Dan, kali ini dia membawa setumpuk pakaian kotor miliknya dan putrinya. atau, Kakak dari suamiku.
"Cuci sampai bersih! Kalau tidak bersih, tidak ada jatah makan untukmu hari ini," ucap ibu mertuaku sambil melepaskan semua pakaian kotor itu ke tubuhku.
"Kalau sampai kamu berani mengadukan hal ini pada Julian, aku habisi kamu," Ancaman yang selalu ku dengar dari mulut ibu mertuaku.
Sebenarnya aku merasa sangat lelah, tapi aku tidak bisa menolak permintaan ibu mertuaku. Karena, aku menumpang di rumahnya. Sudah Lima tahun bahtera rumah tanggaku berjalan, tapi suamiku sama sekali tidak ingin memisah rumah atau tinggal berdua dengan ku. Dia selalu mengutamakan ibu dan Kakak perempuannya di banding aku istrinya.
Selama ini yang bisa ku lakukan hanya pasrah, dan berharap suamiku bisa memihak ku dan memikirkan bagaimana perasaanku. Di rumah ini, aku hanya menjadi seperti seorang babu. Semua pekerjaan di rumah, aku yang mengerjakannya semua. Padahal, ada kakak ipar perempuanku yang ikut tinggal di sini juga.
Ku sandarkan punggungku ke dinding di dalam kamar mandi, tidak terasa air mata kembali membasahi pipiku. Suara tangisku bahkan Samapi lirih, karena tenagaku sudah benar-benar terkuras habis. Mungkin jika membutuhkan bukti, kamar mandi ini adalah saksi bisu seringnya air mataku tumpah ruah.
"Hey! Aku meminta mu mencuci pakaian ku bukan melamun," Ibu mertuaku menendang pintu kamar mandi, hingga terdengar suara benturan di dinding.
"Aku sedang melakukannya ibu, ini sedang ku keringkan di mesin pengering pakaian," sahutku.
"Malas sekali, apa-apa pakai mesin! Kamu kira membeli token listrik itu pakai daun!" cerca ibuku yang berkacak pinggang di pintu.
"Tapi---"
"Tidak ada tapi-tapi, dasar pemalas!" Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku. Ibu mertuaku sudah memotongnya terlebih dahulu.
"Cepat selesaikan, awas saja sampai aku kembali dan ini semua belum beres," sambungnya, lalu dia melangkah pergi.
Padahal aku menggunakan mesin cuci jika ku perlukan saja, belum lagi beberapa hari ini aku lebih memilih mencuci menggunakan tangan.
Selain karena ibu mertuaku yang terus menerus protes, ini juga aku lakukan jika aku tidak ada pekerjaan lain. Sialnya, hari ini aku sudah lelah. Karena itu aku memilih jalan pintas dengan menggunakan mesin cuci.
Setelah selesai di keringkan, aku mengangkat satu ember penuh pakaian ke layar belakang rumah ibu mertuaku. Disana aku akan menjemur semua pakaian, yang baru selesai aku cuci. Terik matahari hari ini sangat cerah, kemungkinan pakaian-pakaian ini akan lebih cepat kering.
Ku masukan satu persatu baju ke dalam gantungan, dan ku taruh di atas tali yang membentang di antara kedua sisi. Ku susun rapi semua pakaian tersebut, hingga terjajar di atas tali.
"Panas sekali," aku mengusap keringat yang menetes dari dahiku.
"Sepertinya di kulkas masih ada buah, segar sekali rasanya pasti," ku taruh ember bekas cucian di atas kursi plastik di dekat jemuran.
Setelah selesai membereskan kamar mandi, dan beberapa piring kotor. aku bergegas mandi, karena rasanya tubuhku sudah lengket dan bau asam. Rasanya segar ketika air mulai membasahi seluruh tubuhku, dan mengalir dari ujung rambut hingga ujung kakiku.
Hari ini sepertinya Julian akan pulang sedikit terlambat, karena tadi dia sempat mengirim pesan kalau dia akan lembur. semenjak mengerjakan proyek baru, Julian memang sering pulang larut malam. Dan kami jadi jarang ada waktu untuk mengobrol. Terlebih, ibu mertuaku sering menghasut anaknya untuk tidak bicara padaku.
Setelah mengganti pakaian, aku berjalan ke arah mesin pendingin tepat di sebelah kompor di dapur. Ku buka pintu itu dan hawa dingin mulai terasa di tubuhku. Mataku memindai di semua ruangan yang ada di dalam lemari pendingin, dan ku temukan apa yang sedari menghantui pikiranku.
Aku mengambil pisau, dan ku potong-potong kecil buah-buahan yang tersisa di dalam kulkas. Niatnya aku akan memakannya di teras belakang, sambil memandangi jalanan yang terlihat cukup padat hari ini.
"Segar sekali pasti," Ucapku ketika aku selesai memotong semua buah.
Aku membawa mangkuk menuju teras belakang, dengan segelas air dingin yang tadi ku ambil juga dari dalam kulkas. Tapi, tiba-tiba mangkuk itu di tarik oleh ibu mertuaku dan di letakkan ya di meja dengan kuat.
"Ibu, kenapa?" tanyaku heran.
"Enak sekali kamu ingin memakan buah, ini semua yang membelinya adalah aku!" ucap ibu mertuaku.
"Tapi, itu di beli menggunakan uang suamiku ibu. aku juga berhak memakannya," sahutku protes.
"Dia itu anakku! uangnya itu uangku, bukan uangmu!" Ibuku menunjuk-nunjuk jari telunjuknya ke wajahku.
"Dan kamu, kamu hanya seorang wanita yang tiba-tiba muncul di kehidupan anakku," sambungnya.
"Kamu itu parasit, yang menumpang hidup kepada anakku!"
Clash!
Hatiku seperti tertusuk pisau, kata-kata ibu mertuaku membuat kekuatan yang aku bangun, runtuh begitu saja.
*****