Ini adalah hari terakhir Azka berada dirumah sakit. Sejak dia siuman, tidak lama rumah sakit langsung mengadakan pemeriksaan menyeluruh pada tubuhnya. Hasilnya dinyatakan dia sehat, bahkan bekas operasi pun sampai tidak terlihat. Hal ini menyebabkan kebingunan di antara para dokter di rumah sakit tersebut. Hingga akhirnya mereka berkesimpulan bahwa tubuh Azka memiliki sel-sel yang hyperaktif.
Sejak kejadian tersebut, atasan Azka yang dipanggil Boss meminta Azka untuk beristirahat disini dulu sampai semua penyakitnya benar-benar pulih. Si Boss juga yang membantu Azka untuk urusan ijin di sekolah tempatnya belajar. Ia benar-benar menganggap Azka seperti anaknya sendiri.
Saat ini, Azka sedang berjalan-jalan di taman rumah sakit yang sangat besar dan indah. Siapapun tidak akan menyangka bahwa taman ini berada di dalam rumah sakit. Hal ini dikarenakan bahwa Rumah Sakit ini merupakan rumah sakit paling elit dan yang terbaik yang ada di kota Jakarta. Bahkan biaya perawatannya pun harganya sangat fantastis dan diluar akal sehat. Hanya mereka yang bergolongan bangsawan yang bisa berobat di tempat ini.
Ketika Azka sedang berjalan, Azka melihat Bos nya sedang duduk berbincang dengan seorang gadis dikursi roda.
Azka terus melihat mereka dari kejauhan, dalam hatinya ia bimbang 'Apa aku harus kesana untuk menemuinya, tapi apakah itu terlihat sopan' Azka selama ini selalu hidup dengan norma-norma kesopanan. Ia juga termasuk pria yang pemalu jika bertemu dengan orang yang memiliki jabatan tinggi atau orang tua.
Azka hanya terus melihat mereka dari kejauhan hingga pandangannya tiba-tiba berubah.
Ia bisa melihat organ dalam tubuh wanita itu.
'Apa ini, kenapa dengan mataku'
*Itu adalah kemampuan mata surgawi dan itu tanda bahwa matamu sudah aktif. Kemampuan ini merupakan bonus dari hadiah seni pengobatan kuno*
Azka bingung karena tiba-tiba terdengar suara di kepalanya.
"Siapa ini"
Azka melihat kanan-kirinya, tetapi semua sepi tidak ada orang.
*Aneh, rasanya aku mendengar suara seseorang berbicara padaku*
*Aku memang berbicara padamu*
"Hei, siapa kau! Keluar kau sialann!"
Azka mencoba kembali melihat-lihat sekelilingnya. Ia begitu kesal dengan suara yang terus berbicara padanya namun tidak terlihat wujudnya.
*Kamu itu lugu atau bodoh sich, aku berada di dalam dirimu. Aku bisa mendengar isi hatimu, cukup gunakan kesadaranmu untuk berbicara padaku*
*Apakah kau system yang kemarin? jadi itu nyata. Aku kira semua itu mimpi*
Azka benar-benar bingung dengan keadaan yang dialaminya saat ini.
*Itu semua nyata Ferguso, kamu sekarang memiliki kemampuan mata batin dimana kamu bisa melihat aura makhluk hidup dan organ dalamnya. Karena hal ini terkait dengan kemampuan pengobatan kuno mu*
*Hebat sekali kemampuan ini, apakah aku juga bisa menyembuhkannya*
*Seharusnya kamu bisa menyembuhkannya. Coba kamu gunakan mata surgawi untuk memeriksanya. Cara mengaktifkannya, kamu cukup berkedip tiga kali dengan cepat*
*Baiklah aku akan mencobanya*
Azka lalu mencoba berkedip 3x dengan cepat mengikuti arahan dari suara di dalam dirinya tersebut.
Seketika pandangannya berubah, semua yang dilihatnya hanya berupa aura dan panas tubuh makhluk hidup.
Ia lalu melihat gadis kecil itu, tubuhnya lumpuh karena titik meridian disekitar kakinya terhalang sesuatu. Ini disebabkan parasit yang sudah menggerogoti tubuhnya. Seketika Azka dapat menganalisa tubuh gadis itu, ia seolah-olah dapat mengerti berbagai macam penyakit dan obat-obatan kuno.
Daripada penasaran, Azka lalu berjalan menghampiri bos nya.
"Bos"
Si bos yang mendengar suara memanggilnya, segera menoleh pada sumber tersebut.
"Azka! kenapa kamu disini. Apa kamu sudah benar-benar sehat"
Si Bos langsung berdiri karena melihat Azka berada dihadapannya.
"Aku benar-benar sudah sehat bos"
Jawab Azka sopan.
"Jangan panggil aku bos, panggil aku Kakak saja. Semenjak kamu menyelamatkanku, kamu sudah aku anggap Adik sendiri. Oh ya kenalkan, ini anakku" Sebenarnya si bos ingin menganggap Azka anaknya, tapi ia berfikir lebih baik menjadikannya adik baginya.
Bos lalu meminta anaknya untuk berkenalan dengan Azka.
Azka lalu berkenalan dengan gadis itu.
"Azka"
"Feyna"
Setelah berkenalan, Azka lalu duduk di kursi sebelah bosnya.
"Kakak, kenapa wajahmu begitu muram"
"Ah tidak apa-apa Azka, hanya sedikit banyak pikiran"
Feyna juga melihat wajah ayahnya yang terlihat muram. Jadi ia memutuskan untuk berbicara.
"Ayah begini karenaku, umurku hanya tinggal 3 bulan lagi"
"Feynaaa, jangan bicara sembarangan"
"Untuk apa ditutupi Ayah, memang kenyataannya"
Feyna tidak ingin Ayahnya terus terbebani pikiran karena dirinya. Jadi lebih baik ia ungkapkan semuanya.
"Tidak! Ayah akan berusaha mengobatimu. Bahkan jika harus menukar hidupku"
Si Bos benar-benar tidak ingin kehilangan anak semata wayangnya ini. Jadi apapun akan ia korbankan.
"Mau kemana lagi, kita sudah mengelilingi dunia. Aku juga sudah lelah hidup seperti ini. Berbagai macam obat memasuki tubuhku, aku benar-benar sudah lelah Ayah"
Kini giliran Feyna yang berbicara sambil menutupi wajah dengan kedua tangannya. Ia benar-benar sedih dengan keadaannya saat ini.
"Feyna sayang, kita pasti bisa menemukan rumah sakit yang dapat mengobatimu, Ayah janji"
Si bos langsung memeluk Feyna dan menangis dipelukannya.
"Bos, emm Kakak. Maaf, jika kamu percaya padaku. Sebenarnya saya dapat mengobatimu anakmu" Walau sebenarnya Azka ragu untuk mengatakannya, tapi ia akhirnya membranikan dirinya untuk berkata seperti itu.
Mendengar perkataan Azka membuat mereka berdua melihat Azka dengan tatapan datar. Mereka tidak akan pernah percaya apa yang dikatakan Azka ini. Anak yang masih sangat muda bisa menyembuhkan penyakit yang bahkan banyak dokter sudah angkat tangan karena menyerah.
"Adik, ini bukan waktunya bercanda"
Si Bos melihat Azka dengan sedikit marah.
"Kaki anakmu lumpuh disebabkan parasit yang ada ditubuhnya, mungkin orang sekarang menyebutnya kanker"
"Hahh, kamu bisa mengetahui kalau anak aku terkena kanker"
Padahal si boss tidak pernah memberitahukan tentang penyakit anaknya pada siapapun selain keluarga.
"Ya aku mengetahuinya, beruntungnya kanker tersebut belum menyerang otaknya. Jadi masih ada harapan untuk sembuh"
Si Bos menatap Azka dengan bingung. Apa ia benar-benar harus percaya pada Azka.
"Jika Kakak tidak percaya, sekarang juga saya bisa membantunya berjalan"
"Apa! kamu bisa membuatnya berjalan kembali"
Ayah dan anak itu memandangi Azka dengan tidak percaya.
'Apakah yang dikatakannya benar? tapi tidak ada salahnya untuk mencoba'
Meski si boss sangat sangsi dengan perkataan Azka, tapi tidak ada salahnya untuk mencoba. Mungkin keajaiban akan datang dari Azka.
"Sayang, gimana? apa kamu mau mencobanya"
Ayah Feyna meminta ijin terlebih dahulu kepada anaknya.
"Tidak apa-apa Ayah, saya sudah pasrah. Sekecil apapun harapan, saya akan mencobanya"
Meski Feyna tidak percaya pada Azka, tapi ia memutuskan untuk menyerahkan segalanya. Toh, kini ia sudah tidak punya harapan lagi.
"Baiklah kalau begitu, Azka kamu bisa mencobanya"
"Oke, percayalah padaku"
Azka langsung meminta si bos untuk membantu Feyna agar bisa tiduran telentang dikursi panjang taman.
"Bersiaplah, tidak akan sakit hanya seperti kesemutan saja"
Azka seperti mempunyai ingatan seorang ahli, dia tau apa yang harus dilakukannya sekarang. Semua seolah sudah lama terekam di otaknya.
Azka langsung menotok bagian kaki, paha dan perut. Dia menotok dengan sangat cepat dan sedikit menekannya. Tidak hanya itu, Azka juga mengalirkan energi murni kedalam tubuh Feyna yang membuat Feyna merasakan kenyamanan di dalam tubuhnya. Mata orang biasa tidak akan dapat melihat energi murni ini.
Setelah beberapa menit, Azka menghentikan pengobatannya.
"Bagaimana sekarang"
Azka bertanya kepada Feyna.
Feyna lalu mencoba merasakan perbedaan pada tubuhnya.
Ia merasa seperti kesemutan dikakinya, tapi bedanya sekarang ia bisa merasakan kakinya. Feyna merasa, kalau kakinya sudah bisa merespon keinginannya.
"Aku sekarang bisa merasakan kakiku"
"Hahhh, serius sayang kamu sekarang bisa merasakannya"
"Iya Ayah, aku benar-benar bisa merasakannya. Tapi entah kenapa, kakiku belum mau digerakkan"
Si Bos langsung memandang Azka dengan takjub.
"Saudaraku"
Si Bos ingin bertanya kepada Azka, tetapi Azka langsung memotongnya.
"Ah, tidak usah dilanjutkan. Aku tau, pengobatan kita belum selesai. Sekarang kamu duduk yang tegak, aku akan menotok bagian belakangmu"
Feyna langsung menganggukkan kepalanya.
Azka lalu mulai bersiap untuk menotok bagian belakang tubuhnya.
Dengan gerakan cepat ia mulai menotok kembali.
Kali ini totokannya lebih banyak dibanding sebelumnya. Karena Azka melihat banyak sumbatan di dalam tubuh Feyna berpusat di sumsum belakangnya.
Akhirnya setelah beberapa waktu, totokan Azka berhenti.
"Selesai"