Ketika kendaraan mulai mendekati asrama tempat Azka tinggal, maka untuk jaga-jaga Azka turun agak jauh dari asrama. Karena ia tidak ingin teman-temannya melihat dirinya di antar oleh Tom.
Setelah berpamitan dengan Tom, Azka kemudian berjalan kaki menuju asramanya dengan tas di pundaknya yang berisi document kepemilikan rumah serta kartu bank starry.
Ketika sedang berjalan menuju asrama, Azka melihat kelompok preman di kejauhan. Azka tau para preman ini selalu melakukan pemerasan kepada para siswa asrama. Karena mereka berfikir hampir semua orang yang sekolah di tempat ini adalah orang kaya dan berduit. Bahkan Azka adalah langganan bully mereka semua.
Ketika ia berjalan semakin dekat dengan para preman, para preman itu langsung menatap Azka dengan seringai mengejek.
“Wah, wah. Ada mangsa empuk nih”
“Hahaha, iya benar. Sudah lama kita tidak mengerjainya”
Terdengar obrolan preman yang sampai ke telinga Azka. Memang dari dulu Azka selalu di bully oleh kelompok ini. Selain memeras, mereka juga sering memukuli Azka tanpa sebab. Hal ini mereka lakukan karena mereka tau bahwa Azka hanyalah anak dari desa yang tidak memiliki pelindung.
Para preman ini sebenarnya adalah bawahan dari seorang pelajar di Asrama. Pelajar ini merupakan anak bangsawan kuat di dunia. Sehingga banyak orang yang takut untuk melaporkan perbuatannya. Jadi tidak heran para preman ini semakin merajalela melakukan tindak kejahatan.
“Hello Azka, apa kabar? Sudah lama kami tidak melihatmu”
Seorang preman dengan mulut berbau alcohol langsung berjalan menghampiri Azka dan merangkul pundaknya layaknya teman lama.
“Ya, sudah lama kita tidak melihatmu. Ayo cepat berikan jatah kami, keluarkan uangmu”
Kata preman lainnya.
Kini preman yang berjumlah lima orang ini sudah mengelilingi Azka. Mereka tidak akan segan untuk menghajar Azka jika ia tidak mau menuruti kemauan mereka.
“Maaf, aku tidak punya uang untuk kalian”
Kata Azka tanpa takut. Setelah ia memiliki system di dalam tubuhnya, kepercayaan diri Azka semakin tinggi. Ia tidak akan pernah lagi merasa rendah di hadapan orang lain.
*Sistem, apakah energy ku sudah pulih semua*
Sistem langsung menjawab pertanyaan Azka *Host memiliki energy murni 100%, cukup untuk membunuh 5 ekor gajah* Jelas perkataan host ini membuat Azka sedikit tersenyum.
“Kenapa kau tersenyum hah! Apakah kamu fikir kami ini sedang melawak”
Salah seorang preman berkata sambil mendorong tubuh Azka. Tapi anehnya dorongan ia tidak berpengaruh sedikitpun, malah ia merasa seperti mendorong sebuah bulldozer.
Azka yang didorong tubuhnya hanya melirik preman tersebut.
“Aku kasih dua pilihan, bersujud padaku dan meminta maaf atau aku antar kalian ke pintu neraka. Jancok kalian semua”
Perkataan Azka ini seketika langsung membuat para preman murka.
“Asuu, bosan hidup kau!”
“Habisi dia!”
Tanpa menunggu lama, para preman langsung menyerang Azka dengan penuh emosi. Mereka memukul dan menendang langsung ke tubuh Azka. Sekian lama menjadi preman, tentunya mereka memiliki beladiri jalanan yang lumayan tangguh. Tapi sangat disayangkan mereka bertemu Azka yang kini bukan lagi Azka yang dulu.
Dalam hati Azka mengaktifkan ilmu teratai merah miliknynya dan dalam sekejap pandangan Azka berubah. Ia melihat gerakan para preman terlihat lambat. Sehingga Azka dapat dengan mudah menghindari serangan-serangan tersebut. Tubuhnya bergerak secara alami, bergeser ke kanan dan ke kiri layaknya tanaman yang tertiup angin. Sehingga semua serangan para preman berhasil di hindarinya.
Hal ini menyebabkan para preman yang berjumlah lima orang itu begitu kesal karena serangan mereka tidak ada satupun yang berhasil mengenai tubuh Azka.
“Wedusgombel, apa kau ini keturunan belut. Kenapa tubuhmu sulit sekali kami sentuh”
Pemimpin preman berkata dengan sangat kesal, karena serangannya sama sekali tidak berhasil mengenai tubuh Azka.
Ketika Azka sedang menghindar, diam-diam Tom dan yang lainnya mengawasi Azka dari jauh. Tom ditugaskan untuk mengantar Azka sampai ke tujuan dengan selamat. Jadi semenjak menuruni Azka, ia sebenarnya terus mengawasi Azka dari jauh. Tom merupakan ahli beladiri tingkat master yang sudah dikenal banyak orang. Namun puluhan tahun yang lalu ia memilih untuk mengundurkan diri dari dunia beladiri. Saat ia melihat Azka dihadang para preman, ia ingin segera berlari menyelamatkan Azka, namun nalurinya mengatakan untuk menunggu.
Sebagai seorang master beladiri, mereka memiliki naluri yang sangat peka terhadap kemampuan seseorang. Jadi ia memilih diam dan mengawasi dari jauh.
Sebagai orang yang di akui adik oleh Tuan Zen. Tom tentu saja ingin melihat kemampuan Azka. Karena tidak mungkin Tuan Zen mau mengakui Azka sebagai adik tanpa pertimbangan sama sekali.
Sebenarnya pemikiran Tom ini salah, Tuan Zen mau menerima Azka karena sudah menyelamatkan nyawanya ketika tertimpa besi dan karena sudah berhasil menyembuhkan anaknya.
Dari jauh Tom melihat bahwa gerakan Azka sangat luwes layaknya ahli beladiri yang sudah puluhan tahun menekuni ilmu beladiri. Bahkan Tom merasa bahwa jika ia harus bertarung dengan Azka, kemungkinan ia harus mengeluarkan seluruh kemampuannya.
“Azka ini terlalu misterius. Selain mampu mengobati penyakit Nona Feyna, ia juga ahli beladiri”
Para pengawal yang berada di dekat Tom juga mengakui hal ini. Mereka tidak menyangka bahwa Azka yang terlihat lemah dan pemalu ternyata memiliki kemampuan beladiri yang tinggi.
Para preman kini mulai menjaga jaraknya dengan Azka. Terlihat mereka mulai kelelahan karena deru nafas mereka terdengar keras.
“Kenapa berhenti, Apa kalian sudah menyerah. Baru segini saja sudah kelelahan, dasar Jancokk lemah”
Azka sengaja berkata yang meremehkan kemampuan mereka untuk membuat mereka semakin marah padanya. Karena Azka sengaja memanfaatkan mereka untuk menguji ilmu beladiri teratai merah miliknya.
“Sialan kau!”
Teriak salah satu preman sambil mengeluarkan pisau miliknya. Pisau miliknya adalah pisau komando yang dibagian tajamnya berwarna merah karena efek dari baja api. Sehingga jika bagian tajam itu menyentuh benda akan langsung mengeluarkan api. Untuk itu, pisau tersebut memiliki sarung khusus.
“Pisau Komando! Darimana para bajingann itu memilikinya”
Kata Tom di kejauhan. Ia tau bahwa pisau komando itu adalah milik para bangsawan. Hanya bangsawan dengan tingkat yang tinggi yang dapat memiliki benda itu. Karena hal ini ia perlu melaporkannya kepada Tuan Zen, karena tidak mungkin para preman jalanan memiliki benda seperti itu.
Pisau Komando.
Pisau yang memiliki ketajaman sangat tinggi dengan efek api yang sangat mematikan. Jika terkena kulit akan langsung terbakar dan merusak banyak jaringan tubuh. Dapat menembus armor level tiga dan baja kelas ringan. Pisau ini dulu hanya digunakan para bangsawan elit dalam perang dunia antar galaxy saat invasi spesies asing menyerang bumi.
*Hmm, sepertinya itu pisau yang cukup bagus* Batin Azka.
Karena dengan kemampuan matanya, ia dapat melihat struktur energy yang terkandung di pisau tersebut.
“Ini adalah pisau komando, jika terkena ini kau akan langsung mati”
Kata preman tersebut dengan tatapan membunuh. Harga dirinya terluka karena sikap Azka yang terlihat merendahkannya. Ia tidak lagi peduli apakah Azka akan mati atau tidak.
“Heaaaa, mati kau!”