House of Winterson

1103 Words
(Virenzia POV) "I-inikan kamarku saat menjadi Duchess Winterson?!" Gumamku. Aku terbangun dengan kepala yang sangat pusing. Rasanya ada yang memukul kepalaku kuat-kuat. Aku langsung sadar bahwa ini bukan rumahku. Apa aku kembali ke kehidupan pertamaku?  Aw, tapi kepala ini sakit sekali. Terakhir kali sadar, aku sedang menyamar dan menyaksikan hunting day yang ramai itu. Tapi karena sangat penasaran, aku ikut masuk ke hutan dan mencari tahu bagaimana para peserta berburu. Tak disangka-disangka di sana aku malah tertangkap oleh Duke Leon. Apa gerak-gerikku terlalu mencurigakan ya? Dia lagi, dia lagi. Astaga! Aku ingat betul pria itu bahkan memegang dadaku. Aku menutupi dadaku malu jika mengingatnya. Bahkan dia mendorongku hingga jatuh dan kepalaku terbentur. Kurang ajar sekali dia, jangan-jangan dia sengaja? Tunggu, tapi itu tadi bukan mimpi kan? Saking seringnya aku bermimpi aku jadi tidak bisa membedakan mana mimpi mana kenyataan. Faktanya sekarang aku sedang memakai baju terusan tidur, tapi setelah melihat luka di kepalaku, aku yakin ini bukan mimpi. Tapi kenapa aku bisa ada di sini lagi??  Seseorang tolong jelaskan padaku, lama-lama aku bisa depresi dengan keadaanku ini. "Aaaaaaaakh!!" Aku berteriak sebisaku, kepalaku seolah menahan beban berat sekali. Seorang pelayan tak lama berlari memasuki kamar yang aku tempati itu, "Nona, Anda baik-baik saja?!" Aku tidak mengenal pelayan itu. Dia bilang Nona? Berarti aku bukan Duchess di rumah ini. Apa Duke Winterson membawaku ke sini? Tak lama aku terdiam, pria yang barusan kusebutkan dalam pikiranku muncul. Pelayan itu buru-buru menyingkir dari pintu.  Refleks aku memejamkan mata ketika dia bergerak mendekati tempat tidur. Apa aku akan dimarahi habis-habisan olehnya? "Kalau bukan seorang Dalcom, kau sudah tidur di penjara malam ini." Aku sempat tertegun dan membuka mataku menatapnya yang berdiri di depanku.  "A-apa?" Pangeran Alpha tidak tahu hal ini? Pantas saja aku dibawa ke sini. Apa dia berusaha menyelamatkanku. Duke mulai menatapku dengan sinis.  "Sebenarnya apa yang mau kau lakukan sampai menyamar menjadi laki-laki?!" "Anda jangan salah paham dulu, Saya hanya ingin mengikuti hunting day sekali saja, seumur hidup saya." "Apa ayahmu tahu?" "Tidak! Tidak ada yang tahu soal ini. Jangan beritahu ayahku atau siapapun itu... Kumohon.. Sebagai gantinya saya akan lakukan apapun yang Anda mau." Sungguh sial hidupku, tertangkap basah oleh Duke sialan ini. Bahkan dia tidak minta maaf karena telah memegang dadaku saat itu. "Hah, kau pikir itu sebuah hiburan?" Dia tersenyum sinis mendengar ucapanku itu. Kali ini dia terlihat seperti penjahat yang sedang menculik korban. Bulu kudukku jadi berdiri, sungguh salah jika berurusan dengan pria ini. Aku di sini bagaikan masuk dalam kandang singa. Tidak sempat aku mengelak, dia tiba-tiba tangannya menyentuh leherku. Rupanya dia mau berbisik di telinga kiriku. "Aku tidak memberitahu siapapun asal kau tidak mencoba membatalkan pertunangan." Bersamaan dengan itu, aku menahan nafasku beberapa detik. Apa katanya barusan?  "Jadi mohon kerjasamanya, Virenzia Dalcom." Senyumannya yang tiba-tiba muncul itu seolah mencekik leherku saat itu juga. Dia bahkan menyebut namaku dengan benar. Aku seperti akan mati saat ini juga. Aku tidak percaya, usahaku untuk membatalkan pertunangan ini sia-sia. Kenapa dia tiba-tiba berubah pikiran begini? Tidak jadi membatalkan pertunangan? Jantungku rasanya mau meledak mendengarnya. Seenaknya sekali dia? "Tunggu, Anda sudah berjanji akan membatalkan pertunangan ini." "Kapan aku bilang begitu?" Apa-apaan orang ini? Pasti ada rencana jahat dibalik ini semua. Aku masi ingat bagaimana dia menyodoriku racun dan mencekikku dalam mimpiku. Aku tidak mau mati ditangannya lagi. Kalau sudah begini, apa aku harus menjalankan rencan lain? Sepertinya sulit sekali menghindari pria ini. Kukira aku bisa mengubah nasibku sebagai Duchess Winterson, rupanya tidak ada yang berubah sedikitpun. Apa memang takdirku begini? hanya prosesnya saja yang berubah. Apa aku harus menghindari Pangeran Alpha sekarang? Demi hidupku yang aman dan damai. "Permisi Duke, Marquess Dalcom sudah ada di sini." Soerang pelayan laki-laki mengagetkanku seketika. Ayah ke sini? Astaga! "Duke Winterson, maaf merepotkan Anda." Pria itu bangkit dari duduknya dan bersalaman dengan ayahku yang ternyata sudah muncul di sana. Aku hanya bisa menggigit bibirku saat itu. Rasanya aku mau loncat saja ke jendela. Bagaimana ini?  "Terima kasih telah menolongnya. Saya sendiri tidak tahu dia pergi ke rumah Anda." Aku mengernyitkan dahi mendengar perkataan ayahku itu. Kapan aku pergi menemui Duke Winterson? Jelas-jelas dia yang membawaku ke sini. "Tiba-tiba dia pingsan." Pria itu benar-benar pintar berbohong, rupanya dia mengatakan pada ayahku kalau aku jatuh pingsan saat datang ke rumahnya. Walaupun begitu, aku sedikit lega, setidaknya aku terselamatkan dari ayahku. Pasti ayahku berpikir kalau aku semakin dekat pria ini. Huft. Aku menghela nafas panjang. Apa yang akan kukatakan pada ayahku setelah ini? "Kau sudah baikan? Berterima kasihlah pada Duke Winterson." Ujar ayahku seraya tersenyum lirih. Aku mengangguk pelan dan menunduk pada pria angkuh itu.  "Dan mohon maaf atas ketidaksopanan Zia, yang tiba-tiba datang pada Anda. Saya akan membawanya." Duke hanya tersenyum kecil. Pria itu bisa juga bersikap manis di depan ayahku, licik sekali. Aku berpamitan dengannya tanpa berkata apapun. Keluar dari rumahnya merupakan keinginanku satu-satunya saat ini.  Anehnya, di sepanjang perjalanan Ayah hanya diam saja. Dia duduk di seberangku dalam kereta kuda antiknya itu. Dia bahkan tidak menanyakan kenapa aku tiba-tiba ada di rumah itu. Aku menempelkan kepalaku di jendela sebelahku.  "Ayah ingin kau cepat-cepat menikah dengan Duke Winterson." Sial. "Aku... kangen Ibu." Aku sengaja tidak mengubris perkataan pria yang sudah mulai beruban itu. Andai Ibuku masih hidup, pasti dia tidak akan membiarkan ayahku seenaknya menjodohkan anaknya begini. Kini tatapan Ayah padaku terlihat agak sedih.  "Apa Ayah benar-benar ingin menyerahkanku pada orang itu?" "Orang itu? Ayah kenal betul Duke Winterson, dia juga merupakan murid terbaik Ayah. Kesuksesannya pun sekarang ia peroleh dari usahanya sendiri." Aku terdiam mendengarkan cerita ayahku saat itu. Jadi pria itu dulu murid ayahku. Pasti murid kesayangan. "Orang tuanya meninggal saat dia berusia 8 tahun, saat peristiwa kebakaran terbesar di Barbaria. Itu terjadi di kediaman kita. Ayah pernah bilang padamu bukan jangan terlalu dekat dengan keluarga kerajaan?" Aku terdiam menatap ayah saat itu. Aku baru mendengar cerita ini, tapi rasanya begitu tragis. Pantas saja Ayah berusaha mati-matian agar aku menikah dengan Leon. "Raja Barbaria terdahulu sebelum Raja Dolba,  sengaja membunuh Duke Alfred Winterson. Kau tidak tahu betapa kejamnya kehidupan di istana." "Ke-kenapa Raja membunuhnya?" Aku benar-benar tidak menyangka mendengarnya. Raja membunuh secara terang-terangan? "Karena Duke Alfred waktu itu memimpin pemberontakan terhadap keluarga kerajaan, saat itu ada pertemuan di kediaman kita. Sejak saat itu, Ayah berjanji padanya akan membantunya seumur hidup Ayah." "Benarkah? Apa Ayah ikut pemberontakan itu juga?" "Hampir semua bangsawan ikut. Raja Barbaria sebelumnya adalah orang yang licik, tapi tak lama setelah kematian Duke Alfred, beliau meninggal tiba-tiba." Ayahku menghentikan mulutnya karena rupanya kami sudah memasuki halaman rumah. Aku tercengang dengan semua yang kudengar. Raja sebelumnya sejahat itu kah, sampai terjadi pemberontakan? Duke Winterson pasti sangat membenci keluarga kerajaan. Tunggu, apakah dia tahu kalau Raja yang membunuh orang tuanya?  "Duke Winterson adalah orang yang membangun kembali rumah kita. Kita berhutang banyak padanya. Kau harus mengingatnya." Ayah bangkit dari duduknya dan turun dari kereta bersamaan dengan pintu kereta yang dibukakan oleh  pelayan kami. Sedangkan aku, masih berusaha mencerna apa yang aku dengar tadi. "Tuan?!" Seorang pelayan tiba-tiba mengagetkanku detik itu juga. Ayahku yang tadinya baik-baik saja, sudah terkulai lemas dengan darah di mulutnya! ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD