Royal Lady

1971 Words
Sudah sekitar tiga hari ini aku mendatangi beberapa kolektor buku, akhirnya aku menemukan sebuah buku usang yang kupikir bisa menjawab semua pertanyaanku. Buku itu tidak berjudul, seperti diary seseorang, tapi intinya buku ini menceritakan kisah nyata reinkarnasi seseorang. Apakah perbedaan alur begini bisa terjadi pada kehidupan selanjutnya? Seperti yang kualami sekarang. Di kehidupan sebelumnya ayahku tidak memiliki penyakit serius, bahkan sampai aku menikah dan meninggal, dia masih baik-baik saja. Baru malam itu aku melihat ayah tidak sadarkan diri. Dokter keluarga mengatakan ada yang salah dari tubuh ayah, tetapi dia belum tahu jelas apa itu. Ayahku disarankan beristirahat beberapa waktu ini. Di buku itu tertulis bahwa seseorang bernama Lily kembali hidup di masa lalunya. Lily adalah seorang penjaga kuil suci yang menjadi korban pembantaian, lalu dia kembali ke saat dia masih berusia 18 tahun. Dia berusaha mencari pertolongan dan menjadi istri seorang kaisar untuk mencegah kematiannya. Tetapi sayangnya, ayahnya malah menggantikannya menjadi korban pembantaian. Dalam buku itu setiap dia ingin mengubah takdirnya, ada saja kejadian buruk yang terjadi. Setelah membaca sebagian buku itu, aku takut kalau penyakit ayahku ini terjadi karena ulahku. Untungnya kondisinya sudah membaik. Aku seperti bingung harus melakukan apa sekarang. Aku bahkan tidak menghadiri undangan minum teh yang dihadiri oleh hampir semua putri bangsawan. Aku berpura-pura tidak enak badan, padahal sebenarnya aku sedang tidak mood saja pergi keluar. Banyak hal yang kupikirkan. Tidak hanya satu dua bunga yang kudapat, kamarku sudah seperti taman bunga. Para bangsawan mengirimiku bunga dan mendoakan kesembuhanku, tapi ada satu rangkaian bunga lily putih yang begitu besar dan dihias di dalam sebuah vas hijau yang cantik. Di atasnya terdapat kartu ucapan yang dihias sedemikian rupa sehingga tampak indah. Aku mencium bunga itu, "Bunga lili ternyata seharum ini." Dengan cepat aku mengambil secarik kartu ucapannya, di situ tertulis 'Semoga harimu selalu baik.' Siapa yang mengirimnya? Aku membalik kertas itu dan ternyata dibelakangnya seperti sebuah undangan... Pesta? "Pesta ulang tahun Pangeran?" Aku kemudian menutup mulutku sendiri. Astaga, Pangeran Alpha mengirimiku bunga sebesar ini. Pasti para pelayan tidak tahu kalau bunga ini darinya, tidak ada tulisan pengirimnya siapa, tetapi dengan melihat undangan dibaliknya aku yakin Alpha yang mengirimnya. Di undangan itu tertulis bahwa pestanya berlangsung tepat esok hari. Ada cap kerajaan juga tertera di sana. Apa memang mereka memberi undangan mendadak begini? Atau sebenarnya bunga ini sudah ada dari kemarin di sini, tapi aku saja yang baru melihatnya? Tanpa kusadari aku mencium kertas yang kupegang dan aroma lily menempel di sana. Aku langsung menggelengkan kepalaku. “Jangan tersentuh hanya karena bunga ini, Zia,” pekikku dalam hati. Tapi dia benar-benar mengundangku di pesta ulang tahunnya dan memberiku bunga. Ini membuatku jadi senang, tapi aku tidak boleh terlalu dekat dengan pria itu, apa aku tidak usah datang ya? Aku hanya perlu tetap berpura-pura sakit. Huft aku mulai bimbang. 'Baiklah, sudah kuputuskan untuk tidak datang.' Aku berbicara dengan diriku sendiri. Sebenarnya ingin hadir, lumayan bosan juga hanya di kamarku saja, tapi sepertinya itu ide yang kurang bagus. Aku menyibukkan diriku membaca buku diatas tempat tidur. Ingin sekali aku melupakan undangan itu, tapi aku justru jadi tidak fokus melakukan apapun saat ini. Bahkan aku tidak selera ketika Milli membawakan kue jeruk kesukaan untuk cemilan sore ini. "Milli, jika kau dapat undangan dari istana, tapi kau malas sekali menghadirinya, kau terpaksa hadir atau tidak?" Aku iseng menanyakan kebimbanganku ini pada Milli. "Nona diundang ke pesta ulang tahun Putra Mahkota?!" Milli rupanya sudah tahu apa yang kumaksud. Aku menggigit bibirku pelan. "Astaga! Nona harusnya senang, kabarnya Putra mahkota hanya mengundang orang terdekatnya saja. Kalau saya tentu saja akan hadir, jika tidak sama saja tidak menghormati Yang Mulia, walaupun sebentar, datang saja." Aku mengiyakan jawabannya. Benar juga, kalau aku tidak datang mungkin kesannya tidak sopan. Apakah aku harus datang? Aku masih terdiam. "Permisi Nona, Tuan menyuruh Nona menggantikannya ke istana karena sepertinya Beliau masih belum pulih jadi tidak bisa menghadiri acara ulang tahun Putra Mahkota." Seorang pelayan harian memanggil dari balik pintu. "Kalau begitu saya akan menyiapkan baju Nona dulu ya." Padahal satu patah kata pun tidak keluar dari mulutku, tapi Milli langsung membongkar lemariku. Dia tampak senang sekali aku akan pergi kali ini. Entahlah, ini seperti takdir yang mengharuskanku untuk pergi ke istana. *** "Lady Dalcom?" Baru saja aku meninggalkan kereta yang mengantarku ke istana, seorang wanita cantik menyapaku. Yap, akhirnya aku pergi ke istana atas desakan ayahku dan Milli. Aku memilih untuk tidak tampil senyentrik mungkin, hanya memakai gaun merah muda pucat dengan lengan baju sedikit terbuka tanpa kilauan apapun itu. "Senang bertemu Anda, Lady Norman." Wanita yang ada di hadapanku itu memakai dress cantik berwarna merah tua dengan pernak pernik yang berkilauan. Aku disebelahnya bagaikan si cantik dan si buruk rupa. "Tak disangka, Lady Dalcom juga hadir di sini." Aku hanya mengangguk pelan dengan senyum paksa. "Kudengar Anda sakit, apakah sudah baikan?" "Terima kasih, saya sudah baik-baik saja sekarang." "Syukurlah. Ayo masuk bersama." Dia tiba-tiba menggenggam lenganku dan mengajakku masuk ke istana. Apakah dia mudah akrab dengan semua orang seperti ini? Berry Norman memang wanita yang selalu cantik dan ceria. Kalau aku pria, tentu saja aku sudah jatuh hati pada senyumannya itu. Kami memberikan undangan pada pengawal yang berjaga di dekat sana. Bersamaan dengan terbukanya pintu hall istana, para penjaga menyambut kedatangan kami. "Selamat datang Lady Norman... dan Lady Dalcom." Semua mata langsung tertuju pada kami, hmm Lady Norman tepatnya karena dia sangat cantik malam ini. Aku melepaskan tangannya dengan pelan, "Saya ke sana dulu. Sampai ketemu lagi." Lady Norman mengangguk dan tersenyum padaku. Aku harus jauh-jauh darinya, betapa terlihat buruknya aku jika disampingnya. Aku membalikkan badanku dan ternyata sudah ada Pangeran Alpha di sana. Sejak kapan? "Yang Mulia..." "Senang bisa melihatmu di sini." "Su-suatu kehormatan diundang oleh Yang Mulia. Selamat ulang tahun, Yang Mulia, semoga selalu diberkati." Dia tersenyum melihatku, seperti ada yang lucu, apa aku tampak aneh? Aku merapikan rambutku sedikit. Sepertinya pipiku memerah melihat Alpha yang mengenakan jubah kerajaan berwarna biru tua sambil tersenyum ramah padaku. Baru saja aku mau pamit dengannya, sapu tangan yang kugenggam terjatuh begitu saja. Dia mengambil sapu tangan berwarna hijau gelap dan putih yang bergambarkan bunga dan seekor burung ditengahnya itu. "Apakah ini Lady Dalcom yang membuatnya?" "Ah iya, Yang Mulia." "Ternyata selain pandai memanah, Anda juga hebat membuat seperti ini." "Hanya sekedar hobi, Yang Mulia." "Bolehkah aku menyimpannya?" "A-apa? Tapi itu tidak bagus..." "Kuanggap ini sebagai kado darimu." Aku semakin malu dibuatnya. Jujur, setelah bertemu Alpha moodku jadi bagus. Aku senang sekali bisa melihat senyumnya lagi. "Yang Mulia..." Seorang pengawal mendekati Alpha dan membisikkan sesuatu padanya. Mungkin kubiarkan saja Pangeran Alpha mengambilnya. Sepertinya waktunya aku pamit padanya. "Baiklah Yang Mulia, sekali lagi selamat, sampai ketemu lagi." Tidak lupa aku menundukkan kepalaku padanya. Aku mencari tempat duduk kosong, tapi ternyata sudah dipenuhi wanita bangsawan sebayaku. "Perhatian untuk para tamu undangan, bersamaan dengan ini, Yang Mulia Putra Mahkota akan mengumumkan tiga wanita pilihan kerajaan yang akan menjadi calon pendamping Putra Mahkota." Mendengar itu, semua tamu tampak mulai mendekati mimbar hall saat itu. Aku menyingkirkan diri ke tepi dan mengambil segelas anggur yang ada di sana. "Terima kasih telah hadir di sini. Saya akan menyebutkan tiga nama yang terpilih secara langsung oleh Ratu dan saya sendiri tentunya. Orang itu adalah…” Sayup-sayup terdengar suara yang membuat hatiku tenang. Pangeran Alpha tengah berdiri di depan sana dan aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan. Aku mulai meneguk anggurku, kemudian menghela nafas. "Lady Berry Norman..." Sudah ditebak, nantinya Alpha akan bertunangan dengan Lady Norman. Tidak ada yang bisa mengalahkan keanggunan dan kecantikan wanita itu. Sepertinya tidak ada yang bisa aku lakukan di sini. Aku menoleh ke sekitarku dan tidak ada yang aku kenali di sana. Ketika aku hendak meneguk anggurku lagi, gelasku ditarik menjauh dariku. Seorang pria berambut hitam benar-benar mengejutkanku saat itu. Duke Leon Winterson. Padahal aku tidak mau bertemu dengannya kali ini, tapi tentu saja tidak mungkin dia tidak hadir di acara ini. "Apa kau juga hobi minum anggur?" "Ah, tidak, hanya di acara-acara seperti ini." Aku jadi gelagapan. Kenapa aku selalu tidak menyadari kedatangannya sih? Tiba-tiba dia sudah muncul saja dihadapanku. Tunggu, ada yang berbeda darinya. Kali ini dia mengenakan topeng hitam yang berbeda di wajahnya. Dia sangat cocok dengan topengnya, tapi ini jadi mengingatkanku saat pertama kali dia menciumku. Astaga, kenapa kepikiran itu lagi? Wajahnya yang tegas dan gagah mengenakan topeng itu membuatku terpana. Apa karena aku jarang melihat wajahnya ya? "Dan terakhir… Saya sangat berterima kasih pada Lady Virenzia Dalcom karena telah menyelamatkan saya." Semua orang di sana tiba-tiba berbisik dan menoleh ke arahku. Wajah mereka seakan menatap tidak percaya padaku. Ada apa denganku? Apa karena aku bersama pria bertopeng itu? Tunggu, barusan Pangeran menyebutkan namaku? Otakku seakan masih mencerna apa yang sedang terjadi. Aku menatap Duke Winterson yang berada di sebelahku. Wajahnya juga tampak terkejut. Dia memandang ke arah sumber suara tadi. "Untuk itu, saya memberikan kesempatan pada Lady Dalcom untuk menjadi wanita pilihan kerajaan." Apa?! Tanpa sadar aku menutupi mulutku dengan kedua tanganku. Apa-apaan ini? Aku? Ikut pemilihan wanita kerajaan? Rasanya detik itu juga aku berteriak, tapi semua orang memperhatikanku. Aku menatap Pangeran Alpha dengan wajah bingung, sedangkan dia tersenyum ke arahku. Apa ini maksud dia mengundangku? Tiga wanita kerajaan yang terpilih nantinya, yang pertama akan menjadi permaisuri dan dua lainnya jika Putra mahkota mau, akan menjadi selir. Aku tidak bisa membayangkannya jika aku menjadi salah satu selir. "Waah, bukannya Lady Dalcom sudah punya tunangan?" Tak sengaja terdengar seseorang sedang berbicara dengan tamu lain. Aku melirik Duke Winterson yang masih berada di sebelahku. Dia yang tadinya sempat terkejut, kini sudah bersikap tenang. Dia meneguk semua sisa anggur milikku tadi. Aku bisa merasakan kalau pria itu sedang menahan amarahnya. Astaga! Kenapa malah jadi terang-terangan begini? Aku benar tidak menyangka Alpha bisa melakukan ini. "Terima kasih atas perhatian Anda semua. Silakan menikmati pesta ini." Pangeran Alpha langsung bergegas turun dan perlahan berjalan ke arahku, tapi Ratu yang tadinya sedang duduk di atas sana mengejarnya. Aku bisa melihat bagaimana terkejutnya Sang Ratu saat itu. Bagaimana ini? Sepertinya aku harus cepat-cepat pergi dari sini. "Kau mau kemana?" Tanganku tiba-tiba ditarik Duke Winterson. "Kabur tidak akan menyelesaikan semuanya." Aku melepaskan tanganku darinya. Apa yang harus aku bilang padanya? Aku benar-benar bingung saat ini, tidak bisa berpikir. "Duke Winterson, kebetulan sekali, aku ingin berbicara denganmu. Biarkan Lady Dalcom menjadi wanita kerajaan. Bukankah Anda dan Lady Dalcom tidak jadi bertunangan?" Tanpa kusadari, Pangeran Alpha sudah berada tidak jauh di depanku. Semua orang saat itu tambah heboh mendengar perkataan Alpha barusan. Kacau! Mereka akan mencium cinta segitiga diantara kami, padahal tidak seperti itu. "Pertunangan kami hanya tertunda..." Semua orang termasuk aku, semakin tercengang mendengar jawaban Duke Leon. Dia menjawab dengan santai dan pelan tapi sepertinya banyak yang menguping pembicaraan kami itu. "Astaga, mereka yang kemarin batal bertunangan itu ya?" "Jadi sebenarnya mereka sudah tunangan atau belum?" "Lady Dalcom tiba-tiba tidak sadarkan diri di hari pertunangan mereka." Telingaku menangkap banyak suara saat itu, tapu mataku tetap tertuju pada dua pria yang ada di depanku. Bahaya, pasti jadi gosip setelah ini. "Apa perlu aku ulangi lagi? Lady Dalcom terpilih jadi wanita kerajaan, jadi batalkan pertunangan kalian." "Apa?" Pangeran Alpha melirikku sembari tersenyum, sedangkan aku seperti tidak percaya dengan apa yang kudengar. Aku langsung menatap Duke Winterson yang tiba-tiba terdiam. Apa yang akan dilakukan pria itu? Seorang Putra Mahkota menyuruhnya membatalkan pertunangannya. Terlebiu lagi depan semua orang. Apa jawabannya? Tak lama Duke Winterson mengangguk, tanda tidak mengurangi rasa hormatnya. "Apakah wanita yang sudah memiliki calon suami diperbolehkan menjadi wanita kerajaan?" Semua orang di sana tampak bingung. Duke Winterson tidak sedikitpun melirikku, dia hanya menatap Alpha dengan sorotan matanya yang tajam di balik topengnya itu. Melawan Pangeran akan berakibat buruk baginya, mau tak mau pasti dia pun harus menurutinya kan? "...Karena saya dan Lady Dalcom akan segera menikah." Segera menikah katanya?! Aku hampir jantungan saat itu. Aku langsung teringat detik-detik Duke Winterson menyodorkan racun padaku saat aku menjadi istrinya dulu. Tidak, ini tidak boleh terulang lagi. Mulutku benar-benar bungkam dan tubuhku seakan tidak bisa digerakkan. Terlebih lagi aku merasakan sorotan mata dari para tamu yang seakan menusukku saat itu. Mereka benar-benar terlihat sangat terkejut. Apalagi aku! Astaga, sepertinya hidupku akan menjadi lebih mengerikan setelah ini. Pangeran Alpha perlahan mendekati lawan bicaranya itu dengan wajah mengancam. "Tanyakan pada Lady Dalcom, apakah dia mau menikah dengan Anda." Mungkin semua orang di sana tidak mendengar bisikannya itu, tapi itu jelas sekali terdengar di telingaku. Aku tidak percaya Pangeran Alpha benar-benar membantuku membatalkan pertunangan ini!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD