Duke Winterson

903 Words
(Duke Winterson POV) Tok. Tok. Aku disibukkan dengan kertas-kertas di atas meja kerjaku sampai tidak menghiraukan suara ketukan pintu. Lelaki berambut abu-abu tiba-tiba muncul dari balik pintu itu, tapu tak sedikit pun aku menengoknya, dia pasti Rudoff, asisten pribadiku. Selain Rudoff yang bisa menggangguku hanya kepala pelayan di kediamanku, Kano. "Marquess Dalcom pagi ini mengirimkan berkas perjodohan, Sir Duke." Aku menghentikan tangan kananku yang sedang menggoreskan tinta untuk menandatangani berkas di mejaku. Terlihat setumpuk kertas ditangan pria itu dan dia meletakkannya ke atas mejaku. Awalnya kupikir, pernikahan dengan keluarga Marquess Dalcom? Lelucon apalagi ini, tidak ada habisnya. Orang itu ternyata juga menginginkanku jadi menantunya. "Sudah kubilang berapa kali," aku menahan emosiku, "Kau tahu kan banyak yang harus aku kerjakan, mau apalagi si bodoh itu!" "Kabarnya Lady Dalcom sudah sadarkan diri." "Lalu?" "Setelah menolak pernikahan ini, Anda akan menjadi pria lajang seumur hidup." Aku mengangkat alisku sebelah, apa orang ini mau mati? "Seorang Duke Winterson yang berdarah dingin, istrinya mati ditangannya, bahkan gantung diri, apakah ada lagi yang mau menikahkan putrinya dengan Anda selain Marquess Dalcom?" Aku terganggu dengan perkataannya barusan. Dia sengaja meningkatkan volume suaranya. Memang kenyataannya semua putri bangsawan tidak berani mendekatiku lagi. Rumor mendiam istriku yang gantung diri dan terbunuh di kediamanku sendiri sudah tersebar di seluruh Barbaria dan tetap saja perkataan itu benar-benar... menggangguku. Faktanya bukan aku yang membunuh mereka, mereka sendiri yang mengakhiri hidupnya. "Begitulah rumor tentang Anda yang saya dengar. " lanjutnya. Aku menghela nafas. Betapa kejamnya aku di pikiran mereka, termasuk putri Dalcom. Pasti dia juga tidak mau menikah denganku dengan berpura-pura pingsan. "Paling tidak, kali ini jangan sampai terjadi hal seperti itu lagi. Ini agar tidak ada anggapan seperti itu, setelah itu terserah Anda. Tentunya rumor tersebut bisa merugikan Anda." Aku meliriknya dengan tatapan tajam. Rudoff memang sudah lama menjadi teman sekaligus penasehatku sejak aku ikut militer kerajaan. Kuakui perkataannya ada benarnya juga. Setahuku dia memiliki otak yang cemerlang, handal dan bijaksana dalam mengambil keputusan, tapi tidak untuk yang satu ini menurutku. Sebenarnya apa untungnya sebuah pernikahan? Ayahku saja meninggalkan mendiang ibuku demi perempuan lain dan sekarang menikmati penderitaan diakhir masa hidupnya. Pada akhirnya cuma buang-buang waktu. Aku menggantikan ayahku sebagai Duke sekaramg dan aku hanya ingin fokus pada pekerjaan ini. Kenapa aku harus mengingatnya lagi, dipikir lagi ini membuang sebagian waktuku. Aku bahkan jarang bertemu dengan istriku sebelumnya, mungkin karena itu dia mengakhiri hidupnya sendiri. Wanita bayaran banyak di luar sana. Pernikahan hanyalah untuk status, tidak lebih dari itu. "Keluarlah. " ujarku dengan tegas. Aku tidak ingin bertele-tele, Rudoff pun tahu itu. "Jangan lupa ini bisa jadi kesempatan terakhir Anda untuk menjadi Tuan Tanah resmi di Westla." Rudoff berjalan meninggalkan ruangan tanpa membawa berkas yang dibawanya tadi. Dia tahu betul persyaratan Raja saat menyerahkan tanah di Westla, yaitu memilik seorang Duchess. "Bilang pada Marquess Dalcom aku sibuk. " kataku lagi Dia tidak menghiraukanku. Sialan. Kalau dipikir-pikir perjodohan ini terus menghantuiku, sama dengan pertanyaan 'kapan menikah' yang tak ada habisnya. Apa kuterima saja perjodohan ini sebentar? Biar mereka semua diam. Ah, tapi waktuku jadi terbuang dengan pesta pertunangan, pernikahan, dan lainnya. Masa bodoh dengan penilaian orang-orang padaku. Mereka harusnya melihat usahaku demi Barbaria. Tak sengaja aku melirik arah tumpukan kertas baru itu, mulai memindai sekilas. Aku tertarik mengambil sebuah lukisan potret seorang wanita berambut coklat kehitaman panjang ikal yang tersenyum seperti anak kecil. Berapa umurnya pikirku? 15 tahun? Seingatku usianya hampir sama denganku, 23 tahun. Ini putri Dalcom yang akan dijodohkan denganku? Seperti tidak asing bagiku, kapan aku melihatnya? Dimatanya yang seperti emerald hijau terlihat ketulusan. Sebaiknya aku tidak percaya dengan lukisan. Baru aku ingin menaruh kembali kertas itu sepucuk surat bercap terjatuh ditanganku. Tanpa pikir panjang aku menelaah surat itu. Apa Ini? Ini... semacam pernyataan cinta. Surat ini berisi ungkapan cinta yang tertulis singkat. Anak orang gila itu yang menulis surat untukku? Seketika aku mendapati tulisan 'Tuan Rudoff' dan 'tertanda Virenzia Dalcom'. Aku tertegun, bukan untukku, tapi kenapa dikirim padaku? Rudoff? Si kepala abu-abu itu? k****a lagi dengan seksama. Aku mendapati diriku agak kesal. Sedikit kecewa dan tertawa karena ternyata surat itu bukan tertuju padaku. Jadi putri Dalcom itu memiliki perasaan terhadap Rudoff? Sontak kulempar surat itu. Menarik sekali, tapi kuakui aku masih kesal dengan surat itu. Apa karena aku mengharapkan ada seseorang yang menulis surat seperti itu padaku? Aku tidak suka dengan percintaan tapi memiliki beberapa penggemar membuatku cukup senang. Kuambil lagi surat itu dan membacanya lagi. Berani sekali seorang putri bangsawan membuat surat cinta pada seorang lelaki, yang tak lain adalah asistenku, pikirku. Wanita macam apa dia? Dia pasti juga tidak ingin perjodohan ini kan? Atau dia justru menerima karena terpaksa dan memberiku surat ini untuk memberitahu bahwa dia sebenarnya tidak bersungguh-sungguh padaku? Tunggu, jadi Rudoff dan putri Dalcom itu sudah saling kenal? "Rudoff!" "Apakah Anda berubah pikiran?" Tak lama muncul orang yang membuatku badmood ini. Kulempar surat tadi di hadapannya. "Tolong jelaskan ini?" Dia memungut surat itu dan mulai membukanya dengan santai. Mataku tak lepas darinya. Orang ini benar-benar berulah lagi. "Apa ini? Apakah saya punya penggemar?"  Rudoff tertawa kecil membacanya. Dia mengira ini candaan? "Sejak kapan kau mengenalnya? Kalian sekongkol?" Rudoff tampak mulai serius, mungkin karena melihat wajahku yang mulai kesal. "Saya tidak mengenalnya Tuan, bertemu dengannya saja belum pernah. Saya kira ini surat candaan Tuan.." Aku menaikkan alisku, tidak terlihat kalau Rudoff sedang berbohong kali ini. Lagipula hampir sepanjang hari dia bersamaku. "Atau Lady Dalcom sebelumnya pernah melihat saya dan jatuh hati pada saya?" Wajahnya mulai gembira, dia benar-benar terlalu percaya diri di depanku, aku tidak suka itu. "Keluar!" "Maafkan saya Tuan, tapi mungkin surat ini memiliki makna tersirat." Aku terdiam sebentar mendengar pemikiran Rudoff. Tersirat? Apa maksud surat ini adalah lady Dalcom menolak pernikahan dan ingin aku tahu hal itu? "Tuan pasti paham yang saya pikirkan." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD