Barrack

800 Words
(Virenzia POV) Sudah beberapa kali aku mengunjungi kediaman Duke Winterson, tapi dia selalu tidak ada di tempat. Pelayannya bilang dia sedang bertugas keluar wilayah dan entah kapan kembali. Duh, sepertinya usahaku sia-sia. Yap, menulis surat nyasar dengan sengaja itu adalah ideku, tapi sepertinya pria itu tidak peduli sama sekali. Padahal aku ingin dia marah dan membatalkan pertunangannya denganku. Dia pria yang sangat cuek, bahkan setelah menikah dengannya pun aku tidak pernah melihat wajah telanjangnya. Di sekitar matanya selalu tertutup oleh topeng perak. Sangat misterius dan terkesan jahat. "Nona, sudah sampai." Aku dikagetkan oleh Zoe, kusir kuda yang sedang aku tumpangi. Dia adalah kusir kesayangan, alias yang paling loyal di keluarga kami. Aku lalu tersenyum dan keluar dari kereta kuda dengan mantap. Akhirnya aku ke Barrack juga. Dari dulu aku sangat ingin berlatih di sini. Barrack merupakan tempat berlatihnya pasukan kerajaan, Putra Mahkota sendiri yang mengelolanya. Selama ini aku hanya berlatih memanah dan berkuda di kediamanku sendiri. Itu merupakan kegiatan wajib di keluarga Dalcom. Leluhurku adalah seorang pemimpin pasukan kerajaan, seperti Duke Winterson. Tidak mudah tentunya membujuk ayahku untuk mengizinkanku berlatih di tempat ini. Tentu saja, sepertinya tidak ada wanita di Barrack. Pengecualian untuk keluargaku. Ayahku adalah salah satu pengelola tempat ini secara tidak langsung dan alasan kenapa dia mengijinkanku? 'Aku akan menjalin hubungan baik dengan Duke Winterson, asal dibolehkan latihan di Barrack.' Ya, aku mengatakan hal bodoh itu padanya dan ayahku percaya begitu saja.                                                                                             *** (Duke Winterson POV) "Lady Dalcom mulai hari ini berlatih di sini, Sir." Aku mengangkat wajahku, menatap Hawk, salah satu ksatria kepercayaanku. Aku lalu mengerutkan dahi, mau apa dia di sini? Mencari perhatian? Aku langsung keluar ruangan untuk melihat situasi. Mentang-mentang aku diam saja dengan pertunangan ini, Narius Dalcom seenaknya memberikan kebebasan pada putrinya untuk keluar masuk Barrack pelatihan ini. "Ternyata kemampuan memanah Lady tidak bisa diragukan lagi." Terdengar suara dari kejauhan yang menarik perhatianku. Aku melihat lapangan dari lantai dua bangunan barrack yang terbuat dari kayu itu. Rambut hitam legam yang terpancar oleh sinar matahari terik saat itu membuatku tidak terlalu jelas melihat wajahnya, tapi aku yakin dia adalah Lady Dalcom. Rambut panjangnya itu dikuncir satu dan tersibak oleh angin kemarau. Bajunya yang agak ketat sedikit menggangguku. Dia memakai terusan celana berwarna hijau tua tanpa lengan dan rompi coklat bulu yang tetap memperlihatkan mulusnya lengannya. 'Apa dia secantik itu?' Tanpa sadar aku membatin. Mungkin aku sudah gila. Apa ini karena aku sudah lama tidak bercinta dengan wanita, melihatnya sedikit saja aku jadi terpesona. "Hawk, awasi dia. Aku tidak mau dia sampai membuat masalah." "Baik, Duke." Hawk bergegas menuruni tangga, sedangkan aku masih menikmati pemandangan di bawah sana.                                                                                         *** (Virenzia POV) Hari yang sangat menyenangkan bagiku, latihan di Barrack, bertemu dengan prajurit yang terlatih dan sekarang aku menemukan sebuah danau jernih di sekitar Barrack. Tak disangka, di sekitar tempat pelatihan itu ada danau besar yang airnya sangat jernih. Aku lalu mengikat kudaku di pohon dekat sana. 'Apa ini tempat mereka mandi?' Mungkin saja, pikirku. Segar sekali kalau mandi di sini. Aku melihat sekelilingku dan memastikan tidak ada orang laim. Untuk sampai ke danau ini harus menyusuri hutan yang tidak terlalu rimbun ke arah timur, tidak jauh dari barrack. Hari sudah mulai sore, matahari sudah mulai meredup, aku mulai melepas sepatuku dan mencelupkan kaki di danau tersebut. "Ah, segarnya!" Ternyata pemandangan dari sini sangat indah, langit terbentang luas diatasku. Aku mulai memejamkan mata dan tak sadar hampir setengah badanku sudah tercelup air. Setengah bajuku jadi basah, aku mulai melepas baju luarku dan mencelupkan diri ke danau lagi. Hanya sebentar saja, rencanaku. Mandi setelah latihan adalah hal yang sangat menyegarkan. Air danau yang dingin meluruhkan semua keringatku tadi. Sesekali aku berenang lalu menyenderkan kepala ke tepi danau sambil wajah menengadah ke atas. Namun tiba-tiba mataku membuka lebar mendengar suara hentakan kuda. Suaranya semakin dekat dan dengan paniknya aku langsung bangkit dan berlari ke arah pakaianku. Belum selesai memakai baju, aku dikagetkan dengan sosok pria tinggi dan gagah yang tidak asing olehku. Rambut hitam pendeknya tersisir oleh angin dan terdapat topeng perak yang menutupi setengah wajahnya. Tidak salah lagi. Duke Winterson?! Bahkan aku belum mengancing bajuku dengan benar. Situasi apa ini? Kenapa aku bisa lengah begini? Kenapa ada dia? Ini pertemuan yang tidak terduga. Aku tidak ingat pernah bertemu dengannya di sini. "Apa yang kau lakukan di sini?" Sorot mata tajam itu, tidak salah lagi, aku pernah melihatnya. Saking ketakutannya, aku bergerak mundur saat dia berjalan ke arahku. "Aaah..." Aku lupa sedang berada di pinggir danau dan hampir terjatuh. Untungnya tangan pria itu menangkapku pinggangku dengan cepat dan menahanku agar tidak terjatuh ke air. Refleks aku memegang pundaknya yang kokoh itu. Ketika aku menoleh ke depan, wajah Duke Winterson sudah berada 1 cm denganku. Oh gosh! Aku jadi salah tingkah dan malah mendorongnya. BYURR!! Kali ini aku benar-benar terjatuh ke air. Bersama pria itu. Celaka!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD