(Duke Winterson POV)
Mau tidak mau aku langsung menggapai kudaku setelah Hawk mengatakan kalau Putri Dalcom memasuki hutan kecil yang menuju ke arah perbatasan. Sudah kuduga, dia hanya akan membuat masalah di sini. Setelah jauh menyusuri hutan dan tidak menemukan apapun, aku teringat rumah kecil tempat peristirahatanku dan tanpa sadar aku sudah terpisah dengan Hawk. Sialan! Ini membuang waktuku.
Tak lama, dari kejauhan aku melihat kuda putih yang sedang memakan rumput di dekat pohon yang tak jauh dari rumah kecil yang kumaksud. Apa dia disitu? Gumamku. Aku memacu kudaku sambil menahan marah. Mau apa wanita itu di sana? Kalau terjadi apa-apa aku juga yang kena.
Aku turun dari kuda dan berjalan arah danau yang selalu menjadi tempat mandiku setelah bertarung, tapi aku dikejutkan dengan pemandangan yang mungkin tidak pantas kulihat. Lady Dalcom sedang mengenakan pakaiannya dengan tubuh yang masih basah. Dia mandi di sini? Beraninya dia... tanpa sengaja belahan dadanya terlihat karena dia belum mengancing bajunya dengan benar. Rambut panjangnya pun masih terurai basah.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Ujarku sembari mengalihkan pandangan.
Dia terlihat gemetaran dan kaget. Aku pun sebenarnya terkejut dengan penampilannya saat itu. Kulihat dia semakin dekat ke arah danau dan dengan cepat aku menangkapnya agar dia tidak tercebur. Ringan, dalam sekejap tubuh mungil itu sudah berada di cengkeramanku. Wajahnya yang mulus dan matanya yang coklat keemasan meruntuhkan pertahananku saat itu juga.
Anehnya Dia malah mendorongku dan ketika aku menyadari dia benar-benar akan tercebur, aku tertarik hanyut bersamanya. Kemana pikiranku pergi? Baru kali ini aku melihat wanita sampai aku tidak bisa berpikir beberapa detik. Ada apa denganku?
Aku langsung tersadar dan mengangkat tubuhnya dengan cepat. Dia terdiam seperti orang kebingungan. Bibir kecilnya jadi pucat.
"Kenapa kau selalu menyusahkanku?" Suaraku terdengar marah padahal biasa saja.
"A-aku bisa sendiri."
Dia bersikeras turun dari dekapanku, tapi aku tidak mempedulikannya dan membawanya ke rumah kecil di depan danau itu. Aku mendudukkannya di sofa coklat di dalam rumah dan melempar selimut ke arahnya.
"Keringkan badanmu." Lagi-lagi terdengar seperti sebuah perintah padahal aku tidak bermaksud seperti itu. Aku lalu membuka jubah dan bajuku yang basah saat itu juga. Wanita itu lamgsung mengalihkan pandangan ke arah lain. Dia terlihat malu.
"Maaf, aku tidak bermaksud... tadi..." Dia memecah keheningan.
"Jangan pergi ke sini lagi."
Dia hanya mengangguk, lalu berdiri, "Terina kasih, sepertinya saya harus pergi."
Dia terlihat buru-buru berjalan ke arah pintu tanpa mengeringkan badannya dengan benar. Dia mau pergi begitu saja setelah menyeretku ke air. Tanganku bergerak cepat menangkap lengannya.
"Kau mau pulang dengan basah-basahan seperti ini? Baju dalamanmu pun terlihat seperti itu." Aku sendiri tidak tahu kenapa berkata seperti itu. Apa-apaan ini? Dia jadi langsung menutupi dadanya dengan tangan.
"Ah,tanganmu..." katanya canggung, tapi pandangannya tertuju pada lengan kiriku. Ternyata ada luka gores yang lumayan panjang di sana. Ini tidak seberapa dengan luka tusuk setelah berperang. Tak kusangka dia menyentuh lenganku.
"Bukan apa-apa," dalihku, tapi dia seperti tidak mendengarkanku. Dia mencari kain di rumah itu dan langsung membalutkan sapu tangan ke lenganku dan anehnya aku menurutinya. Biasanya aku marah kalau ada yang berani menyentuhku tanpa seijinku.
Aku terduduk sambil berdecak. Ini tidak sakit tapi kenapa jadi seperti sakit sekali dan lagi-lagi aku terfokus pada belahan dadanya yang masih terlihat itu. Rasa panas tiba-tiba menjalar di tubuhku. Apa wanita ini sengaja?
"Sungguh, saya minta maaf, Anda jadi terseret dan terluka begini." Dia membuka mulutnya lagi.
Aku masih diam dengan ekspresi heran melihat wajahnya yang merasa bersalah itu. Kini pandanganku tertuju pada bibirnya yang sudah memerah. Bibirnya terlihat lezat. Aku sontak tersadar dan bangkit tanpa menyadari topengku terjatuh ke lantai. Aku langsung membelakangi perempuan yang sepertinya sedang mengambil topengku.
Sial! kenapa wanita ini sampai melihatku tanpa topeng. Seumur hidup aku tidak mau ada orang lain melihatku tanpa topeng. Dari kecil aku mengalami krisis kepercayaan diri, makanya aku memilih menyembunyikan mataku dalam sebuah topeng. Kalau dia pria sudah ku bunuh dia!
Terpaksa aku menoleh ke arahnya dan mengambil topeng yang ada di tangannya. Dia terlihat agak terkejut melihat wajahku.
"Kenapa kau memakai topeng? Wajahmu... lebih baik tanpa itu."
Perkataannya sungguh di luar dugaanku. Bibirnya terlihat merekah dan lebih merah saat itu. Apa memang begitu?
"Kau... beraninya kau melihat wajahku, kau harus membayarnya..."
Aku tidak tahan lagi, aku menariknya dan akhirnya bibirku berhasil menempel di bibirnya. Nafasku tidak teratur dan aku mencoba mengatur nafas dan jantungku saat itu juga. Kami pun berbagi nafas.
Tanganku menjalar dari tengkuk ke pinggangnya yang mungil itu. Sungguh sudah lama aku tidak merasakan seperti ini. Dia terlihat kaget dan ingin memberontak tapi kutahan, dan akhirnya dia mengikuti gerak bibirku. Kulitnya begitu halus dan aromanya aku suka, bukan aroma parfum yang menyengat tapi aroma bunga yang lembut.
Aku terhenti sejenak, 'Apa aku sudah gila?'
dia buru-buru mendorongku.
"Ini salah." Katanya sambil memegangi bibirnya,
"Jangan mendekat, saya akan melupakan kejadian hari ini. Jadi... saya harus pergi."
Dia bergegas pergi dan membuatku terdiam. Kutinju meja dekat sana dengan kepalanku.
"Sial! Kenapa aku lepas kendali begini!"