Dark Forest

936 Words
Para pengawal kerajaan langsung berhambur saat terjadi percobaan pembunuhan pada Putra Mahkota itu. Mereka langsung mengamankan pangeran dan beberapa bergerak mengejar si pelaku. Aku pun refleks berlari menuruni tangga balkon karena kulihat ada kuda di bawah sana dan para pengawal menaikinya. Aku bahkan lupa kalau sedang memakai gaun elegan dan sepatu pesta, tapi aku benar-benar tidak bisa membiarkannya pergi. Dengan satu gerakan aku langsung naik ke salah satu kuda dan menungganginya ke arah hutan. Untung saja gaunku lebar sehingga tidak sulit bagiku menaiki kuda. Dari kejauhan aku mendengar seperti ada yang memanggilku, "Lady!" tapi tidak kugubris.  Aku benar-benar harus mengejar pelaku itu, hampir saja busur itu mengenaiku juga. Sialan, pakai panah beracun pula. Gregetnya lagi karena aku melihat orang itu. Aku harus tahu siapa yang menyuruhnya, jangan sampai dia kabur terlalu jauh. Seingatku yang berniat melungsurkan keluarga kerajaan adalah Duke Winterson dan beberapa banhsawan lain termasuk ayahku sendiri, tidak ada pembunuhan seperti ini. Pasti ada pihak lain yang mengincar nyawa Putra Mahkota. Aku mengikuti pergerakan si pelaku secepat mungkin. Ternyata dia juga menunggangi kuda dan tak lama kemudian aku kehilangan jejaknya. Aku lalu memberhentikan kudaku. Barusan aku masih melihatnya, mataku menjadi tidak awas karena malam hari. Aku juga mendengar suara prajurit lain yang memerintahkan agar menyebar.  Aku memilih menunggangi kudaku dengan perlahan menyusuri pohon demi pohon. Aku tahu aku sudah memasuki hutan yang dalam. Sepertinya untuk kembali pun terlalu jauh, jadi aku melanjutkan pencarianku.  "Jelas-jelas tadi dia di sini." batinku di percabangan jalan setapak.  Aku turun untuk melihat lebih jelas ke arah pohon lain dekat sana, seperti ada suara air di dekat sana. Baru sadar akan gaun yang menyulitkanku berjalan menyusuri rumput ilalang di sana, kurogoh tas kecil yang terikat di kuda. Untung ada sebuah pisau kecil di dalamnya. ZRET!! Satu panah tertancap tepat di batang pohon yang berada di sampingku. Sial! refleks aku bersembunyi di balik pohon itu. Aku mulai merobek bagian bawah gaunku tanpa belas kasih sedikitpun dengan pisau yang kupegang. Kini aku seperti memakai gaun pendek yang tidak berantakan. Nafasku pun tidak bisa kuatur lagi.  Tangan kananku yang memegang pisau gemetaran sejadi-jadinya. Aku menenangkan diri sebisa mungkin dengan menghela nafas panjang. Bisa-bisanya aku ikut mengejar orang itu sampai ke tengah hutan begini, padahal sendirinya ketakutan. "Ada perempuan di sekitar sini."  Kudengar ada orang yang berbisik mendekat ke arahku. Aku mulai bersiap untuk menancapkan pisauku pada siapapun yang mendekat. Suara semak-semak itu semakin jelas, lalu tiba-tiba menghilang. Aku tambah risau. Kemana dia? Baru saja aku mau mengintip, muncul seseorang di balik pohon yang aku sandari itu. Sial! Dengan cepat kugerakkan tanganku. JLEB. Aku mengincar leher pria itu, tapi dia sempat menangkap pisauku dengan tangannya, sehingga hanya goresan kecil yang mengenai lehernya, sedangkan dari telapak tangannya mengalir darah segar yang baru kali ini aku lihat begitu merahnya. "Duke Win... terson?!" Betapa kagetnya aku saat melihat siapa pria itu. Kujatuhkan pisau yang ada di tanganku dan tercengang. Aku terduduk lemas dan baru menyadari ada dua mayat pria berpanah di dekat sana. Jadi dia yang membunuh mereka? Dia mengejarku? "Kau mau mati, hah?!" Suaranya menyita perhatianku. Dia terlihat marah dan sangat terganggu. Tentu saja! "Oh tidak, tangan Anda!" Aku langsung berdiri lagi dan memegang tangannya yang kini sudah berwarna merah karena darah. Dia langsung melepaskan tangannya dengan kasar.  "Perempuan gila! Kau pikir kau bisa mengejar penjahat itu sendirian?! Jangan lakukan hal seperti ini lagi." Kini perkataannya menjadi lebih kasar, tapi agak ambigu. Apakah dia mengkhawatirkanku? Tapi aku tidak menyangka dia menolongku di saat seperti ini. Apa Pangeran Alpha yang menyuruhnya? Tidak, ini kan tugasnya. "Cepat kembali! Pelakunya sudah ditemukan." Aku terdiam, seperti sedang dimarahi oleh ayahku. Kenapa Duke kasar ini sih yang menolongku? Tapi aku sudah melukainya, celaka, bisa-bisa setelah ini aku dimakannya hidup-hidup. Darah masih mengucur di tangannya, walaupun tidak sebanyak tadi. Aku langsung mengambil tangannya saat dia hendak pergi. "Tunggu. Tangan Anda.." Dengan tangan satunya aku mengambil potongan gaunku yang masih ada di sekitar sana. Kulilitkan kain itu ke luka di telapak tangannya kuat-kuat dan untungnya dia menurutiku. "Paling tidak, ini bisa memberhentikan darahnya." Kataku lagi, "Sekali lagi maafkan saya..." Kali ini aku sangat merasa bersalah padanya. Kesal, tapi aku sungguh keterlaluan sampai melukainya. Kenapa sih aku tidak lihat-lihat dulu sebelum melakukan aksi tadi, sesalku. Dia diam saja tak menjawabku, tapi sorot matanya yang seperti melihat mangsa itu menggangguku. Aku jadi teringat ketika dia menciumku. Di saat seperti ini kenapa aku memikirkannya lagi?? Wajahku jadi memerah. Untungnya dia tidak peduli dan bergegas menaiki kudanya. Baru saja aku akan menaiki kuda lain, dia memanggilku. "Tinggalkan kuda itu, kalau kau menghilang lagi aku yang susah." Perkataannya itu benar-benar membuatku kesal. Kenapa dia tidak bilang saja, 'naiklah bersamaku.' Dasar! Akhirnya aku berjalan ke arahnya, jujur aku masih takut juga karena kejadian tadi. Kalau-kalau masih ada penjahat di sekitar sana. Mau tidak mau aku naik kuda bersamanya.  Dia membantuku menaiki kudanya. Celakanya ini terlalu dekat. Jarakku dengannya. Aku bisa merasakan tubuhnya di punggungku. Ciuman itu teringat lagi! Ini sangat menggangguku. Lengannya yang besar melingkari di atasku. Ini membuat jantungku berdegup kencang. Bahkan aku bisa merasakan nafasnya di rambutku. Tapi sepertinya dia tenang-tenang saja. Dia memacu kuda seperti hanya dia sendiri yang menungganginya. Begitu cepat. Tidak jarang aku memejamkan mataku sambil memegangi pelana kuda. Hampir sampai ke istana, tiba-tiba kuda yang kami tunggangi berhenti mendadak dan menaikkan kaki depannya ke atas. Sebuah panah tertancap di jalan setapak hutan itu dan dia menghindarinya.  Aku sudah hampir terjatuh sampai Ketika Duke Winterson menarik badanku. Aku tersentak ke tubuhnya, lebih tepatnya punggungku menempel di dadanya. Degup jantung miliknya terasa jelas. Mukaku memerah lagi. Aku tidak sanggup melihat wajahnya saat ini.  "Kita hampir sampai." Dia seperti berbisik di telingaku dan tanpa kusadari wajahnya sudah berada diatas bahuku kananku. Dengan gesit dia mengendalikan kudanya lagi dan meneruskan perjalanan sambil terus memegangi badanku. Sepertinya dia takut aku terjatuh. Kuda pun terus memacu seiring dengan jantungku yang semakin kencang berdegup.    ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD