Rei memperhatikan Disha yang sibuk mengambilkan minuman untuk mereka berdua. Ucapan Mita tentang Arbi yang mencium Disha masih berputar-putar di kepalanya. Dari ekspresi panik Disha, Rei tahu kalau itu memang terjadi tapi entah kapan. Selama ini, Arbi dan Disha tidak menunjukkan kedekatan yang lebih, pertengkaran kecil mereka yang justru setiap hari terlihat. Matanya menyapu pandangan ke beberapa orang di sekitar, berhenti pada Disha yang berjalan menghampiri dengan dua gelas jus alpukat—mungkin buatannya sendiri karena tidak ada menu jus Alpukat untuk Party malam ini, seingatnya.
"Raga yang bikin," ujar Disha meletakkan gelas untuk Rei lalu duduk di depan laki-laki itu.
"Ah, saya belum minta maaf sama Kakakmu soal saya yang mukul kemarin itu." Rei mengusap tengkuknya, canggung.
"Santai aja, gue tahu lo semua kaget." Rei menoleh karena tepukan di pundaknya. Raga menarik kursi di samping Rei lalu duduk.
"Tapi lumayan, loh, memarnya belum hilang gara-gara lo sama Mita." Sahut Disha yang asik dengan ponselnya.
Disha bangkit, meninggalkan Rei dan Raga yang asik membicarakan resep masakan—kabar gembira karena Kakaknya sekarang sudah jago masak. Disha pergi ke toilet, pikirannya masih berputar pada Henry yang sejak tadi belum juga keluar dari Cafe. Disha tidak pernah tahu kalau Henry mengenal kakaknya, atau mungkin salah satu teman mantan pacarnya itu mengenal Raga dan datang ke sini karena diundang. Entahlah, yang jelas Disha tidak bisa duduk nyaman. Setelah membasuh wajah dan mengeringkannya dengan tissue, Disha keluar. Langkahnya belum meninggalkan pintu saat orang yang sejak tadi berlarian di kepalanya benar-benar muncul. Senyum ramah yang terkesan menjijikkan di mata Disha itu membuatnya mundur satu langkah untuk memberi cukup jarak. Ia melempar tatapan tajam pada Henry yang berdiri di depannya.
"Kamu nggak lupa sama janji ketemuan kita, kan?" Henry bertanya, tapi terdengar mirip ancaman oleh Disha.
"Lo pikir gue bakal nangis mohon-mohon supaya lo nggak ganggu gue? Sorry, Hen, cewek cantik pujaan lo udah jauh berubah." Disha merapatkan jarak diantara dirinya dan Henry. Tinggi mereka sama dan Disha tidak ragu untuk menusuk laki-laki itu dengan tatapan membunuhnya.
"Kamu udah nggak malu-malu lagi, ya? Lebih agresif sekarang." Bisik Henry tepat di telinga Disha.
Tangannya mengepal erat, buku jarinya memutih, susah payah ia menahan emosinya agar tidak meledak dan melepaskan bogem mentah ke rahang laki-laki b******k di depannya itu.
"Aku bukan lagi anjing peliharaan kamu, jadi besok, aku harap kamu nggak cari masalah. Karena sekali anjing lepas dari kandangnya, dia nggak akan biarain lawannya pergi tanpa luka." Disha balas berbisik, mendorong bahu Henry lalu meninggalkan laki-laki itu tanpa menunggu reaksinya.
***
Tubuh itu bersandar pada sandaran kursi, kaki kanannya mendorong kursi sampai berputar sementara matanya terpejam. Kepalanya masih panas karena kejadian semalam, terutama saat Henry mengingatkannya pada ucapan laki-lak itu yang meminta untuk bertemu di tanggal 25 malam. Disha kenal laki-laki b******n itu sejak bertahun-tahun lalu dan dia sangat hafal apa yang akan dilakukan Henry kalau sakit hatinya belum sembuh. Laki-laki b******n itu egois, possesif, pendendam dan sok jagoan. Serius, Disha masih ingat saat Henry hampir menghajar teman baik Disha tapi ternyata laki-laki itu takut karena teman baik Disha itu Kick Boxer di Sasana yang sama dengan Disha.
Tok tok!
Disha tersentak, hampir saja terjungkal mengetahui Hanum yang mengetuk mejanya. Sugar Daddy menyebalkan itu meletakkan harddisk miliknya.
"Folder HN, File nomor delapan. Kamu periksa layoutnya, setelah itu cetak. Saya harus meeting sama Dewa dan Pak Risaq." Hanya itu lalu Hanum keluar dari ruangan.
Disha mengepalkan tangan, meninju udara karena gemas. Sejak pertemuan pertamanya dengan Hanum di kantor Jogja, Disha sudah dibuat kesal karena sikap Hanum, contohnya seperti yang barusan. Matanya melirik jam digital di sudut mejanya, lima menit lagi pukul tujuh malam tepat. Helaan nafas panjang mengawali pekerjaan tambahannya sebelum pulang.
***
Mita sibuk mengamati layar televisi yang sedang menayangkan berita politik dari dalam dan luar negeri, ponsel yang sejak tadi ada disebelahnya terus berbunyi. Seolah tuli, dia tak menghiraukan sama sekali notifikasi yang masuk. Sesekali dia melirik layar ponsel yang menyala kemudian redup lagi, berdecak dan kembali memfokuskan mata pada layar televisi. Tak sengaja dia menatap jam digital yang selalu ada di pojok kiri bawah channel salah satu televisi swasta. 9 lewat 18 menit. Sudah hampir setengah sepuluh dan dia baru ingat kalau dia belum makan apapun.
Mita berguling, merubah posisinya dari terlentang menjadi tengkurap, menyembunyikan kepalanya dalam tumpukan bantal di atas ranjang. Beberapa menit diam dalam posisi seperti itu berharap kantuk bisa menyapa tapi nihil, dia adalah manusia yang tak akan bisa tidur dalam kondisi perut kosong.
Bunyi ketukan pintu membuat kepalanya terangkat. Dia memutar bola matanya sebelum benar-benar turun dari ranjang demi membukakan pintu bagi seseorang yang sudah sangat dia ketahui siapa. Dua kali dia memutar anak kunci dan pintu rumahnya terbuka. Mita berdiri diam, dengan pandangan datar yang dia tujukan pada tetangga bawah rumahnya, Rei Yamashita. Tetangga yang tak pernah sungkan mengganggunya bahkan di tengah malam maupun hujan badai disertai petir.
"Mit, saya minta susu."
Perlahan namun pasti, raut datar itu berubah. Mata dan mulutnya melebar perlahan tanpa melepas tatapannya dari sosok Rei.
"Mita, saya minta sus—
PLAK!
Sebuah tamparan keras memenggal ucapan Rei. "Kamu kok jadi kurang ajar banget toh!"
"Kok saya ditampar?" Rei bertanya dengan salah satu tangan menyentuh pipinya yang terasa panas akibat tamparan perempuan di hadapannya.
"Kemarin lancang lihat aku pakai tanktop sama hotpants! Sekarang malam-malam datang ke rumahku bilang minta s**u! Belajar mata keranjang kamu sekarang?" Suara menggelegar Mita memenuhi gendang telinga Rei.
Sesaat lelaki Jepang itu terdiam demi mencerna amukan Mita hingga akhirnya wajahnya berubah merah padam lalu menggeleng cepat berkali-kali.
"Bukan! Bukan gitu maksud saya, Mit. Saya beneran minta s**u kental manis buat jadi selai roti tawar. Bukan mau minta s**u ya—
Ucapan Rei lagi-lagi terpotong karena Mita lebih dulu membungkam mulut Rei dengan telapak tangannya, "udah! Nggak usah diterusin! Bego banget, sih, heran aku!!" Teriak Mita pada Rei yang sekarang sudah menempel pada dinding karena didorong kasar oleh Mita.
"Uhuukk!!" Mita dan Rei spontan menoleh ke arah tangga ketika mendengar suara seseorang dari sana.
"Jangan make out di depan pintu. Kayak nggak punya kasur aja," ucap manusia yang tak lain adalah Raga.
Sadar dengan ucapan sarkastik Raga, Mita bergegas mundur dan melepaskan tangannya dari mulut Rei. "Tai lah! Siapa juga yang make out sama dia!" Mita menghardik Raga, menarik asal kaos Rei dan membawa bule Jepang itu masuk ke dalam rumahnya.
Baru saja hendak menutup pintu suara Raga terdengar lagi, "janga lupa dikunci biar nggak diganggu maling! Jangan berisik gue mau tidur!" dan Mita membatalkan niatnya untuk menutup pintu.
"Koe iso meneng ora?!" Jerit perempuan itu pada Raga yang malah tergelak hebat seraya menutup pintu rumah kontrakan Disha.
Raga sudah hilang, kini tinggal menyelesaikan urusannya dengan si bule Jepang. Mita melangkah lebih dulu menuju dapur dan Rei mengekor di belakangnya. Dia membuka kulkas kecilnya dan berdecak karena tak menemukan kaleng s**u kental manis di dalam kulkasnya. Bahkan dia tak menemukan apapun selain botol air dingin, beberapa mangkuk kosong dan bungkus makanan ringan di sana.
"Udah habis. Aku lupa tadi pagi udah kubuang kalengnya," jelas Mita pada Rei.
"Lagi krisis aku, belum belanja, belum masak, belum makan—"
"Kamu belum makan?" Mita menggeleng, "ini malam, Mit, jangan telat makan. Kalau kamu—
Suara langkah cepat dan teriakan terdengar dari bawah, keduanya keluar dari rumah lalu menuruni tangga. Dava, laki-laki yang menyewa salah satu rumah di lantai dua gedung sebelah berlari dan berhenti di depan Rei yang lebih dulu sampai di depan pintu utama gedung.
"Anu—hahhh—Disha—
"Kenapa? Disha kenapa?" Mita mendorong Rei.
"Atur nafas dulu, Dav," sambung Rei.
Dava memegang dadanya, mengatur nafas lalu berdiri sejajar dengan Mita, "Disha berantem di perempatan arah Gramed."
Mita adalah yang paling pertama berlari menyusuri trotoar diikuti Rei di belakang.
***