Syarat

510 Words
dari jauh ku dengar suara pecahan kaca, apa yang terjadi...apa sari kesana aja.. ku putuskan melihat keadaan nyonya, aku khawatir, sakitnya tambah parah, apa lagi sempat terdengar oleh ku suara mas rafli yang sedikit meninggi dari biasanya.. "nyonya......" kulihat kaca bekas gelas berserakan dilantai, sementara mas rafli dan non shopi berjalan kearah ku.. "eh, udik..beresin tu, saya mau keluar, kamu jagain jangan sampai mama kenapa2, kalau ada apa2 telpon dokter rizal... perintah mas rafli sebelum keluar dari kamar... kulihat sekilas raut wajah sinis dari non shopi kearah ku... kupalingkan wajah melihat keadaan nyonya... sepertinya nyonya marah, tapi juga ku lihat ada buliran bening dimata nyonya seakan menunjukkan kesedihan... "nyonya....nyonya baik2 sajakan?...." kulihat dia memalingkan wajahnya, apa aku pergi saja... tapi jika nyonya sakit gimana... ku bereskan segera pecehan kaca yang jatuh dilantai dan kembali meletakkan gelas baru diatas nakas... "nyonya....." tidak tega rasanya meninggalkan nyonya dalam keadaan seperti ini.... ku pijat perlahan kakinya, setidaknya hanya itu yang bisa kulakukan saat ini.. "nyonya jangan seperti ini, tidak baik untuk kesehatan nyonya...." ku lihat bulir bening menetes dari matanya.... "nyonya......" refleks ku peluk nyonya saat itu, terlintas dibenak ku sosok ayah yang slalu ku rindukan, ada isakan kecil yang sedikit tertahan didalam suaranya... "nyonya maafkan sari...." kulihat nyonya hanya menggelengkan kepalanya, dan ku peluk erat tubuhnya, setidaknya bisa membantu meringankan sedikit beban hatinya.. kulihat ia mengambil catatannya, dan menuliskan sesuatu.... "saru... bisakah kamu membantu saya?...." "apa itu nyonya, akan sari lakukan...." "jadilah menantu saya...." deg....tak mampu ku jawab perintah itu...apa yang harus ku lakukan, dan kenapa nyonya menyuruhku melakuknnya... "maaf nyonya.... tapi...." "saya tidak memaksa mu, tapi cobalah....mungkin sikap rafli memang sedikit kasar, tapi sebenarnya dia tidak seperti itu, dulu dia anak yang ramah, baik dan sopan, apalagi pada orang tuanya, tapi semenjak papanya pergi dia jadi berubah... dan shopi, dia bukan gadis yang baik, saya tau itu..!" bingung.... itu yang ku rasakan, bagaimana ini, selain masih 18tahun aku juga tidak punya pengalaman pacaran apa lagi harus jadi istri... "nyonya....sari...." "jangan ditolak dulu ya sari, saya yakin kamu bisa jadi istri yang baik buat rafli..." "umur saya masih muda nyonya, saya juga dari keluarga yang miskin, bahkan sekolah saja saya tidak tamat..." "saya tidak minta syarat apapun, asal kamu mau mencobanya, saya akan bantu..." "tapi bagaimana nyonya bisa membantu sari, sedang nyonya sendiri sakit seperti ini..." kulihat nyonya menundukkan kepalanya, dengan raut wajah yang sedih dia sedikit mendesah kecewa.. " baiklah nyonya, tapi sari ada 1syarat..." "apa itu?.... kalau harta, semua ini pasti jadi milik kamu, jika nanti kamu jadi menantu saya..." "tidak nyonya... sari cuma ingin nyonya berjanji, jika sari mau, nyonya juga harus mau berusaha untuk sehat, biar kita bisa sama2 berhasil.... bagaimana nyonya..." "kamu...." kembali nyonya memelukku dengan erat...dan ku balas dengan pelukan.. " jadi mulai sekarang kamu jangan panggil saya nyonya...tapi mama...." "tapi nyonya..." "gak ada tapi2an, sudah lama saya ingin punya anak perempuan, dan sekarang Allah mengabulkannya..." kulihat wajah indah berseri diwajah nyonya saat ini, begitu besar harapannya padaku...apa aku sanggup... mas rafli....bukannya aku terlalu jual mahal, tapi menghayalkannya saja aku tak berani, apalagi harus bersanding dengannya...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD