Suara ketukkan pintu memberhentikan komunikasi ku kepada Rabb ku, ku letakkan Al-quran di meja kecil sebelah kasurku, agar kitab ini tak pernah luput lagi dari penglihatan mataku. Ku berlalari kecil kearah pintu, membukakan pintu untuk seseorang yang telah menanti cukup lama dari luar kamarku. Iya pasti Mas Teguh telah lama menungguku. Ketukan pintu Mas Teguh sangat khas, karena itu aku tahu yang mengetuk itu adalah Mas Teguh, berbeda dengan Bang Arif yang hobinya menyelonong masuk tanpa ketukkan apa lagi salam. “Iya Mas” sahut ku sambil membuka pintu “Udah di tunggu makan Dek sama yang lain, ayo kita turun, kasihan yang lain udah nunggu” sambil merangkulku Ku ikuti langkah kaki Mas Teguh, menuruni anak tangga, tak ada pembicaraan diantara kami. Sikap Mas Teguh dan Bang Arif sangat be

