Jadi Modelku?(2)

2036 Words
-*-*-*- Siang itu. Suasana kelas jurusan model terlihat sepi. Sepertinya dosen mereka terlambat dari jam yang sudah di jadwalkan. Tatiana pun tidak punya pilihan selain melihat foto-foto fashion wanita.   Dia pun memilih membuka fashion bergaya paris. Tatiana nampak semangat menggulung layar ponselnya ke atas terus menerus.   Sampai sebuah suara menyapa nya. "Wah, itu semua gaya Paris kan?"   Tatiana terkejut mendengar suara yang tiba-tiba muncul di sebelahnya. Dia pun menengok. "Aghata,"   "Yaaa," -Aghata menaikkan salah satu alisnya sekilas dan sedikit tersenyum kepada Tatiana lalu duduk di sebelahnya.- "Lo juga suka gaya Paris?"   "Hmm ... lumayan," jawab Tatiana kemudian seraya membalas senyuman Aghata.   "Wajar sih kalo suka. Paris termasuk negara fashion terbesar. Fashionnya juga ngga main-main,"   "Yah ... begitulah," Tatiana terlihat tidak terlalu semangat menanggapi Aghata lalu menutup pencarian fashion di smartphone nya.   "Lo berniat mau pake fashion Paris?" tanya Aghat tiba-tiba menduga-duga.   "Belum berniat sih. Cuma ya lumayan tertarik," timpal Tatiana berusaha menanggapi setiap pertanyaan Aghata.   "Bagus sih kalo lo mau pake fashion Paris. Tapi saran gue, lo pilih dress yang buat remaja aja," saran Aghata membuat atensi Tatiana seketika sepenuhnya tertuju padanya.   "Hah? Why?" ujar Tatiana bertanya sedikit heran.   "Soalnya dari daftar yang lo liat barusan, kayaknya hampir semuanya buat cewek tinggi," lanjut Aghata sedikit tersenyum miris.   Apa-apaan maksud senyumnya itu? Apakah karena Tatiana lebih pendek darinya sehingga ia berkata begitu? Tapi Tatiana yang sudah sedikit paham dengan karakter Aghata berusaha tak peduli.   "Oh ... iya gue tau. Gue tau kalo inggi badan gue ngga cocok,"   "Sorry, ngga bermaksud," Aghata terlihat meringis masam pada Tatiana dan menunjukkan ekspresi seperti merasa tak enak hati.   "It's okay. Gue juga sadar diri," Tatiana tak terlalu menghiraukan ucapan Aghata dan hanya mengedikkan bahunya.   Padahal tinggi Tatiana termasuk dalam kategori ideal. Hanya karena Aghata lebih tinggi bukan berarti Tatiana itu pendek.   "Oh ya. Tiana," panggil Aghata seraya menoleh karena sebelumnya ia sempat menghadap ke depan.   "Ya?" jawab Tatiana.   "Emm ... kembaran lo ... ah, maksud gue, Kenan,"   "Kenapa?" tanya Tatiana sedikit penasaran karena Aghata membahas kembarannya.   "Dia udah ada model?" tanya Agatha to the point. Karena untuk apa pula dia berbahasa basi?   "Model? Kayaknya belum. Dia pemilih banget soalnya," jawabnya terlihat seperti mengingat-ingat sesuatu.   "Ohya? Syukur kalo gitu," Aghata terlihat bernafas lega begitu mendengar Kenan belum mendapatkannya.   Melihat kelegaan Aghata, entah mengapa, ide jahil Tatiana muncul dan ingin mengompori.   "Ah ... tapi gue ngga yakin sih," celetukan Tatiana seketika berhasil merubah suasana. Aghata yang sebelumnya sudah lega spontan menoleh pada Tatiana.   "Ngga yakin? Maksud lo?"   "Ya gue ngga yakin. Soalnya kemarin gue nemuin foto cewek di kameranya," jelas Tatiana dengan senyum penuh arti menatap Aghata.   "Astaga Tiana," -Aghata terkekeh mendengar jawaban Tatiana.- "Itu bukan berarti dia jadi modelnya. Gue juga pernah kali kalo masuk kamera Kenan doang," kata Aghata bangga berusaha menyanggah ketidakyakinan Tatiana. Padahal itu jelas terlihat bahwa ia berusaha menenangkan dirinya sendiri.   "Eits ... jangan salah! Lo bisa masuk ke kamera Kenan karna apa? Lo yang minta karna biar Kenan liat hasil pose lo dan minta Kenan pertimbangin elo kan?" sahutnya balas menyanggah pengakuan Aghata. Ia seakan tidak ingin tindakan jahilnya itu gagal.   Aghata menarik kedua sudut bibirnya datar. "Yaaa, gue akuin itu bener. Terus? Emang apa bedanya sama cewek yang dia foto? Dia juga pasti minta di potret sama Kenan kan?" katanya masih tidak ingin mempercayai dugaan Tatiana.   "Nope. Di lihat dari fotonya, itu candid. Dan, Kenan ngga pernah mau foto orang kalo orang itu ngga minta. Kecuali ... ." Tatiana mengalihkan pandangannya sengaja menjeda ucapannya. Ia ingin memancing reaksi Aghata.   "Apa?" tanya Aghata antusias berhasil terpancing.   "Pose orang itu menarik perhatian dia," ujar Tatiana tersenyum.   "What?" -Aghata spontan berubah ekpresinya. Ia terlihat heran dan bertanya-tanya.- "Maksud lo?"   "Ya seperti yang gue bilang. Kenan keliatannya tertarik sama cewek itu," jawabnya membuat Aghata semakin tak tenang. "Haha, lo bercanda kan? Cuma gue cewek yang cocok jadi modelnya Kenan di jurusan model," ungkapnya masih tak terima.   "Cuma di jurusan model kan? Emang lo udah cek jurusan yang lain?" tandas Tatiana semakin membesarkan lubang gas kompornya. Sementara Aghata terdiam. Ia sudah tidak bisa menyangkal lagi perkataan Tatiana.   "Oh sh*t. Gue nyerah. So? Siapa cewek itu?" Aghata kini pasrah dan lebih memilih mencari tahu siapa wanita yang di maksudkan Tatiana.   Berhasil menyalakan api, Tatiana tersenyum puas. "Uuuw. Siapa ya?" ledeknya seraya menutup cengirannya dengan tangan kanannya.   "Ngga usah bercanda Tiana. Kasih tau sekarang!" tegas Aghata merasa di permainkan.   "Gimana ya. Dosennya udah masuk tuh," Tatiana menyeringai mengejek seraya menunjuk ke depan, dimana ada dosennya yang sedang membereskan beberapa kertas yang di bawanya.   "Aish! Oke! Gue cari tau sendiri," kesal Aghata memalingkan wajahnya.   Tatiana tidak peduli dan hanya menyebikkan bibirnya lalu mengedikkan bahu kepada Aghata. Aghata terlihat kesal dan Tatiana hanya menahan tawanya. Entah mengapa ia merasa puas berhasil membuat Aghata kesal.   * * *   Sementara itu Kenan dan Gianna.   "Jian?" Kenan menyentuh lengan Gianna menyadarkannya yang menatap Kenan tanpa berkedip dan tak memberi jawaban.   "Ah? Ya? Gimana?" tanya Gianna kikuk seakan baru saja kembali pada kenyataan.   "Mau ya jadi model gue?" ucap Kenan mengulangi pertanyaannya.   "Ah? Mmm ... gimana ya … ." -alis Gianna bertaut bingung.- "Gue ... udah bilang kan? Gue bukan orang yang suka berpose ria di depan kamera. Apalagi ... kalo di foto orang. Gue ngga bisa kalo di suruh pose," ucap Gianna mengatakan semua itu dengan suara yang amat perlahan. Ia takut jika tiba-tiba berubah ketus dan menyakiti hati lagi. Wajahnya tertunduk tak berani menatap Kenan.   Apakah kali ini ia menyakiti hati Kenan lagi?   "Justru itu yang gue mau, Jian," celetuk Kenan, spontan membuat wajah yang tertunduk itu seketika mendongak.   "Hah?" kedua alis Gianna menjulang dan matanya melebar. Telinganya seakan sedikit terganggu saat mendengar jawaban Kenan. Padahal, jelas sekali mereka di dalam perpustakaan yang sunyi, sehingga tak mungkin ada suara yang bisa menggangu.   "Orang kayak lo yang gue cari. Gue mau motret lo di saat lo ngga sadar kamera. Karna menurut gue, orang semacem lo justru ngga bisa pose dengan baik kalo sadar kamera. Apalagi kalo di minta pose. Makannya gue minta lo jadi model gue. Karna gue paham, lo cuma bisa di foto disaat lo ngga sadar ada kamera. Gimana?" jelas Kenan meyakinkan Gianna.   Jelas sekali bahwa Kenan benar-benar menginginkan Gianna agar bisa menjadi modelnya. Sorot matanya seakan memberikan sebuah ucapan yang mengatakan kalau ia menginginkan sebuah jawaban ‘iya’, keluar langsung dari bibir Gianna.   "Ah ... ." -melihat sorot mata penuh harap yang terlalu jelas di depan matanya, membuat Gianna semakin tak enak hati dan ragu.- "Bisa gue pertimbangin dulu?" ujarnya kemudian berusaha mengulur waktu.   "Bisa. Gue kasih waktu satu menit," kata Kenan membuat persyaratan.   "Hah?! Apa-ap-"   Belum sempat Gianna bicara, Kenan tiba-tiba membungkam mulut Gianna.   "Heh! Ngga usah keras-keras! Lo lupa kita lagi di mana?" seru Kenan menegaskan dengan berbisik.   "Bugh!"   Gianna justru memukul perut Kenan.   "Agh!"   Tangan Kenan yang sebelumnya menutup mulut Gianna sekarang berpindah memegangi perutnya.   "Ngga usah bungkem mulut gue juga!"   “Ssh!”   Orang-orang di perpustakaan pada akhirnya menegur mereka untuk diam. Gianna hanya merotasikan matanya dan kembali fokus pada tugasnya.   "Gara-gara lo tugas gue ngga selesai-selesai!" ujar Gianna mengalihkan pembicaraan dengan berpura-pura mengerjakan tugas.   "Uh ... lo jadi cewek kuat banget sih," rintih Kenan masih memegangi perutnya yang sebelumnya menjadi sasaran empuk pukulan Gianna. Ia tidak menyangka kalau perempuan yang baru di kenalnya ini akan melakukan hal itu.   "Terus? Menurut lo cewek harusnya lemah? Gitu?" tukasnya sinis tanpa menoleh.   "Ngga kok. Kamu cewek paling beda yang pernah gue temuin," ungkap Kenan kembali duduk seperti biasa setelah dirasa perutnya tidak terasa sesak lagi.   "Haha. Bullshit. Jadi maksud lo gue ngga kayak cewek?" balas Gianna masih tidak menyingkirkan nada sinisnya.   "Ngga. Gue cuma ngerasa, lo istimewa," tuturnya.   Hening   Gianna yang sebelumnya mengisi baris demi baris kertas tugasnya dengan tulisan. Kini berhenti karena mendengar kata ‘istimewa’ keluar dari mulut Kenan.   Gianna merona.   Semburat pipi yang sebelumnya tidak berwarna, sedikit demi sedikit berubah merah. Gianna merasa tersipu malu.   Gianna beruntung, karena sisi kirinya tertutup rambutnya. Sehingga Kenan tidak bisa melihat rona pipi Gianna yang semakin jelas warnanya. Kalau saja ia sedang mengikat rambutnya, ia pasti akan langsung memalingkan wajahnya agar Kenan tidak bisa melihat.   Tapi kelegaan itu hilang dalam sekejap.   Ketika Kenan mencoba menyingkap rambut Gianna kebelakang dan Gianna yang kaget, justru refleks menoleh.   Semburat merah yang tengah menempel pada pipi Gianna itu kini terlihat jelas di mata Kenan. Kenan mengerjapkan matanya beberapa kali dengan cepat. Kenan tidak tau kalau Gianna akan akan merona merah seperti itu.   Tapi jauh di dalam hati, menurut Kenan, Gianna terlihat sangat imut saat ini. Tanpa disadari, mereka saling pandang dalam pikiran masing-masing yang tidak di ketahui satu sama lain. Sampai suara pulpen Gianna yang terjatuh ke lantai membuat mereka berdua tersadar dan kembali pada kenyataan.   Kenan menarik kembali tangannya dan spontan mereka mengalihkan pandang berlawanan arah. Mereka menjadi salah tingkah sendiri. Mereka tidak tau kalau mereka akan saling pandang seperti itu tadi.   Tidak ingin canggung. Gianna segera membereskan buku-buku miliknya. Lalu beranjak pergi. Tanpa mengucapkan apa-apa.   "Oh sh*t. Gue malah salting," umpat Kenan kesal lalu menunduk pasrah.   Kenan menutup mata, kesal dengan perbuatannya sendiri. Tepat saat ia membuka matanya, kedua alisnya mengernyit saat melihat pulpen Gianna yang tergeletak di lantai.   Dia pun langsung mengambilnya. "Ah. Ini punya Gianna," ujarnya.   Tanpa di komando lagi. Kenan meninggalkan perpustakaan begitu saja tanpa membereskan buku-buku yang sudah di ambilnya.   #Jangan di tiru.   Lalu mencari keberadaan Gianna. Begitu melihat kemana Gianna pergi, Kenan langsung berlari menyusulnya.   "Jian!" serunya memanggil bermaksud menghentikan langkah Gianna.   Tetapi Gianna justru mempercepat langkahnya dan tidak mau menengok. Gianna sepertinya masih malu karena ketahuan Kenan kalau ia merona pipinya tadi.   Alis Kenan bertautan. Ia bingung kenapa Gianna malah mempercepat langkahnya. Tapi itu bukan masalah karena kakinya lebih panjang dari Gianna. Sehingga tidak lama kemudian ia berhasil menyusul dan menyamai langkah Gianna.   "Jian," Kenan memanggil Gianna lagi sembari menahan tangan Gianna yang tidak membawa buku. Karena tangannya di tahan, mau tidak mau Gianna harus berbalik dan menjawab Kenan.   "Apa?" jawabnya ketus.   Bukannya sakit hati mendapat jawaban ketus. Kenan justru menahan senyum, karena ia menyadari kalau Jian saat ini merasa malu.   "Pulpenmu," katanya memberikan pulpen Gianna ke tangannya.   "Makasih," sahutnya cepat lalu segera meninggalkan Kenan lagi. Tapi Kenan tidak peduli dan langsung berjalan bersama Gianna. Ia tidak peduli lagi bagaimana dirinya saat salah tingkah tadi.   "Jian, mau ya jadi model gue?" ulangnya tak bosan membuat Gianna kesal dan bingung. Kesal karena Kenan terus menerus bertanya. Bingung karena bimbang harus memberikan jawaban apa.   "Yaampun Kenan. Kenapa lo ngebet banget pengen gue yang jadi model lo? Emangnya mendesak banget?" pungkas Gianna tanpa menghentikan langkahnya.   "Ngga mendesak. Tapi sebisa mungkin gue harus dapet model secepatnya. Karna ini tugas jurusan gue," ujar Kenan jujur. Jurusannya memang tengah memberikan tugas yang menggunakan manusia sebagai objek fotografi.   "Hah ... ." -Gianna hanya bisa menghela nafas panjang ketika kakinya menaiki tangga.- "Kayaknya ngga bisa. Cari yang lain ya?" ujarnya kemudian seraya melangkah lebih cepat berusaha meninggalkan Kenan. Tetapi Kenan tidak mau menyerah begitu saja. Ia tidak berhenti dan justru tetap mengikuti Gianna.   "Ayolah. Lo ngga perlu ngapa-ngapain kok. Ya?" tawar Kenan berusaha membujuk Gianna yang hampir sama kerasnya dengan terumbu karang.   "Ngga ngapa-ngapain? Lo mau gue jadi patung?" lontarnya masih berusaha melarikan diri.   Gianna terus menaiki tangga dengan cepat. Lalu begitu tiba di belokan menuju lantai selanjutnya. Gianna tiba-tiba naik dengan cepat. Entah mengapa terselip pikiran bodoh di kepalanya. Ia berniat pura-pura naik dengan cepat lalu berbalik secara tiba-tiba.   Tetapi kakinya justru meleset dan ia tersandung.   "Ya ngga- JIAN!"   Dalam sekejap, Kenan langsung meraih memeluk Gianna dan menariknya kebelakang. Begitu spontan sampai punggung Kenan menghantam tembok cukup kuat.   "Bugh!"   "Agh!" Kenan terpekik begitu dirasa punggungnya sakit akibat bertabrakan dengan dinding tembok. Tubuh Kenan perlahan merosot dan akhirnya terduduk di lantai bersama Gianna di pelukannya.   Gianna membeku.   Dia merasa syok dan jantungnya tidak berhenti berdebar kencang akibat hampir terjatuh. Ia tidak tau bagaimana nasibnya jika Kenan tidak menangkapnya begitu melakukan hal bodoh seperti itu.   Mungkin ia sudah menggelinding dan sekarang sudah sampai di lantai bawah dengan darah yang keluar dari kepala. Tangannya spontan mencengkeram kuat baju Kenan gemetar membayangkan hal mengerikan itu.   Sementara itu.   "Ah ... kenapa Kenan ngga biarin dia jatoh aja," ujar Aghata menatap kebawah dari lantai tepat di atas Kenan dan Gianna.   Ia pun pergi seperti tidak melihat apa-apa.     -*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD