Arini terus berusaha mendekati Reno, setiap jam makan siang ia selalu datang dan membawakan makanan untuk pria incarannya tersebut, ia bahkan sudah terang-terangan menyatakan perasaan sukanya pada duda tampan itu. Namun sayang perasaannya tak berbalas Reno hanya tertawa saat mendengar pernyataan gadis itu.
"Ada yang lucu?" ucap Arini kesal begitu Reno menertawakannya.
"Rin kamu itu cantik, banyak pria diluar sana yang mengejar kamu, kenapa harus aku" ucap Reno.
"Karena yang aku cintai itu kamu Ren, dan seperti yang kamu bilang aku cantik, bagaimana bisa kamu tidak tertarik dengan gadis cantik ini" ucap Arini dengan centilnya.
"Hatiku masih tertutup oleh satu nama yaitu Maya" ucap Reno.
"Maya Maya Maya... sudah mati pun dia masih saja menghalangiku untuk mendapatkan cintamu, tidak bisakah kamu mengubur perasaanmu padanya Ren, lihat aku... aku perempuan yang mencintaimu. Untuk apa kamu masih mencintai yang perempuan yang sudah mati" ucap Arini kesal.
"Diam kamu Rin... apa kamu tidak sadar siapa perempuan yang kamu hardik itu? dia Maya istriku, kakak sepupumu sendiri" geram Reno.
"Ya aku tau dan aku membencinya" ucap Arini kesal.
"Pulanglah Rin, dan lupakan aku" ucap Reno .
"Gak mau" ucap Arini.
"Keluar dari sini Rin" ucap Reno sambil menahan emosinya.
"Kalau aku masih mau disini bagaimana?" ucap Arini dan membuat Reno semakin bertambah kesal.
"Kamu mau keluar dari sini secara baik-baik atau mau aku panggilkan security?" ucap Reno kesal.
"Hhh... oke-oke aku keluar" ucap Arini kesal.
---
Reno memasuki rumahnya dan seperti biasa pemandangan pertama yang dilihatnya adalah Rani yang tengan menggendong Nayshila.
"Sore tuan" sapa Rani.
"Sore Ran, siapkan keperluan Nayshila karena malam ini saya akan mengajaknya ke rumah oma dan opanya, dan kamu ikutlah" ucap Reno yang berencana menyambangi rumah mertuanya.
"Baik tuan" angguk Rani.
Malam hari Ratih dan Handoyo orang tua mendiang Maya menyambut hangat kedatangan cucu, menantu juga baby sitternya.
"Sudah lama tidak bertemu Ren, apa kabarmu?" tanya Ratih sambil mengambil Nayshila dari gendongan Rani.
"Reno baik mah" ucap Reno.
"Ayo masuk dulu, kita bicara didalam" ajak Handoyo.
Mereka sudah berada diruang keluarga untuk berbincang, sementara Rani menjaga pergerakan Nayshila yang sudah mulai aktif berguling-guling.
"Mama dengar kamu dekat dengan Arini" ucap Ratih.
"Kata siapa mah?" Reno hanya tersenyum.
"Apa itu benar Ren?" tanya Ratih.
"Kalau benar memangnya kenapa mah?" tanya Reno lagi.
"Ya tentu saja mama senang karena Nayshila akan mendapatkan seorang ibu, ibu yang benar-benar menyayanginya" ucap Ratih.
"Sayangnya semua itu tidak benar mah" ucap Reno.
"Lalu untuk apa Arini sering ke kantormu?" tanya Ratih lagi.
"Dia mengantarkan makan siang mah, Reno sudah melarangnya tapi dia tetap ngotot" ucap Reno.
"Kami gapapa kalau kamu ingin menikah lagi Ren, justru kami senang" ucap Handoyo.
"Reno masih ingin sendiri pah" ucap Reno.
"Jangan terlalu lama menyendiri, tidak baik" ucap Handoyo lagi.
"Dan jangan memberi harapan palsu pada Arini, kasian dia. Tegaskan kalau memang kamu masih ingin sendiri Vin" ucap Ratih.
"Iya mah, Reno tau" ucap Reno.
Ratih melirik sebentar pada Rani yang selalu menjaga pergerakan Nayshila, ia tersenyum karena cucunya mendapatkan pengasuh yang benar-benar menjaga dan melindunginya.
"Sepertinya Nayshila sangat cocok dengan pengasuhnya itu" ucap Ratih.
"Iya mah, dia pintar merawat dan menjaga Nayshila. Dia bahkan berani berjaga saat suhu tubuh Nayshila tinggi ditengah malam" ucap Reno.
"Wow harus dibayar mahal dia Ren" ucap Ratih.
"Tentu mah" ucap Reno.
Usai perbincangan hangat itu Reno berpamitan, dan tiba dirumah ia menggendong Nayshila yang sudah terlelap.
"Selamat bobo anak daddy?" ucap Reno setelah menurunkan putrinya diatas ranjang mungil itu.
"Biar saya seka tubuhnya tuan" ucap Rani sambil membawa sebaskom air hangat.
"Di seka?" gumam Reno.
"Biar tidurnya lebih nyenyak, kasian badan nona kecil pasti lengket" ucap Rani.
"Oh begitu" angguk Reno, ia menatap Rani yang begitu telaten menyeka dan menggantikan pakaian Nayshila.
---
Pagi sekali Rani sudah berada di kamar Nayshila ia memberikan sebotol s**u pada bayi cantik itu.
"Selamat pagi" sapa Reno memasuki kamar putrinya.
"Pagi tuan" Rani menganggukkan kepalanya begitu melihat Reno masuk.
"Anak daddy tambah kuat aja ngedotnya, tambah berat mba Rani gendongnya nak" Reno mengecup kening putrinya.
"Iya makin kesini makin kuat ngedotnya" ucap Rani tersenyum menatap Nayshila.
"Makasih ya Ran kamu sudah merawat dan menjaga putri saya dengan tulus" ucap Reno.
"Saya senang dengan anak kecil dan pekerjaan ini" ucap Rani.
"Nayshila beruntung mendapatkan pengasuh yang benar-benar peduli dan memberi perhatian penuh padanya" ucap Reno.
"Saya hanya bekerja dan menjalankan tugas saya sebaik mungkin tuan" ucap Rani.
"Terimakasih sekali lagi, kalau begitu saya mau mandi dulu siap-siap mau ke kantor" ucap Reno.
Rani kembali menjatuhkan tatapannya pada Nayshila, memperhatikan tingkah polah bayi cantik itu.
♥♥♥