BBS 5

822 Words
Hari berlalu bulan berganti dan tahun pun berganti, usia Nayshila sudah lima tahun ia pun sering kali mempertanyakan keberadaan sang ibu dan sering kali meminta ibu baru. Sementara itu Reno sendiri sudah sering kali dibujuk sang mama mau pun mama mertuanya untuk kembali berumah tangga dan pria tampan itu hanya menyunggingkan senyumnya. "Kenapa tersenyum Ren? apa kamu sudah punya calon?" tanya Ratih mama mertuanya. "Gak ada mah, dan doakan saja semoga ada perempuan yang mau dengan Ren" tawa Reno. "Kamu gak bosan hidup sendiri, gak bosan dengan pertanyaan anakmu kapan memberinya ibu" ucap Marta. "Makanya mah didoakan saja semoga masih ada gadis-gadis yang mau sama Reno" tawa Reno. "Oma... oma Ratih, oma Marta" Nayshila yang baru pulang sekolah begitu senang melihat keberadaan kedua omanya di rumah, ia berlari menghampirinya. "Sayang jangan lari" tegur Rani. "Iya bunda, maaf" ucap Nayshila, terlalu dekat dengan pengasuhnya hingga gadis kecil itu memanggil Rani dengan sebutan bunda. Kedua wanita paruh baya itu tersenyum begitu melihat cucunya. "Baru pulang sayang? bagaimana sekolahmu?" tanya Marta. "Tentu saja menyenangkan oma, oh ya tante Monik maminya Glen kirim salam buat daddy" ucap Nayshila dengan polosnya. "Siapa itu?" tanya Ratih. "Mba Monik itu maminya Glen teman sekolahnya non Nayshila nyonya" ucap Rani menjelaskan. "Janda?" tanya Marta. "Kurang tau nyonya" sahut Rani. "Cantik gak dia Ran?" tanya Ratih. "Ya cantiklah nyonya, pakaiannya saja selalu mewah" ucap Rani. "Tuh... sudah ada yang kirim salam, belum lagi Arini yang gak ada hentinya mendekati kamu Ren, tinggal pilih tuh" ucap Marta. "Hhh si mama emang gampang cari istri?" ucap Reno kesal karena terus dipaksa untuk kembali menikah. "Ya pendekatan dulu lah Ren" ucap Ratih, sang mertua. "Sudah ya cukup kalian membahas ini, kalau nanti sudah ada calonnya pasti Reno kenalkan" ucap Reno. "Ditunggu dan jangan lama" ucap Marta. "Ya sudah Reno balik ke kantor dulu" ucap Reno. --- Reno duduk ditepi ranjang menatap Nayshila yang sudah tertidur pulas, ya malam ini gadis kecil itu minta untuk tidur bersama daddynya. "Permisi tuan, saya mau menggantikan pakaian nona Nayshila" Rani berdiri didepan pintu kamar Reno. "Oh silahkan, masuklah Ran" ucap Reno. Dan malam ini setelah lima tahun bekerja sebagai pengasuh Nayshila untuk pertama kalinya Rani memasuki kamar utama majikannya itu. Dengan telaten dan pelan Rani menggantikan pakaian Nayshila agar tak mengganggu tidur anak asuh tersayangnya itu. Dalam diamnya Reno memperhatikan Rani yang selama ini begitu perhatian dan penuh kasih sayang pada Nayshila. "Terimakasih karena selama ini kamu sudah setia bersama putri saya dan merawatnya dengan sangat baik" ucap Reno yang berdiri dibelakang Rani. "Hubungan saya dan nona Nayshila memang hanya hubungan antara pengasuh dan majikan, tapi jujur saya sangat menyayangi putri tuan ini, mungkin karena saya sendiri yang merawatnya sejak dia masih kecil" ucap Rani. "Lima tahun ini kamu belum pernah mengambil cutimu atau pulang pada keluargamu" ucap Reno. "Pulang? pulang kemana tuan, saya hanya sebatang kara, orang tua saya sudah lama berpulang pada sang pencipta" ucap Rani. "Oh maaf Ran" ucap Reno. "Tak apa tuan, ya sudah saya permisi" ucap Rani. "Terimakasih sekali lagi" Reno menahan tangan Rani saat perempuan itu ingin keluar dari kamarnya dan kembali mengucapkan terimakasih. Dan untuk pertama kalinya keduanya bersentuhan fisik, meski hanya sentuhan tangan di lengan Ranj namun entah mengapa membuat keduanya merasa canggung. "Oh maaf" Reno langsung melepas tangannya dari lengan Rani. "Ya gapapa tuan, saya permisi" ucap Rani. "Silahkan" Reno menatap punggung Rani yang sudah menghilang dibalik pintu dan entah mengapa ia merasa ada yang aneh dengan dirinya saat bertatapan dengan pengasuh putrinya itu. Reno berbaring disamping Nayshila ia menatap putrinya yang sudah pulas namun entah bagaimana dalam pandangannya terlintas wajah cantik Rani. Reno berusaha mengalihkan pikirannya namun lagi-lagi wajah Rani lah yang terlihat. "Astaga ada apa dengan diriku" gumam Reno. --- Nayshila sudah turun menuju meja makan, sementara Rani masih dikamar gadis kecil itu menyiapkan peralatan sekolahnya. Dan tanpa sengaja Reno lewat dan melihat Rani yang tengah sibuk menyiapkan segala keperluan Nayshila. "Ran... Nayshila sudah di bawah?" tanya Reno berbasa-basi dan Rani sempat kaget, ia masuk dan menghampiri Rani di kamar anak itu. "Oh iya tuan nona kecil sudah di bawah" sahut Rani. "Emm..." "Tuan perlu sesuatu?" tanya Rani sopan. "Gak ada... ya sudah saya ke bawah" ucap Reno. Reno berbalik menuju pintu di ikuti Rani dibelakangnya yang membawa tas sekolah Nayshila, namun tepat didepan pintu Reno berbalik dan membuat Rani kaget hingga keduanya bertabrakan dan beruntung Reno menahan Rani hingga gadis itu tak terjatuh. Tanpa berkedip Reno menatap wajah cantik perempuan itu, perempuan cantik yang selama lima tahun ini selalu menemani putrinya. Tatapan Reno turun ke bibir Rani, dan entah bagaimana dan dorongan dari mana Reno menginginkan bibir itu, ingin memberikan kecupannya. Wajah keduanya semakin mendekat dan masing-masing dari mereka bisa merasakan hembusan nafasnya, sampai akhirnya bibir Reno berlabuh di bibir tipis yang hanya dibalut lipgloss itu. Tak ada penolakan, l Rani hanya diam begitu bibirnya bersentuhan dengan bibir majikannya itu, namun saat pria itu mulai melumatnya ia mendorong dan menjauh. "Maaf" ucap Reno, keduanya dibuat salah tingkah. Tanpa menatap Reno dan mengucapkan sepatah kata pun Rani berlalu dari kamar itu sambil membawa tas Nayshila. ♥♥♥
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD