BBS 6

1023 Words
Bagaikan seorang ibu yang tengah menunggu anaknya Rani berdiri didepan gerbang sekolah, dan ia tersenyum begitu meliha Nayshila berlari ke arahnya. "Bunda... kita ke kantor daddy sebentar ya" ucap Nayshila. "Ngapain sayang?" tanya Rani. "Gapapa pengen ketemu daddy saja sekalian minta crayon baru" ucap Nayshila merengek. "Kan ketemunya bisa di rumah sayang" ucap Rani. "Ayolah bunda... Nay pengen ke kantor" rengek Nay lagi. "Ya sudah iya-iya kita ke kantor" Rani akhirnya luluh, ia paling tak tega melihat putri asuhnya itu merengek. "Yes, makasih bunda" ucap Nayshila. Rani mengikuti langkah kecil Nayshila menuju ruangan Reno, beberapa pegawai yang mengenal Nayshila menyapanya ramah melihat tingkah menggemaskan gadis kecil itu. "Nayshila mau kemana?" sapa seorang pegawai senior. "Dijawab sayang" ucap Rani. "Ketemu daddy lah aunty, masa masih nanya juga" ucap Nayshila dan membuat Rani menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Nay. "Maaf mba kalau Nayshila menjawabnya kurang sopan" ucap Rani. "Iya gapapa Ran, wajarlah namanya juga anak kecil" ucap si pegawai itu. Rani kembali melangkah menyusul Nayshila yang sudah berlari ke ruangan Reno, memasuki ruangan majikannya Rani terus menunduk tak berani menatap wajah Reno mengingat apa yang sudah pria itu lakukan tadi pagi, Rani begitu malu. "Kenapa berdiri disitu Ran, masuk dan duduklah disini" tunjuk Reno pada sofa yang ada diruangannya. "Oh iya tuan, maaf Nayshila memaksa mau kemari" ucap Rani, ia sudah duduk di sofa namun masih menunduk tanpa berani menatap Reno. "Tumben kemari nak?" tanya Reno. "Nay mau crayon baru dad, seperti yang dimilik Shania teman Nay" ucap Nayshila. "Nanti ya, nanti malam kita pergi bersama ke toko buku" ucap Reno. "Beneran dad?" ucap Nayshila antusias. "Hm" angguk Reno. "Bunda juga ikutkan?" ucap Nayshila. "Tentu bundamu ikut" ucap Reno sambil melirik ke arah Rani yang terus menunduk. "Ya sudah sekarang kita pulang sayang, daddymu sedang banyak pekerjaan dan lagi Nay harus kerjakan PR juga istirahat" ucap Rani begitu perhatian. "Baru sebentar masa sudah mau pulang sih bun, bunda gak asik" ucap Nayshila. "Nay... yuk pulang" paksa Rani dan membuat Reno tersenyum, ia begitu bahagia putrinya mendapat pengasuh yang sangat perhatian. "Iya-iya" ucap Nayshila kesal, dengan wajah cemberut ia berlari keluar ruangan sang daddy. "Terimakasih Ran... terimakasih kamu sudah hadir dalam hidup putri saya, kamu dengan segala kasih sayang dan perhatianmu" ucap Reno, ia duduk mendekati Rani. "Sudah tugas saya tuan, lagi pula saya benar-benar menyayangi nona kecil" ucap Rani menunduk. "Maafkan soal tadi pagi" ucap Reno. "Tolong jangan membahas hal itu tuan" ucap Rani menunduk dan dengan wajah memerahnya. "Sekali lagi saya minta maaf karena sudah lancang" ucap Reno. "Saya permisi tuan, nona kecil pasti sudah menunggu" Rani segera berlalu dari ruangan Reno. --- Reno menuntun Nayshila memasuki toko buku, sementara dibelakangnya ada Rani yang mengikuti langkah mereka. "Boleh Nay ambil beberapa crayon daddy?" ucap Nayshila. "Ambil satu saja sayang, buat apa banyak-banyak" sahut Rani. "Yahhh bunda..." ucap Nayshila kesal. "Crayonnya satu dan buku gambarnya ambil beberapa yang kamu suka sayang, begitukan bunda?" Reno menatap Rani dan membuat gadis itu salah tingkah karena majikannya itu memanggilnya dengan sebutan bunda. "Oh iya tuan" angguk Rani. Setelah menemani Nayshila membeli beberapa barang yang di inginkannya Reno mengajak putri dan pengasuhnya itu untuk makan malam di sebuah restauran yang berada di mall tersebut. Dan sepanjang makan malam itu Reno terus memperhatikan Rani yang menyuapi Nayshila. "Rani cantik, dia juga begitu sayang pada Nayshila. Apaan sih Ren... sadar dia cuma pengasuh putri lo" ucap batin Reno. Usai makan malam ketiganya segera pulang, Nayshila terlihat kelelahan dan tertidur dalam perjalanan. Tiba di rumahnya Reno segera mengambil Nayshila yang berada dalam pangkuan Rani dan menggendongnya menuju kamar. Seperti biasanya Rani selalu menyeka tubuh Nayshila dan menggantikan pakaian gadis kecil itu, dan hal tersebut tak lepas dari perhatian Reno. "Saya permisi tuan" ucap ll Rani setelah memastikan Nayshila tidur dengan nyaman. "Ya" angguk Reno. --- Tengah malam Rani terbangun, ia memutuskan ke kamar Nayshila untuk melihatnya namun belum lagi sampai ke kamar gadis kecil itu ia melihat lampu ruang kerja Reno yang masih menyala. "Tuan belum tidur?" tanya Rani, ia berdiri didepan pintu. "Saya masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan" ucap Reno. "Mau secangkir teh hangat tuan?" tawar Rani. "Boleh" angguk Reno. Rani kembali dengan secangkir teh hangat untuk majikannya itu. "Terima kasih Ran, kamu belum tidur?" tanya Reno. "Saya terjaga dan tadinya mau melihat nona kecil tapi gak sengaja melihat ruangan ini lampunya masih menyala" ucap Rani. "Kamu begitu sayang pada putri saya" ucap Reno. "Siapa yang gak sayang dengan gadis semenggemaskan itu tuan" ucap Rani. "Kamu benar... dia begitu menggemaskan" ucap Reno. "Baiklah saya permisi tuan" ucap Rani. "Emm Ran tunggu" Reno berdiri dan menghampiri Rani. "Ya tuan?" tanya Rani. "Terima kasih untuk tehnya" ucap Reno. "Oh i... iya..." angguk Rani salah tingkah. "Tehnya manis... semanis si pembuatnya" puji Reno. "Ah tuan bisa saja" ucap Rani dengan wajah memerah. --- Sembari menunggu gadis kecilnya mandi Rani menyiapkan segala keperluan Nayshila. "Nay..." panggil Rani sembari memasuki kamar putrinya. "Nona kecil masih di kamar mandi tuan. Ada yang perlu saya bantu tuan?" ucap Rani saat melihat Kevin memegang dasinya. "Bisa pasangkan dasi saya Ran?" ucap Reno. "Tentu bisa tuan" ucap Rani. Reno menatap wajah Rani yang berada tepat didepannya, ia menatap Rani yang begitu serius memasangkan dasi untuknya. "Kamu cantik Ran" gumam Reno. "Ah apa tuan?" tanya Rani yang tak mendengar begitu jelas. "Ah gapapa, lupakan saja" ucap Reno. "Ini sudah selesai" ucap Rani. "Terima kasih" ucap Reno. Sekali lagi pria tampan itu menatap Rani, dan kali ini dengan tatapan yang begitu intens dan entah mendapat keberanian dari mana Reno mendekat dan menarik pinggangnya. "Tuan jangan seperti ini" ucap Rani. "Kamu cantik Ran" ucap Reno. "Tuan saya mohon jangan seperti ini" ucap Rani namun tak dihiraukan Reno. Tatapan Reno jatuh pada bibir Rani yang hanya disapu dengan lipgloss, hingga akhirnya pria tampan itu menyapukan bibirnya disana. Rani mencoba menghindar dengan mendorong d**a Reno dan menggelangkan kepalanya ke arah lain, namun sayang tenaganya kalah kuat dengan tenaga Reno. Reno begitu lihai memainkan bibirnya, ia menggigit bibir Rani berharap gadis itu membuka mulutnya. Dan saat  Rani membuka mulutnya Reno bergegas melesakkan lidahnya ke dalam sana menjelajah setiap inci rongga mulut Rani hingga akhirnya pertahanan gadis itu runtuh. Rani memejamkan matanya dan mengalungkan kedua tangannya di leher sang majikan dan mulai menikmati ciuman itu. "Daddy... bunda..." Nayshila keluar dari kamar mandi dengan bathrobenya, bergegas dua orang dewasa itu melepaskan diri dengan salah tingkah. ♥♥♥
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD