BBS 7

964 Words
Reno tersenyum sendiri saat mengingat ciuman yang ia dan Rani lakukan pagi tadi, dan rasanya ia kembali ingin merasakannya lagi. "Hhh... Rani... perempuan itu akhir-akhir ini mulai memenuhi pikiranku, gak mungkinkan kalau aku jatuh cinta sama dia" gumam Reno. Di tengah lamunannya terlihat seorang perempuan memasuki ruangannya, perempuan yang selama lima tahun ini tak pernah lelah untuk mendekatinya. "Arini" gumam Reno. "Aku membawakanmu makan siang Ren, yuk makan sama-sama" ucap Arini. "Sudah sering aku katakan Rin, kamu gak perlu repot-repot" ucap Reno. "Aku gak merasa direpotkan kok Ren, aku justru senang bisa menemanimu makan" ucap Arini sambil menyiapkan makanannya diatas meja sofa. Mau tak mau akhirnya Reno makan bersama sepupu mendiang istrinya itu, Arini tentu saja bahagia karena hari ini untuk pertama kalinya setelah lima tahun pendekatan akhirnya ia bisa makan bersama Reno. "Thanks ya Ren akhirnya kamu mau juga makan bersamaku, aku senang banget" ucap Arini. "Hm" Reno hanya bergumam dan tak terlalu menanggapi ucapan perempuan itu. "Malam ini jalan yuk" ajak Arini dan membuat Reno menatapnya malas. "Aku gak ada waktu" ucap Reno. "Ayolah Renok, temani aku jalan. Kamu gak bosan apa siang kerja malam dirumah aja hidup kamu lima tahun ini gitu-gitu doang, gak cape?" ucap Arini kesal. "Aku tau apa yang membuatku nyaman Arini, dan kamu gak perlu mengajariku" geram Reno. "Aku hanya menawarkan sedikit hiburan buat kamu Ren, dan kalau kamu mau aku bisa menemanimu. Aku tau lima tahun ini kamu kesepian" ucap Arini. "Apa maksudmu?" Reno menatap tajam perempuan dihadapannya itu. "Aku gak bermaksud apa pun Ren, aku hanya ingin menghibur dan mengobati rasa kesepian kamu, sudah lima tahun loh Maya pergi" ucap Arini, ia semakin merapatkan jarak duduknya pada Reno. "Asal kamu tau Rin aku gak merasa kesepian, ada Nayshila putriku yang selalu menghiburku" ucap Reno. "Nayshila? ya aku akui dia penghibur sejati untukmu, tapi tentunya ada hal lain yang tak bisa dilakukan putrimu itu, kamu tau betul apa yang aku maksud Ren" ucap Arini. "Sebaiknya kamu pulang Rin, aku bisa mengatasi sendiri hidupku tanpa perlu bantuanmu" ucap Reno, ia menarik Arini berdiri. "Ren ayolah aku saja, apa kamu gak merindukan kehangatan itu?" goda Arini, ia mengusap d**a bidang Reno. "Kamu semakin ngaco Rin, sebaiknya kamu pulang" Reno mendorong Arini menuju pintu. "Ren..." "Keluar Rin dan pulanglah, bersihkan pikiran kotormu itu" ucap Reno lalu menutup kembali pintunya setelah Arini keluar. --- "Mau kemana sayang?" tanya Reno, ia baru pulang dan melihat putrinya yang sudah cantik bersama sang oma. "Menginap dirumah oma daddy, bolehkan" ucap Nayshila. "Tentu boleh nak" ucap Reno. "Mama pinjam putrimu dua hari mau mama dan papa ajak ke puncak, gapapakan" ucap Marta. "Gapapa mah, lagi pula sekolahnya libur" ucap Kevin. "Bunda Nay pergi dulu ya" pamit Nayshila. "Iya hati-hati sayang, dan ingat pesan bunda jangan menyusahkan oma dan opa" pesan Rani, ia berjongkok mensejajarkan tingginya dan Nayshila. "Beres bun" ucap Nayshila lalu mengecup pipi Rani. "Loh Rani gak ikut?" tanya Reno. "Enggak tuan" ucap Rani. "Ya sudah kami pergi dulu ya" ucap Marta. "Bunda dapat kiss, daddy kok gak dapat" ucap Reno, ia berjongkok menyodorkan pipinya ke arah Nayshila dan gadis cantik itu pun memberikan kecupan manisnya. Mobil yang membawa Nayshila sudah keluar dari halaman rumah, Reno menatap Rani dengan senyumannya, senyumannya yang mampu meluluhkan hati setiap gadis. "Thanks untuk yang tadi pagi" ucap Reno sambil mengusap pipi Rani, dan membuat wajah perempuan itu memerah. --- Atas permintaan Reno dengan gugup Rani mengantarkan secangkir kopi ke ruang kerja majikannya itu, setelah meletakkan cangkir kopi itu bergegas Rani keluar. Namun baru sampai pintu terdengar suara Reno menyapa pendengarannya. "Kenapa terburu-buru Ran" ucap Reno sambil menghampirinya. "Itu... anu tuan..." "Duduklah disini, temani saya" ucap Reno, ia menarik Rani dan mengambil sebuah kursi untuk agar perempuan itu duduk disampingnya. "Tapi tuan..." "Saya gak terima penolakan Ran, saya butuh teman ngobrol" ucap Reno. Rani hanya duduk diam disamping Reno sementara duda tampan itu sibuk dengan laptop dan beberapa kertas diatas mejanya. Ditengah pekerjaannya sesekali Reno melirik Rani sebentar dan tersenyum melihatnya. "Maaf aku mendiamkanmu" ucap Reno, dan entah mengapa ia merasa nyaman bicara bersama Rani dengan sebutan aku-kamu. "Apa sebaiknya saya keluar saja tuan, kehadiran saya disini takutnya mengganggu konsentrasi tuan dalam bekerja" ucap Rani. "Kehadiranmu disini justru menambah semangatku agar cepat menyelesaikan semuanya, jadi Ran tunggulah sebentar" ucap Reno dan membuat Rani bingung. Reno mematikan laptopnya begitu pekerjaannya telah selesai, ia menghadap Rani dan tersenyum pada membuat perempuan itu salah tingkah. "Terima.kasih sudah menemaniku disini" ucap Reno. "Sudah selesaikan tuan, apa saya sudah boleh keluar?" ucap Rani. "Buru-buru banget, ada apa sih diluar hm?" goda Reno sambil mencolek dagu gadis itu. "Saya hanya ingin keluar tuan, gak enak sama yang lain saya berdiam diri disini" ucap Rani. "Memangnya kenapa? lagi pula aku yang memintamu menemaniku" ucap Reno, ia menarik Rani hingga gadis itu jatuh dipangkuannya. "Aawww tuan" Rani memekik kaget begitu Reno menariknya. "Kenapa?" tanya Reno. "Tuan jangan seperti ini" Rani berusaha melepaskan diri namun sayang kekuatannya kalah besar, Reno memeluk pinggangnya dengan erat. "Santai l Ran, dan jangan terlalu banyak bergerak, kamu bisa membangunkan setan kecil yang telah lama tertidur dibawah sana" ucap Reno dan sontak membuat Rani diam membeku. Reno menatap Rani dalam diam, ia mengusap pipi perempuan itu lalu kembali mendaratkan bibirnya pada bibir seksi perempuan itu. Dengan kelihaiannya ia kembali berhasil membuat Rani menikmati dan membalas ciumannya, keduanya menghentikan aktifitasnya saat merasakan tak lagi ada pasokan oksigen. "Aku merasa bibirmu bagai candu untukku" ucap Reno sambil mengusap bibir Rani yang basah akibat ciumannya. "Seharusnya ini tidak terjadi tuan" ucap Rani, ia turun dari pangkuan Reno. "Ayolah Rani jangan merasa berdosa, bukankah kamu juga menikmatinya" ucap Rani, ia berdiri dari duduknya dan berhadapan dengan Rani. "Tapi ini salah tuan, kita bukan dua orang yang sedang menjalin hubungan, jadi bagaimana mungkin kita melakukan hal yang tidak pantas seperti tadi" ucap Rani dengan emosi, ia pun berlalu dari ruangan itu. "Ran... Rani..." panggil Reno, namun Rani dengan berani tak menghiraukan panggilan majikannya itu. ♥♥♥
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD