BBS 8

874 Words
Dari balkon kamarnya Reno menggeram marah melihat Rani yang di bawah sana asik tertawa bersama seorang supir yang biasanya mengantarnya dan Nayshila ke mana pun. Reno menggeram melihat itu, ia mengepalkan kedua tangannya dan kemudian bergegas menghampiri dua orang pekerja di rumahnya tersebut. Reno menghampiri keduanya dan dengan sebuah kode sang supir pun segera berlalu meninggalkan Rani. "Ngobrol apa dengan supirmu?" tanya Rani dengan tatapan tajamnya. "Hanya obrolan biasa tuan" ucap Rani, ia terlihat masih kesal dengan kelakuan majikannya akhir-akhir ini. "Ngobrol apaan? kok kelihatannya kamu senang banget?" tanya Rani kesal. "Kenapa sih tuan? kenapa tuan terlihat kesal? terserah saya dong mau ngobrol apa saja dengan supir tuan" sahut Rani berani. "Oh mulai berani kamu Ran" ucap Reno. "Maaf tuan saya tidak bermaksud" ucap Rani. "Dengar Rani... jujur aku sangat tidak suka melihat kedekatanmu dengan supir itu, jadi mulai sekarang jaga jarakmu dengannya" ucap Reno kesal. "Kenapa tuan?" ucap Rani bingung. "Gak usah banyak tanya" ucap Reno sambil menatap tajam Rani. "Saya punya hak untuk bergaul dengan siapa saja dan tuan gak punya hak melarang saya, tuan bukan siapa-siapa saya" sahut Rani lantang. Mendengar ucapan Rani Reno pun meradang ia membungkam bibir perempuan itu dengan dengan bibirnya, melumatnya penuh amarah. Sebuah tamparan diterima Reno dari tangan Rani, perempuan itu benar-benar marah dan merasa dilecehkan. "Mulai hari ini saya mundur dari pekerjaan ini, terima kasih untuk lima tahun ini tuan" ucap Rani dan tentu saja Reno dibuat terkaget-kaget. "Ran jangan seperti ini, aku gak bermaksud" ucap Reno. "Gak bermaksud? tuan... tuan sadar apa yang sudah lakukan terhadap saya? ini sudah dalam kategori pelecehan, dan saya bisa saja melaporkan kelakukan tuan ini" geram Rani. "Rani aku gak bermaksud melecehkanmu" ucap Reno. "Saya dan tuan bukan pasangan kekasih apalagi suami istri, dan bisa-bisanya tuan melakukan itu pada saya" ucap Rani, ia pun kemudian menuju kamarnya untuk membereskan beberapa barangnya. Reno tentu saja menyusul dan mencoba mencegah kepergian pengasuh putrinya itu, dan apa yang Reno lakukan tak lepas dari perhatian beberapa artnya yang lain. "Ran aku mohon jangan pergi, ingat Nayshila dia masih membutuhkan kamu disini" mohon Reno. "Maaf tuan, saya gak bisa" ucap Rani, ia terus sibuk memasukkan barangnya ke dalam tas. "Demi putri saya Nayshila saya mohon jangan pergi Ran, apa yang harus saya katakan nanti jika dia menanyakanmu" ucap Reno, ia benar-benar mohon agar Rani tak meninggalkan rumahnya. Rani terdiam dan seketika matanya berkaca-kaca begitu mengingat gadis kecil itu. "Aku minta maaf kalau selama ini sudah melakukan hal diluar batas, bertahanlah di rumah ini demi putriku Ran. Aku janji gak akan menyentuhmu" ucap Reno. "Keluar dari kamar saya tuan" ucap Rani. "Jangan pergi Ran" ucap Reno. "Saya bertahan disini hanya demi nona kecil" ucap Rani. "Terima kasih" ucap Reno lega. --- Reno duduk di sofa yang ada dikamarnya, ia menatap bingkai foto besar dimana dalam bingkai itu terdapat foto pernikahannya bersama mendiang Maya. "Aku senang melihat wajahnya, aku senang berada didekatnya, dan aku... aku marah ketika dia tertawa bersama orang lain. Gak mungkinkan kalau aku cemburu... cemburu? bukankah cemburu itu tandanya cinta. Tapi gak mungkin kalau aku jatuh cinta pada Rani... gak itu sangat tidak mungkin, apa nanti kata teman-teman dan keluargaku, seorang Reno jatuh cinta pada pengasuh anaknya. Itu gak mungkin kan yank" gumam Reno sambil menatap foto mendiang istrinya. Reno termenung, ia merenungi setiap tingkahnya akhir-akhir ini yang selalu ingin berada dekat dengan Rani. Ia juga memikirkan kalimat yang Rani lontarkan tadi siang. "Ya... Rani benar kami bukan pasangan kekasih apalagi suami istri, tapi aku dengan lancang sudah berani menciumnya. Tapi... tapi bukankah tempo hari dia juga menikmatinya, dia bahkan membalas ciumanku... artinya aku tidak bersalah sepenuhnya. Tapi dalam hal ini Rani ada benarnya, kami bukan pasangan" gumam Rani, ia mengusap wajahnya kasar. "Jadikan dia pasangan lo Ren, buat dia jadi istri lo, jadikan dia ibu yang sebenarnya buat putri lo. Dia baik, cantik dan yang pasti dia menyayangi putri lo sepenuhnya, apalagi yang kurang dari perempuan itu" ucap dewi batinnya dan membuat senyum mengembang di bibir Reno. Reno mengambil jaketnya, ia memutuskan pergi ke suatu tempat, tempat yang sudah cukup lama tidak ia kunjungi. Turun dari mobilnya Reno membeli bunga untuk ia bawa ke makam Maya mendiang istrinya. "Hai... aku datang, maaf aku baru ada waktu kembali untuk mengunjungimu. Kamu tau May... aku merasa sudah menemukan perempuan yang cocok dengan Nayshila, dan kedatanganku kemari ingin meminta izin dan keikhlasanmu untuk aku menjalin hubungan dengan perempuan tersebut. Dia Rani... perempuan yang selama ini mengasuh putri kita sendiri" ucap Reno sambil mengusap nisan mendiang istrinya itu. --- Sementara itu Nayshila tengah asik menikmati udara pegunungan bersama oma Marta dan opa Samuel, gadis cantik itu duduk dipinggir kolam sambil menikmati buah strawbery kesukaannya. "Oma... oma tau gak kemaren Nay melihat daddy dan bunda Rani pelukan" ucap Nayla dengan polosnya. "Pelukan? mungkin Nay salah lihat sayang, gak mungkin ah" ucap Marta tak percaya. "Nay melihat oma... dan saat Nay tanya daddy dan bunda ngapain, daddy bilang matanya bunda kelilipan" ucap Nayla lagi. "Nayshila melihatnya dimana sayang?" tanya sang opa. "Di kamar Nay" ucap Nayshila lagi dengan sangat polos. "Pulang dari sini kita harus sidang mereka pah" ucap Marta. "Apa-apaan si Kevin kaya gak ada tempat lain aja, masa di kamar anak" omel Samuel. "Terus oma tau gak, waktu Nay panggil bunda Rani langsung dorong daddy. Untung daddy gak jatuh, kan kasian daddy oma" ucap Nayshila dan membuat kedua orang tua yang berada didekatnya itu tertawa. ♥♥♥
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD