2. Siapa dia?

1573 Words
Malam sudah larut rembulan bersinar memancarkan sinar temaram. Jalan raya masih terlihat padat dan ramai, lampu-lampu kota menyala membuat malam terlihat indah. Semilir angin malam menerpa wajah seorang laki-laki yang tengah berdiri di atas rooftop gedung pencakar langit. Mata laki-laki itu menatap lurus ke arah depan, tampak ia sedang memikirkan sesuatu yang serius.  “Kenapa dia kembali mengusik Adikku?” Tanya laki-laki itu pada diri sendiri.  “Tidak akan aku biarkan kamu mengusik ketenangan Syana,” lanjutnya seraya mengebalkan tangan dengan erat.  Laki-laki itu tampak menghela napas dengan kasar, ia menatap jam yang melingkar pada pergelangan tangannya sejenak lalu mengedarkan pandangannya pada hamparan kota metropolitan yang di hiasi lampu-lampu indah di malam hari. Setelah itu ia memutuskan untuk pulang ke rumah pasti orang tuanya serta adiknya akan mencemaskannya. Ketika ia sudah berada di basmant untuk mengambil mobil tiba-tiba ponselnya berdering. Dengan cepat ia mengambil ponsel yang berada pada saku celana bahannya dan melihat siapa yang tengah meneleponnya. Ia mengembuskan napasnya pelan saat layar ponselnya menyala dan tertera tulisan “BUNDA is calling” dengan cepat ia mengangkat panggilan tersebut.  “Hallo bund,” sapa laki-laki itu dengan lembut.  “Kamu di mana AL?” tanya Dinda dengan nada khawatir.  “Masih di kantor bund. Sebentar lagi Al pulang,” jawab laki-laki itu. “Ya sudah kamu hati-hati di jalan Al,” ucap Dinda lalu memutuskan panggilan.  Setelah selesai menelepon ia segera masuk ke dalam mobil sportnya dan melajukan menuju rumah. Jalanan sangat ramai, lampu-lampu jalan tampak indah tetapi semua itu tidak dapat mengubah pikiran Aldi yang tengah memikirkan Adik perempuannya. Ia tidak menyangka orang yang dulu hampir mencelakai adiknya kini kembali lagi.  Butuh waktu hampir tiga puluh menit untuk bisa sampai di rumah. Aldi memarkirkan mobilnya di garasi lalu segera masuk ke rumah. Ia tahu pasti orang tuanya tengah menunggu kepulangannya saat ini karena baru kali ini ia pulang larut malam. Saat membuka pintu tatapan Aldi langsung bertemu dengan tatapan bundanya yang tampak mengkhawatirkan dirinya.  “Al kamu kenapa baru pulang ini sudah larut malam,” ucap Dinda sambil menghampiri Aldi yang juga melangkah ke arah bundanya berada.  “Maaf Bund, tadi Aldi bertemu teman dan ke asyikkan mengobrol jadi lupa waktu,” ucap Aldi dengan santai agar bundanya tidak mengetahui jika ia tengah berdusta.  “AL sekarang kamu lebih baik istirahat karena besok pagi kamu akan menggantikan Papa untuk meeting dengan klien dari US,” ujar Danu yang sudah berada di samping Aldi.  Aldi mengangguk patuh lalu berjalan ke lantai dua untuk istirahat, saat selesai membersihkan diri Aldi masih enggan untuk tidur ia berjalan ke arah kamar adiknya berharap Syana belum tidur. Aldi mengetuk pintu kamar adiknya beberapa kali hingga tidak lama kemudian pintu terbuka menampilkan seorang gadis memakai piyama bergambar doraemon. Gadis itu tampak cemberut dan kesal, mungkin karena waktu istirahatnya di ganggu oleh kakaknya.  “Belum tidur?” tanya Aldi dengan santai sambil mendudukkan dirinya di pinggir ranjang Syana.  “Masih nonton drama Korea.” Jawab Syana dengan nada cuek.  “Kakak boleh tanya Sya mengenai paket boneka yang kamu dapatkan itu?” tanya Aldi dengan pelan seraya menatap Syana lekat. Syana mengangguk membuat Aldi melanjutkan pembicaraannya.  “Kakak tahu siapa orangnya dan dia adalah salah satu orang yang dulu hampir menghilangkan nyawa kamu,” ucap Aldi sambil menunduk  Syana mengernyitkan dahinya ia sedikit bingung dengan ucapan Kakaknya itu. Gadis itu tampak berpikir seraya menatap Aldi dengan lekat, ia tidak mengingat apa pun tentang masa lalunya. Hingga akhirnya ia kembali melontarkan pertanyaan pada Kakaknya untuk semua kejadian masa lalunya.  “Maksud kakak apa?” tanya Syana dengan alis yang bertaut.  “Kamu lupa sama cowok yang dulu ngurung kamu di rumah kosong dan nodongin pisau?” bukan menjawab pertanyaan adiknya justru Aldi melontarkan sebuah pertanyaan pada Syana.  “Hah?” Syana semakin tidak mengerti ia pun mencoba mengingat kembali.  Syana mengalami amnesia disosiatif karena saat kelas satu sekolah menengah pertama sempat mengalami kejadian yang menimbulkan trauma bahkan syana sempat depresi ringan. Sejak saat itu keluarganya tidak ada yang membahas mengenai masa lalu yang di alami oleh Syana.  Aldi bingung harus menjelaskan kejadian yang pernah di alami oleh Syana atau tidak. Ia juga tidak menyangka orang yang pernah membuat trauma adiknya hingga mengalami amnesia disosiatif itu akan kembali dan lagi-lagi berusaha dekat dengan Syana.  “Lupakan apa yang Kakak bilang tadi Sya! Sebaiknya kamu tidur dan pesan Kakak jika ada orang asing yang mendekati kamu atau ngasih kamu barang tanpa sepengetahuan Kakak jangan di terima,” ucap Aldi dengan menampilkan senyum manisnya dan tatapan yang terus menatap adiknya.  “Iya kak,” jawab Syana sambil menganggukkan kepalanya dengan cepat dan membalas senyum manis Kakaknya.  Aldi pamit untuk kembali ke kamarnya. Ini sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari di mana ia harus tidur karena besok ia harus ke kantor untuk meeting. Ia sedikit lega karena sudah menasihati adinya supaya tidak menerima pemberian barang dari orang lain, ia takut jika orang itu betul-betul orang yang membuat Syana trauma.  Bulan bersinar dengan cahaya kuning yang menembus gelapnya malam, bintang memancarkan cahaya gemerlap menemani bulan untuk menghiasi langit yang menghitam. Bumi tampak indah ketika malam rembulan bersinar memancarkan cahaya kuning keemasan. Udara malam begitu dingin membuat seorang gadis semakin merapatkan selimutnya serta memeluk guling dengan erat.  Jam terus berdetak hingga pagi kembali menyapa. Matahari telah bangkit dari peraduan dan menghangatkan bumi dengan sinarnya. Tampak cuaca hati ini cerah sama halnya dengan senyum seorang gadis yang tampak bahagia. Gadis itu baru saja selesai mandi dan berencana segera menuju meja makan untuk sarapan bersama.  Gadis itu mematut dirinya di depan cermin rias, hanya polesan make up sangat tipis sudah membuat dirinya terlihat cantik. Setelah itu ia meraih tas sekolahnya yang berada di meja belajar dan keluar dari kamar. Hari ini adalah hari terakhir ia ujian kelulusan.  “Pagi semua!” sapa gadis itu dengan sedikit berteriak membuat Danu dan Dinda yang tengah duduk di meja makan terkejut.  “Sayang jangan berteriak ini bukan hutan,” ujar Dinda yang mencoba menasihati putrinya.  “Hehe maaf ya bunda,” jawab Syana sambil memeluk dan mengecup pipi kanan Dinda.  “Kakak kamu mana nak?” tanya Danu pada Syana yang tengah duduk di samping istrinya.  “Kenapa pah?” tanya seorang laki-laki yang berpakaian rapi sedang menuruni tangga.  “Kirain kamu belum bangun Al,” ucap Dinda sambil tersenyum manis. “Sudah bund, pagi ini kan Al harus ke kantor untuk meeting,” sahut Al yang telah tiba di meja makan.  “Kalau begitu sekalian anterin aku ke sekolah ya Kak,” pinta Syana.  Aldi mengangguk menyetujui permintaan adik perempuannya. Ia juga tidak tega jika membiarkan Syana pergi ke sekolah menggunakan taksi. Mereka menikmati sarapan pagi bersama. Selesia sarapan Syana segera berpamitan pada kedua orang tuanya untuk berangkat sekolah.  Gadis itu menuju garasi menyusul Aldi yang sudah duduk di dalam kursi kemudi. Mobil sport putih keluaran terbaru mulai berjalan membelah jalan raya di pagi hari. Syana menatap ke arah luar jendela menikmati pemandangan pagi sebelum netranya kembali menangkap sebuah motor CBR yang sempat ia lihat kemarin.  “Orang itu terasa familiar sekali.” Gumam Syana dalam hati.  “Sudah dua kali gue ketemu sama dia di sekitar jalan ini.” Lanjut Syana dengan alis yang bertaut.  Syana diam sambil mengingat-ingat di mana ia ketemu pengendara motor CBR itu. Ia merasa pernah bertemu tetapi lupa di mana. Saat berhenti di lampu merah motor CBR itu juga berhenti tepat di samping Syana. Saat itu juga Syana terkejut apalagi dengan samar-samar Syana melihat pengendara tersebut tersenyum menyeringai ke padanya. Aldi yang merasa ada yang tidak beres menatap Syana yang tengah menatap ke arah pengendara motor di sampingnya dengan rasa penasaran Aldi bertanya ada adiknya.  “Sya kamu liat apa?” tanya Aldi dengan tatapan penuh selidik.  “Aku em itu Kak_,” jawab Syana gelagapan.  “Jawab dengan benar dong Sya!” perintah Aldi dengan nada lembut tetapi tatapannya mengintimidasi.  “Pengendara motor itu sepertinya Syana mengenal dia Kak,” jawab Syana sambil mengarahkan jari telunjuknya ke samping.  Beruntung kaca mobil sport Aldi gelap jika di lihat dari luar jadi Syana juga tidak malu saat menunjuk ke arah orang yang ia maksud. Aldi mengikuti arah telunjuk Syana dan seketika jantung Aldi berdetak tidak karuan, bola matanya melebar, lidahnya mendadak kelu, otaknya mendadak berhenti bekerja. Syana menatap Aldi dengan tatapan bingung karena kakaknya itu seperti sedang melihat hantu.  “Kak Al,” panggil Syana dengan suara lembut.  “Kakak kenapa sih?” tanya Syana dengan wajah kebingungan.  Tinnnn tinnnn  Suara klakson mobil yang berada di belakang terdengar membuat Aldi tersadar dari pikirannya. Lampu lalu lintas sudah hijau, Aldi buru-buru menginjak pedal gas supaya mobilnya melaju kembali menuju sekolah Syana. Ia tidak menjawab pertanyaan adiknya tadi, jujur ia juga terkejut dengan apa yang baru saja ia lihat. Perlahan genggaman tangan Aldi pada stir mobil mengerat matanya menatap tajam ke arah depan rahangnya terlihat mengeras menahan luapan emosi.  Syana bingung dengan raut wajah kakaknya yang tiba-tiba berubah. Ia juga tidak tahu siapa pengendara yang tadi ia lihat tetapi Syana menduga kakaknya mengenal siapa orangnya. Syana memilih diam dan tidak banyak bertanya, ia tahu bagaimana kakaknya jika sudah marah maka apapun yang ada di sekitarnya akan hancur.  Sesampainya di depan gerbang sekolah Syana segera turun, ia tidak lupa mencium tangan kakaknya dan segera masuk ke sekolah karena sebentar lagi bel tanda masuk akan berbunyi. Aldi yang ingin melajukan mobilnya menuju kantor mendadak berhenti saat melihat mengendara CBR yang tadi ia lihat di lampu merah. Pengendara itu membuka kaca helmnya tampak manik mata abu-abu yang sangat Aldi kenali. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD