3. Misterius

1604 Words
Kriiinggg  Jam istirahat tiba, Syana dan kedua sahabatnya pergi menuju kantin. Banyak pasang mata yang menatap Syana karena kagum akan kecantikan dan kecerdasannya. Sikap Syana yang murah senyum menambah banyak penggemarnya di sekolah terus bertambah.  Avki dan Mutia merupakan sahabat Syana sejak masuk di bangku SMA. Mereka sama-sama memiliki paras yang cantik tetapi Avki sedikit tomboi membuat kaum Adam takut untuk mendekatinya. Di kantin sudah ramai Syana segera mencari tempat duduk di temani oleh Avki sedangkan Mutia memesan makanan untuk mereka bertiga.  Selama ini banyak teman cowok Syana yang terang-terangan mengungkapkan perasaannya tetapi tidak satu pun yang Syana terima dengan alasan ia ingin fokus mengejar cita-cita. Wajar jika kaum Adam banyak yang terpikat oleh Syana. Kecantikan natural, sikap ramah, sopan dan cerdas membuat gadis itu terlihat sempurna di mata lawan jenis.  Syana dan Avki sudah mendapat tempat duduk, mereka berdua tinggal menunggu Mutia yang sedang memesan makanan. Tidak lama terlihat Mutia tampak kebingungan mencari kedua sahabatnya apalagi di tengah kantin yang lumayan ramai. Avki yang melihat Mutia kebingungan segera melambaikan tangan dengan ceoat Mutia melangkah menuju kedua sahabatnya. “Nih soto ayam pedas sama es jeruk lemon,” ucap Mutia sambil memindahkan tiga soto ayam dan es jeruk lemon dari nampan.  “Wihhh mantap ini mah,” sahut Avki heboh.  “Tahu aja kesukaan gue,” celetuk Syana yang mulai mengaduk soto ayam pedasnya seraya tersenyum.  “Iya dong gue gitu loh,” jawab Mutia sambil menampilkan wajah tengilnya.  Syana dan Avki hanya memutar bola matanya jengah sambil menggelengkan kepala. Mereka bertiga makan dengan santai sesekali terlibat obrolan. Selesai makan Syana dan kedua temannya keluar dari kantin menuju perpustakaan. Setelah istirahat nanti free class tadi sudah di umumkan melalui grup sekolah.  Sesampainya di perpustakaan ketiga gadis itu segera masuk tidak lupa mengisi daftar kunjung lalu berbencar mencari buku yang mereka cari. Syana menyusuri deretan rak novel, di sisi lain Avki tengah mencari buku tentang bisnis sedangkan Mutia membaca beberapa buku psikolog. Ketiganya memiliki hobi membaca tetapi buku yang mereka baca itu tentu berbeda.  Syana melangkah menuju meja pojok perpustakaan untuk melanjutkan membaca novel romance seorang mafia. Saat ia membaca ia merasa ada yang memperhatikannya. Syana menengok kanan kiri tetapi tidak mendapati siapa pun, kedua sahabatnya juga tengah sibuk membaca di meja yang tidak jauh dari dirinya.  “Mutia Avki lo merasa ada yang memperhatikan kita tidak?” tanya Syana dengan lembut dan pelan.  “Kok gue tidak merasa ya Sya,” sahut Mutia sambil mengedarkan pandangan ke sekitar.  “Iya gue tidak merasa ada yang memperhatikan kok. Perasaan kamu aja kali Sya,” jawab Avki yang juga mengedarkan pandangan ke sekitar.  “Masa sih tapi sedari awal gue mulai baca merasa ada yang memperhatikan tahu,” ucap Syana sambil menatap kedua sahabatnya dengan tatapan gelisah.  Entah ada apa dengan Syana sejak memasuki perpustakaan dirinya merasa gelisah, apalagi saat mulai membaca novel incarannya ia merasa ada yang memperhatikan. Syana tahu di perpustakaan itu hanya ia dan kedua sahabatnya tetapi Syana benar-benar merasa ada yang memperhatikan bahkan keringat dingin mulai bercucuran.  Tubuh Syana seolah menunjukkan respon terhadap sesuatu yang menyangkut masa lalunya. Selama ia amnesia tidak ada orang yang mencoba mengembalikan ingatannya termasuk keluarga. Menurut mereka Syana lebih baik amnesia dari pada harus mengingat kejadian mengerikan itu. Syana mencoba fokus kembali membaca tetapi tiba-tiba ponsel dalam sakunya berbunyi.  Ting  Unknown Number Hay cantik.  Apa kabar kamu? Aku adalah masa lalu yang sampai sekarang memperjuangkan mu. Sebuah pesan masuk dengan nomor yang di sembunyikan. Syana mematung setelah membaca sederet pesan dari orang yang tidak ia ketahui. Tiba-tiba keringat dingin semakin membanjiri pelipisnya sebuah potongan ingatan kembali muncul. Syana teringat seorang laki-laki yang menggunakan masker yang menatapnya penuh cinta tetapi tangannya penuh darah. Syana merasa kepalanya berdenyut sehingga novel yang ia pegang jatuh.  Bruk SYANA! Kedua sahabatnya memekik lantaran Syana yang pingsan. Avki segera memangku kepala Syana sambil menepuk pipi sahabatnya dengan pelan sedangkan Mutia berlari mencari bantuan. Tidak lama penjaga perpustakaan dan seorang anak PMR yang bertugas datang lalu membawa Syana ke UKS.  *** Di balik dinding seorang laki-laki yang mengenakan pakaian serba hitam lengkap dengan masker dan topi mengepalkan tangannya ketika melihat gadis yang sedang ia perhatikan pingsan.  “Syana kenapa kamu tidak mengingat diriku?” tanya laki-laki itu pada diri sendiri dengan kedua tangan terkepal.  Laki-laki itu berjalan meninggalkan sekolah SMA TUNAS HARAPAN. Ia segera menjalankan motor sportnya menuju suatu tempat. Dengan kecepatan di atas rata-rata. Laki-laki itu tidak memedulikan pengguna jalan yang mengumpatinya karena berkendara dengan ugal-ugalan. Tiga puluh menit sudah laki-laki itu berkendara, kini ia sampai di sebuah bangunan megah berlantai tiga. Dengan cepat laki-laki itu masuk lalu menuju sebuah ruangan. Di depan ruangan itu ada seorang pria yang mengenakan setelan jas hitam sedang membungkuk pada seorang laki-laki yang harus saja memasuki rumah megah tersebut.  “Selamat siang tuan,” ucap pria tersebut dengan sopan.  “Siang,” balas laki-laki itu dengan nada dingin serta tatapan yang begitu tajam. Ceklek Pintu ruangan terbuka aroma mint yang berasal dari pengharum ruangan langsung menyeruak ke dalam saluran pernapasan. Laki-laki tersebut meraih laptop di atas meja kerja dengan kasar lalu membukanya. Ia tampak serius menatap layar laptop tersebut penampilan badboy yang khas membuat pesona laki-laki itu keluar.  “KEMAL!” teriak laki-laki tersebut dengan suara bass yang memenuhi ruangan.  Seorang pria yang tadi berdiri di depan ruangan langsung masuk menemui tuannya dengan kepala menunduk. Ia tidak berani menatap langsung majikannya karena menurutnya majikannya itu adalah seorang iblis berhati malaikat. “Iya tuan ada yang bisa saya bantu?” tanya Kemal dengan sopan.  “Cari tahu kenapa gadisku tidak ingat pada diri ku sedetail mungkin!” perintah laki-laki itu dengan menyerahkan selembar foto gadis cantik yang tengah tersenyum.  “Baik tuan,” jawab Kemal patuh.  “Saya tunggu mau setelah makan siang semua laporan ada di meja kerja saya,” ucap laki-laki itu dengan nada yang tegas dan tatapan yang tajam seolah menujuk jantung lawan bicaranya.  “Baik tuan,” jawab Kemal dengan tegas lalu ia keluar dari ruang tersebut dengan tergesa.  *** Cuaca hari ini cukup cerah, matahari bersinar begitu terik. Tampak dedaunan melambai-lambai akibat di tiup angin. Jalan raya yang cukup padat serta udara siang yang bercampur asap kendaraan membuat siang hari semakin terasa panas.  Seorang laki-laki berumur sekitar 24 tahun berdiri menatap ke arah jalan raya dengan kedua tangannya masuk ke dalam saku celana bahan yang ia kenakan. Kemeja navy yang di gulung hingga siku menampakkan lengan kekar laki-laki itu. Ia sedang memikirkan tentang orang yang ia temui di depan sekolah adiknya tadi pagi.  Orang itu adalah masa lalu adiknya sekaligus orang yang berhasil membuat adiknya amnesia. Ia mengenal betul orang tersebut. Kegelisahan dalam hati tidak bisa ia elak lagi. Pikiran laki-laki itu terus berputar mengingat kejadian di mana adiknya mengalami trauma hingga berujung amnesia tanpa sadar laki-laki itu mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku tangan memutih.  Tok tok tok Ketukan pintu dari luar membuat laki-laki yang tengah menatap jalan raya tersadar dari pikirannya. Tidak lama pintu terbuka menampilkan seorang laki-laki dengan setelan jas formal masuk.  “Selamat siang Pak Aldi,” sapa laki-laki yang baru saja memasuki ruangan dengan sopan.  “Siang Galih, ada apa kamu menemui saya di sini?” tanya laki-laki itu penasaran.  “Ada hal penting yang ingin saya sampaikan pada Pak Aldi,” ucap Galih sambil menunduk.  “Silahkan duduk,” sahut Aldi dengan ramah.  “Pak saya ada laporan dari anak buah saya bahwa seseorang telah mencari tahu informasi mengenai nona muda,” jelas Galih perlahan seraya menyerahkan sebuah flashdisk pada Aldi.  “Lalu apa ini?” tanya Aldi dengan tatapan tajam.  “Isi nya rekaman CCTV yang berada di dekat rumah anda serta di sekolah nona muda,” jawab Galih dengan sopan.  “Terima kasih Galih saya sendiri yang akan bertindak. Dan tolong terus awasi Syana dari kejauhan jangan sampai lengah karena musuh kita bukan orang sembarangan,” ujar Aldi memberi arahan pada assitennya.  “Baik Pak. Kalau begitu saya undur diri,” pamit Galih dengan sopan lalu keluar dari ruangan tersebut.  Setelah Galih keluar Aldi tampak mengeraskan rahangnya, wajahnya merah madam menandakan ia tengah menahan emosi yang luar biasa. Ia segera memasangkan flashdisk yang tadi Galih berikan. Belum sampai ia memutar rekaman tersebut ponselnya berdering.  Drrt drrt drrt  Aldi mengalihkan atensinya pada layar ponsel yang menyala menampilkan nama ‘Princess Syana’ dengan cepat Aldi menerima panggilan tersebut.  “Hallo sayang ada apa?” tanya Aldi dengan lembut.  “Kak jemput Syana yah kepala Syana pusing sekali,” ucap Syana dengan lesu.  “Ya sudah Kakak segera ke sana,” ucap Aldi lalu mematikan panggilan adiknya.  Tidak menunggu lagi Aldi membereskan semua berkas di atas meja kerjanya. Menutup laptop tidak lupa menyimpan flashdisk dari galih ke dalam saku celana bahan lalu ia berlari keluar ruangan menuju lift khusus CEO. Pikiran Aldi di penuhi oleh adiknya, bahkan ia menggerutu kala lift tidak segera sampai lantai dasar.  Ting  Lift terbuka Aldi tidak menghiraukan sapaan para karyawannya, ia berlari menuju mobil sport nya berada lalu melajukan mobilnya menuju SMA TUNAS HARAPAN. Wajah Aldi tampak begitu khawatir, ia juga mengusap wajahnya dengan kasar beberapa kali. Lima belas menit kemudian Aldi sampai di SMA TUNAS HARAPAN. Pekikan murid perempuan terdengar heboh kala Aldi berjalan menyusuri koridor sekolah menuju UKS. Ia sedikit risih dengan tatapan murid perempuan yang mengagumi dirinya sehingga ia mempercepat langkahnya.  Brak Pintu UKS di buka dengan kasar Aldi langsung memeluk Syana yang tengah terbaring lemas di atas brankar. Aldi langsung mencium kening Syana lama menyalurkan rasa khawatir yang berlebih.  “Kak aku ingin pulang,” pinta Syana dengan suara parau  “Sebentar Kakak izinkan pada Guru lebih dulu ya,” ucap Aldi dengan lembut seraya mengelus pucuk kepala Syana. Syana hanya mengangguk, sungguh ia tidak tahan dengan denyutan pada kepalanya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD