Matahari mulai rebah dalam peraduan, malam menyambut dengan kegelapan. Bulan menampakkan jati dirinya dengan sinar temaram bintang hadir tengah bersua dengan rembulan di langit yang menghitam. Semilir angin malam menggerakkan anak rambut seorang gadis yang duduk di bangku taman belakang rumahnya. Gadis itu tampak berpikir seraya mendongak menatap bintang dan bulan.
“Sya,” ucap seorang laki-laki seraya menepuk pundak gadis itu pelan.
“Ada apa Kak?” tanya Syana yang menoleh ke arah Aldi.
“Kamu sedang memikirkan siapa?” tanya Aldi pelan tetapi netranya menatap Syana dengan intens.
“Kakak tahu masa lalu aku atau kisah sebelum aku mengalami amnesia?” tanya Syana dengan tatapan sendu.
Aldi mengangguk sebagai jawaban. Syana menghela napas kasar lalu menatap lekat manik mata kakaknya. Ia tahu ada yang berusaha di tutupi oleh kakaknya itu, tetapi apa itu Syana juga tidak mengetahui. Syana masih ingat betul ada orang yang tengah mengawasi diam-diam.
“Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan hal itu?” tanya Aldi penasaran.
“Akhir-akhir ini aku selalu mengingat potongan ingatan yang menampakkan seorang laki-laki tetapi semua hitam Kak. Dalam ingatan ku aku tidak bisa melihat siapa dia dan yang lebih membuatku penasaran adalah orang yang mengirim ku pesan,” jelas Syana dengan nada rendah dan pandangan lurus ke depan.
“Siapa yang mengirim kamu pesan?” tanya Aldi dengan gusar.
“Tidak ada nomor yang tertera karena nomor di sembunyikan Kak,” ujar Syana sambil menghela napas pelan.
“Mana ponsel kamu Kakak lihat sini,” pinta Aldi dengan nada khawatir.
Syana menyerahkan ponselnya pada Aldi. Dengan cepat Aldi membuka pesan yang di maksud oleh Syana seketika wajah Aldi merah padam menahan amarah. Sebisa mungkin Aldi mengontrol emosinya supaya Syana tidak bertanya-tanya mengenai masa lalunya. Dengan cepat Aldi bangkit lalu mengembalikan ponsel adiknya dan ia pun beranjak pergi membuat Syana menata kakaknya bingung.
“Kak Al kenapa malah pergi?” tanya Syana pelan pada diri sendiri.
Syana kembali terdiam gadis itu menatap kembali bintang yang gemerlap menghiasi langit gelap. Ingatannya berputar kembali di mana ia bertemu dengan pengendara motor CBR yang di temui di lampu merah. Syana yakin ia pernah bertemu dengan orang tersebut karena tatapannya meskipun ia melihat samar karena kaca helm yang gelap tapi tidak asing baginya.
***
Aldi masuk ke kamarnya dengan tergesa lalu menutup pintu dengan kasar ia tidak lupa mengunci kamarnya. Dengan wajah yang merah pada ia berdiri di depan jendela kamarnya meraup wajah dengan kasar lalu mengepalkan tangan dengan kuat.
“Sialan! Kenapa lo kembali mengusik Adik gua b******n,” ucapnya pelan tetapi penuh penekanan.
Laki-laki itu meraih ponsel yang berada di atas nakas ia mencoba menghubungi asistennya untuk mencari tahu keberadaan orang yang sudah mengusik adiknya. Aldi menghela napas perlahan lalu ia duduk di tepi ranjang tempat tidurnya. Ingatan Aldi kembali ke masa di mana Syana tengah mengalami trauma dan selalu histeris ketika ada orang asing yang mendekat. Semua hal buruk di masa lalu kembali Aldi ingat menyebabkan dadanya sesak dan bergemuruh.
Ting
Sebuah pesan masuk membuyarkan pikiran Aldi dengan cepat ia melihat pesan yang di kirimkan oleh asisten pribadinya. Di sana terdapat sederet alamat yang Aldi inginkan. Tanpa menunggu Aldi mengganti pakaiannya lalu meraih kunci mobil sport dan pergi menuju alamat yang di kirim oleh asistennya.
Laki-laki itu melangkah menuju garasi dengan tergesa-gesa bahkan ia tidak sempat pamit pada orang tua serta adiknya. Dalam benaknya kini hanya di penuhi oleh satu orang yang membuatnya emosi. Aldi mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata bersyukur malam ini jalanan lumayan sepi membuat ia leluasa untuk menambah kecepatan.
Kurang lebih empat puluh menit kini Aldi sampai pada tempat tujuan, sebuah rumah yang besar dengan penjagaan yang lumayan ketat. Aldi turun dari mobil dan langsung di sambut oleh orang berpakaian serba hitam menghadang gerbang.
“Ada keperluan apa anda datang kemari?” tanya salah satu laki-laki yang berpakaian hitam.
“Saya ingin ketemu dengan bos kalian,” ucap Aldi dengan tenang tetapi matanya menatap tajam.
“Apa sudah mengatur janji temu dengan beliau?” tanya laki-laki satunya yang sama-sama menggunakan setelan hitam.
Tin tin
Belum sempat Aldi menjawab sebuah mobil mewah berwarna hitam memasuki halaman rumah tersebut. Aldi sudah tahu siapa yang mengemudi mobil tersebut. Tampak laki-laki paruh baya dengan setelan formal turun, orang itu menatap ke arah gerbang lalu berjalan menghampiri penjaga yang sedang menghadang Aldi untuk masuk.
“Ada apa ini?” tanya orang tersebut.
“Maaf Pak. Orang ini berniat masuk ke dalam rumah dan ingin bertemu anda,” ujar salah satu bodyguard. Lalu laki-laki paruh baya tersebut melihat ke arah Aldi yang tersenyum sopan.
“Aldi.” Panggil laki-laki paruh baya tersebut seraya melangkah mendekati Aldi yang berdiri di hadapannya.
“Apa kabar om Tian?” sapa Aldi dengan sopan tidak lupa mencium tangan.
“Baik nak. Kalau begitu mari masuk!” ajak Tian dengan senyum ramah.
Tian dan Aldi memasuki halaman rumah besar dengan santai. Aldi mengedarkan pandangannya ke segala arah, meskipun besar tapi tampak sepi seolah tidak ada penghuni. Sesampainya di ruang tamu Aldi dan Tian duduk di sofa saling berhadapan.
“Aldi, ada perlu apa kamu Nak sampai datang kemari?” tanya Tian sambil menatap intens manik mata Aldi yang tersirat amarah.
“Saya ingin menanyakan apakah Bara kembali om?” tanya Aldi to the point dengan tatapan yang berubah tajam.
Tian tampak mengerutkan keningnya saat mendengar pertanyaan Aldi. Putranya sedang berada di luar negeri dan tidak akan kembali ke Indonesia dan Aldi mengetahui itu. Lantas kenapa Aldi bertanya seperti itu pada dirinya. Aldi yang paham akan kebingungan Tian pun kembali berbicara.
“Kemarin saya tidak sengaja bertemu Bara di depan sekolah SMA TUNAS HARAPAN om di tempat Adik saya bersekolah.” Jelas Aldi dengan pelan. Tian semakin di buat bingung dan terkejut terlihat jelas ekspresi wajah yang bertanya-tanya.
“Maaf Aldi tapi kamu tahu sendiri sejak kejadian itu om tidak mengizinkan putra om kembali ke Indonesia dan lagi ia masih menjalani terapi psikologis di sana,” ucap Tian menjelaskan.
“Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri om. Bahkan sebelum saya tiba di Indonesia Adik saya mendapat kan kiriman sebuah boneka dari Bara,” ucap Aldi yang berusaha meyakinkan Tian.
“Bahkan om Bara mengikuti Adik saya diam-diam dalam beberapa hari ini. Om sudah berjanji bukan akan menjauhkan Bara dari Adik saya dan Om ingatkan apa konsekuensinya jika Om melanggar,” lanjut Aldi dengan melayangkan tatapan mengintimidasi.
Tanpa mereka sadari ada seorang laki-laki yang berdiri di balik tembok ruang tamu dengan menggunakan pakaian bodyguard lengkap dengan topi dan masker sedang mendengarkan semua pembicaraan Aldi dan Tian. Diam-diam orang tersebut mengepalkan tangan lalu melangkah pergi meninggalkan rumah besar tersebut.
***
Di tempat lain di sebuah kamar bernuansa feminim seorang gadis baru saja masuk. Ia melihat kotak kado besar yang di letakkan di atas ranjang tidurnya. Gadi tersebut mengernyit heran karena ia tidak sedang ulang tahun lalu, kedua orang tuanya sudah tidur sedangkan kakaknya sedang pergi entah ke mana.
Perlahan gadis tersebut melangkah menuju ranjang dan meraih kotak kado besar lalu perlahan mencoba membukanya. Dengan gerakan pelan gadis itu mulai melepas pita kotak tersebut dan membukanya. Ia terdiam saat mengetahui isinya.
“Hah coklat sebanyak ini?” tanya Syana pada diri sendiri.
Sebuah kertas yang berada di atas tumpukan coklat menyita perhatiannya. Dengan cepat ia meraih kertas itu lalu membacanya.
To : ISYANA GHABRIELA PRASETYO
Hay aku adalah masa lalumu.
Kamu suka coklat kan aku belikan banyak supaya senyum di bibirmu tidak menghilang. Tidak perlu mencari tahu siapa aku karena ketika waktunya tiba aku akan menjemputmu
From: MASA LALU
Syana menautkan alisnya, ia tidak paham maksud dari pesan tersebut. Banyak pertanyaan yang bersarang pada otak Syana tetapi ia simpan dan akan kembali bertanya pada Aldi nanti.
Entah hanya Syana atau Aldi juga merasakan tapi akhir-akhir ini banyak kejadian yang begitu janggal bagi Syana. Berawal dari ia melihat orang yang mengawasi rumahnya, kiriman boneka, di awasi di sekolah bahkan pengendara motor CBR yang ia temui di lampu merah itu seolah-olah ada kaitannya feeling Syana mengatakan semua ada kaitannya.
Syana membereskan kotak besar berisikan coklat itu lalu menyimpannya di atas meja belajar setelah itu ia duduk di sofa dekat ranjang tidur seraya memikirkan siapa orang yang mengirim kado tersebut.
“Apa laki-laki yang selalu muncul dalam ingatanku juga ada kaitannya?” ucap Syana bertanya-tanya.
“Jika iya, lalu siapa dia?” gumamnya lagi seraya mencoba berpikir.
Kepala Syana kembali berdenyut, rasanya seperti di hantam batu besar. Syana segera mencari obat untuk meredakan pusing yang menderanya tetapi apa yang ia cari tidak ada di nakas. Syana terus memegang kepalanya yang begitu sakit bahkan ia berjalan sempoyongan.
“ARRRGGGHH!” pekik Syana melampiaskan rasa sakitnya.
“PAPA!” teriak Syana dengan kencang
“MAMA!” pekiknya lagi tetapi tidak ada sahutan karena kamarnya kedap suara.
Semua potongan ingatan masa lalu kini hadir membuat Syana semakin histeris. Kepalanya seperti mau pecah bahkan ia sudah menangis. Badannya mengeluarkan keringat dingin dan bergetar hebat. Ia mencoba meraih air minum di atas nakas berharap bisa sedikit meredakan rasa pusing yang hebat tetapi baru saja akan meraih gelas tersebut pecah.
“SAKIT BUNDA!” ucap Syana memekik kesakitan
Syana merasakan tubuhnya melemas dan dadanya sesak. Ia berjalan ke arah pintu berharap jika pintu terbuka ada yang mendengar teriakannya. Dengan tenaga yang tersisa Syana bangkit lalu melangkah ke arah pintu dengan tangan yang terus memegang kepalanya. Belum sempat pintu terbuka, gadis itu baru meraih handle pintu tubuhnya limbung.
Bruk
Gadis itu jatuh tidak sadarkan diri dengan keadaan yang berantakan bahkan tangannya mengeluarkan darah akibat terkena pecahan gelas yang tadi jatuh.