5. Tidak sadarkan diri

1589 Words
Di ruangan bernuansa putih dengan cahaya terang seorang gadis tengah terbaring di atas bad hospital dengan infus yang terpasang pada salah satu tangannya. Wajah pucat serta luka yang telah di perban membuat Aldi dan kedua orang tuanya menatap dengan sendu. Sudah terhitung enam jam gadis itu tidak kunjung sadar. Aldi yang tadinya menemui seseorang mendadak mendapat telepon dari papanya mengatakan jika Syana pingsan dan di larikan ke rumah sakit. Jika semalam Dinda tidak berkunjung ke kamar putrinya mungkin sampai pagi juga tidak mengetahui jika Syana tidak sadarkan diri di dalam kamar. Semalam Dinda sempat heran ketika beberapa kali mengetuk pintu kamar putrinya tidak ada sahutan, hingga akhirnya ia membuka kamar putrinya lalu pemandangan pertama yang di lihat adalah Syana yang sudah tidak sadarkan diri serta tangan yang terluka hingga darah terus mengucur keluar. Malam hari Dinda hendak mengantarkan baju yang baru di beli untuk acara pernikahan keponakannya lusa. Dinda berpikir Syana juga masih terjaga meskipun jam sudah menunjukkan pukul 22.00 malam. Kebiasaan putrinya itu saat malam adalah menonton drama Korea. Tok tok tok Dinda belum curiga saat Syana tidak kunjung membuka pintu, bundanya berpikir jika Syana masih asyik menonton drama Korea. Sekali lagi Dinda mengetuk pintu kamar putrinya dengan kencang. Tok tok tok Lagi-lagi tidak ada jawaban dari dalam kamar. Dengan ragu Dinda meraih handle pintu, beruntung pintu kamar Syana tidak terkunci. Ketika Dinda melangkah masuk ia terkejut melihat putrinya yang terkulai lemas di lantai serta tangan yang berdarah. Bahkan baju yang sempat ia bawa terjatuh dengan spontan Dinda berteriak. “SYANA!” pekik Dinda dengan histeris. “Nak, bangun sayang!” Dinda yang memangku kepala putrinya serta menepuk pipi Syana dengan pelan mulai panik. “PAPA TOLONG PAH!” teriak Dinda dengan kencang bahkan Danu yang sedang membuat kopi di dapur terkejut. “PAPA SYANA PAH,” racau Dinda yang sudah sangat panik dengan air mata yang terus mengalir. Danu segera lari menuju kamar putrinya ketika mendengar teriakan istrinya. Dan betapa terkejutnya saat melihat putrinya tidak sadarkan diri serta istrinya yang menangis histeris. “Bund ini kenapa Syana bisa seperti ini?” tanya Danu dengan panik sambil meraih tubuh putrinya. “Tidak tahu Pah hiks,” jawab Dinda dengan parau. “Sebaiknya kita bawa ke rumah sakit, Bunda tolong panggil sopir biar Papa yang membawa Syana ke bawah,” ucap Danu yang sudah siap membopong tubuh putrinya, Dinda pun berlari mencari sopir lalu ikut membawa Syana ke rumah sakit. Dalam perjalanan menuju rumah sakit Danu berusaha bersikap tenang karena Dinda sudah sangat panik dan tidak berhenti menangis. Darah dari tangan Syana juga tidak berhenti mengucur membuat Danu ikut panik. Sebelum sampai di rumah sakit Danu mencoba menghubungi Aldi. “Hallo Pa,” sapa Aldi dengan sopan. “Syana masuk rumah sakit, sebaiknya kamu segera ke rumah sakit Putra Medika!” Ucap Danu lalu mematikan panggilan sepihak. Butuh waktu lima belas menit untuk sampai di rumah sakit. Sesampainya di sana Danu segera menggendong tubuh mungil putrinya menuju UGD. Dinda semakin histeris ketika melihat Syana yang kian memucat. Saat dokter hendak menangani putrinya, seorang suster menyuruh Danu dan Dinda keluar lebih dulu. “Pa Syana pasti akan baik-baik saja kan?” tanya Dinda dengan pelan serta suara yang serak. “Kita berdo’a saja ya Bund,” ucap Danu yang memeluk istrinya, mencoba menenangkan. Tidak lama Aldi datang dengan wajah khawatir serta napas yang tersenggal-senggal karena ia lari dari parkiran menuju UGD. Sesampainya di depan UGD ia melihat kedua orang tuanya tengah berpelukan dan bundanya yang menangis histeris. “Papah,” panggil Aldi. Kedua orang yang tengah berpelukan itu menengok ke asal suara lalu Danu mengurai pelukan istrinya. Aldi bertanya bagaimana bisa Syana tiba-tiba masuk ke rumah sakit, Danu dengan cepat menjelaskan. Saat Aldi akan bertanya lagi pada papanya tiba -tiba pintu UGD terbuka menampakkan seorang dokter laki-laki dengan jas putih yang keluar. “Bagaimana keadaan Putri saya dok?” tanya Danu dengan tidak sabaran. “Putri bapak tidak apa-apa, tapi nanti masih butuh perawatan sekitar tiga hari jadi silakan urus administrasinya karena pasien akan di pindah ke ruang rawat,” jelas dokter tersebut dengan hati-hati. Danu, Dinda dan Aldi menghela napas lega saat mengetahui Syana baik-baik saja. Danu pun pergi mengurus administrasinya sedangkan Aldi menemani bundanya lalu saat Syana di pindah ke ruang rawat mereka berdua mengikuti. Ceklek Suara pintu ruangan yang terbuka menyadarkan pikiran Aldi. Ia menoleh ke arah pintu ternyata ada seorang dokter laki-laki dan suster yang masuk. Aldi segera berdiri untuk menyambut. “Nona Syana belum siuman?” tanya dokter pada Aldi dengan senyum ramah. “Belum dokter,” jawab Aldi pelan seraya menatap adiknya dengan sendu. “Pasien pernah mengalami amnesia disosiatif benarkah?” tanya dokter tersebut sambil melihat hasil cek kesehatan milik Syana. “Benar dokter apa mungkin hal tersebut yang menyebabkan Adik saya pingsan dokter?” tanya Aldi dengan nada khawatir. “Iya betul. Sepertinya Adik anda sudah mulai mengingat walau tidak sepenuhnya. Rasa sakit saat ingatan kembali akan menyebabkan pusing yang sangat hebat lalu jika kondisi tubuh lemah bisa pingsan,” jelas dokter dengan rinci. “Nanti akan saya tindak lanjuti ketika pasien sudah siuman jadi ketika pasien siuman silahkan panggil saya menggunakan tombol darurat yang tersedia di samping tempat tidur pasien,” lanjut dokter dengan menampilkan senyum ramah. “Baik dok,” jawab Aldi. “Kalau begitu saya permisi,” pamit dokter tersebut lalu melangkah pergi. *** Di sisi lain seorang laki-laki tengah menatap semua laporan yang di berikan asistennya dengan seksama. Ia membaca dengan hati-hati bahkan ia menampilkan banyak ekspresi saat membaca biodata seorang gadis yang telah di berikan asistennya kemarin. “Jadi gadisku tengah menderita amnesia disosiatif ,” gumamnya pelan. “Pantas saja dia lupa dengan ku. Ah tapi aku akan membuatnya ingat lagi denganku.” Lanjutnya seraya tersenyum menyeringai. “KEMAL!” teriak laki-laki tersebut dengan lantang. Pintu kamar laki-laki tersebut terbuka lalu orang yang tadi di panggil masuk dan menunduk sopan, sedangkan laki-laki yang memanggil tengah menyesap wine dengan santai dan pandangan yang lurus ke depan. “Apa coklat yang aku kirim sudah sampai pada gadisku?” tanya laki-laki itu dengan santai. “Sudah Tuan, em tapi gadis anda tengah masuk rumah sakit karena sempat pingsan Tuan,” ujar Kemal dengan nada rendah. “APA?” pekik laki-laki tersebut dengan mata yang melebar. “Kenapa kamu baru memberitahu saya hah?” ucap laki-laki itu seraya menatap Kemal dengan tajam. “Maaf Tuan, saya kira anda sudah mengetahui hal ini karena anda selalu mengawasi kediaman gadis itu sendiri,” ucap Kemal mencoba membela diri. “Keluar kamu!” perintah laki-laki itu pada Kemal. Dengan segera Kemal keluar dari kamar majikannya, ia tidak mau jika menjadi sasaran kemarahan majikannya karena sekali marah maka akan sangat mengerikan, kemal pun bergidik ngeri saat membayangkan betapa menakutkan majikannya itu saat marah bahkan ia pernah menyaksikan saat majikannya tengah membunuh orang dengan sadis. Sedangkan di dalam kamar laki-laki tersebut segera bersiap menuju rumah sakit di mana gadisnya di rawat. Ada pancaran khawatir dari tatapan laki-laki itu. Sebelum berangkat laki-laki itu mencium foto seorang gadis yang terpajang di sebuah pigura kecil samping nakas tempat tidurnya. *** Di rumah sakit Aldi tertidur di sofa dekat bad hospital adiknya. Ia sangat lelah karena mengurus urusan kantor sambil menjaga adiknya. Orang tuanya sedang meeting dengan kolega bisnis di restoran dekat rumah sakit. Aldi terbangun karena ia merasa ingin buang air kecil. Dengan mata sayu karena masih mengantuk ia berjalan ke arah kamar mandi yang berada di dalam ruangan tersebut. Ia ingin sekalian mencuci wajah supaya terlihat segar. Setelah Aldi masuk ke kamar mandi pintu ruang rawat Syana terbuka menampilkan seorang laki-laki berpakaian hitam lengkap dengan masker dan topi. Laki laki itu melangkah mendekati Syana yang masih belum sadarkan diri. Saat sudah dekat tangan laki-laki itu mengelus pucuk kepala Syana dengan lembut hingga pintu kamar mandi terbuka membuat laki-laki tersebut terkejut. Bugh Bugh “Siapa lo berani-beraninya masuk ke ruangan Adik gue?” teriak Aldi seraya memukul wajah orang tersebut. Laki-laki dengan pakaian serba hitam itu langsung tersungkur ke lantai. Aldi mendekat melayangkan pukulan bertubi-tubi, hingga saat ia hendak membuka masker laki-laki tersebut tiba-tiba Aldi tersungkur karena ia lengah sehingga laki-laki tersebut melayangkan sebuah pukulan. Laki-laki itu segera bangkit dan berlari keluar. Aldi yang melihat hal itu juga ikut berlari keluar dan mengejar laki-laki berpakaian hitam tadi. Saat sampai di koridor rumah sakit Aldi kehilangan jejak hingga ia mengumpat dengan wajah yang menahan emosi. “Sialan! Bisa-bisanya gue lengah jagain Syana,” gumamnya pelan sampul tangan terkepal serta pandangan yang mengedar ke segala arah. “Siapa laki-laki tadi, kenapa bisa masuk ke ruangan Syana?” tanya Aldi pada diri sendiri sambil menghela napas dengan kasar. Karena tidak menemukan apa yang di cari, Aldi kembali melangkah menuju ruangan Syana. Dalam otak Aldi banyak pertanyaan muncul mengenai laki-laki berpakaian hitam yang sempat ia pukul tadi. Sesampainya di ruangan Syana ternyata gadis itu belum juga siuman, rasa khawatir tiba-tiba menyeruak pikiran negatif menyelimuti benak Aldi. “Sya bangun sayang kamu sudah seharian tertidur,” bisik Aldi seraya mengusap pucuk kepala adiknya dengan lembut serta memberi kecupan pada dahinya. “Apa yang sebenarnya terjadi tadi malam Sya?” tanya Aldi dengan nada lemah bahkan matanya berkaca-kaca menatap Syana yang pucat pasi. Aldi terus mengaja Syana berbicara meskipun gadis itu belum sadar. Ia juga mengelus punggung tangan adiknya yang tidak di infus dengan lembut bahkan sesekali mengecupnya. Aldi sangat menyayangi Syana bahkan terkesan memanjakan adiknya. Kisah masa lalu yang pilu membuat Aldi dan kedua orang tuanya membiarkan Syana amnesia, mungkin orang menilai itu kejam tapi hal itulah yang membuat Syana justru tersenyum karena jika ingatannya masih normal yang ada gadis itu depresi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD