Part 5

1005 Words
"Kak! kak Marvel apa kabar?" "Hey, seharusnya kakak yang menanyakannya, kenapa bisa ke balik." dia tertawa. "Apa kabar pengantin baru? hmmm," godanya lagi. Aku memaksakan senyumku, walaupun dia tidak bisa melihatnya. "Kakak di Indonesia," tebakku melihat kode no hp nya. "Yap... kamu dimana? Apakah kakak boleh datang kerumah? ya sekalian lihat Azka," tanyanya. Kak marvel juga salah satu teman kak Adri. Dia juga sangat dekat dengan keluarga kami. Dialah teman pertama kak Adri yang sering datang kerumah, 3 tahun yang lalu atau yang lebih tepatnya dia pindah ke Amerika ketika aku naik kelas 2. "Andrea di rumah bunda , bunda minta ditemani." "Loh Ayah dan Adri dimana?" "Kakak di Singapura dan ayah ada seminar di Malay." "Tumben bunda ditinggal sendiri, biasanya mana mau Ayah." "Kakak kesini aja, bunda masak banyak." "Oke, kakak on the way tunggu ya. Sampaikan salam kakak buat bunda." *** Disinilah kami bertiga, di meja makan sambil bercanda gurau. Bunda dan aku tak hentinya tertawa. Kak marvel selalu punya cara membuat suasana penuh ceria. "Kapan sampai disini?" tanya bunda menyelidiki. "Kemarin bund, dan minggu depan balik lagi." "Oia... Kakak punya hadiah buat kamu," katanya menyodorkannya kepadaku. Aku menerima dan tersenyum " makasih kak." "Maaf ya kakak tak bisa datang ketika itu,nah sebagai gantinya itu hadiah special buat kamu, ayo dibuka." Aku mengeluarkan hadiah yang disimpan kak marvel di dalam tas kertas. "Apa ini?" yang aku penasaran melihat kotak berbentuk hati berwarna merah. "Buka saja." Aku membukanya dan melihat hadiah yang diberikan kak marvel. Kalung yang sangat indah berbentuk hati. " kak hadiah ini..." "Kenapa?" dia menyela "kakak tidak menerima penolakan, lagian Azka juga tidak akan marah dan cemburu, diakan tahu kamu itu adik kesayangan kakak." Aku tertegun mendengarnya, benar yang dikatakan kak marvel dia tak akan pernah marah atau cemburu dengan siapapun yang dekat denganku. Dia tak akan peduli aku bersama siapa. Karena tak ada ruang di hatinya untukku. "Ayo pakai," sahutnya memecahkan lamunanku. Aku memakai kalung itu di leherku dan kurasa sangat cocok untukku dan aku sangat menyukainya. "Terima kasih kak." "Bunda akan tidur dulu ya, kalian jangan kelamaan tidurnya." bunda bangkit dari duduknya, setelah menciumku bunda menuju kamarnya untuk beristirahat. Kak marvel juga menginap di rumah bunda atas tuntutan bunda yang tak terbantahkan. "Kamu apa kabar,dek?"tanya nya lembut setelah bunda tak ada didekat kami. "Sehat kak seperti yang kakak lihat," jawabku sekenanya. Kak marvel menatapku penuh arti. "Kamu kok kurusan?" "Nggak juga kak, perasaan kakak aja. Mungkin karena sudah lama tak melihatku." "Ternyata si b******k Azka mendapatkanmu juga," katanya bercanda. "Kakak telat satu langkah, padahal kamu adalah cinta pertama kakak," lanjut nya menggodaku. "Jangan mulai lagi ya kak" rajukku. "Dia kenapa nggak ikut nginap disini?" "Hmm..banyak kerja kak," sahutku gugup. "Nggak biasanya Azka sperti ini, dia orang menomor satukan keluarga." "Katanya ada tamu yang harus di jamu,tamu penting," kataku berbohong lagi. "Dek, bolehkah kakak bertanya satu hal?" Aku mengangguk cepat. "Berjanjilah jangan marah." Aku mengangguk lagi. "Apakah benar yang dikatakan Adri, Azka menikahimu karena-," "Kak!" sahutku sedikit membentak, " bisakah kita membicarakan topik yang lain." "Oke...kalau begitu apakah besok kamu bisa menemani kakak membeli keperluan yang akan dibawa minggu depan." " kemana?" "Hanya ke Mall, bisakan?" bujuknya. "Baiklah, tapi besok traktir makan ice cream ya," rajuk ku. "Gampang, sekarang istirahatlah. Kakak juga mau tidur di kamar Adri." Aku berdiri hendak meninggalkan ya,lalu dia menarikku lembut sehingga menghadapnya. "Satu hal yang perlu kamu ketahui. Apapun yang dikatakan orang terhadapmu,percayalah kakak selalu di pihakmu " Aku menatap nanar mata kak Marvel. "Kakak akan selalu ada untukmu." Aku memeluk erat kak marvel, selain bunda dialah tempat bersandarku. Dia membelai lembut rambutku " semoga kebaikan selalu untukmu." ***** Akhirnya kak Marvel mengabulkan keinginanku mentraktir ice cream. Setelah membeli beberapa keperluan dia, kami mencari restaurant yang menyediakan ice cream. "Apakah Azka tidak menghubungimu?" Aku menggeleng, "Dia sangat sibuk,kak" "Setidaknya sesibuk apapun dia pasti akan menghubungimu, namun yang kakak lihat tidak seperti itu." "Tamu yang datang kali ini sangat penting untuk perusahaannya." "Coba kamu telfon Azka kakak ingin bertemu dengannya, apakah dia di rumah atau di kantor." Aku menatap takut kearah kak marvel. "Ak...aku takut mengganngunya." Kak marvel mencoba membujukku " please, Andrea bilang kakak ingin bertemu dengannya." "Kak," "Kamu tinggal tanya saja dia dimana, setelah itu kakak yang akan pergi menemuinya. Tolonglah sebelum kakak berangkat besok." Aku mencoba menghubungi Azka, aku tahu dia tidak akan menjawabnya. Daripada membuat kak marvel curiga aku tetap mencobanya. "Benarkan kak dia tak bisa menjawab panggilanku, dia sangat sibuk." Kak Marvel hanya tersenyum miring. Dia mengangguk. "Tamu darimana?" Aku menggeleng " aku tak bertanya kak darimana." Lagi..lagi kak marvel tersenyum. "Andrea, apakah ada yang kamu sembunyikan?" "Maksudnya?" "Kakak melihat kamu tidak seperti dulu lagi. Adakah yang kamu sembunyikan?" lanjut nya menjelaskannya. "Tidak....tidak ada. " Dia berdehem membersihkan kerongkongannya. "Lihatlah ke belakang," sahutnya Aku menghentikan makanku lalu menatapnya dengan penuh tanda tanya. "Lihatlah kebelakang, Andrea" ulangnya. Aku menuruti perintahnya, lalu menatap arah matanya... Aku menghembuskan nafas berat, dan menahan air mataku. Yang kulihat saat ini dibelakangku adalah Azka dan sahabatku yang sedang tertawa renyah menikmati makanan mereka. Dia begitu bahagia jika dengan Sea, wajah dan senyuman yang saat ini dia perlihatkan pasti akan berbeda jika dia di dekatku. Aku memalingkan wajahku dari mereka. Tertunduk menangis itulah satu satu yang bisa aku lakukan setiap kali melihatnya dengan Sea. Aku tak bisa melakukan apapun lagi selain menangis, dan mengikhlaskannya. Suara tangisanku mungkin akan terdengar oleh kak marvel jika aku tak cepat menghentikannya. "Aku ingin pulang ke tempat bunda," sahutku lemah. Kak Marvel bangkit dari duduknya, lalu membantuku berdiri dan keluar dari restauran. Selama perjalan pulang aku hanya diam dan terisak menahan tangisan. "Ada yang ingin kamu sampaikan?" kak marvel menghentikan mobilnya di pinggir jalan, mematikan mesin mobil. Aku menggeleng. " Andrea, tidak ada suatu masalah akan selesai dengan hanya menangis," tegurnya. Ada kemarahan dari setiap kata yang diucapkannya. "Masalah apa yang ingin diselesaikan kak. Tak ada masalah apapun." "Oh...jadi kamu tak pernah mempermasalahkan jika suami mu jalan dengan wanita lain, begitu." "Tidak masalah jika suamimu lebih mementingkan sahabatmu dari padamu?" Suara kak marvel meninggi. "Tolong antarkan aku pulang, aku ingin istirahat!" kataku tegas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD