Part 6

1158 Words
Beberapa hari ini duniaku begitu indah dan damai, mungkin ada kak Marvel menemaniku selama dia disini. Setelah kejadian kami bertemu Azka dia tak bertanya apapun lagi. Dia takut melukai hatiku, bahkan niatnya untuk menemui Azka juga dibatalkan. Sekarang, aku dan bunda berada di bandara mengantarnya. Sedih itu pasti karena aku akan kehilangan dengan seseorang yang selalu sayang dan penuh perhatian padaku. Setelah mengantarkan kak Marvel serta pamit dengan bunda. Ini waktunya kembali ke rumah, tak seperti yang kebanyakan dikatan orang"rumahku istanaku" yang pasti aku merasakan sangat tidak nyaman dirumah kak Azka. "Kamu sudah makan?" tanya bi Ayu ketika ku baru masuk. Aku mengangguk " sudah di rumah bunda, bi maaf ya selama beberapa hari ini tidak membantu bibi" "Tidak masalah, lagipula tak banyak juga yang bibi kerjakan." Aku melihat ke segala penjuru rumah. "Dia sudah pergi ke kantor dari tadi," kata bi ayu menyela. Aku menatap sendu bi Ayu. "Hmmmm....hmm..ap..apakah dia menanyakanku?" tanyaku gugup. Kali ini bi Ayu yang menatap sendu kepadaku. Lalu dia hanya menggeleng. "Aku memang bodoh, dan tidak tahu malu. Padahal itu sangatlah tidak mungkin" " Andrea mau ke kamar dulu," lanjutku "Nak bisakah kita berbicara sebentar," sahut bi ayu menghentikan langkahku. Kami menuju taman belakang dalam keheningan. Aku mengambil tempat di atas ayunan dan bi ayu duduk disebelahku. Setelah beberapa menit bi ayu baru mengeluarkan suaranya. "Apakah kamu tak ingin melanjutkan sekolahmu?" Aku menatap bi ayu, beberapa waktu ini , melanjutkan sekolah adalah hal yang paling aku inginkan. "Hal itu pernah terpikirkan oleh Andrea,bi. Tapi Andrea takut membuat Azka bertambah marah." "Apakah selama ini dia pernah menanyakan keadanmu, andrea?" Bibi benar dia tak pernah peduli apapun yang aku lakukan. "Andrea sadar bi, dia tak pernah menganggap kehadiran Andrea. Walau demikian Andrea harus tetap meminta izin kepada Azka, karena dia tetap suami Andrea." "Bibi tahu, sungguh!! Bibi tak tahan melihatmu seperti ini lagi." "Bi, tidak apa-apa," aku menyakinkan bi Ayu. **** Seharian kerjaku hanya berbaring di dalam kamar. Terkadang aku merasa jenuh dan lelah dengan keadaanku seperti ini. Namun aku tak pernah menyerah untuk mendapatkan hati Azka. Terdengar suara mobil memasuki halaman rumah. Pasti itu Azka.. Aku berlari keluar untuk menyambut kedatangannya. "Apakah kamu sudah makan malam?" tanyaku ketika dia masih di ambang pintu. Dia sedikit menoleh kearahku,lalu membuang muka. "Sini, biar aku yang membawa tasmu," kataku meraih tas yang ada di tangannya. Dia mengelakkan tanganku yang mencoba meraih tasnya. "Bi, bisakah bibi membuatkan teh untukku," katanya sambil lalu. Aku langsung menuju dapur . "Bi, aku hanya meminum teh yang bibi buatkan, j angan menipu ku," tegasnya menatap bi ayu. Aku mengurungkan niatku. "Ya sudah bi, andrea ke kamar dulu." *** Besok adalah hari ulang tahunku dan sahabatku Sea. Kebetulan tanggal lahir kami sama. Aku menyadari setelah merebut Azka dan memaksa Azka menikahiku hubungan persahabatanku dan Sea sedikit mengalami keretakan. Tapi, syukurlah Sea tak membenciku dia masih mau berteman denganku setelah apa yang telah aku lakukan terhadapnya, walau hubungan kami tak seakrab dulu. "Tuhan, aku tak butuh hadiah yang indah dan mewah darinya. Yang kubutuhkan hanyalah ucapan dan perhatiannya untuk kali ini saja." Sekarang disinilah aku di dapur membuat kue ulang tahun, beruntung bunda mengajariku memasak dan aku sangat suka memasak juga. Bi Ayu dengan sabar dan sangat terampil menolongku. Bahkan bi Ayu juga mahir menghias kue ku yang tidak terlalu besar ku buat. Sesekali aku melihat jam dinding berharap dia pulang sangat cepat untuk malam ini saja. "Aku mohon kali ini saja, aku ingin kamu dirumah bersamaku." "Apakah dia akan pulang cepat kali ini ,bi"? tanya ku antusias. "Semoga, nak" Kue yang kubuat telah siap dan sudah di hias. Aku tinggal menanti kepulangannya. Tak berapa lama aku mendengar suara mobilnya menuju halaman rumah. Seperti biasa aku akan selalu menyambut kepulangannya di depan pintu, bukan itu saja aku juga selalu menyiapkan baju untuknya setiap hari untuk ke kantor. Namun, dia bahkan tak pernah memakainya. Walaupun demikian aku tak pernah bosan untuk melakukan kewajibanku sebagai istri. Dia juga tak pernah melirik kearahku ketika aku menyambut kedatangannya. Aku tetap menyukai hal sepele ini, terkadang sudah berapa banyak air mata yang telah ku keluarkan untuk tindakannya yang tak pernah mengakui keberadaan dan cintaku. "Kau sudah pulang? sini biar aku yang membawa tas mu " Jangankan menjawab menatap kehadirankupun tidak. Dia langsung menuju kamarnya. "Apakah kau ingin makan sesuatu, biar aku yang memasaknya, Azk....a" kataku di depan pintu kamarnya yang dia banting keras tepat di wajahku. "Azka, aku mohon,kali ini bicaralah denganku. hampir 1 tahun kita menikah, bahkan kau tak pernah berbicara denganku walau sekali saja," teriaku sambil memukul pintu kamarnya. Hampir 30 menit aku berdiri di depan kamarnya. Dia akhirnya keluar dan telah memakai baju yang bagus (dia begitu tampan). "Kau ingin makan sesuatu, untuk malam ini?" tanya ku sedikit lembut. "Bi, aku ingin keluar sebentar," sahutnya. "Azka aku mohon tinggalah untuk malam ini. Besok adalah hari ulang tahunku, aku ingin sekali merayakannya dengan sederhana bersamamu." Dia tak memperdulikan perkataanku. "AZKAAAA" teriak ku dengan berani. Ku perhatikan dia menghentikan langkahnya, tapi tetap tak mrnatapku . "Hampir 1 tahun kita menikah, tapi kau tak pernah berbicara denganku. Aku sangat mencintaimu, kenapa kau seperti ini" "Aku tak butuh apapun darimu, aku hanya mohon untuk malam ini saja tinggalah di rumah bersamaku." air mata tak sanggup lagi ku tahan. "Begitu besarkah rasa bencimu terhadapku. Aku mohon, mohon kali ini saja," rajukku. Dia bahkan tak mengucapkan satu katapun. Dia langsung jalan menuju keluar. Aku menangis terduduk di lantai. Semua yang telah aku persiapkan sore ini sia-sia. Aku selalu punya satu harapan dia akan melunakkan hatinya. Tapi itu hanya angan belaka. "Aku lelah dengan semua ini ,bi," aku menangis di pundak bi ayu. "Aku tak sanggup lagi melihat kebenciannya kepadaku." "Tenanglah, nak" *** Setiap malam, setiap hari bahkan setiap jamnya dia selalu membuatku menangis. Dia memang tak pernah berkata kasar bahkan memukulku, tapi dengan tindakannya yang tak pernah mengacuhkanku membuat hatiku sakit, sakit sekali. Namun, aku tak pernah berhenti mencintainya, rasa cinta dan sayangku tak pernah berkurang sedikitpun. Kulirik jam dinding, ini sudah jam 00.05. "Selamat ulang tahun, Andrea" aku meniup lilinku dengan cegukan karena terlalu lama menangis. "Selamat ulang tahun, Andrea" bi ayu memelukku. "Maaf bibi tak mengetuk pintu dulu." "Terima kasih bi" "Semoga Tuhan memberikan kesabaran terhdapamu, semoga Azka bisa menyadari betapa besarnya cintamu." Aku menangis pilu apakah itu mungkin. Setelah kepergian bibi, aku kembali sendiri di dalam kamar. Ku lirik handphone, pesan ucapan selamat ulang tahun dari bunda, kak marvel. Bahkan juga datang dari ayah dan kak Adri. Kesedihanku sedikit berkurang ternyata ayah dan kak Adri masih memperhatikanku. Dan ada beberpa pemberitahuan ucapan selamat dari f*******:. Ku buka akun f*******: membalas beberapa ucapan selamat dari teman-temanku yang masih online. Aku juga ingin mengucapkan selamat ulang tahun kepada Sea. Aku masih belum berani mengirim sms kepadanya. Aku bisa menyampaikannya melalui f*******:. Ketika ku membuka akun Sea, kulihat Sea memposting beberapa foto perayaan ulang tahunnya malam ini dengan teman-temannya, bahkan Azka pun ada disana. Dia begitu menikmati kebersamannya dengan Sea. Dia tak peduli dengan kesedihanku. "Tuhan, aku lelah dengan semua ini." *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD