Lifia menatap pintu kamarnya, Defran tidak datang menemuinya, sepertinya Defran sangat marah padanya dan itu membuatnya sangat kesal. Harusnya ia yang marah dengan Defran, karena ia tidak mengetahui apapun mengenai masalah yang telah membuat hidupnya berantakan. Ia sangat ingin tahu siapa pelaku penguntit dan dalangnya dibalik kejadian yang telah membuatnya ketakutan itu. Tentu saja rasa was-was dan takut selalu menghantuinya selama ini, hingga membuatnya merasa tidak nyaman dikeramaian. Defran Satyas tega merahasiakan semua ini dari dirinya dan tidak mengatakan jika penguntit itu telah tertangkap, hingga membuatnya berpikir jika penguntit itu masih berkeliaran disekitarnya. Ketakutannya ini membuatnya dangat bergantung dengan seorang Defran Satyas. Lifia memutuskan untuk tidak mengalah

