Lifia kembali ke Apartemenya setelah ia banyak sekali membeli barang-barang, hingga ia pun kesulitan untuk membawanya. Lifia saat ini berada didalam taksi dan ia menghela napasnya karena sepertinya ia memang tidak bisa lama kabur dari masalah dan menetap di Negara ini, sedangkan pikirannya berada di Jakarta. Beberapa menit kemudian ia sampai di gedung apartemennya dan ia segera turun dari taksi. Lifia lagi-lagi melihat punggung lelaki yang sangat mirip dengan punggung calon suaminya dan jantungnya berdetak dengan kencang. Ia ingin mendekati orang itu, namun ia yakin orang itu bukan Defran Satyas, ia merutuki kebodohannya yang terlalu mencintai Defran Satyas hingga seringkali berhalusinasi Defran datang menemuinya. Seorang perempuan menyapa Lifia membuat Lifia tersenyum lalu keduanya sedi

