Pagi Heidi bangun dengan kondisi badan yang sudah enakan. Bila ia tidur tanpa meminum seduhan jamu, maka pagi badannya akan terasa ngilu semua Kalang dia berfikir mungkin ini sudah seperti sugesti yang di timbul kan oleh Ibunya. Karena di antara teman temannya yang mempraktek hal ini, tapi ternyata kuang beruntung seperti Heidi
Gina adiknya , terlihat sudah mandi biasanya sebelum mandi ia akan memasak nasi dahulu. Di rumah ini mereka terpaksa saling menyembunyikan bahan makanan. Istri ayah tirinya tersebut yang mendapatkan uang dari hasil kebun juga menahan uang itu sehingga tidak pernah ada makanan di rumah.
Setelah sholat subuh , dengan cepat Heidi memasak telur balado untuk makan adik adiknya dan dirinya. Ia membuat bekal makan siang dan sarapan untuk mereka bertiga sedang kan Gito adik laki lakinya membantu mencuci piring setelah semua nya beres Heidi berkata ia akan menelpon Pak Lintang Kesumah, pengacara yang dikatakan ibunya.
Ia minta doa adik adik nya agar jika surat waris atas kebun itu ada di mereka maka ia dapat minta tolong menjual kebun tersebut dan mengusir wanita jalang penghalang rezeki dari rumah mereka. Karena ia sebenarnya tidak tahu pasti apakah ayah tiri nya memang menikah secara agama dengan wanita tersebut atau hanya ku*pul k#bo saja.
Kemarin ia pernah meminta untuk pak RT turun tangan karena jika mereka tidak menikah itu akan menjadi masalah seluruh warga. Tapi kata pak RT, Pak Guntoro menjawab tegas ia sudah menikah dan menunjukkan foto mereka berdua tapi tidak prosesi nikah tersebut.
Pak RT malah menyuruh Heidi menunjukan pada nya surat kepemilikan atas nama dia dan adik adiknya atau surat wasiat yang sah sehingga RT bisa membawa polisi untuk menyelidiki status mereka di rumah dan dikebun. Itulah sebabnya hari ini Heidi berencana mendatangi pengacara yang ditunjuk ibunya.
Dari tadi ia sibuk dengan memilih baju yang akan ia pakai. Tak satupun baju itu yang warnanya cerah lagi semua sudah pudar karena sudah di bawa ngojek. Akhirnya pilihannya jatuh pada baju kemeja polos berwarna biru muda rencananya ia akan padankan dengan celana putih miliknya yang memang jarang dipakai karena warna tersebut cepat kotor.
Kemudian ia melihat wajah nya yang kecoklatan terkena sinar matahari. Ia tidak bisa membeli sunblock mahal paling pelembab sachetan harga lima ribu dapat dipakai seminggu. Rambut nya yang pendek tidak memerlukan waktu lama untuk di benahi.
Lalu ia membawa semua berkas nya kartu keluarga lama ketika masih ada Abinya walau hanya copyan aslinya tentu sudah ditarik, akte lahir mereka bertiga dan surat tulisan tangan ibu yang menyuruh ia ke pengacara tersebut.
Dengan sepeda motor nya Heidi yang sudah mencari nama Pengacara tersebut di internet sehingga dapat alamat lengkapnya. Kelihatannya ia pengacara yang cukup ternama bagaimana ibu bisa mengenal dia. Dan tentu ibu harus membayar mahal pada pengacara tersebut. Yang pasti tentu saja ayah tirinya tersebut tidak akan menyangka Ibu nya akan berurusan dengan pengacara.
Setelah hampir satu jam setengah mengendarai motor nya. Heidi sampai di sebuah gedung tinggi dia pun bingung menghadapi kondisi seperti ini. Wajah kelelahannya jelas terlihat dengan membawa ranselnya yang di dalamnya juga berisi makan siang nya.
Heidi masuk ke gedung tersebut sebuah lobby besar terlihat dan banyak terdapat sofa sofa sudut di sana ia pun duduk di salah satu sofa tersebut dan mulai melihat kembali alamat pengacara tersebut, disana tertera lantai tujuh. Di alamat nya tertera nomor teleponnya. Heidi menelpon nomor tersebut dan dijawab oleh suara wanita yang mungkin sekretaris dari pengacara tersebut.
“ Halo, Lintang Kusuma Law Firm office, di sini Via berbicara”,
“ Maaf Mbak Via, apa saya bisa bertemu Bapak Lintang. Saya Heidi anak Almarhum Ibu Dewi Asih”, jelas Heidi dengan sopan.
“ Apa mbak Heidi sudah punya janji sebelumnya?”, tanya Via dengan sopan juga.
“ Belum, Mbak. Ibu saya meninggal sebulan yang lalu dan meninggalkan pesan agar saya datang ke Bapak Lintang Kesuma”, jelas Heidi lagi.
“ Baik lah Mbak Heidi saya tanyakan dulu ke Bapak. Kebetulan beliau ada di kantor hanya satu jam berikutnya beliau akan ada pertemuan. Mbak sekarang di mana? “
“Saya di lantai satu Mbak, jika memungkinkan saya akan naik”.
“Baik, bisa menunggu sebentar”, kata Via segera mengalihkan saluran telepon. Heidi mendengar alunan instrumen pertanda panggilan dialihkan.
“ Halo, mbak Haidi, masih di sana?”
“ Masih Mbak Via, bagaimana? “
“ Naiklah ke lantai tujuh dan belok kanan ada logo firm kami disitu”,
“ Terima kasih, Mbak”, Heidi langsung berdiri menyandang tas ranselnya di samping dan Helmnya langsung melangkah ke lift yang tepat terbuka.
Di dalam lift Heidi sempat berkaca. Di sana tampak wajah berminyaknya dan rambut yang kering. Sementara disampingnya berdiri seorang gadis berbadan mungil dengan dandanan natural yang cantik memperlihatkan kulitnya yang mulus.
Heidi menundukkan wajahnya. Bagaimana ini apa penampilannya nanti akan banyak mengganggu orang. Dan ia takut pak Lintang tidak mau membantunya nanti. Ia memang sepakat untuk menjual kebun nya yang masih produktif itu, Agar adil tidak satu orang saja yang menikmati hasilnya.
Sebenarnya sayang sekali tapi bagaimana ayah tiri nya akan tetap mendominasi dengan bantuan teman temannya walau ia dan adik adik nya akan mempunyai bagian besar akan tanahh kebun tersebut tetap saja hasilnya akan di kuasai Ayah.
Ibu juga pernah berkata pada nya bila, memang sulit tinggal berdekatan dengan ayah Guntoro sebaiknya kalian nanti jual saja kebun dan rumah ini. Berikan padanya bagian untuknya dan kalian cari tempat tinggal di kota.
Bantu adik adikmu nak dan usahakan selalu melihat makam ibu dan ayahmu nanti. Heidi menangis mendengar itu. Bagaimana rumah kenangan bersama Ibu diikhlaskan untuk dijual, dari pada kami jadi korban maksiat ayah Guntoro
Akhirnya pintu lift terbuka dan Heidi keluar ia pun menoleh kekanan benar diujung terlihat logo Lintang Kesumah, Law Firm. Ia pun segera melangkah kesana.
“ Maaf Mas, cari siapa”, kata seorang gadis manis dengan nada bicara seperti mbak Via di telepon tadi.
“ Maaf ini Mbak Via kan, saya Heidi yang tadi nelpon Mbak”, jelas Heidi malu dengan penampilannya.
“ Tapi kamu wanita kan? “, kata Via yang melihat Heidi ragu.
“ Iya Mbak, saya wanita tapi pekerjaan saya ojek online jadi beginilah tampilan saya, maaf Mbak. Tuntutan kebutuhan hidup. Doain saya nanti bisa kerja dandan seperti Mbak”, kata Heidi yang sudah kepalang malu dengan tampilannya.
“Dek Heidi , kemari dulu. Ini saya ada bedak powder. Kamu rapikan dulu wajah kamu tang berminyak. Kamu itu cantik kok bisa kayak begini”, Via berceletuk teringat adiknya yang juga agak tomboy. Tapi Heidi lebih parah dari adiknya.
“Ya gimana mbak, sayakan motoran dari pinggiran kota ke tengah kota mbak. Percuma di bedakin orang pekerjaannya memang ojek”,
“ Sini, ini cuma untuk membuat wajah kamu sedikit segar tidak kelelahan seperti ini”, Via bahkan menepuk nepuk spon ke wajak Heidi yang ia suruh sedikit membungkuk. Entah mengapa ia menjadi simpati melihat Heidi, setelah semalam menonton film perselingkuhan yang melibatkan siswa SMA sebagai sugar baby yang sudah kebablasan hidup berfoya foya.
“ Berapa umurmu? “ tanya Via pada Heidi yang masih membungkuk. Dan terus meratakan bedak nya tadi.
“ Delapan belas mbak, makasih sudah memberi perhatian pada saya ini”, kata Heidi yang cukup terharu dengan perhatian Via yang lima tahun lebih tua darinya.
Mereka berdua tidak sadar dengan kehadiran seorang pria paruh baya yang melihat tingkah mereka.
“Hemm, Hemm, apa sudah datang anaknya Bu Dewi Asih nya, Via”, terdengar suara yang membuat keduanya terkejut bukan main.
“Maaf, pak ini Heidi nya, maaf saya hanya ingin sedikit membuat tampilan lelahnya menjadi lebih segar menghadap Bapak, maaf”, kata Via, tetapi atasan nya Pak Lintang justru menatap lurus Heidi yang tinggi kurus dan tampil dengan style cowok. Sementara Bu Dewi tiga bulan yang lalu mengatakan anaknya Heidi adalah seorang wanita. Tapi bila Via membedaki nya ya berarti ia memang wanita.
“Baiklah Heidi ayo masuk ikuti saya”, kata Pak Lintang dan menoleh ke Via.
“Nanti jika kami agak lama dan Bu Valentina sudah datang suruh duduk dulu dan telpon saya Via”, kata Pak Lintang kembali.
Via pun menyuruh Heidi yang masih terkejut karena kedapatan sedang di bedakin sang kakak.
“ Heidi”, pelan Via menoel lengan gadis itu dan menyuruh mengikuti pak Lintang masuk.
Di dalam Heidi melihat ruangan lux pak Lintang. Ia merasa Via sudah dengan baik memperlakukannya layak adik. Karena sudah sepantasnya ia berpenampilan elegan jika berkunjung ke kantor seperti ini, batin Heidi.
“ Mari nak Heidi duduklah, tak mengapa tidak usah sungkan. Aku adalah adik angkat ayah mu dulu Kang Wawan Darmawan. Ayahmu memang seorang berhati dermawan cocok dengan namanya.
Yah memang Ibumu terlanjur menikah kembali dengan orang yang salah , tapi sudah lah di akhir hayat nya toh ia sangat memikirkan anak anaknya”, Jelas Pak Lintang yang menjawab mengapa ibunya bisa mengenal Pak Lintang seorang pengacara sukses.
“Maaf Pak, Heidi bekerja ngojek sehabis lulus sekolah. Jadi penampilan nya begini . Kalaupun mau berhias bahaya dengan kondisi Heidi seorang wanita jadi tukang ojek sehingga untuk sementara selama masih ngojek biarlah dulu seperti ini”, jelas Heidi yang malu dengan tampilannya. Ia menyadari Ibunya Dewi Asih seorang wanita yang geulis dan cantik. Bagai langit dan bumi perbandingannya bila saat ini ia duduk bersama Ibu.
“ Ayolah duduk, mengapa lama baru mengunjungi saya. Sudah hampir dua bulan meninggalnya ibu mu”, kata Pak Lintang