“ Maaf, Pa Lintang saya juga baru tahu dua Minggu lalu. Dan saya serta adik adik saya yang masih sekolah tidak punya uang Pak. Sehingga waktu saya memang harus mencari uang dulu. Sejak Ibu pergi, gundik Ayah tiri saya masuk ke rumah. Dan semua keuangan dipegang olehnya.
Jangan untuk makan saya yang anak tiri Ayah . Adik adik saya Gito dan Gina saja tidak mendapat jatah makan Pak. Masih untung pengelola perkebunan Ibu secara sembunyi memberi kami sekarung beras dua puluh lima kilo.
Tapi lainnya benar benar tidak ada pak , Gas tidak ada, bumbu bumbu dan minyak goreng semua bersih. Bahkan Art yang biasa ada di rumah diberhentikan dan kami terpaksa ikut berbenah rumah jika tidak ingin jorok. Biasa nya adik adik yang melakukannya karena saya harus mencari uang untuk makan dan uang sekolah Adik adik.
Sebelumnya saya ada usaha kecil kecilan untuk jualan online dengan memberdayakan adik adik tapi ketika Ibu meninggal Ayah benar benar ngurusin gundiknya jadi biaya rumah dan acara tahlilan di rumah, jadi tabungan kami yang tidak seberapa habis Pak.
Memang sewaktu masih ada, Ibu pernah berkata bila ternyata berdekatan dengan Ayah Gun menyakitkan dan menimbulkan dosa akibat maksiat yang diperbuatnya. Ibu mengikhlaskan semua asetnya di jual dan kami menjauh darinya tapi saya harus tetap mengayomi adik adik. Tapi waktu itu tidak ada pembicaraan sertifikat dari semua aset Ibu.
Bahkan beberapa hari setelah Ibu meninggal, Ayah Gun mengamuk mencari dimana sertifikat rumah dan kebun di sembunyikan Ibu. Kami sampai di geledah satu persatu lalu dikurung di gudang. Baru setelah ayah dan gundiknya mengobrak abrik isi lemari dan semua celah dirumah kami dibebaskan.
Saya pergi ngojek juga diikuti, takut nya Ibu menyimpan di luar rumah dan saya mengambilnya. Sampai hampir sebulan saya diikuti. Tapi kemudian saya ingat ibu mengatakan ada menyimpan sesuatu di lemari gudang di buku buku katanya. Itu saya baru ingat dua Minggu yang lalu. Jadi saya periksa ketika Ayah Gun keluar rumah dengan perempuannya.
Ternyata Ibu meninggalkan kunci dan surat ini pak”, Heidi memberikan surat tersebut kepada Pak Lintang.
“Oh, seperti itu. Apa tetangga tidak ada yang bisa menolong menasehati Ayah tiri mu sehingga pendapatan kebun tidak di monopoli begitu. Sampai kamu jadi begini, ibu mu cantik sekali sementara kamu harus nya begitu. Tapi kalau kamu ngojek ya memang begini jadinya.
Ok, memang Ibumu ada meninggalkan surat wasiat dan ini akan Bapak bacakan pada kalian anak anak dan Ayah kalian dan Bapak akan mengajak juga Pak RT mendampingi pembacaan surat wasiat tersebut. Dan dalam hal pembagian nantinya, jika tidak di indahkan ketentuan wasiat ini maka dapat diajukan pada kepolisian. Kalian bisa memanggil Bapak untuk itu.
Kapan Heidi dapat menghadirkan Ayahmu dan adik adik serta pak RT dan satu atau dua orang warga yang bijak ikut menemani itu permintaan Ibumu karena ia takut bila ternyata Ayahmu menganiaya kalian akibat surat wasiat ini”, terang Pak Lintang pada Heidi.
“ Oh Ya Ibumu memang ada mengatakan juga soal penjualan aset pada saya dan nanti saya dapat membantu jika ingin menjual tanah tersebut”, kata Pak Lintang yang membuat Heidi bahagia mendengarnya.
Heidi pun menandatangani tanda terima sertifikat surat kuasa yang sudah ditandatangani ibu nya tersebut. Ia mendiskusikan apa yang dikatakan pak RT, kalau bisa dia ingin hari ini juga mengusir perempuan Ayah Gin tersebut karena jika mereka belum menikah dengan semestinya tentu semuanya akan mendapat kemurkaan Allah.
Pak Lintang mengatakan bahwa kunci tersebut adalah kunci kotak penyimpanan di Bank untuk sertifikat tanah yang dimiliki Ibunya.
“ Rumah dan kebun disebelah utara seluas dua ribu hektar adalah milikmu Heidi. Itu adalah harta Ayahmu, kata ibumu dari sejak Ayahmu masih ada tapi sudah sakit mereka sudah sepakat untuk merubah nama di sertifikat kebun dan rumah menjadi milik mu. Tapi dalam tanggung jawab Ibumu dulu hingga umurmu 18 tahun.
Sedang kan Ibumu mendapat warisan kebun seluas tiga ribu meter persegi dari orang tuanya. Dengan tanaman produktif dan dikelola serta mempunyai penghasilan itu awalnya menjadi tambahan penghasilan ketika ibumu masih bersama Ayahmu. Tapi malah jadi penghasilan utama rumah tangga ketika menikah dengan Guntoro. Bahkan setahun terakhir tidak sampai ke rumah hasil kebunnya, karena diambil oleh Guntoro untuk berfoya foya. Ibumu juga bercerita tentang kamu yang terpaksa bekerja di pasar sepulang sekolah untuk memberi makan adik adikmu dan ibu.
Tapi sebenarnya ia masih memiliki tabungan sehingga ia bisa berobat dengan tabungannya dan menemui saya karena takut nanti semuanya direnggut Guntoro jika dibagi langsung pada kalian.
Dia memang memastikan kebun itu harus di jual, agar anak anaknya memiliki pegangan. Jika dikelola hasilnya hanya untuk si Guntoro jadi dia mengikhlaskan kebun tersebut dijual dalam waktu dekat dengan meminta saya menawarkan tanah tersebut dan sekarang sudah ada peminatnya. Jadi kalian jangan sedih berdoa dan jadilah anak soleh untuk kedua orang tua kalian.” kata pak Lintang yang membahagiakan hati Heidi karena mengetahui Ibunya tetap seorang wanita tangguh hingga akhir hayat.
Ini wasiat ibu mu, dalam islam kita mendahulukan wasiat dari warisan di sini. ibumu mewasiatkan seperlima dari kebunnya diberikan pada suaminya dan sisanya untuk anak anaknya dibagi secara Hukum waris. Jadi nanti jika tanah itu terjual maka berikan seperlimanya ke Guntoro. Dan sisanya kalian bagi bersama secara hukum waris.
Ibumu juga masih memiliki tabungan dan deposito yang bulan ini akan selesai dan dananya semua masuk ke rekening ibumu. Buku dan Atm nya ada di kotak bank yang kuncinya kamu pegang. Pesan Ibu, kalian harus akur dan Ibu percaya jika Heidi menyayangi adik adiknya walau berlainan Ayah dan akan selalu membantu mereka sehingga Ibu tidak ragu memberikan semua kuasa menjual dan membagi padamu Heidi.
Heidi mendengar semua perkataan Pak Lintang dengan mata berkaca kaca ia tidak menyangka ibunya begitu berusaha agar ia dan adik adiknya mendapatkan hak tanpa diganggu Guntoro suaminya.
Tak lama terdengar dering telepon yang ternyata dari Via dan mengatakan Bu Valen sudah tiba. Pak Lintang pun mengakhiri pembicaraan mereka. Dengan mengingat kan Heidi terlebih dahulu agar ke Bank dulu. Dan akhir minggu ia akan mendatangi Heidi. Heidi pun keluar setelah mengucapkan terima kasih pada Pak Lintang.
Heidi merasa senang karena dari pembicaraan nya dengan Pak Lintang tidak memperlihatkan faktor pembicaraan bisnis tapi lebih kekeluargaan. Terlebih Pak Lintang mengatakan bahwa Ayah kandungnya adalah kakak angkat nya. Ia memang sering mendengar cerita Ibu tentang ayahnya yang sangat peduli pada sesama. Walau pun mereka bukan tergolong orang yang kaya raya tapi Ayahnya selalu sigap menolong orang orang yang kesulitan.
Berbeda dengan Ayah Guntoro yang justru selalu ingi menguasai hak yang lemah termasuk kepemilikan istrinya sendiri bahkan kemudian dipakai untuk membuat gundiknya berfoya foya. Padahal yang digunakan adalah harta ibu dan Ibu saat itu sudah sakit parah.
**
Heidi pernah bertanya pada pak Gani yang ada di perkebunan apakah Ayah nya itu benar sudah menikah. Pak Gani menyatakan bahwa tidak pernah diajak menghadiri acara tersebut. Sedangkan Istri kedua Guntoro yang bernama Suyani tersebut adalah tetangga sebelah rumah nya.
Dan orang tua Suryani pun telah mengusir anaknya yang dikatakan orang sudah tinggal serumah dengan Guntoro padahal baru saja seminggu istri Guntoro meninggal dunia.
Suryani sebenarnya adalah pelayan di warung makan Mak Saedah yang terkenal ramai pengunjung. Mak Saedah sendiri sangat ketat dalam menjaga aturan pergaulan para pelayannya.
Ketika Suryani terdengar dekat dengan Guntoro, Mak Saedah sudah menasehatinya. Tapi Suryani malah bangkang dan keluar dari warung tersebut, tak lama terdengar ia sudah bekerja di warung remang remang di pinggir jalan di perbatasan kota. Mak Saedah yang menerima Suryani langsung dari orang tuanya sudah meminta maaf sebelumnya karena ia tidak sanggup mengendalikan Suryani sehingga kabur dari warungnya. Mak Saedah juga memberikan gaji yang belum Suryani ambil kepada orang tuanya
Selama setahun ibu nya mendengar bagaimana Guntoro
mendua kan dirinya dengan Suryani. Suryani tinggal di rumah pelayan warung remang remang tapi hidupnya cukup mewah karena sumbangan dari ayahnya, dan tentunya uang yang digunakan berasal dari kebun Ibu.
**
Heidi sekarang berada di salah satu Bank terkemuka. Ia pun bertanya tentang kotak penyimpanan di bank tersebut. Dan menjelaskan bahwa Ibunya yang sudah meninggal memberinya kuasa untuk aset asetnya. Dan menunjukan surat kematian Ibu dan surat kuasa serta lain nya kelengkapan terkait.
Akhirnya setelah prosedur yang ditentukan, Heidi dapat membuka kotak tersebut ia menangis di dalamnya ada sertifikat yang tadi di bicarakan, buku tabungan dan sejumlah perhiasan yang pernah dibelikan oleh ayah Heidi untuk Ibu dan Ibu menyimpannya untuk Heidi. Ada juga perhiasan untuk Gita yang di beli dari uang ibu sendiri sepasang dengan Heidi. Juga sebuah Jam tangan untuk Gito.