Bab 5. Kasih Ibu

1375 Words
Heidi mengambil buku tabungan Ibu ditengah tengahnya terselip kartu ATM dan pin nya. Dan di dalam nya terbaca print out rekening dengan jumlah enam puluh lima juta dua ratus tiga puluh ribu rupiah. “Ibu.., mengapa kau sembunyikan ini semua, bukankah kita bisa berobat rutin. Dan untuk apa bertahan dengan Guntoro kita bisa jual semua dan pergi jauh..”, Heidi menangisi semuanya mengapa Ibu harus berkorban sedemikian rupa hingga sampai akhir hayat nya menanggung malu dengan tingkah suami nya. Ketika tersadar ia sudah lama dIsitu. Heidi pun segera mengambil buku tabungan, atm , sertifikat rumah atas namanya dan kenang kenangan Ibu untuknya dan adik adik. Kemudian mengunci kembali safe deposit box tersebut dan berlalu dari sana. Heidi pun menuju ke sudut bank yang dihuni oleh atm masukkan pin nya dan mengecek saldo rekening ibu. Ternyata seperti dikatakan oleh pak Lintang bahwa kemungkinan hari ini deposito Ibu jatuh tempo dan tidak ada perpanjangan sehingga seluruh pokok masuk ke rekening tersebut. Saldo tabungan ibu bertambah menjadi nilai seratus lima belas juta lebih. Ia melirik jam tangannya sudah pukul dua belas lewat ia mengambil uang sepuluh juta untuk keperluan sekolah, makan, segala kebutuhan peralatan Adiknya dan uang pelicin untuk mengajak pak RT dan lainnya mengusir pasangan ku*pul K#bo dari rumahnya. Melesat diatas motor nya dan singgah di sebuah masjid yang akan dilewati kedua adiknya sepulang sekolah. Sesampai di Masjid ia berwudhu dan mengirimkan Chat pada kedua adik nya agar datang ke Masjid Darul Muttaqin ia menunggu di sana. Setelah sholat zuhur ia memakan bekalnya di pojokan Masjid dan menunggu adik adik nya di dalam Masjid karena kelelahan ia pun tertidur dengan terbungkus mukena karena ia tidak mau tertidur dengan penampilan tomboi nya. ** Selang beberapa lama terlelap, tiba tiba badannya terasa diguncang guncang. “ Kak, kak Heidi bangun. Bangun kak”, Gina menggoyang tubuh Heidi yang kelelahan sedang Gito menunggu di tepi pintu. “Eh.. Dek, udah pada sampai, kakak ketiduran capek soalnya dari kota bolak balik panas, disini adem”, kata Heidi mencari pembelaan karena ia sudah tertidur lelap. “ Iya, kak capek ya bia Gina pijitin “, kata adiknya yang memang selalu kasihan dengan nasib kakaknya yang cantik tapi memilih jadi tukang ojek. “ Nanti malam saja, sini kakak mau laporan nih perjalanan kakak”, jelas Anggi menarik Gito mendekat. “ Kakak sudah ketemu dengan Pak pengacara tapi kakak hanya membawa sertifikat rumah saja agar dapat mengusir wanita itu dari rumah kita. Dan untuk sertifikat kebun kakak simpan dulu disana”, Kata Anggi menghentikan penjelasannya. “Sertifikatnya milik kakak karena itu rumah Ayahnya, kak Heidi. Bagaimana dengan kami”, kata Gito pelan. “ Gito sayang, kita memang berbeda Ayah tapi darah kita masih sama karena lahir dari rahim yang sama. Selama kalian masih belum mandiri kalian adalah tanggung jawab kakak. Kakak sudah janji pada Ibu dan itu permintaan Ibu. Tapi kakak memang tidak memiliki hubungan darah dengan Ayah Guntoro dan sikap nya itu memang selayaknya kita mengeluarkan nya dari rumah”, jelas Heidi pada Gito. “ Kak, tapi walau bagaimanapun dia adalah ayah kami. Kakak mungkin tidak berdosa tapi kami berdosa mengusirnya kak”, kata Gina sedih. “ Gina, sekarang kita mengusir dalam rangka sifat beliau yang menentang Allah. Zina itu berakibat pada orang orang yang ada disekelilingnya jika mereka tidak berusaha melawannya. Jika Ayah Guntoro bertaubat maka kewajiban kita mengayomi dia dik. Lagi pula nanti pak pengacara akan datang malam minggu ke rumah. Ibu rupanya benar ingin agar kebunnya di jual agar kita dapat bagian dan kalian bahkan mungkin kakak dapat melanjutkan kuliah. Namun ibu juga tidak melupakan Ayah Guntoro, ia ikhlas memberi Ayah seperlima dari hasil jual kebun tersebut. Dan selebih nya dibagi ke kita menurut hukum waris yaitu dua bagian laki laki dan satu bagian perempuan”, “ Aku sebaiknya sama saja, bagi rata saja kak”, kata Gito pelan. “ Itu wasiat yang berkekuatan hukum karena dibawakan oleh pengacara. Tenang kata pak Lintang sudah ada yang akan membelinya lumayan lho harga nya karena luas nya tiga ribu meter persegi. Jangan takut walau kami dari tanah ibu ini dapat lebih sedikit tapi itu bukan jumlah kecil, doain jika memang benar ayah Gun, Gina dan kakak bisa dapat lebih dari dua ratus dan kamu empat ratus”, kata Heidi. “ Hah yang benar kk”, aku bisa kuliah dong, mudah mudahan”, kata Gina tersenyim memeluk Heidi “ Jadi Ayah juga jika bertaubat yang benar pasti akan berhasil memutar modal sebesar itu”, Gina mengangguk cerah. Tapi untuk kalian sih kakak ingin uangnya dibeli tanah aja untuk aset masa depan biarpun kecil. Soal kuliah dan kebutuhan hidup kalian akan jadi tanggung jawab kakak. insya Allah. Karena kakak masih ada aset dari ayah kakak selain uang tersebut. Jadi giat lah belajar dan bedoa doa untuk ibu yang dengan perantara nya kita memiliki rezeki dari Allah yang tidak terhingga. Mulai sekarang kalian lihat mau di beli tanah lagi walau kecil tai harga tanah itu semakin tinggi tiap tahunnya atau rumah yang bisa di sewakan dari uang tersebut. Soal hidup dan biaya sekolah serta tempat tinggal biar kakak yang pikirkan Insya Allah Ada”, Heidi menunduk mengambil sesuatu ditas “Dan ini kenang kenangan dari ibu”, Heidi memberikan kotak jam pada Gito dan liontin kalung dengan tempelan kertas nama Gita pada Gita. Serta liontin untuk nya. Ternyata semua ada tulisan Ibu dengan perkataan “ teruntuk anakku Heidi” , di kalung Heidi dan juga untuk adik adik nya. Keduanya menangis dan mendekap kenang kenangan dari Ibu tersebut. “Kemurahan hati Ibu, tidak ini saja”, kata Haidi lagi. Ibu memiliki tabungan sebesar ini ditambah sepuluh juta yang tadi kakak ambil”, kata Heidi memperlihatkan struk nya pada adik adiknya. Besok Jum’ at , kalian cepat pulang buat lah rekening bank. Bagaimana kalau kakak transfer uang nya masing masing 30jt sisanya buat keperluan kita sampai pak pengacara mendatang kan pembeli yang dia maksud. Ingat Ibu memberi ini semua untuk bekal kita di masa depan jadi tidak ada foya foya sekedar ngebakso nggak apa, tratir kawan yang nggak punya uang nggak apa dan berinfak, bersedekah, berkurban boleh juga ditujukan untuk Ibu dan berdoa agar Ibu di beri kemudahan di akhirat”, Heidi berkata dengan suara serak air matanya sudah tidak dapat terbendung lagi. Kedua adiknya pun memeluk dirinya mereka menangis atas begitu besar kasih sayang Ibu mereka sedangkan mereka membiarkan Ibu menderita di akhir hayat nya, batin mereka. Dari jauh sebenarnya seorang Bapak hendak mengingatkan mereka agar tidak berpelukan seperti itu di area Masjid. Tapi jika diperhatikan dari tingkah mereka, Bapak tadi akhirnya hanya memandang saja mereka sepertinya kakak beradik yang sedang ada masalah dan masjid lah tempat mereka bersama. Apa lagi ketika ia melihat Heidi dia tahu pasti siapa yang mereka hindari. “ Ini , masing masing satu setengah juta beli lah kebutuhan kalian. Baju sekolah yang kata Gina sudah pendek, beli yang baru. Sepatu Gito juga besok dari Bank kalian bisa belanja. Sekarang kakak pengen makan bakso di Mall, kita sama sama ya, habis sholat Asar ini”. Kedua nya memasukan uang mereka hati hati. Dan tiba tiba Gina duduk lagi. “Gina nggak pandai buat rekening dan pakai ATM, Gina takut nanti diikuti orang Gina minta sama kakak saja ya” , “ Gito juga kak, mau buat online aja biar tidak dilihat kawan jadi semacam iri dan nanti kita belanja online saja kak. Kirim ke e wallet ku saja kk. Aku ntar nabung ke kakak saja. “ Ok lah , nanti kita bicarakan lagi. Itu orang sudah mau Adzan”, kata Heidi menyuruh adik adiknya bersiap. Selesai sholat Heidi meminta Gito memanggil ojek online dan Gina bersamanya. Hari ini special memang Heidi tidak mengojek, tampilannya seperti seorang kakak laki laki yang mengajak adik adiknya. Postur Heidi berbeda memang berbeda dari adik adiknya agak imut seperti Ayah mereka. Guntoro sama tingginya dengan istrinya. Sekitar seratus enam puluh senti. Tapi Heidi mengikuti Ayah nya yang tingginya seratus tujuh puluh delapan. Sedang tinggi Heidi sekarang adalah seratus tujuh puluh dua. Gito dulu selalu merajuk karena tubuhnya yang mungil padahal ia dan Heidi hanya terpaut tiga tahun. Tapi Anggi selalu mengajaknya untuk latihan hanya saja asupan nya yang kurang gizi, karena Guntoro licik dan pelit itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD