Bab 6. Mengusir Gundik 1

1520 Words
Mereka menikmati Bakso di Mall dan akhirnya Heidi mengajak mereka belanja di Mall kebutuhan mereka. “ Dek, habis makan Bakso ntar kita belanja aja. Ntar kalau ditanya dapat uang dari mana jawab seadanya saja dari Ibu. Dan kalau diminta, bilang sudah habis. Ya. Gimana lagi, simpan jam dan kalung mu ya dek itu kenang kenangan dari Ibu jangan di jual. Mudah mudahan kita tidak lagi kepepet”, kata Heidi tersenyum. “ Gito Kamu biasain sekarang makan banyak. Apa kita Catering aja ya sama Mak Saidah jadi kita minta makanan yang bergizi, supaya tubuh kalian bagus. Besok Minggu kita berenang. Kakak akan lihat jadwal renang untuk kalian. Hidup kita keras dek, walau Ibu sudah tinggalin bekal banyak, kakak yakin kedepan masih banyak masalah. Jadi kalian harus pintar mikir dan sehat jasmani rohani”, jelas Heidi yang sudah merasakan bagaimana susah nyamencari uang. “ Badan ku ini keturunannya sudah kecil kak, aku tidak seperti kakak yang tinggi begitu karena kata Ibu Ayah kakak tinggi besar”, “ Gito, sekarang ini faktor gen bukan semata mata penunjang tinggi badan. Asupan yang bergizi dan latihan yang teratur juga sangat mendukung. Kakak akan berbuat semampu kakak untuk keberhasilan kita semua. Saat ini kalian berdualah saudara terdekat kakak. Apa lagi Gito, jika kakak menikah kamu satu satunya wali kakak, selain itu wali hakim. Jadi jangan tinggalin kakak ya.. Kakak mau Ayah Gun pergi dari rumah karena dia sudah menodai pandangan kita dan lingkungan kita. Jangan pernah kalian membenarkan perbuatan seperti itu. Di banding kakak, masih beruntung Gina yang punya Ayah wali utamanya dan Gito wali penggantinya. Kakak nggak ada lagi”, kata Heidi sedih. “ Nggak mau aku kak, aku maunya waliku kak Gito aja. Toh, ayah juga nggak pernah peduli pada kita, padahal di depan mata nya. Kasih uang banyak ke gundiknya, lalu ke kita , makan aja nggak ada”, kata Gina protes akan pernyataan Heidi “Ya, Malam Minggu nant, kita katakan jika padanya jika memang ayah Gun mau bertaubat kita pasti terima dia”, kata Heidi menghibur Gina. “ Besok bangun cepat habis subuh kita nyekar ke makam ibu. Sarapan di sekolah saja kalian. Ayo sudah mau Magrib, kamu cari sepatu nya Gito. Sepatumu sudah robek dan itu rok mu Gina beli lagi di sekolahi besok. Beli dua sepatunya buat ganti gantinya”, kata Heidi selesai membayar makanan. “ Gina boleh beli sepatu kak? “ “ Boleh, kamu kan punya duit. Lupa ya?” kata Heidi mencapit dagu Gina. ** Setelah selesai belanja, tampak wajah Gito dan Gina cerah dan bersemangat. “ Tunggu, sini sisa uang kalian sembunyikan di dalam kaus kaki baru lalu plastiknya rekat kan lagi”, “ Ini jam ku” , kata Gino cemas karena benda itu sekarang sangat berharga. “ Pakai saja , Gina juga pakai kalungnya, kakak juga pakai”, lalu mereka pulang ke rumah. Seperti tadi datang ke Mall, Gito menaiki ojek online dan Gina bersama Heidi. ** Ternyata ak diduga mereka bertiga sudah di tunggu oleh Guntoro dan Suryani gundiknya di teras rumah. Gina yang awalnya ceria jadi ketakutan. Sedang Gino yang belakangan turun, berusaha tenang. “Wah, mantap ini pulang malam. Pergi shopping. Banyak uang nih”, Si Suryani mengoceh duluan. “ Dapat uang dari mana kamu belanja begini, Gina uang dari mana?”, Guntoro memang selalu pandai menakuti Gina. “ Dari Kakak”, kata Gina ketakutan dan melihat ke Heidi. Heidi mendekap nya supaya tenang. “ Kamu Gino, beli apa kamu sampai sebanyak itu”, kata Suuryani ikut ikutan. “ Beli sepatu, sepatu sudah rusak tuh”, kata Gino menunjukan sepatu koyaknya. “ Yang lain itu, punyaku dan Gina”, kata Heidi acuh. “Hei, kamu pakai kalung “, Suryani ingin menyentuh kalung Gina, tapi di halangi Heidi. “Hei, ngapain kamu. Kamu lihat saja dari situ. Nggak usah sentuh sentuh adik gue, mau ngerampas, ya”, Heidi melotot seolah sudah nggak sabar lagi melihat sikap Suryani. “ Kang lihat si jelek ini, sombong banget dia. Jangan jangan duit, akang yang di curi mereka” , Suryani mulai berani karena selama ini tidak ada yang menghalanginya dan didukung penuh oleh Guntoro. Tiba tiba saja rahang Suryani sudah didalam genggaman Heidi. “ Mulut mu jaga ya, kami diam selama ini bukan takut dengan mu tapi karena masih menjaga adab. Tapi hari ini kulihat kau semakin menjadi. Ingat semua yang kau pakai, kau makan dan kau terima dari dia itu adalah uang ibuku, Ibu adik adikku. Semua itu harusnya ada hak ku dan adik adik ku disitu, tapi kau ambil semua. Bahkan makan adikku. pun tidak kau pikirkan. Kalau aku yang kalian buat begitu sudahlah, biar ku usir saja kalian. Inii adik adikku, anak kamu eh keenakan kamu ngakui mereka anak, sejak kapan menafkahi mereka, mendidik mereka , malah yang ada ngerusak moral mereka dengan membawa gundik ini jadi tandingan Ibu mereka, ibuku, yang kau sakiti hingga akhir hayat nya”, kata Heidi, kemudian menyuruh Gina dan Gito masuk bersih bersih dan istirahat. “Eh.. Gito kamu beli jam mahal untuk apa? sini.. “, belum lagi Guntoro menggapai tangan Gino. Tangannya sudah ditangkap Heidi. “ Jangan coba coba merampas jam dan kalung Gina dan Gito. Ingat itu kalau tidak kau berurusan dengan ku. Kau akan menyesal nanti”, ancam Heidi yang sudah sangat muak. “ Mereka itu anak anakku, setan “, kata Guntoro marah. “ Iya, anak anak mu, tapi ku bilang jangan sampai kau sentuh jam dan kalung mereka. Jika hilang, kau berurusan dengan ku. Kau tahu, kalung dan jam itu serta kalung ku ini kenang kenangan dari ibuku. Jadi barang barang ini adalah sangat berharga bagi kami. Jika sampai hilang, rusak atau apalah yang membuat adik adikku sedih berkenaan barang barang itu. Kau akan menggantinya dengan jumlah yang besar. Ingat kau berurusan dengan ku. Dan lagi, kalau duit mu habis, hilang dan lainnya yang kau tanyakan adalah gundikmu itu. Karena semua yang kami belanjakan ini adalah uang ibuku, ibu adik adikku jangan sampai aku dan mereka akan mengadukan tingkah mu dirumahku ini ke polisi. Kau pasti tau akibat nya dan aku punya banyak bukti”, kata Heidi sinis. Sebenarnya dari tadi pagi, Heidi sudah merasa pasti akan mengusir Suryani dengan sertifikat di tangannya. Tapi ketika melihat lembut nya hati Gina adiknya, ia mengundurnya malam minggu saja saat pembacaan, wasiat ibu “ Kang, gimana ini. apa surat surat kebun ada sama mereka. Bagaimana ini Ayah ku minta agar kita menikah segera. Kalau tidak habis kita, kang”, Suryani merengek kepada Guntoro lupa kata kata nta di dengar oleh Heidi dan adik adiknya “Jadi benar prasangka ku, kalian belum menikah. Sialan ternoda rumah ku. Sudah sudah tidak ada lagi kompromi, keluar malam ini juga dari sini. Atau aku panggil RT untuk menikah kan kalian dan keluar dari sini”, Heidi bagai mendapat sambaran petir mendengar rengek an Suryani tadi. “ Jangan banyak bacot, kamu preman pasar , ini rumah ku. Jangan sok tahu kau anak kecil. Umur belum juga kepala dua sudah sok mau mengakali orang tua”. Guntoro kelabakan karena dia memang sudah mengatakan pada orang orang bahwa mereka sudah nikah siri. Heidi merogoh ponselnya dan menelpon seseorang , dan ketika nada sambung terdengar. “ Assalamualaikum pak RT, ini tolong Pak Guntoro dan Suryani ini belum menikah. Bantu saya supaya mereka keluar dari rumah pak. Jika tetap di sini berarti malam ini hitungan nya entah berapa kali perzinahan di rumah saya ini pak”, kata Heidi dengan tekanan yang membuat muka Guntoro berubah marah. “ Saya punya banyak bukti”, jawab Heidi ketika pak RT mengatakan bahwa Guntoro menyatakan mereka sudah menikah. “ Saya sudah ada”, jawab Heidi lagi ketika ditanya surat kepemilikan rumah. “ Mbak Heidi saya nggak mungkin sendiri ke sana paling tidak ada beberapa orang yang ikut. Itulah sebabnya saya sulit , karena Guntoro sering memberi mereka sesuatu, walau hanya sebungkus rokok” . “Ok saya akan kasi malam ini empat”. “ Empat juta”, kata pak RT dengan nada meledek. “ Ya , Pak” , Pak RT langsung meloncat dan disana banyak suara yang bersahutan ternyata pak Rt sedang ngumpul. Sebenarnya mereka melihat Guntoro yang menunggu kepulangan anak anaknya sambil ngedumel marah. Dan dari dalam rumah juga terdengar Suryani yang marah karena mendapatkan piring kotor bekas ia dan guntoro makan belum tercuci dan Pakaian kotor yang menumpuk. Jadi selama ini Ginalah yang mencuci pakaian mereka sepulang sekolah. Sebenarnya wajar sih tapi yang nggak wajar nya ketika tidak pernah ada makanan buat mereka, ini yang semakin membuat Heidi ingin mengusir mereka. Karena itulah mereka pada ngumpul di pos ronda yang nggak jauh dari rumah Heidi. Berbuat seolah tidak tahu padahal telinga terbuka lebar. Sampai, tiba tiba Heidi terlihat menelpon, tahunya ke pak RT yang ada diantara mereka. Banyak dari mereka bekerja di kebun Heidi tapi mereka tunduknya ke Guntoro karena Guntoro yang selalu ke kebun buat mengambil uang. Kalau datang ia akan membentak bentak membuat pekerja gelagapan. Padahal hasil yang didapat kadang tidak seberapa tapi karena tidak ada pekerjaan lain membuat mereka menerima perlakuan Guntoro.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD