Ken melangkah keluar begitu pintu mobil terbuka lalu berdiri menunggu Hanna dengan bersandar di depan mobil dengan kaki menyilang sementara kedua tangannya dia rentangkan di atas kap mobil. Menikmati angin sore yang menerpa wajahnya. Melihat sikap Ken yang rileks membuat Hanna yang masih berada di dalam segera menyusulnya walaupun dia memerlukan waktu. Bukan waktu untuk merapikan diri tetapi juga berusaha mengatur napas, detak jantung dan juga menata hatinya yang semula kacau balau. Semua tidak ada yang normal setiap kali Ken memberikan kemesraan pada dirinya. Yakin dengan keadaan dirinya yang sudah lebih tenang, Hanna keluar dari dalam mobil lalu mendekati Ken yang masih setia menunggunya. “Rumah siapa?” Hanna menunjuk rumah yang berada di depan mereka. Sebuah rum

