CHAPTER 6

1476 Words
Saat Praja bertanya padaku apakah museum wayang buka jam segini, aku pun membulatkan mataku, aku memang mencari tau tentang museum wayang, tapi aku malah tidak mencari tau waktu buka dan tutupnya. Jadi aku dan Praja pun kembali menghentikan langkah kami dan mencari tahu tentang jadwal buka dan tutup Museum Wayang. Aku memperlihatkan hasil pencarian ku di google kepada Praja. Jam buka museum wayang adalah jam delapan pagi. Praja melihat jam di ponselku yang sudah menunjukkan pukul tujuh lewat lima puluh lima menit yang mana artinya lima menit lagi museum wayang buka. "Pas banget, Kita nyampe sana juga pasti udah buka." Ucap Praja. Aku mengangguk. Lalu kami berdua pun kembali melanjutkan perjalanan kami menuju museum Wayang. Tidak jauh dari tempat di mana kita turun dari angkot, aku dan Praja pun sudah sampai di depan Museum Wayang. Sesuai janji, Praja yang hari ini menanggung biaya pengeluaran uangku he he he. Harga tiket masuk Museum Wayang untuk pelajar adalah tiga ribu rupiah, pernyaratannya tentu saja untuk para pelajar yang masih aktif (belum lulus) dan membawa kartu pelajar. Kebetulan aku dan Praja memang selalu membawa kartu pelajar di dompet. Jadi kami pun memberikan kartu pelajar kami untuk mereka cek. Setelah itu mereka pun memberikan dua lembar tiket masuk dan Praja membarternya dengan uang satu lembar seharga lima ribu rupiah dan satu lembar seharga seribu rupiah. Selanjutnya, sebelum masuk, pak penjaga meminta kami untuk menuliskan tanggal, nama lengkap, dari sekolah mana, nomor telepon, dan paraf. Aku menuliskan namaku dan nama Praja. Setelah itu, kami pun dipersilahkan masuk. Namun belum juga kami masuk, ada orang yang memanggil namaku dan nama Praja, saat kami menoleh, itu Harry. "Lah?" Ucap Praja kaget saat mendapati Harry dan temannya ada di tempat saat Elena dan Praja membeli tiket dan mengisi data. "Tungguin dong. Bareng." Ucap Harry. Praja menyempatkan dirinya untuk melirikku, sebanarnya aku tau walaupun seakan-akan Praja meminta pendapat dariku, ia sudah mempunyai jawaban sendiri, yaitu ia tidak mau bareng dengan Harry. Aku juga tidak mau. Bukan karena aku tidak suka dengan Harry, hanya saja Praja dan Harry di satu waktu yang bersamaan sekaligus di satu tempat yang sama adalah bencana. Aku tidak tau ulah apa lagi yang akan mereka lakukan di tempat ini. Jangan sampai mereka membuat ulah dan membuatku naik pitam lagi. Tapi berbeda dengan isi pikiranku, aku mengangguk. Tidak enak juga bila menolak permintaan Harry karena Harry dan Kak Jo adalah sahabat dan aku juga dekat dengan Harry. Bila aku menghindarinya hanya karena aku tidak mau Harry dan Praja di suatu waktu dan tempat yang sama, rasanya kurang sopan. Mengingat bahwa Harry dan Praja membuatku kesal pagi ini, rasanya aku ingin memahari mereka berdua di waktu yang bersamaan, walaupun Praja sudah minta maaf, tapi aku ingin memarahi mereka berdua rasanya. Apa aku harus khawatir? Entah lah. Tapi tadi pagi mereka membuatku marah karena soal masak memasak, kan? Tidak mungkin mereka membuat ulah lagi di sini kan? Apa memangnya yang mau mereka adu? Tidak ada kompor di sini, kalau pun ada, ini bukan tempat untuk memasak. Jadi sepertinya semuanya akan baik-baik saja. Harry dan Praja tidak akan macam-macam... Ku rasa... hiks. "Ogah." Ucap Praja menolak permintaan Harry. Padahal jelas - jelas dia melihat anggukanku. Benar, kan? Apapun jawaban dan pendapatku, Praja sudah mempunyai pendapat dan jawabannya sendiri. Jadi apapun jawaban dan pendapatku tidak akan mempengatuhi keputusannya. Ia akan bersi teguh dengan penidirannya sendiri. Entah sejak kapan aku menyadari bahwa Harry dan Praja selalu tidak akur. Mungkin saat pertama kali mereka bertemu? Tapi aku tidak ingat kapan. Aku hanya ingat bahwa bila Praja dan Harry bertemu, mereka akan selalu adu tentang siapa yang paling hebat. Padahal hal itu tidak diperlukan sama sekali. Dan lagi, padahal kak Jo dan Harry sangat akrab, Harry tidak pernah adu - adu an hebar dengan kak Jo, mau seberapa pintar kak Jo, Harry tidak pernah berusaha untuk terlihat lebih oke dari pada kak Jo. Tapi kenapa pada saat bersama Praja, Harry senang sekali menunjukan bahwa dia lebih hebat, atau sebaliknya. . . Praja juga sama. Praja tidak pernah berusaha lebih hebat dari kak Jo, atau dari teman - teman bandnya. Dia selalu tampil apa adanya, bila memang bodoh, ya sudah, dia tidak berusaha sok pintar. Tapi berbeda dengan Harry. Dia malah berbanding terbalik dari Praja yang selama ini aku kenal. Penyebabnya? Sampai saat ini aku masih belum mengetahui penyebabnya. Aneh sekali, bukan? Aku tidak tinggal diam, kok. Terkadang aku juga geram pada sikap mereka berdua, saking geramnya, aku selalu bertanya pada mereka masing - masing perihal mengapa mereka melakukan ini. Dan aku tidak pernah mendapatkan jawaban yang puas. "Aku nggak suka aja liat dia, sok banget. Kalo dia sok, ya aku juga harus lebih sok." - Harry "Tampangnya nyebelin. Selalu sok tau. Aku ini juga tau loh, tapi dia suka nganggep aku nggak tau apa-apa. Aku nggak mau diem aja digituin. Aku mau tunjukin sama dia kalo aku ini lebih dari apa yang dia pikirkan, loh." - Praja Jadi dari jawaban mereka berdua, intinya adalah mereka tidak mau berbaik sangka pada satu sama lain dan lebih memilih untuk menanamkan perasaan buruk sangka. Padahal belum tentu Harry bermaksud sok tau, bisa saja Harry memang mau meluruskan sesuatu yang Praja tidak tau. Dan Praja, sebenarnya dia tidak sok, dia hanya bertampang dan bersikap seperti itu karena itu karakter Praja. Mereka berdua tidak bisa menerima karakter masing-masing. Namun walaupun begitu, ku lihat Praja dan Harry tidak pernah sampai baku hantam. Itu kabar baiknya, karena walaupun mereka berdua saling tidak suka, mereka tidak pernah sampai tonjok - tonjokkan atau main pukul. Mereka hanya sebatas berdebat, tidak lebih. Syukurlah, karena bila mereka sampai berani adu tonjok, aku tidak tau apa yang aku harus lakukan. Mungkin aku akan panik dan memanggil Kak Jo bila Kak Jo tidak ada di rumah. Tapi bila kak Jo ada di rumah, Aku mungkin akan mengetek di ketek kak Jo. Aku paling tidak bisa melihat orang berkelahi karena aku tidak suka keributan. Jangankan berkelahi sampai main fisik, mendengar suara tinggi sedikit saja rasanya aku tidak suka. Aku tidak suka dibentak. Aku menghela nafas, Harry masih belum merespon ucapan Praja. Dia masih sibuk dengan administrasi tiket. Aku pun melirik Praja yang sedang menatapku sambil tercengir. Ia sepertinya sadar bahwa apa yang ia ucapkan akan membuat Harry sebal. Ternyata Praja memang sengaja melakukan itu agar Harry sebal. Karena bila Praja serius dengan jawaban bahwa dia tidak mau menunggu Praja, dari tadi dia sudah menarikku untuk segera masuk dan tidak menunggu Harry. Tapi lihat saja, Praja masih di sini dan tidak beranjak dari termpat kami berdiri. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku, tidak mengerti lagi dengan niat Praja. Tidak lama kemudian, Harry dan temannya pun selesai dengan tiket yang sudah berada di masing - masing tangannya dan tangan temannya. Mereka berdua juga sudah selesai melengkapi data yang harus mereka isi di buku dengan form yang sama persis seperti form yang aku dan Praja isi sebelum dipersilah kan masuk oleh bapak penjaga Museum Wayang yang tadi. "Ogah ogah. Tapi masih tetep di sini aja lu, kucrut." Ucap Harry setelah ia berada di harapan kami. "Udah tua ngomel terus. Awas kena darah tinggi." Ucap Praja lalu langsung bergegas masuk dan menggandeng tanganku. Aku menatap Harry saat Praja menggandeng tanganku. Harry menaikkan alisnya, maklum dengan pemandangan yang ia lihat. Harry sudah biasa melihat Praja melakukan ini padaku, bahkan ia sempat tidak percaya pada saat aku bilang bahwa aku dan Praja tidak pacaran. Dia tidak percaya dan menganggapku berbohong, Padahal, aku dan Praja memang tidak pacaran. "Memangnya aneh banget ya, Har, kalo kita aku dan Praja gandengan? Aku sama Kak Jo juga sering gandengan padahal kita berdua udah pada gede." "Ya aneh, lah. Kamu sama Jonathan itu adek kakak. Sedangkan kamu sama Praja itu temen, nggak ada hubungan darah. Kalo nggak pacaran ngapain pegangan tangan? Dengerin aku, ya, Elena. Nggak ada cewek dan cowok yang murni temenan doang. Entah salah satunya ada yang nyimpen rasa, atau salah satunya ada yang ngarep. Kita nggak tau. Dalam kasus ini, aku rasa Praja yang nyimpen rasa dan ngarep sama kamu. Kamunya aja yang terlalu polos dan nggak engeh sama apa yang dia rasain. Apa dia perhatian banget sama kamu?" "Iya, dia care. Dan aku pun care kok sama dia. Kita saling care." "Iya kan bener. Dia itu ngarep, Elena. Dia pikir kamu care sama dia itu, kamu ngasih harapan. Tapi ternyata kamu nya biasa aja kan ke dia? Nggak suka lebih dari temen?" "Ngomong apa sih, Harry. Udah ah. Tuh makan pempeknya, kasian dianggurin." "Pempek yah disambelin dong. Masa dianggurin." Aku menggelengkan kepalaku saat mengingat kembali percapakan ku dengan Harry tempo hari. Ah masa iya? Aku menyempatkan diri untuk melirik Praja yang masih menggandeng tanganku. Tatapannya lurus ke depan. Namun saat menyadari aku sedang menatapnya, ia pun meliirk ke arah ku. Sontak, aku kembali menatap ke depan dan pura-pura tidak menatapnya tadi. Ah sial. Kenapa harus teringat ucapan Harry, sih? Tidak mungkin Praja begini karena menyukaiku. Iya, kan? Tidak mungkin, kan?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD