CHAPTER 7

2245 Words
~ FLASHBACK ~ "Memang nya aneh banget ya, Har, kalo kita aku dan Praja gandengan? Aku sama Kak Jo juga sering gandengan padahal kita berdua udah pada gede." "Ya aneh, lah. Kamu sama Jonathan itu adek kakak kandung loh. Jadi itu wajar aja kalo gandengan tangan. Nah sedang kan kamu sama Praja itu temen doang kan nggak ada hubungan darah. Kalo nggak pacaran ngapain pegangan tangan ? Dengerin aku, ya, Elena. Nggak ada cewek dan cowok yang murni temenan doang . Entah salah satu nya ada yang nyimpen rasa , atau salah satu nya ada yang ngarep . Kita nggak tau . Dalam kasus ini , aku rasa Praja yang nyimpen rasa dan ngarep sama kamu. Dia itu ngarep, Elena. Dia pikir kamu care sama dia itu , kamu ngasih harapan . Tapi ternyata kamu nya biasa aja kan ke dia ? Nggak suka lebih dari temen? Maka nya menurut aku kamu nggak usah terlalu deket banget sampe nempel banget gitu . Nanti yang ada salah satu dari kalian tersakiti. Aku sih berharap bukan kamu yang tersakiti . Bagai mana pun aku udah anggep kamu kayak adik aku sendiri . Sekarang aku sama si Jo deket dan aku mau kamu juga anggep aku kayak kakak kamu aja. Nggak usah lagi sungkan sama aku . Jo sibuk kuliah sama kerja yang mana bakal sedikit banget waktu yang dia habisin sama kamu . Kalo kamu lagi butuh temen curhat dan pas banget Jo lagi berhalangan buat dengerin curhatan kamu , kamu bisa kok curhat sama aku . Oke ? " ~ FLASHBACK ENDS ~ Aku menggeleng kan kepala ku saat mengingat kembali percapakan ku dengan Harry tempo hari. Ah masa iya ? Aku menyempat kan diri untuk melirik Praja yang masih menggandeng tangan ku. Tatapan nya lurus ke depan. Namun saat menyadari aku sedang menatap nya, ia pun meliirk ke arah ku . Sontak , aku kembali menatap ke depan dan pura-pura tidak menatap nya tadi . Ah sial . Kenapa harus teringat ucapan Harry, sih ? Tidak mungkin Praja begini karena menyukai ku . Iya, kan? Tidak mungkin, kan? Akhir nya, walaupun kami berdua jalan lebih dulu untuk masuk, Harry dan temannya menyusul. Ngomong - ngomong, Harry masih belum memperkenalkan temannya pada kami. Di lihat dari penampilannya sih, sepertinya teman Harry ini adalah teman masa SMKnya. Kalau begitu, dia juga teman kak Jo. Aku ingin sekali menanyakan perihal apakah dia kenal dengan kak Jo atau tidak, tapi rasanya malu bila aku memulai percakapan lebih dulu dengan orang yang baru ku temui, Jadi aku memutuskan untuk diam saja dan memendam rasa penasaranku. Setelah sedikit banyak mencari tahu tentang museum Wayang, aku takjub sekali dengan isinya. Walaupun di dalam tidak terlalu ramai (dan itu hal bagus untukku karena aku bisa dengan leluasa menikmati museum ini). "Bangunan ini tadinya bangunan gereja tua tau, El." Bisik Harry yang kini berdiri di sebelah kiri ku. Walapun Harry berbisik, aku yakin betul dengan ruangan yang sangat sepi ini, Praja bisa mendengarnya. Wah, sepertinya aksi siapa yang lebih pintar dari siapa, dimulai. "Baru tau lo?" Tanya Praja. Mendengar celetukkan dari Praja, aku membesarkan kedua bola mataku. 'Baru tau lo?' Pertanyaan itu seolah - olah menunjukkan bahwa Praja sudah lebih lama tau dan meremehkan informasi yang Harry berikan padaku. 'Baru tau lo?' Adalah kalimat pertanyaan yang sangat amat menyebalkan untukku bila aku berada di posisi Harry. Selain fakta bahwa sebenarnya aku yakin seratus persen bahwa Praja juga baru tau dari Harry, Harry itu bicara padaku, loh. Bukan pada Praja. Jadi kadar menyebalkan dari satu kalimat 'Baru tau lo?' yang Praja lontarkan itu meningkat dua kali lebih tinggi. "Nggak tuh. Gue udah tau dari lama. Dari sebelum gue pindah. Gue udah sering main ke sini." Ucap Harry, masih dengan nada santainya. "Lagian gue ngomong sama Elena. Bukan sama lo. Nyambung aja lo kayak tiang listrik." Lanjut Harry. "Oh, kirain baru tau gitu. Kan kasian kalo baru tau." Ucap Praja lagi. Aku menunduk, menyempatkan diri untuk menetralkan pikiranku. Tidak. Praja memang orangnya begitu. Harry pasti mengerti, kan? Percakapan mereka soal informasi museum Wayang ini hanya akan sampai di sini, kan? "Tau apa lo soal sejarah? Paling juga mainnya ke mall." Ucap Harry lagi, kali ini terdengar sudah mulai menyebalkan. Bisakah mereka berdua membiarkan obrolan yang tadi menguap ke udara tanpa memperpanjangnya lagi? Ranyanya kepalaku mau pecah. Dengan begitu, aku pun melepaskan gandengan Praja dan menghampiri teman Harry yang berjalan di belakang kami. Hal itu membuat Praja mengalihkan perhatian dari ucapan Harry dan menoleh ke arahku. Aku yang tau arti dari tatapan Praja, pun menjawab. "Silahkan, silahkan dilanjutkan debatnya. Aku di sini aja sama temennya Harry. Di sini lebih adem, kupingku bisa lebih sehat di sini dibandingkan berdiri di antara kalian berdua." Ucapku blak - blak an. Ya iya lah. Siapa juga yang tidak panas. Lalu Praja dan Harry kembali berdebat. Sudah ku duga. Sebenarnya Praja tidak terlalu tau soal museum Wayang. Tentu saja. Karena dia baru membacanya tadi sebelum ke sini. Sedangkan Harry, menurut yang dia ucap, dia sudah sering ke sini. Dan dari ucapan Harry, Harry bisa membuktikannya kok lewat informasi - informasi yang dia ketahui. Jadi, dari percakapan Harry dan Praja yang ku dengar dari belakang, bangunan museum wayang ini dulunya merupakan bangunan gereja tua yang didirikan oleh VOC pada tahun 1640. Saat itu bangunan gereja ini bernama "De Oude Hollandsche Kerk" dan digunakan sebagai tempat peribadatan hingga tahun 1732. Setelah terkena gempa hingga rusak total, bangunan ini kemudian diperbaiki dan dipugar beberapa kali. Bangunan ini pun sempat beralih fungsi beberapa kali seperti gudang penyimpanan (1912), Monumen (1936), Museum Batavia Lama (1937), Museum Jakarta Lama (1957), Museum Jakarta (1960), hingga menjadi Museum Wayang pada tahun 1975. Wah tidah buruk juga sebenarnya. Dengan mereka berdua seperti ini, aku jadi bisa mendapat informasi lebih. Aku dan teman Harry yang masih belum ku ketahui namanya ini, menyempatkan diri untuk mampir ke masing-masing wayang yang dipamerkan. Kami semua sangat menikmati perjalanan di museum ini sampai tidak terasa pada akhirnya, kami berempat keluar dari museum tanpa berbuat onar. Harry dan Praja juga tidak berbuat onar selain berdebat soal siapa yang lebih tau tentang sejarah museum Wayang ini saat baru saja memasukki lorong kecil tadi. Selebihnya, mereka tidak berdebat lagi dan Praja kembali menghampiriku untuk melihat-lihat pajangan wayang bersamaku. Sedangkan Harry kembali bersama temannya yang sudah ku ketahui namanya; Joni. Begitu Harry memperkenalkan temannya itu kepada kami (yang mana sebenarnya agak telat karena sudah setengah jalan menjelajahi museum Wayang, Harry baru memperkenalkan nama temannya itu pada kami), Praja langsung menyeletuk dan menggoda nama teman Harry tersebut. "Mirip judul pilem nama lo." Ucap Praja. "Janji Joni." Lanjut Praja. Mendengar ucapan Praja, Harry tertawa, sedangkan aku hanya tercengir karena tidak ada ekpektasi apapun atas apa yang akan Praja ucapkan. Mulut anak itu memang terkadang ceplas - ceplos tanpa rem. Tapi karena teman Harry tersebut orangnya santai, ia ikut tertawa. "Udah biasa gue digoda pake judul pilem. Mostly emang pada ngomong gitu. Tapi sampe searang pun gue nggak pernah nonton pilemnya." Jawab Joni. "Serius lo?" Tanya Praja. "Iya serius," Jawab Joni. "Lo udah?" Tanya Toni balik kepada Praja. "Sama. Gue juga belom juga sih." Jawab Praja yang kemudian langsung mendapat kepalan tangan dari Harry. "Bangke. Gue kira lo ngomong begitu maksudnya udah pernah nonton. Ternyata belom." Ucap Harry. Praja tercengir, ia menampakan deretan gigi-giginya yang rapih. "Lo tonton deh, Jon. Janji Joni tuh film Nicsap fav gua. Soalnya filmnya bagus." Ucap Harry "Jadi gue harus nonton Janji Joni karena itu film Niscap favorit lu atau karena filmnya bagus? Soalnya konteksnya udah beda lagi dari kalimat lo tadi." Jawab Joni dengan kalimat yang super cerdas menurutku. Karena aku pun setuju dengan Joni. Bila mendengar ucapan dari Harry yang tadi, orang akan misinterpretasi. Orang - orang akan concern dengan apa yang menyebabkan Harry merekomendasikan film Janji Joni? Jawabannya adalah, oh karena Janji Joni adalah film Nicholas Saputar favorit Harry. Kenapa menjadi film favorit Harry? Oh, karena film nya bagus. Mungkin kalimat Harry sebenarnya cukup dengan " Lo harus nonton filmnya karena itu film bagus banget." Atau kalo memang dia mau menambahkan, silahkan tambahkan "Karena filmnya bagus, gue jadi suka. Ditambah lagi aktor utamanya Nicholas Saputra. Makin gacor dan tuh film." Mungkin akan lebih enak didengar. Jadi concern di dalam film itu adalah karena filmnya bagus. Aku sendiri belum pernah menonton filmnya, tapi sempat merasa penasaran, namun sampai saat ini belum juga tergerak hatinya untuk menonton. Bila ada kesempatan menonton, aku pasti menonton film lain. "Ya intinya itu lah. Intinya itu film bagus." Ucap Harry. "Film siapa, sih, itu?" Tanya Praja. "Joko Anwar." Jawab Harry. "Oh, pantes bagus." Respon Praja. Selepas mengobrol soal nama Joni yang merembet ke film, kami pun melihat - lihat isi museum Wayang dan sampai akhirnya kami di sini, di luar pintu keluar. Cuaca sudah sedikit terik, hal itu membuat kami berempat menyipitkan kedua bola mata karena sorotan matahari. Harry bilang, selepas dari Museum Wayang, dia dan Joni ingin ke Museum Keramik. Harry menyempatkan diri untuk mengajak aku dan Praja. Namun kami berdua menolak. "Kenapa? Kalo mau jelajah, sekalian aja. Museum keramik deket kok." Tanya Harry, "Gue niatnya mau ajak Elena ke kedai es krim Ragusa." Jawab Praja. "Widih. Yaudah gue sama Joni duluan dah. Lo berdua enjoy." Ucap Harry lalu mengalihkan matanya ke arah ku. "Gue duluan, ya, El. Kunci rumah gue taro di bawah keset welcome." Lanjutnya yang langsung disusul oleh anggukanku. Karena Harry sudah menganggap rumahku sebagai rumahnya sendiri, jadi dia sudah seperti penghuni rumah saja. Dan lagi, aku hanya memiliki dua kunci rumah serep, yang satu dipegang Niall dan yang satu dipegang olehku. Karena berhubung Harry tadi masih di rumah saat aku dan Praja berangkat sekolah. Jadi ku titipkan kunci rumah dan menitip pesan bahwa bila ia ingin keluar, maka taruh saja kunci pintu di tempat biasa, nah tempat biasa ini yang ku maksud adalah keset rumah. Karena hal ini bukan kali pertama buat Harry, jadi Harry sudah mengerti maksudku. Harry dan Joni sudah berjalan menjauhi aku dan Praja yang kini celingak - celinguk melihat keadaan sekitar. Oh iya, sebelum melangkah mengikuti Harry, Joni menyempatkan diri untuk pamit padaku dan Praja. "Yuk berangkat sekarang aja ke kedai es krim Ragusa?" Tanya Praja. Aku mengernyit. Sebenarnya kernyitanku bukan karena tidak setuju dengan rencana Praja. Melainkan aku bingung karena Praja tidak memberitahu ku perihal rencananya ini. "Kenapa? Nggak mau?" Tanyanya. "Bukan enggak mau. Tapi kok nggak bilang - bilang kita mau ke sana?" "Kenapa harus bilang?" "Ya nggak kenapa - kenapa sih." " Lah yaudah kalo gitu. Kuy." "Naik apa?" "Naik Transjakarta aja. Nanti turun halte Pecenongan." "Lah emang nya dari sini bisa langsung ke Halte Pecenongan? Bukannya harus transit dulu di halte harmoni, ya?" Tanyaku. "Iya, maksud aku gitu." Jawab Praja mulai frustasi. "Detail banget sih ih." "Ya harus detail lah." Kataku. "Ya udah oke oke kalo gitu. Nih ya..." Ucap Praja mengacang - acang bahwa ia akan menjelaskan sesuatu secara detail. "Kita jalan kaki nih ke halte Kota. Aku nggak tau berapa langkah dari sini ke sana, yang pasti kita jalan kaki dari sini ke halte Kota, kita lewat bawah tanah by the way, El. Terus setelah sampe, kita tap dulu pake kartu flash. Kamu bawa kan kartu flash di dompet?" Tanya Praja. Aku menganggukkan kepala, "Bawa. Selalu bawa dong." Jawabku. "Oke, setelah tap, kita masuk tuh. Nah kita jalan lagi sedikit buat ngantri di koridor yang akan membawa kita ke halte Harmoni. Kalo kita beruntung, mungkin busnya akan langsung ready. Tapi kalo kita kurang beruntung, kita harus nunggu. Biasanya nggak lama - lama kok. Karena bus transjakarta rute Blok M - Kota itu armadanya banyak. Itu rute utama soalnya. Paling kita nunggu beberapa menit. Kalo udah ada, kita langsung naik aja dan kita kasih kepercayaan supir bus nya buat bawa kita ke halte Harmoni. Kalo udah sampe halte Harmoni kita turun." Jelas Praja. Aku mengangguk-anggukan kepalaku lagi, seakan - akan aku baru tau dan tidak pernah ke halte Pecenongan sama sekali. "Oh, gitu, ya Praja? Wah kamu hebat banget jelasinnya. Sangat detail." Ucapku kemudian. "Eits kamu pikir udah selesai? Orang kita baru sampe halte Harmoni. Kan tujuan kita Pecenongan. Nah, karena tujuan kita itu halte Pecenongan, maka dari itu itu jalan lagi sedikit menuju koridor yang akan membawa kita ke Halte Pecenongan. Aku lupa deh itu rute mana, tapi yang jelas nanti kita tanya aja petugas di sana ya. Sama halnya kayak pas kita mau ke halte Harmoni. Dari Halte Harmoni ke halte Pecenongan pun kita tunggu dulu busnya. Rute ini kayaknya nggak setiap menit ada, jadi kita harus sabar nunggu. Kalo udah ada, kita naik. Mari berdoa semoga dalamnya kosong sehingga kita bisa duduk. He he he. Setelah sampai di halte tujuan, baru deh kita turun. Dari halte Pecenongan kayaknya nggak jauh deh ke tempat Ragusa. Nanti kita jalan kaki lagi nggak apa - apa, kan?" Tanya Praja setelah menjelaskan dengan panjang kali lebar soal perjalanan kami berdua. "Oh nggak apa - apa, kok, pak. Tapi saya malah khawatir bapak yang nantinya bakal kecapean loh. Soalnya yang tadi ngeluh kalo naik tangga suka engos-engosan kan bapak." Godaku. "Iya, kan tangga itu vertikal. Kalo jalanan kan horizontal. Jadi lempeng - lempeng aja. Jangan khawatir. Kalo jalan biasa, bapak masih kuat kok." Jawab Praja, merespon goda dari ku. Aku terkekeh. Lalu Praja pun menggandeng tanganku lagi. "Let's go!" Ucapnya. Aku pun mengangguk. "Let's go." Kalo nggak pacaran ngapain pegangan tangan? Dengerin aku, ya, Elena. Nggak ada cewek dan cowok yang murni temenan doang. Entah salah satunya ada yang nyimpen rasa, atau salah satunya ada yang ngarep. Kita nggak tau. Aduh... Harry kenapa sih bicara gitu?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD