Kalo nggak pacaran ngapain pegangan tangan? Dengerin aku, ya, Elena. Nggak ada cewek dan cowok yang murni temenan doang. Entah salah satunya ada yang nyimpen rasa, atau salah satunya ada yang ngarep. Kita nggak tau.
Ucapan Harry menggema di pikiranku begitu tanganku dan tangan Praja saling bertaut. Tidak. Tidak! AKu menggelengkan kepalaku pelan. Seakan - akan gerakan itu bisa membuat apa yang ada di kepalaku lenyap. Aku dan Praja itu sahabat, bahkan Praja memperlakukanku seperti adiknya sendiri dan Jo seperti kakaknya sendiri (berhubung Praja tidak mempunyai adik dan kakak alias dia adalah anak tungga). Akan sangat aneh bila ucapan Harry benar.
Aku sedikit mendongak, melirik Praja yang lebih tinggi dariku. Benar, kan? TIdak mungkin orang ini suka padaku lebih dari teman. Dia memang baik padaku. Tapi bukan berarti dia menyimpan perasaan yang lebih dari pada ini.
Aku kembali fokus pada jalanan di depanm, Praja berbicara tentang para penjual gorengan dan menawariku. Tapi aku menolaknya. Aku tidak mau gorengan. Aku mau es krim saja.
Ah, sialan. Aku jadi berpikir yang tidak - tidak gara - gara Harry!
Aku mengenyahkan segala pikiranku dan kembali mengajak Praja mengobrol. Hari sudah mulai siang, dan panas sudah mulai terik. Aku dan Praja tidak terlalu betah dengan cuaca yang terlalu panas. Tapi kalau misal tiba - tiba hujan pun sepertinya kami akan tetap mengeluh. Jadi ya seperti itu lah, manusia tidak akan pernah ada puasnya. diberikan ini, merasa kurang. Diberikan itu, masih merasa kurang. Jadi maunya itu apa?
* * *
Sesampainya di halte Kota, kami berdua pun mengetap kartu e-money kami masing - masing. Tapi karena punyaku saldonya tidak cukup, aku tidak bisa masuk dan aku pun kembali ke kasir untuk mengisi ulang saldo kartuku. Sedangkan Praja yang sudah lebih dulu masuk, menungguku di depan mesin tap. Ia memberikanku uang satu lembar senilai dua puluh ribu rupiah untuk mengisi ulang saldoku. Karena hari ini hukuman masih berlanjut, jadi aku terima uang dari Praja. Enak sekali ternyata bila dibayar ini itu oleh orang lain hi hi hi.
Setelah kartuku sudah diisi ulang, aku pun kembali mengetap dan berhasil masuk. Terlihat di layar mesin tap bahwa saldoku masih dua puluh satu ribu lima ratus rupiah.
Aku dan Praja lalu berjalan menuju koridor jurusan Blok M dan berniat untuk turun di halte Harmoni, persis seperti yang tadi Praja jelaskan secara detail.
Bila saat suana seperti ini, aku jadi ingat bahwa aku dan Praja saat SMP sering pergi naik Transjakarta untuk sekedar makan es krim di kedai es krim ragusa. Atau sekedar keliling naik Transjakarta. Karena iya, kami berdua memang terkadang tidak punya tujuan mau ke mana, tapi rasanya untuk berdiam diri di rumah itu rasanya suntuk. Biasanya Praja yang memiliki inisiatif untuk mengajakku pergi keluar.
Setelah hanya menunggu satu menit, bus yang ditunggu - tunggu sudah datang. Kami berdua bergegas masuk. Begitu kami masuk dan bersentuhan dengan suhu yang lebih rendah, rasanya melegakan sekali karena di luar suhu agak tinggi, membuat kami berdua seperti tangai bunga yang dicabut dari pohonnya dan sudah sedikit layu akibat dipapar sinar matahari langsung.
Karena suasana tidak terlalu ramai, kami pun bebas memilih tempat duduk. Kami memilih deretan tempat duduk paling belakang. Yap, yang paling belakang. Yang berjejer panjang agar bisa melihat lurus ke depan. Aku memilih duduk di dekat jendela dan Praja duduk di sebelahku. Kami berdua paling suka duduk di deretan ini karena tempat duduknya lebih tinggi sehingga kami bisa melihat dengan leluasa seisi bus. Namun kelemahannya adalah, ketika bus tidak seimbang atau ketika ada ganjlukan, tim paling belakang lah yang paling tersiksa karena goyangan lebih keras terasa. Untuk alasan ilmiahnya, aku masih belum mencari tahu. Mungkin kapan - kapan aku akan memberitahunya.
Aku menyenderkan kepalaku ke jendela sambil menatap jalanan. Dari rute kota ke Harmoni, kondisi jalanan masih belum terlalu rapih dan indah untuk dipandang. Namun bila sudah melewati Harmoni ke Blok M, pemandangan kota sudah mulai bisa dinikmati.
Praja menyodorkan permen kepadaku, permen mint. Satu lagi yang sangat unik dari Praja, Praja adalah tipe orang yang selalu membawa permen mint (entah itu permen karet atau permen biasa, namun rasanya selalu mint) ke mana pun dia pergi. Pernah sesekali ia lupa membawa permen mint, ia merasa ada yang kurang, padahal bukan dompet yang tidak ia bawa melainkan hanya permen mint. Tapi raut wajahnya terlihat sangat panik dan akhirnya kami berdua mampir terlebih dahulu ke warung pinggir jalan hanya untuk membeli permen rasa mint.
Aku menggelengkan kepalaku ketika Praja menawarkan permen mintnya. Tanpa memaksaku untuk menerima, dia pun kembali menaruh permen itu di tasnya.
"Kamu tau nggak apa yang aku suka dari film - film Joko Anwar?" Tanya Praja.
Aku menoleh ke arahnya, ia mencondongkan kepalanya ke dekatku, berniat untuk menatap jalanan seperti yang aku lakukan tadi. Namun karena kini aku menoleh ke arahnya, jarak antara wajahku dan wajahnya sangat dekat. Namun Praja tidak menggeser sedikit pun posisinya saat ini, matanya yang tadi terfokus pada jalanan kini melirikku dan kami berdua saling adu tatap.
Sebenarnya aku berniat untuk memprotes karena kenapa dia bertanya soal alasan dia menyukai film - film Joko Anwar? Padahal di percakapan sebelumnya bersama Harry dan Joni, dia belum menonton film Janji Joni yang mana film itu disutradarai oleh Joko Anwar.
Praja tersenyum, padahal aku belum merespon pertanyaannya. Dari dekat sini, aku bisa mencium hembusan nafasnya yang wangi permen mint.
"Kamu tau nggak apa yang aku suka dari film - film Joko Anwar?" Tanyanya setelah akhirnya menarik lagi kepala nya ke posisi semula.
"Hmm?" Tanyaku. Padahal aku sudah tau apa pertanyaan Praja. Hanya saja aku masih harus memproses hal tadi . . . Aku merasa sedikit canggung.
"Kamu tau nggak apa yang aku suka dari film - film Joko Anwar?" Tanya Praja lagi untuk yang ke tiga kalinya. Kini aku sudah sepenuhnya sadar dan sudah siap menjawab pertanyaannya.
"Emang kamu nontonin film - film dia?" Bukannya menjawab pertanyaan Praja, aku malah menembaknya dengan pertanyaan balik.
"Ya nonton . . ." Jawabnya.
"Film yang mana?" Tanyaku.
"Hmmm. . . A Copy of My Mind."
"Terus apa lagi?"
"Udah."
Aku memutar kedua bola mataku. Jadi hanya satu film?
"Jangan judge dulu! Kan satu film setidaknya udah cukup. Kamu tau nggak apa yang aku suka dari. . . ih kok aku ulang lagi sih! Udah empat kali loh." Protes Praja.
"Yang suruh ngulang ke empat kalinya siapa? Aku mah nggak nyuruh loh."
"Yaudah, langsung aku jawab aja deh. Jadi aku suka sama fim Joko Anwar, specially yang A Copy Of My Mind karena emang aku baru nonton film dia yang itu, adalah karena Joko Anwar selalu memperlihatkan sisi kota Jakarta yang lain. Bukan kota Jakarta sebagai kota Metropolitan, bukan gedung- gedung, bukan Sudirman, bukan SCBD. Tapi rumah - rumah yang ada di gang senggol, pemukiman kumuh, orang - orang yang nggak selalu bergaya modis... Joko Anwar memperlihatkan realita bahwa ini loh kota Jakarta pinggiran yang lo lo nggak tau. Yang selama ini kebanyakan di film tuh cuma menampilkan sisi kota Jakarta yang glamor." Ucap Praja dengan sangat antusias.
Aku terdiam, apa yang Praja ucapkan itu benar dan aku setuju. Realitanya, film - film masa kini lebih memperlihatkan sosok kota Jakarta yang glamor, bahkan ada yang sampai shooting di luar negeri hanya untuk mendapatkan view yang bagus, namun secara alur cerita? Rusak. Tidak bagus sama sekali kecuali latar tempat. Kalau memang mau menjual pemandangan, kenapa tidak ke kota - kota di Indonesia? Selain memperkenalkan tempat - tempat indah di Indonesia,, juga bisa mempromosikannya. Membantu pariwisata Indonesia lebih maju agar banyak orang yang tertarik untuk datang.
Sama seperti film Ada Apa Dengan Cinta 2 yang sedikit menyelipkan unsur promosi tempat - tempat indah di Jogjakarta.
"Aku jadi pengen ke Jogja." Ucapku.
Praja mendelik. "Kita lagi ngomongin Jakarta. Kenapa jauh-jauh jadi ke Jogja?" Tanyanya.
"Di kepala aku, omongan kamu sama omongan aku saling bertautan. Kamu ngomongin soal tempat kumuh di Jakarta yang Joko Anwar berani perlihatkan di filmnya, terus aku mikir kenapa direktor-direktor lain terkesan malah hanya menjual pemandangan indah doang, malah ada yang sampe shooting di negara orang lain, tapi secara alur cerita jelek banget. Nah kenapa mereka harus ke luar negeri? Sedangkan di Indonesia banyak tempat-tempat bagus kok. Kenapa nggak shooting di tempat - tempat di Indonesia aja? Terus aku keinget soal film Ada Apa Denga Cita 2, mereka shooting di Jogja dan beberapa scenes, ada yang menunjukan tempat - tempat indah di Jogja. Inget itu aku jadi pengen ke Jogja. hehehe." Jelasku panjang lebar soal penilaian ku tentang film - film yang sedang booming.
Praja mengangguk, entah mengerti dengan penjelasanku atau setuju dengan pemikiranku. Aku tidak tau. Tapi yang jelas aku menjelas kan secara detail apa yang ada di kepala ku . Aku juga merasa bahwa Joko Anwar berani mengambil isu yang sangat dekat dengan keseharian orang - orang Jakarta . Hei, Jakarta itu bukan cuma sudirman atau Menteng. Jakarta itu juga berisi tempat-tempat kumuh. Dan Joho anwar berani menampil kan bagian itu . Joko sangat jujur dan apa ada nya. Lalu itu yang membuat berpikir kenapa direktor-direktor lain terkesan malah hanya menjual pemandangan indah saja dan hanya itu yang menjadi daya jual, maksud ku. itu tidak berguna. Malah ada yang sampai shooting di negara orang lain , tapi secara alur cerita jelek sekali, tidak ada yang membekas soal cerita nya pun . Nah kenapa mereka harus ke luar negeri ? Sedang kan di Indonesia banyak tempat - tempat bagus kok . Wah jangan salah . Beneran deh di Indonesia itu banyak tempat bagus nya . Selain memang tidak memakan ongkos terlalu tinggi , juga bisa mempromosi kan wisata yang ada di Indonesia . Lalu kenapa nggak shooting di tempat - tempat di Indonesia aja , ya kan ? Terus aku ke inget soal film Ada Apa Denga Cita 2 , mereka shooting di Jogja dan beberapa scenes , ada yang menunjuk kan tempat - tempat indah di Jogja . Inget itu aku jadi pengen ke Jogja lagi . ha ha ha.
Ngomong - ngomong soal Jogja . Jogja bener - bener jadi wisata yang membuat aku ingin terus kembali ke sana . Entah kenapa Jogja mempunyai hal yang bisa membuat aku rindu terus . Entah itu suasana nya , makanan nya , tempat nya , warga nya . Wah bener deh aku ingin sekali ke sana lagi . Kapan - kapan bila ada kesempatan aku ingin pergi ke sana lagi .
"Iya juga sih." Ucap Praja menyetujui pemikiran ku .
"Iya kan?" Tanya ku dengan percaya diri bahwa pemikiran ku ini masuk akal .
"Iya, setuju." Ucap Praja dengan tegas mengatakan bahwa ia setuju .
Sesaat setelah kami menyelesaikan percakapan kami tentang film , bus sampai di halte Harmoni yang mana hal itu mengharuskan kami untuk segera turun . Setelah turun , kami pun kembali mengantri di koridor jurusan Pasar Baru dan turun di Halte Pecenongan .
Setelah sampai , kami berjalan kaki lumayan jauh dari halte Pecenongan ke kedai Es Krim Ragusa .
" El. . ." Panggil Praja saat kami baru saja sudah turun dari bus Pecenongan .
" He ? " Jawab ku , aku sudah mulai merasa kelelahan . Aku sudah keliling museum wayang , lalu aku juga banyak ngomong, lalu cuaca panas sekali , itu membuat aku merasa mulai kelelahan sekarang .
"Kita salah lagi. Harus nya kita turun di halte Masjid Istiqlal . Kita udah berapa kali salah sih ? Yang di inget turun di halte Pecenongan terus, ih . " Ucap Praja, kesal pada dirinya sendiri.
Aku menggidikkan bahu.
Begitu lah. . . Kami harus mengulangi kesalahan yang sama berulang kali. Entah kenapa kami selalu turun di halte Pecenongan padahal setelah tau kami salah, kami tanamkan dalam pikiran bahwa kami harus turun di halte Masjid Istiqlal.
"Kenapa nggak ngingetin aku, sih, El ? " Tanya Praja yang lebih terdengar seperti menyalahkan ku. Hei kenapa jadi menyalah kan ku ? Padahal kalau di pikir - pikir, bila aku ingat , aku tidak akan membiarkan nya ber jalan ke arah yang salah . Melainkan sebagai teman yang baik hati dan tidak sombong ini, aku akan meluruskan apa yang salah, mengingatkan apa yang benar, aku tidak akan membiarkan nya terjerumus ke jurang yang sama beberapa kali, bahkan aku juga tidak akan membiarkan diriku sendiri terjerumus ke dalam jurang yang sama bersamanya untuk yang ke sekian kalinya yang mana artinya; AKU JUGA LUPA !
" Kalo aku inget , aku bakal ingetin kamu lah , Praja. Aku nggak mungkin diem aja dan ikut - ikutan ke jalan yang salah kalo aku engeh itu salah . Ini aku juga lupa dan nggak engeh maka nya aku ngikut aja . Lagian kita keasyik kan ngobrol jadi nggak inget . " Jawab ku tidak mau kalah. Karena sejujur nya apa yang aku ucap kan itu sebenar - benar nya kenyataan dan tidak ada kebohongan .. Aku tidak akan membiarkan nya salah kan, apalagi kesalahan itu membawaku . Masa aku mau ikut - ikut salah sih . Tidak masuk akal lah .
" Iya juga sih . Yaudah lah kalo gitu mau gimana lagi kan ." Ucap Praja lalu kami berdua pun memutuskan untuk tidak memperdebat kan hal yang tadi lagi .
Memang begitu seharus nya . Semua itu sudah tidak perlu di perdebat kan lagi . Justru bila ada masalah seharusnya kami mencari jalan keluar nya sama - sama . Di tengah - tengah jalan kaki kami menuju kedai es krim ragusa , aku dan Praja tidak lagi memperdebat kan kesalahan yang kami lakukan dan malah tertawa atas kebodohan kami yang tidak ada ujungnya ini.
" Bodoh banget ya kita berdua . Selalu berujung pada kesalahan yang sama . " Ucap Praja sambil tertawa memegangi perutnya . Aku tau kami berdua kelelahan , di tambah lagi cuaca makin panas . Kami yang meneduhkan diri di deretan ruko - ruko pinggir jalan pun harus menertawakan kebodohan kami sendiri .
"Inget , pokok nya nih ya, kalo mau ke kedai es krim ragusa, kita harus inget kalo turunnya di Halte Masjid Istiqlal. Bukan halte Pecenongan . Oke ? " Ujar Praja .
Aku merasakan hal yang de javu. Hal ini pernah Praja ucap kan saat kami ada pada posisi ini. Dan hal itu membuat aku dan Praja kembali tertawa saat Praja juga merasakan hal yang sama.
" Mau berapa puluh kali lagi kamu ngomong kayak gitu, Pra ? Pada akhir nya kita akan tetep turun di halte Pecenongan. Dulu dulu juga pas kita salah, kamu ngomong nya gitu. Toh buktinya nggak ada salah satu di antara kita yang inget, Pra. Ha ha ha . . ." Ujarku dan dibalas oleh anggukan Praja.
Siang itu, di siang hari yang panas. . . aku dan Praja akhirnya sampai di kedai es krim Ragusa untuk menikmati dinginnya es krim yang berhasil mengobati rasa lelah kami berdua.
Setelah mengantre, akhirnya aku dan Praja mendapat bagian untuk memesan. Sebelumnya, saat mengantre aku dan Praja menyempatkan diri untuk melihat- lihat daftar menu di selembaran kertas terlaminating yang disediakan di atas meja etalase dengan tujuan agar para pengunjung yang sedang mengantre bisa menggunakan waktunya untuk memilih menu - menu yang tersedia dan agar para pengunjung bisa langsung tau apa yang ingin dia pesan pada saat mereka sudah mendapatkan bagian untuk memesan, hal itu berguna agar para pengunjung tidak berlama - lama di kasir dan mengurangi antrean yang panjang.
Aku dan Praja memilih untuk memesan pesanan yang sama, yaitu Special Mix. Kami berdua pun bersi keras untuk memesan masing-masing satu porsi. Padahal biasanya kita memesan Special Mix untuk berdua. Special mix berisi 4 scoop es krim yang rasanya berbeda. Yakni rasa kacang, rasa vanilla, rasa cokelat, dan rasa stroberi. Favoritku rasa kacang, dan favorit Praja rasa Stroberi dan Cokelat. Sebetulnya aku suka semua rasanya, begitu pun Praja. Namun kita berdua memiliki rasa favorit. Aku menyukai rasa kacang karena ada butiran kecil kacang tanah pada es krim berwarna hijau terang itu. Awalnya aku kira itu rasa kacang hijau atau green tea, namun ternyata rasa tersebut adalah rasa kacang. Unik sekali bukan? Jarang sekali ada es krim yang rasanya adalah rasa kacang tanah.
pecial mix berisi 4 scoop es krim yang rasanya berbeda. Yakni rasa kacang, rasa vanilla, rasa cokelat, dan rasa stroberi. Favoritku rasa kacang, dan favorit Praja rasa Stroberi dan Cokelat. Sebetulnya aku suka semua rasanya, begitu pun Praja. Namun kita berdua memiliki rasa favorit. Aku menyukai rasa kacang karena ada butiran kecil kacang tanah pada es krim berwarna hijau terang itu. Awalnya aku kira itu rasa kacang hijau atau green tea, namun ternyata rasa tersebut adalah rasa kacang.
Sedangkan Praja, menyukai rasa Stroberi dan rasa Cokelat karena dua rasa tersebut kuat, rasa stroberi yang kuat dan rasa cokelat yang kuat. Sedangkan rasa s**u tidak terlalu kuat. Tekstur es krim Ragusa sendiri sangat khas. Es krim ini bertekstur seperti es yang dihaluskan. Tidak seperti es krim pada umumnya. Es krim umumnya memiliki tekstur creamy dan pekat. Namun es krim Ragusa ini terasa ringan. Oleh karena itu aku menyukai es krim di sini. Aku dan Praja sama - sama menyukai es krim di sini karena kita berdua memiliki selera yang sama pada es krim. Aku dan Praja tidak terlalu menyukai es krim yang memiliki tekstur terlalu creamy dan pekat karena itu hanya membuat kami cepat enek dan tidak bisa memakan banyak es krim tersebut.
Tidak seperti es krim pada umumnya. Es krim umumnya memiliki tekstur creamy dan pekat. Namun es krim Ragusa ini terasa ringan. Oleh karena itu aku menyukai es krim di sini. Aku dan Praja sama - sama menyukai es krim di sini karena kita berdua memiliki selera yang sama pada es krim.
"Special Mixnya dua, bu." Ucapku.
Si ibu kasir yang ditemani satu asisten (asisten ini berada di luar kasir, tepatnya lebih dekat dengan para pelanggan yang sedang mengantre untuk ikut mengatur bagaimana antrean berjalan dengan tertib dan tenang) pun menginput kode es krim yang kami pesan sehingga tidak lama kemudian keluarlah struk dari mesin kasih tersebut. Ia lalu memberikan struk pembayaran padaku dan aku langsung memberitahu Praja tentang nominal yang harus di bayar, yakni lima puluh ribu rupiah. Tidak ada PPN dan tidak ada biaya tambahan lainnya. Satu porsi menu Special Mix harganya adalah dua puluh lima ribu rupiah sehingga bila beli dua porsi, totalnya adalah lima puluh ribu rupiah.
Praja mengeluarkan dompetnya dan mengambil satu lembar uang berwarna biru yang tak lain dan tak bukan uang senilai lima puluh ribu rupiah. Setelah si ibu kasih mengambil struk tersebut, aku dan Praja pun digiring untuk mengunggu pesanan kami selesai dibuat, sebelumnya kami harus memberikan struk yang memiliki kode menu yang kami pesan di atas meja untuk dibuatkan.
Tidak menunggu lama, hanya sekitar tujuh menit, pesanan kami pun selesai dibuat dan aku pun menjemput pesananku dan pesanan Praja. Special Mix memiliki wadah bulat dengan satu sendok plastik. Tidak ada tambahan sirup cokelat, kacang, dan lain - lain. Hanya es krim saja. Sedangkan menu lain ada yang disediakan dengan sirup cokelat dan lain - lain.
Aku pun menghampiri Praja yang sudah duduk di salah satu meja, lalu menyambutku dan meraih pesanannya. Aku ikut duduk di sebelahnya dan kami berdua pun akhirnya menikmati es krim tersebut. Kami memutuskan untuk tidak ke mana - mana lagi setelah dari sini. Praja memberikan ide untuk menonton film saja sepulang dari sini.