Setelah melalui perjalanan yang melelah kan (Padahal masih di Jakarta dan tidak keluar kota), Aku dan Praja sudah pulang dari kedai Es Krim Ragusa Italia . Setelah sampai di rumah ku, kami memutus kan untuk menonton film series dari salah satu forum legal yaitu Disney + . Aku dan Praja sama - sama suka film - film Avengers, lalu kami memutus kan untuk menonton film Avengers yang berjudul Age Of Ultron pada ponsel Praja yang memang sudah berlangganan Disney +. Jadi kami menonton pada forum legal .
Kami sepakat untuk mematikan lampu kamar ku dan duduk di lantai ber alas kan karpet kamar , ponsel Praja ia taruh di atas tumpukan bantal dan disandarkan di meja riasku. Kami mulai menonton dengan perasaan yang sama - sama excited. Praja berkali-kali menjelaskan pertanyaan - pertanyaan ku perihal hal - hal yang ku tanyak kan , seperti misal nya kenapa bisa pemeran ini begini dan pemeran itu begitu. Aku sudah cukup lama tidak menonton Avengers; Age Of Ultron semenjak terakhir kali aku menonton nya di bioskop juga bersama Praja. Jadi muncul lah beberapa pertanyaan di kepala ku. Beruntung nya Praja menjelas kan dengan sangat sabar dan juga dengan excited . Aku suka Avengers, tapi seperti nya kesukaan ku hanya sebatas suka melihat Iron Man . Sedang kan Praja , ia mempelajari semua teori - teori fans di internet dan menggabung kan teori nya sendiri .
Aku suka ketika Praja menjelas kan pada ku tentang pertanyaan - pertanyaan remeh temeh seperti. . . " Ih kenapa Iron Man di situ begitu, ya? Atau sekedar Hulk kenapa kalau berubah jadi warna hijau , ya ? Kenapa nggak warna biru atau merah aja gitu. Kan merah sama kayak warna Marvel tuh. Merah. Matching juga sama Iron Man, Thor, Vision, Ant - Man, Scarlett Witch, dan... dan siapa lagi ya. Pokoknya itu. Kenapa warna hijau, ya?"
Sepertinya kalau aku bertanya pertanyaan ini pada orang lain, aku tidak akan mendapatkan jawaban yang sedetail Praja dan mungkin saja pertanyaanku akan d jawab dengan, "Ya mana gua tau. Dari sononya udah begitu."
TIDAK. Perihal pertanyaanku yang ke dua, Praja menjelaskannya dengan sangat detail. Selain menjawab pertanyaanku, Praja juga memberikan informasi tambahan seperti Hulk hadir pertama kali di komik The Incredible Hulk #1 bulan Mei 1962. Setelah beberapa tahun kemudian, Hulk hadir di berbagai platform seperti serial TV, film, game dan souvenir. Lalu karakter Hulk terinspirasi dari dua tokoh yakni Dr. Jekyll and Mr. Hyde, dan Frankenstein. Nah, menariknya meski banyak orang mengenal Hulk sebagai makhluk hijau, awal kehadirannya malah berwarna abu-abu. Aku juga baru tau ternyata awalnya Hulk diwarnai abu-abu. Pemilihan warna abu-abu karena Stan Lee menginginkan warna kulit yang tidak cenderung ke kelompok atau etnis tertentu. Sayangnya, warna abu-abu malah membuat pewarna komik, Stan Goldberg kesulitan. Hal itu karena teknologi pewarnaan pada masa tersebut tidak secanggih sekarang. Warna abu-abu sering kali tidak konsisten, bahkan terkadang menjadi warna hijau. Hingga akhirnya Stan Lee memutuskan mengubah warna Hulk dari abu-abu menjadi hijau. Meski demikian, Hulk abu-abu alias Grey Hulk tak serta merta dihilangkan. Karena Stan Lee sengaja membuat dua tipe Hulk, Grey Hulk dan Green Hulk. Kedua Hulk ini bersemayam di tubuh Bruce Banner. Hanya saja karena Green Hulk lebih dominan, makanya ia lebih sering muncul.
Seiring berjalannya waktu, warna Hulk lebih bervariatif. Saat ini ada empat warna, Green Hulk, Grey Hulk, Red Hulk dan Blue Hulk. Orang yang menjadi Hulk juga bukan Bruce Banner saja. Misalnya, Jennifer Walter, sepupu Banner yang berubah setelah melakukan transfusi darah.
Ada juga Thaddeus Ross, salah satu musuh terberat Banner. Ia adalah orang yang mati-matian memburu Banner, meski Banner sendiri hanya ingin hidup damai. Perubahan Ross menjadi Red Hulk karena ulah kelompok supervillain Intelligencia.
Senang sekali rasanya mendapat informasi tambahan, ya walaupun beberapa hari kemudian, informasi tersebut sudah tidak lengkap lagi di kepalaku, beberapa informasi sudah hilang meluap di tiup angin dan menjauh ke ujung dunia. Begitulah kalimat hiperbola dariku.
Sedangkan di sebelahku, Praja sedang menonton serius film Avengers: Age Of Ultron. Aku tidak berniat mengganggunya saat ini, jadi aku hanya diam dan ikut menonton dengan serius. Sesekali aku mengernyit karena lupa akan salah satu adegan di film tersebut, namun aku tidak ingin menganggu keseriusan Praja.
Tapi satu lagi yang masih menganggu ku , hal itu dari film Avenger ; Endgame. Siapa bocah laki-laki di pemakaman Tony Stark? Dan lagi - lagi Praja mau menjelas kan hal itu kepada ku tanpa merasa terbebani . Ia mem pause dulu film Age Of Ultron lalu menjawab pertanyaan ku .
Dia bilang bahwa bocah laki-laki yang tersorot kamera di pemakaman Tony Stark adalah Harley Keener, yang di peran kan oleh Ty Simpkins . Siapa itu Ty Simpkins ? Aku tidak tau . Ha ha ha .
Praja bilang bahwa Harley Keener ternyata sempat muncul dalam film Iron Man 3 . Ia bertemu dengan Iron Man manakala sang pahlawan super tengah memperbaiki kostum nya . Namun , pertanyaan soal kenapa Harley Keener tiba-tiba hadir dalam pemakaman Tony Stark belum memiliki jawaban
Oh sebentar .Jadi ini anak kecil yang waktu itu di Iron Man 3 ? Saat Iron Man mencari dalang di balik terorisme yang di bilang 'The Mandarin' itu ?
Oke , semua nya sekarang masuk akal . Aku mulai mengerti dan aku pun mengangguk - angguk kan kepala ku .
"Sekarang udah inget ? " Tanya Praja memastikan apakah aku sudah ingat tentang apa yang dia jelas kan atau belum . Dan aku benar - benar sudah ingat .
"Kata Russo Brothers , dia bakal jadi salah satu super hero terkuat di film marvel mendatang . Entah di phase berapa tapi si Keener ini bakal jadi salah satu super hero terkuat . Keren kan ? Kita masih belum tau dia jadi apa . Tapi ngebayangin nya aja asyik banget . Bayangin kalo ternyata dia nanti bakal jadi the next Iron Man ?" Ucap Paraja .
Aku terdiam .
"Kalo the next iron man kayaknya agak susah deh Pra . Soalnya Robert Downey Jr. udah bener - bener melekat sama karakter Iron Man . Yaa aku nggak tau juga sih . Mungkin nih ya kalo emang dia berhasil memeran kan karakter Iron man pasti jadi nya bagus banget, tapi kalo jelek itu hasil nya bakal jelek banget . Jadi masih gambling . Inti nya kalo bagus ya bagus banget . Kalo flop pasti flop banget. Gitu." Aku menjelas kan apa yang ada di kepala ku dan Praja mengangguk setuju .
"Setuju sih soal itu." Ucap Praja. "Kita nggak tau rencana ke depan nya . Entah mereka akan mengikuti karakter Iron Man sebelum nya yang terkesan sombong tapi jenius atau mereka bakal rombak karakter nya mengingat emang beda orang . Kita lihat nanti dan berdoa yang terbaik aja . " Lanjut nya .
Aku mengangguk . Kini aku yang setuju dengan ucapan nya .
Satu yang aku tau, bila Praja sangat menyukai sesuatu, ia akan fokus pada hal itu dan akan dengan senang hati membicarakan hal yang dia suka. Dia tidak peduli bila Avengers (Marvel) banyak yang menghujat karena terlalu overrated. Dia mana peduli akan hal - hal seperti itu.
Selang beberapa puluh menit menonton, aku mengerjap - erjapkan mataku, merasa kantuk mulai menyerang. sekali dua kali, aku mengedip-kedipkan mataku berharap rasa kantuk akan pergi, namun na as, dengan mengedip - kedipkan mataku, aku malah merasa tambah mengantuk. Aku mencari cara lain, yaitu dengan menepuk - nepuk kan pipiku, hal itu membuat Praja menoleh.
"Kenapa? Ngantuk?" Tanyanya.
Aku mengangguk.
"Yaudah tidur aja." Ucapnya.
Aku menggeleng.
"Yaudah nonton lagi aja." Ucap Praja lagi.
Aku mengangguk.
Kini aku merasa aku adalah seorang anak kecil yang ketahuan ngantuk dan menolak untuk mengaku bahwa aku memang sedang mengantuk. Anak kecil cenderung merasa bahwa bila ia tidak tidur, berarti ia sudah bisa termasuk ke dalam orang - orang dewasa.
Namun baru saja aku mengiyakan ucapan Praja bahwa sebaiknya bila memang aku tidak mengantuk, aku menonton saja, aku malah tertidur. Aku tertidur dengan menyenderkan kepalaku ke ranjang tempat tidurku. Aku yakin sekali Praja menyadari itu. Tapi ia tidak membangunkanku. Aku juga bersyukur bila ia tidak membangunkanku. Mataku terasa berat sekali untuk ikut menonton padahal dari awal kami berdua sudah sepakat untuk menonton bersama. Aku juga sangat merasa semangat saat Praja menyebutkan ide yang ada di dalam kepalanya tersebut. Namun entah dari kapan kebiasaan ku yang satu ini muncul; mengantuk saat sedang menonton dan akhirnya malah terlelap di tengah - tengah film berlangsung. Ini juga berlaku pada saat kami berdua menonton di bioskop. Bila menurut ku filmnya cukup membosankan, aku bisa - bisa tidur dengan nyenyak. Namun se nyenyak - nyenyak nya tidurku, aku akan tetap terbangun bila mendengar adegan dengan suara mengagetkan. Tapi karena di bioskop udara dingin dan lampu di nyalakan. Itu tidak terlalu menganggu bagiku. he he he . . .
* * * PRAJA'S POINT OF VIEW * * *
Kami sudah selesai makan es krim di Ragusa. Setelah puas menikmati es krim Italia tersebut, kami pun memutuskan untuk pulang dengan menggunakan bis Transjakarta. Karena kebetulan Transjakarta tidak memiliki rute yang langsung ke daerah rumahku dan rumah Elena, maka kami harus transit terlebih dahulu di halte Harmoni lalu menyambung bis rute Kota - Blok M dan turun di salah satu halte dekat halte Monas di mana lebih dekat jaraknya dari rumah kami.
Sepanjang perjalanan, aku terus menggoda Elena. Dia yang memberikan ide pertama kali untuk menonton, tapi sayangnya walaupun dia kerap menjadi orang yang pertama kali memberikan ide menonton bersama, dia juga lah orang yang selalu tertidur di tengah - tengah film. Aku terus menggodanya perihal dia yang kini aku juluki si tukang tidur. Aku sih tidak keberatan bila dia tertidur di tengah film, tapi aku hanya tidak ingin dia ketinggalan cerita. Sebenarnya bila Elena tanya pun aku akan dengan siap sedia menceritakan kembali apa yang terlewat olehnya. Tapi pengalaman menonton sendiri dengan visual yang telah disediakan dengan hanya diceritakan, akan berbeda, kan? Oleh karena itu kerugian ada di pihak Elena ketika ia tertidur.
Elena tidak mengambil pusing dengan godaan ku. Ia hanya menepis omonganku dengan tameng "kan aku ngantuk. Siapa juga yang bisa nahan ngantuk? Lagian bukan di kelas. Jadi aku bisa aja tidur, kan.", kalau dia sudah menjawab seperti itu, aku harus jawab apa lagi? Ya sudah aku hanya bisa menerima ucapan pertahanan dirinya.
Bicara soal Avengers, aku sudah mengikuti film ini sejak Iron Man pertama yang rilis, artinya, aku memang sangat mengikuti per-avengers-an. Elena sendiri juga begitu, tapi karena dia lebih netral, ia tidak terlalu mengikuti alur ceritanya dan hanya menonton untuk dinikmati. Lagi pula, bagaimana mau mengikuti? Setiap menonton saja mostly dia tertidur. Sedangkan aku, aku selalu excited saat akan menonton film... entah itu di bioskop atau streaming di platform legal. Bila film Avengers yang aku tonton, rasa exicted ku double. Masih bicara soal marvel, terkadang juga mencari teori - teori fan tentang film ini. Aku senang membacanya dan senang menggabungkan imajinasiku sendiri tentang apa yang akan terjadi selanjutnya atau apa prediksiku tentang apa yang akan terjadi di film selanjutnya. Aku juga suka membicarakannya dengan Elena walaupun aku akui, Elena selalu bertanya hal - hal yang sebenarnya sudah ia tonton, tapi ia terus bertanya lagi dan itu tidak masalah. Aku akan dengan senang menjelaskan semua yang aku tau padanya. Jadi, aku sudah bisa pastikan bahwa kami berdua itu cocok karena Elena suka bertanya, sedangkan aku senang menjelaskan.
Aku menoleh ke arah Elena yang matanya sudah setengah sayup lalu ia menepuk - nepuk pipinya pelan, hal itu ia lakukan agar tidak mengantuk. Namun aku yakin betul bahwa usaha itu percuma karena seberapa kuat usaha Elena untuk tidak jatuh tidur, ia akan tetap tertidur.
"Kenapa ? Ngantuk ?" Tanyaku retorik. Aku sudah tau bahwa Elena mengantuk, tapi aku tetap menanyakannya. Bukankah itu pertanyaan retorik? ha ha ha.