"Kenapa? Ngantuk?" Tanyaku retorik. Aku sudah tau bahwa Elena mengantuk, tapi aku tetap menanyakannya. Bukankah itu pertanyaan retorik? ha ha ha.
Elena mengangguk tetap dengan mata sayunya.
Meelihat itu, aku tersenyum karena Elena terlihat lucu sekali. "Yaudah tidur aja." Ucapku. Namun Elena dengan sombongnya menggeleng. Aku heran kenapa ia menggeleng padahal ia sudah sangat jelas terlihat mengantuk. Padahal juga, ia sendiri yang bilang bahwa bila mengantuk kan tinggal tidur saja dan siapa juga yang bisa menahan kantuk?
"Yaudah nonton lagi aja." Ucapku lagi.
Lalu Elena mengangguk.
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku pelan melihat kelakuannya, ayo kita taruhan. Aku bertaruh tidak sampai lima menit pun Elena sudah jatuh tertidur.
Dan benar saja, bahkan kurang dari lima menit, Elena sudah jatuh tertidur. Sudah ku bilang, kan? Elena itu tukang tidur.
MANA yang lebih buruk, tertangkap basah ketika sedang mencontek teman saat ulangan Matematika, atau tertangkap basah ketika sedang diconteki oleh teman saat ulangan Matematika, oleh guru Matematika super killer?
Mungkin opsi ke-2 lebih buruk walaupun dua-duanya adalah hal yang salah. Karena bisa saja kita memberi seseorang contekan karena kita diancam, bukan? Tidak bisa dipungkiri bahwa banyak sekali anak - anak sekolah yang merasa lebih superior dari pada teman - temannya yang lain sehingga merasa bahwa ia bisa mengontrol dan menekan yang lainnya. Wah, aku sangat sebal dengan orang macam itu. Seperti saat ini, Becca dan Prili tertangkap basah oleh bu Kenedy karena mencontek. Dari dua orang yang aku kenal yang adalah teman kelas ku ini, aku tahu betul bahwa siapa yang mencontek dan siapa yang dicontekki.
Becca, murid perempuan populer karena wajah cantiknya, yang sebenarnya sayang sekali karena otaknya kosong itu mengancam Prili (atau bisa saja siapa saja) untuk memberikan contekan padanya. Sungguh sangat licik. Melihat itu aku hanya bisa mengerjap-erjapkan mataku beberapa kali ketika Riley dan Becca yang duduk didepanku tertangkap basah oleh Mrs. Kenedy sedang mencontek dan diconteki. Entah yang mana yang mencontek dan yang mana yang diconteki. Yang jelas, kertas mereka berdua direbut oleh Mrs. Kenedy dan langsung dirobek-robek menjadi bagian-bagian kecil tepat di depan muka Riley dan Becca. Dan tentu saja, mereka langsung mendapatkan nilai F.
Didetik berikutnya, mereka berdua berdiri dan menghampiri Mrs. Kenedy untuk memohon agar mereka bisa memulai ujiannya dari awal lagi dan berjanji tidak akan mencontek, yang mana perbuatan mereka sia-sia saja karena Mrs. Kenedy tidak akan memberikan mereka kesempatan kedua.
5 menit sebelum bel tanda kelas berakhir berbunyi, Mrs Kenedy memberitahu kami bahwa waktu kamis sudah habis dan dia mengintruksikan kami untuk segera mengumpulkan kertas ulangan. Aku berdiri untuk mengumpulkan kertas ulanganku, diikuti oleh beberapa anak lain yang sudah selesai.
Aku kembali ke mejaku untuk membereskan pulpen dan correction pen ku ke dalam tempat pencil, lalu memasukkan tempat pensilku ke dalam tas. Aku segera keluar kelas dan mendapati Praja sudah menungguku di luar kelas.
"Seperti biasa." Katanya yang langsung aku mengerti. Aku mengangguk dan kami pun segera bergegas ke ruang band.
Praja dipilih oleh Luke, teman kelas Praja yang mana adalah vokalis dari band sekolah kami, sebagai basis untuk mengisi acara prom angkatan kami yang akan diselenggarakan 3 minggu lagi.
"Hi, Cal." Sapa Ashton begitu kami berdua masuk. Ashton adalah drummer.
Praja menghampiri Ashton dan menjabat tangannya, kemudian Ashton mengulurkan tangannya kepadaku. "Hi, El." Katanya.
Biasanya, Luke dan Michael--gitaris--sudah ada diruangan ini sebelum aku dan Praja sampai. Tapi hari ini mereka terlambat 5 menit.
Latihan berlangsung tanpa basa-basi, dan seperti biasanya, aku tidak pernah dibuat tidak terpukau oleh Praja. Oke, Luke, Ashton, dan Michael juga keren. Tapi lihatlah, Praja benar-benar sangat...mempesona. Aku penasaran apa yang tangan itu bisa lakukan selain memetik senar bass. Tunggu. Apa?
Setelah latihan selama setengah jam, mereka pun menaruh alat musik mereka masing-masing ke tempatnya dan kemudian duduk di bangku yang tersedia. Kami mengobrol tentang lagu-lagu yang mereka mainkan tadi dan mendiskusikan lagu mana saja yang akan mereka depak dari list lagu-yang-akan-mereka-bawakan-dalam-acara-prom.
Dalam obrolan kami, Luke juga menyinggung tentang Praja yang harus menyumbang suaranya nanti. Tidak masalah jika hanya bernyanyi beberapa bait, yang jelas, Praja harus menyumbang suara.
Aku bilang, "SETUJU!" dengan nada yang lantang. Dan Praja melirikku sambil menyipitkan matanya. Dia hanya malu. Aku tau itu. Praja bisa bernyanyi, maksudku, dia benar-benar bisa bernyanyi.
Jadi setelah aku, Luke, Ashton, dan Michael membujuk Praja. Akhirnya dia pun mau. Lihat, kami bahkan tidak perlu mengeluarkan tenaga hanya untuk membujuk Praja. Karena dia memang hanya malu. Dan hal itu membuatku benar-benar tidak sabar untuk melihat mereka semua tampil saat prom nanti.
* * *
"Mereka benar-benar baik, maksudku, mereka tidak membuat jarak denganku." Katanya saat kami baru sampai di halte bus.
"Kenapa juga mereka harus membuat jarak denganmu?" Aku duduk dan diikuti oleh Praja yang duduk disebelahku.
"Aku bukan bagian dari band mereka, aku hanya dipilih karena mereka membutuhkan bassis." Katanya.
"Dan itu berarti kau penting, Praja. Bukti nya mereka memilihmu."
"Tapi mereka kan bisa saja memilih orang lain yang lebih bagus dari ku?"
Aku menatapnya, lalu menarik pipinya ke kanan dan ke kiri membuatnya mengaduh sakit. "Tapi mereka tidak melakukannya dan malah memilihmu, kan?"
Praja tidak mengatakan apa-apa dan hanya mengucap kedua pipinya.
Tidak lama kemudian, bus yang kami tunggu datang. Kami pun beranjak dari bangku halte dan naik ke dalam bus. Aku langsung memilih tempat duduk yang kosong dan duduk di dekat jendela. Selalu begitu.
"Thanks." Kata Praja setelah ia duduk di sebelah ku.
"Untuk mencubit pipimu?" Tanyaku sambil menatap pipinya yang memang memerah akibat cubitanku. "Sama-sama."
"Bukan." Katanya kemudian. "Terima kasih karena selalu membuatku merasa akuini berguna."
Aku tersenyum dan mengangguk beberapa kali dengan mantap. Dia memang harus selalu merasa begitu, dia berguna, dia penting, dia pantas mendapat pujian.
* * *
AKU dan Praja tiba dirumah masing-masing pada jam 4 sore, dan saat itu rumahku kosong karena kak Jo, kakakku, belum pulang kuliah. Jadi yang ku lakukan saat sendirian di rumah adalah menyetel lagu dengan volume yang keras.
Lagu pertama yang ku putar adalah lagu dari Santigold - Radio, dan kemudian berganti ke Cee Lo Green - Forget You. Dan berputarnya lagu kedua, yang mana adalah lagu favoriteku, aku langsung bernyanyi mengikuti lirik dan berjoget sesuai irama.
Aku payah dalam menggoyangkan badanku--dan mungkin payah dalam segalanya--tapi aku tetap mengoyangkan badanku seakan-akan aku adalah penari profesional yang sering dipanggil untuk menjadi penari latar salah satu artis papan atas.
Saat sedang asik berjoget , mata ku menang kap seseorang di seberang balkon ku yang sedang menonton ku sambil ter kekeh . Ah aku malu sekali .
Dengan sigap aku pun berhenti dan aku yakin saat ini pipi ku memerah seperti buah tomat .
Kenapa aku tidak memperhati kan sekitar dulu sih sebelum joget ? Sudah tau Praja bisa melihat ke arah kamar ku bila balkon terbuka.
"Loh kenapa berhenti?" Tanya Praja saat aku kini sudah di balkon ku dan menopang tubuh ku dengan kedua tangan ku .
"Ada kamu lah . Jadi aku berhenti. Ngapain kamu liatin aku? Dasar mesum." Ucap ku becanda dan mendapat kan respon tawa dari Praja.
"Kalo mau m***m ya aku nggak sama kamu dong . Kalo sama kamu yang ada aku digorok sama kak Jo." Jawab Praja sambil tercengir.
Kini aku yang tertawa mendengar jawaban Praja yang jenius itu. Benar juga. Kita tetangga kalau dia macam-macam bisa langsung digorok oleh kak Jo.
"Kamu ngapain berenti? Sono joget lagi. Kayaknya lagi seneng nih." Ucap Praja sambil menggoda ku.
Ya seneng lah. Lagu nya bagus.
Sedang kan setelah mendengat pertanyaan kedua kalinya dari Praja, Aku ikut tertawa. Tapi ini jenis tawa yang aku lakukan ketika aku malu setengah mampus. Jenis tawa yang pura-pura tertawa hanya agar tidak terlihat malu. Itu saja. Hu hu hu. Mengerti maksud ku tidak? Ya pokoknya itu. Aku malu sekali dan harus berpura-pura bersikap cool seolah-olah itu bukan apa-apa.
"Ya aku bilang kan ada kamu. Aku nggak mau joget lagi." Ucapku dengan jujur. "Kamu mengganggu kesenangan orang aja ih." Lanjut ku lagi
"Kamu joget nya bagus tau." Ucap Praja.
Mendengar pujian dari Praja, sontak aku menatap nya dengan penuh curiga. Bisa bisa nya dia mengatakan hal itu. Aku yakin di atidak benar-benar bermaksud memujiku dan ada hal lain yang dia rencanakan. Dia pasti hanya ingin meledekku. Dia hanya ingin menerbangkanku lalu menjatuhkannya. Itu lah tipikal Praja.
"Oh ya?" Tanya ku tidak percaya.
"Iya serius. Mirip...." Praja menggantung kan ucapan nya dengan sengaja, membuat ku gregetan. Tuh kan dia pasti membandingkanku dengan binatang atau apapun itu yang sama sekali tidak ada bagusnya.
"MIRIP APA?" Seruku.
"Mirip orang lagi karate. Hehehe. Bahkan aku baru tau loh kalo kamu itu bisa karate. Ajarin aku dong karate nya. Kayak nya udah jago banget nih." Ucap Praja membuatku merasa kesal.
Karate? Hmm dasar! Itu sih bukan memuji tapi meledek secara halus. Benar kan firasatku.
"Tapi serius, El. Bagaimana jadinya jika nanti kita berdansa di acara prom saat sesi musik pelan?" Katanya lagi. "Mau ditaruh dimana mukaku?" Lanjutnya lagi.
Sungguh, kalau tadi yang dia ucapkan itu membuatku merasa sebal karena termasuk mengejekku. Tapi setelah mendengar kalimat terakhirnya, aku tidak peduli dengan ejekannya lagi. Yang aku fokuskan adalah kemana kalimat ejekan itu menjurus.
Apa dia bilang? Kita. Aku dan Praja. Berdansa. Di acara prom saat sesi musik pelan. Dan apa itu artinya? Aku akan menjadi pasangan promnya? Apa itu maksudnya? Kalau benar iya, aku merasa sangat mendapatkan hal baik hari ini. Tuhan, kebajikan apa yang sudah aku lakukan sampai-sampai aku bisa mendapat anugerah seperti ini?