CHAPTER 11

2488 Words
Di hari berikutnya, aku dan Praja berangkat ke sekolah bersama seperti biasa nya. Aku dan Praja kan memang selalu berangkat ke sekolah bersama. Itu yang selalu kami lakukan. Karena jarak rumah kami juga tidak jauh alias sangat dekat karena kami bertetangga. Saat kami berdua sampai di sekolah, kami berpisah di koridor karena walau pun kami satu sekolah dan satu angkatan, aku dan Praja memiliki beberapa kelas yang berbeda . Minat kami berbeda jadi hal itu terjadi. Tentu saja, walaupun kami berdua berteman dari kecil, aku dan Praja memiliki minat yang berbeda. Praja suka dengan bahasa Jepang, aku tidak… Tapi mungkin aku akan mengambil kelas itu nanti bila ada jadwalnya. Praja tidak suka dengan matematika, aku suka. Begitu lah. Tapi sepertinya Praja tidak ada niat untuk mengambil kelas matematika seperti aku berniat mengambil kelas bahasa Jepang padahal aku tidak suka. Alasan kenapa aku mengambil kelas bahasa Jepang adalah aku ingin belajar bahasa Jepang dan aku tidak mau kalah dengan Praja. Praja bisa 3 bahasa; Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, dan bahasa Jepang. Oleh karena itu aku tidak mau kalah. Lagi pula sekarang sudah banyak kan perusahaan jepang yang berdiri di sini. "Bye." Praja melambai kan tangan nya ke arah ku dan aku pun membalas lambaian tangannya. "Bye." Ucap ku dan dengan begitu kami pun dengan otomatis kembali ke tujuan masing-masing. Tidak lama sampai aku tiba di kelasku. Aku sudah berada di kelas Bahasa Inggris sebelum akhirnya bel masuk berbunyi. Murid-murid yang juga mengambil kelas Bahasa Inggris pun berbondong masuk bersama. Diantara murid-murid itu, mataku menangkap Ashton yang juga sedang menatap ke arahku. Ia tersenyum, lalu melangkah mendekat ke arahku. Yap, walau pun aku dan Praja tidak sekelas, tapi aku dan Ashton sekelas. Jadi walaupun saat Praja mengenalkanku pada Ashton, aku sudah familiar dengannya. Kita sudah tau nama masing-masing namun sebelum ini, aku dan Ashton tidak pernah mengobrol. Tapi sekarang kami sudah saling kenal dekat dan aku dan Ashton tidak sungkan-sungkan untuk memulai percakapan lebih dulu dan mengobrol ke sana ke mari. Berteman dengan Praja juga membuatku memiliki teman tambahan; mengingat aku tidak bisa dengan cepat dekat dengan orang. Paling-paling juga aku dekat dengan teman sebangkuku; Alice. "Mau permen karet?" Ashton menawarkan ku permen karet rasa mint. Mint. Ew. Aku tidak menyukainya. Karena aku tidak menyukai apa pun yang rasa mint, aku pun menolak Ashton dengan cara menggelengkan kepala ku. Itu menandakan penolakan ku pada permen karet yang Ashton tawarkan. Melihat penolakanku, Ashton pun heran. Mungkin dia heran karena tidak pernah ada yang menolak permen karet dan hanya aku yang menolaknya. "Kenapa?" Tanya Ashton bingung. Dengan begitu aku pun menjawab pertanyaan Ashton. "Hmm… Kenapa ya? Aku tidak suka rasa dan bau mint. Rasa mint itu terasa seperti makan pasta gigi. Apapun, tidak hanya permen karet rasa mint yang aku tidak suka. Aku juga tidak suka cokelat rasa pepermint. Terasa seperti rasa odol. Maksudku, kenapa juga orang memakan odol? Aneh sekali." Jawabku yang langsung direspon oleh kekehan Ashton. Kekehan itu terdengar seperti cara Ashton menghargai keputusan dan menghargai pandanganku. Dia tidak mengadu debat sebagai orang yang suka rasa mint. Dia tidak menjawab jawabanku dengan argumen yang menunjukan bahwa pandanganku bahwa rasa mint seperti odol itu tidak bisa diterima. Itu yang aku suka dari Ashton. Walaupun aku tau dia tidak melakukan itu karena dia tidak enak, tapi tetap saja. Aku sangat menghargainya. Ashton sih sebenarnya lebih suka bila debat dengan Michael bila aku lihat-lihat. Tapi dia anak baik dan mau menghargai orang lain. Saat Ashton tiba-tiba tertawa, aku pun menoleh ke arahnya dengan tatapan heran. Apa yang dia tertawakan? Ia duduk di bangku sebelahku dan memasukkan kembali permen karet ke kantong celana jeansnya. Dia menjawab, "Tidak apa-apa. Aku sempat mengira kau tidak menerima permen karet dariku karena takut makan di kelas. Tapi karena rasanya toh. " Lanjutnya. "Well, technichally iya . Itu juga termasuk ke alasan ku kenapa aku itdak menerima permen karet yang kamu tawar kan . Tapi alasan itu hanya tiga puluh persen dan tujuh puluh persen nya lagi , aku memang tidak suka rasa dan bau mint . Kenapa juga orang mau memakan odol? Mint kan rasa odol." Jawab ku. Ashton terkekeh lagi, dan aku bisa mencium bau permen karet mintnya dari jarak kami yang tidak terlalu dekat. "Tapi odol kan segar dan bisa membuat nafas mu tidak baru . " Ucap Ashton . Yah kalo hal itu sih aku setuju . Tidak lama kemudian, Mr. Sallyman, guru yang mengajar kelas Bahasa Inggris, masuk. Tidak ada percapakan lagi antara aku dan Ashton setelah itu. Kami berdua fokus pada Mr. Sallyman yang memulai kelas dengan mengeluarkan buku The Girl On The Train karya Paula Hawskin. Kami mendiskusikan buku itu dan aku tidak keberatan sama sekali karena The Girl On The Train adalah salah satu buku favoriteku. Ashton yang aku pikir sama sekali tidak tertarik dengan buku apapun, kau tau? Seperti murid lelaki nakal pada umumnya (walaupun dia sama sekali tidak terlihat nakal, tapi tetap saja, Ashton berteman dengan Michael yang notabennya adalah murid populer) Tapi ternyata Ashton benar-benar tertarik dan berkali-kali melontarkan komentarnya tentang para pemeran di buku itu. Yap, dia sudah membacanya, dan itu membuatku semakin malu atas pemikiran negatifku terhadapanya. (walaupun dia sama sekali tidak terlihat nakal, tapi tetap saja, Ashton berteman dengan Michael yang notabennya adalah murid populer) Tapi ternyata Ashton benar-benar tertarik dan berkali-kali melontarkan komentarnya tentang para pemeran di buku itu. Aku akui, selama satu semester berada dalam kelas Bahasa Inggris yang sama, aku dan Ashton tidak pernah duduk sedekat ini, jangankan untuk duduk sedekat ini, untuk menyapa satu sama lain saja tidak pernah. Tapi sekarang, setelah Praja bergabung dengan band mereka bertiga untuk mengisi acara prom, kami—aku dan Ashton—berteman. Dan aku akui, Ashton tidak seburuk yang aku duga sebelumnya. Bahasa Inggris yang sama, aku dan Ashton tidak pernah duduk sedekat ini, jangankan untuk duduk sedekat ini, untuk menyapa satu sama lain saja tidak pernah. Tapi sekarang, setelah Praja bergabung dengan band mereka bertiga untuk mengisi acara prom, kami aku dan Ashton berteman. Tanpa disadari, bel tanda kelas sudah berakhir berbunyi. Aku melirik jam tanganku, tidak percaya bahwa kelas sudah berakhir. Waktu terasa begitu cepat ketika kau menikmati kelasmu. Tapi begitu lambat ketika sebaliknya. "Baiklah, sebagai tugas akhir, buat essay tentang buku ini minimal 5 halaman, tolong cetak dengan cover yang rapih dan kumpulkan minggu depan." Mr. Sallyman membereskan perlengkapannya dan tanpa menunggu lama, dia keluar kelas. "Tugas akhir." Kata Ashton . " TIdak terasa ya." Lanjut nya. “Tugas akhir.” Kata Ashton. “ TIdak terasa, ya?” Lanjutnya. “Hanya tinggal beberapa minggu lagi saja.” Sambungku seraya berdiri dari dudukku. “Kelas mu kelas apa selanjutnya?” Tanya Ashton lagi. Ia lalu ikut berdiri dan kami berjalan berbarengan keluar kelas. “Kalkulus.” “Seni.” Kata Ashton secara tidak langsung memberitahu bahwa kami memiliki kelas yang berbeda. Kami sudah berada di luar kelas. “Jadi, aku ke kanan ya.” Ucap Ashton. “Ya, dan aku akan naik ke lantai dua.” Jawab ku. Ashton pun mengangguk. “Kalau begitu, sampaiketemu di ruang band sepulang sekolah nanti?” “Oke,” jawabku sambil mengacungkan simbol oke oleh jari-jariku. Dan kami pun berjalan ke arah kelas kami masing-masing. * * * KALIAN tau apa yang lebih keren daripada bisa mendapatkan akses internet gratis selama sebulan? Menjadi pasangan prom Praja Hood. Tentu saja. Aku memikirkannya semalaman, tentang gaun apa yang harus aku pakai dan apakah nanti warna gaunku serasi dengan tuxedo milik Praja. Aku juga membayangkan tentang dansa... Praja sendiri yang bilang bahwa kami akan berdansa. Aku tau, aku tau, dia mengatakannya dengan bermaksud mengejek tarianku, tapi tetap saja. Praja dan aku akan berdansa. Aku tidak berharap tinggi-tinggi seperti.. Oh tuhan, aku ingin sekali kami berdua menjadi pasangan terkeren di prom nanti dan terpilih menjadi ratu dan raja prom. Tidak. Menjadi pasangan prom Praja saja sudah sangat amat cukup bagiku. "Michael dan Ashton ada ujian susulan untuk perbaikan nilai," Kata Praja seraya matanya fokus ke layar ponselnya, dia sedang membaca pesan dari Michael. "Luke beluma da kabar. tapi Michael bilang, dia akan telat sekitar sepuluh menit kurang lebih." Lanjut nya. "Jadi apa kau mau makan dulu atau langsung ke ruangan band hm?" Tanya ku. "Aku tidak lapar." Praja mengenyah kan pandangan nya dari ponsel nya dan menatap ku . "Kau sendiri bagaimana? Apa kau lapar ?" Tanya Praja . Dan aku menggeleng sebagai jawaban bahwa aku tidak lapar . Lalu kami berdua pun berjalan ke ruang band. Di sepanjang koridor, aku terus menerus melirik Praja yang berjalan di sebelahku dengan tujuan mengukur tinggi badanku dan badan Praja. Jangan sampai nanti ketika aku membeli heels untuk prom, malah terlalu pendek atau terlalu tinggi. Aku ingin jarak tinggi kami tidak terlalu jauh nanti. Lalu kami berdua pun berjalan ke ruang band. Di sepanjang koridor, aku terus menerus melirik Praja yang berjalan di sebelahku dengan tujuan mengukur tinggi badanku dan badan Praja. Jangan sampai nanti ketika aku membeli heels untuk prom, malah terlalu pendek atau terlalu tinggi. Diluar ruangan band, samar-samar aku dan Praja mendengar suara gitar akustik sedang dimainkan. Awalnya, kami berdua mengira itu Luke, tapi Luke tidak seburuk itu dalam bermain gitar. Praja menatapku dengan tanda tanya, tapi aku hanya menggidikkan bahuku. Praja bilang, "Mungkin ada yang sedang latihan untuk acara prom?" Tapi lagi-lagi aku menggidikkan bahuku. Lalu kami akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam ruang band. Disitulah dia berada, Erika—temanku di kelas Seni—sedang duduk di salah satu kursi dengan gitar di pangkuannya. Tapi setelah menyadari keberadaan kami, Erika menghentikan permainan gitarnya dan membulatkan matanya ke arah kami, seakan-akan kami adalah polisi dan dia adalah seorang rampok yang tertangkap basah sedang merampok. "Oh..." Suaranya terdengar hampir berbisik. Lalu ia menjumput sedikit rambutnya ke belakang telinga sambil tertawa gugup. "Hei, umm... Aku, aku hanya sedang... umm.." Erika tidak melanjutkan ucapannya, melainkan menaruh gitar dari pangkuannya ke tempatnya semula, lalu berdiri. Dia bilang, "Kalian mau memakai ruangan ini untuk latihan, kan?" Praja mengangguk. Ia terlihat sangat gugup sehingga aku berpikir bahwa sebenarnya siapa yang baru saja tertangkap basah? Erika atau Praja? Aku tidak ingat apakah mereka berbicara atau tidak, atau apakah aku dan Erika saling menyapa atau tidak, yang aku ingat adalah; siang itu, Praja bersikap tidak seperti biasanya, Dan aku tau bahwa seharusnya kami ke kantin saja tadi. --- Selesai menemani Praja latihan, aku dan Praja pun bergegas ke halte bus. Entah kenapa kali ini bus yang selalu kami naiki datangnya lebih lama daripada biasanya. Hal ini membuat kami berdua menyesali tawaran Ashton, Luke, dan Michael untuk pulang bersama menaiki mobil Ashton. 30 menit kemudian, bus datang. Kami langsung menaikinya dan aku duduk di spot yang selalu menjadi favorite ku; di dekat jendela. "Ini sudah tahun senior kita, dan kita masih saja naik bus." Praja mengerucutkan bibirnya, dan aku terkekeh. Benar juga, hampir semua senior yang seangkatan denganku dan Praja, pulang pergi menaiki kendaraan pribadinya—entah itu diantar orang tuanya atau ikut bersama teman. Tapi aku tidak terlalu peduli selama aku dan Praja masih bisa berangkat dan pulang sekolah bersama. Sebenarnya karena kami berdua sangat dekat dan selalu terlihat bersama, kami sempat digosipi berpacaran yang mana itu tidak mengangguku sama sekali, malahan aku senang dengan gosip itu dan terus berdoa semoga gosip yang mereka buat menjadi kenyataan, tapi lain denganku, Praja malah membantah gosip itu dan selalu menjawab "Kami tidak berpacaran, kami hanya berteman. Elena sudah seperti adikku sendiri." Ketika ada yang bertanya tentang status kami. "El." Panggil Praja . Praja memiliki kebiasaan memanggil ku dan menunggu ku merespon tanpa langsung memberi tahu ku apa yang mau dia tanya kan . "Hm?" Jawab ku agak malas karena dia tidak to the point . "Kau kenal dengan gadis yang tadi di ruang band , kan ? " Aku mengangguk. Aku tau kemana arah perbincangan ini. "Siapa namanya?" Aku tersenyum menggoda nya sambil mencolek - colek hidung Praja , membuat nya ter kekeh dan menangkis jari ku . "Erika." Jawab ku. "Erika Beryl. Temanku di kelas Seni." Sambil menunggu Praja bicara, aku menyempatkan diriku untuk menatap matanya yang kini juga sedang menatapku. Dalam hati, aku berharap agar dia bisa membaca apa yang aku rasakan dari mataku, tapi sebenarnya siapa yang bodoh? Praja maupun aku tidak mempunyai kemampuan berkontak batin. "Erika." Ucapnya. Dan hanya itu. Dia tidak melanjutkan topik ini lagi dan malah membahas soal ujian yang semakin dekat. * * * Aku melempar tasku ke bangku meja belajarku, lalu menghempaskan tubuhku ke kasur tanpa melepas sepatu atau seragam sekolahku terlebih dahulu. Rasanya terlalu malas bahkan hanya untuk melepas keduanya. Aku menatap lurus ke arah langit-langit kamarku, merasakan sekujur tubuhku tersengat oleh rasa cemburu. Aku pernah merasakan ini sebelumnya, saat Praja tertarik dengan gadis bernama Freya. Itu sudah 4 tahun lalu saat kami menginjak tingkat 2 di sekolah menengah. Mereka lalu berpacaran, tentu saja. Siapa yang mau menolak Praja? Rasanya terlalu malas bahkan hanya untuk melepas keduanya. Aku menatap lurus ke arah langit-langit kamarku, merasakan sekujur tubuhku tersengat oleh rasa cemburu. Aku pernah merasakan ini sebelumnya, saat Praja tertarik dengan gadis bernama Freya. Itu sudah 4 tahun lalu saat kami menginjak tingkat 2 di sekolah menengah. Mungkin aku memang satu-satunya teman perempuan Praja yang sangat dekat dengannya, tapi entah kenapa aku jugalah orang yang sangat sulit merebut hati Praja. Jika dipikir-pikir, kami sudah mengenal satu sama lain dengan sangat baik. Apakah 11 tahun selalu bersama, tidak ada satupun dari diriku yang membuat Praja jatuh hati? Memikirkan semua ini hanya membuatku berakhir pada satu kesimpulan; aku tidak cukup untuk Praja—tidak cukup cantik, tidak cukup pintar, tidak cukup menarik, tidak cukup menyenangkan, tidak cukup baik—dan sampai kapanpun aku tidak akan pernah cukup untuk Praja. "ELLY!" Aku terkesiap ketika Niall dengan tiba-tiba membuka pintu kamarku dan berteriak memanggil namaku. "Aku membawa Eddie." Kata Niall kemudian. Sebenarnya aku ingin sekali memprotes Niall karena tidak mengetuk pintu kamarku terlebih dahulu, tapi melihat Niall masuk ke kamarku dengan Eddie digendongannya, aku mengurungkan niatku dan langsung bengkit dari kasurku. "Eddie‼‼" Aku langsung merebut Eddie dari gendongan Niall dan menciumi anjing milik pacar Niall seperti dia adalah anakku yang hilang dan baru ditemukan. Eddie membalas ciumanku dengan menjilati pipiku. Dia juga tampak bersemangat bertemu denganku. "Catherine tidak ikut?" Tanyaku. Niall menggeleng sambil ikut mengelus kepala Eddie. "Apa Eddie menginap?" Niall menggeleng lagi, "Catherine akan datang nanti malam menjemput Eddie." Aku menatap Eddie yang terlihat masih bersemangat, ia menjuntaikan lidahnya sambil mengendus-endus lewat mulutnya. "Boleh aku bawa Eddie ke rumah Praja?" Tanyaku lagi dan kali ini Niall mengangguk. Tanpa mengganti seragamku, aku berjalan ke rumah Praja. Dengan Eddie yang masih dipelukanku, aku membuka pintu gerbang rumah Praja dengan susah payah. Aku lalu berlari kecil ke arah pintu rumah Praja dan belum juga sampai, Praja sudah menampakkan dirinya. Ia juga belum mengganti pakaiannya. "Wow, lihat siapa yang datang." Aku menurunkan Eddie dan Eddie langsung berlari ke arah Praja. Praja jongkok dan menggelitiki leher Eddie. Selanjutnya, waktu sore pun kami habiskan dengan bermain bersama Eddie di rumahku sampai Catherine akhirnya datang tepat pukul 7 malam. "Bye, Eddie!" Seruku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD