TIDAK terasa ujian hanya tinggal 1 minggu lagi. Kami, murid tingkat akhir, sudah disibukkan dengan berbagai tugas akhir dan berbagai pelajaran tambahan untuk ujian. Oleh karena itu, Michael mengusulkan untuk tidak latihan sampai ujian selesai.
Mataku menatap lurus ke arah papan tulis yang kosong, sedangkan Mr. Greg terus berbicara di depan kelas mengenai lukisan buah-buahan yang tingginya berukuran 1 meter dan lebarnya 60 cm, yang dibuat Faith sebagai tugas akhir. Karena sebagai murid pertama yang menyelesaikan tugas akhir padahal deadline masih 5 hari lagi, dia diberi apresiasi berupa pujian yang sangat panjang dan nilai yang cukup tinggi.
Belum merasa cukup, Mr. Greg bahkan menyuruh Sandy dan Robert untuk mengangkut lukisan itu ke ruangannya—yang mana ini baru pertama kalinya dia mengapresiasi hasil karya muridnya sampai sebegitu berlebihannnya—dan kembali memberikan kalimat pujian penutup sampai akhirnya Mr. Greg membahas soal apa saja yang sudah kami pelajari di kelas Seni. Tapi tidak terfokus pada Mr. Greg. Aku hanyut dengan pikiranku sendiri tentang lukisan yang baru setengah jadi ku buat. Lukisan wajah Praja yang belum ku selesaikan.
Bel tanda kelas berakhir berdering. Aku merapihkan perlengkapanku dan berjalan bersama murid lain menuju keluar kelas. Tapi tiba-tiba Mr. Greg memanggilku, membuatku menoleh. Aku menghampirinya dan Menunggu Mr. Greg berbicara. Tapi Mr. Greg tidak juga berbicara. Dia hanya fokus membereskan lembaran kertasnya, menyusun lembaran itu lalu merapihkannya.
"Mr. Greg, apa ada yang bisa ku bantu?" Tanyaku saat aku sudah menunggu kira-kira satu menit di depan mejanya.
"Jangan kaku seperti itu, El." Katanya kemudian. Lalu hal terakhir yang dia lakukan sebelum berbicara lagi adalah mendongak dan memperhatikan seisi kelas yang sudah kosong.
Mr. Greg lalu memasukkan lembaran itu ke map transparannya dan menaruhnya di meja.
"Elena Mahardika." Katanya dengan menyebut nama belakang ku. Aku agak risih sebenar nya bila ada yang menyebut nama belakang ku dengan tujuan untuk menekan ku. Tapi ini Mr. Greg dan dia tidak berniat untuk menekanku atau apa. Dia hanya menyebut nama anak murid nya secara lengkap. Jadi aku tidak mempermasalah kan apa pun. “Boleh kan aku bertanya soal tugas akhir yang ku beri? Apa kau sudah menyelesai kan nya?” Tanya Mr. Greg membuat ku kaget karena aku tidak menduga Mr. Greg menanyakan tugas akhir ke padaku. Yang mana belum aku selesaikan sama sekali.
“Maaf Mr. Greg. Tapi bukankah dead line nya masih 5 hari lagi? Aku masih belum menyelesaikannya. Atau aku tidak mendengar saat kau memajukan tanggal dead line ya?” Tanya ku agak ragu dan merasa bersalah.
Tapi saat aku merasa begitu, Mr. Greg meluruskan maksud dan tujuannya.
"TIdak. Dead line tidak aku ubah sama sekali dan benar, dead line masih 5 hari lagi." Jawab nya yang membuat ku agak bingung tapi juga merasa lega karena dia bukan bermaksud untuk menagihnya.
Aku pun berkedip tidak mengerti dengan apa yang Mr. Greg maksud. "Lalu... apa yang ingin kau tanyakan mengenai tugas akhir ku?” Tanya ku pada akhir nya.
“Hmmm begini, yang ini aku tanya kan adalah siapa yang menginspirasi mu?” Tanya Mr. Greg secara tiba-tiba.
Aku terdiam sebentar. Tidak yakin harus menjawab apa. Tapi kemudian Mr. Greg mengeluarkan beberapa lembar kertas yang terlipat rapih dari dalam tasnya. Ia membuka lipatan itu dan menyodorkannya padaku. Aku hanya bisa menatap Mr. Greg dengan tatapan tidak percaya, karena kertas-kertas ini adalah kumpulan dari tugas lukisan yang ku buat.
"Lukisan pertama, berjudul "Best hands." Kau membuatnya untuk tugas akhir semester 2, tingkat 1. Lukisan kedua, berjudul "Best eyes." Lukisan ini kau buat untuk tugas harian, semester 5, tingkat akhir. Dan lukisan terakhir berjudul "Best tattoo." Kau mengumpulkannya dua bulan lalu, saat aku mengadakan ujian lukis mendadak." Mr. Greg menatap satu persatu lukisanku, lalu menatapku. "Kau tau kenapa aku menyimpannya?"
Aku menggeleng.
"Karena aku berharap bisa mengetahui siapa sebenarnya pria ini. Bagiku, kau membuat membuat siapapun yang melihat lukisanmu akan merasa penasaran, dan aku tidak tahu kenapa kau melakukan ini padaku dengan cara melukis lukisan-lukisan ini seperti berkata "Oh, ayolah Mr. Greg. Kau harus memecahkan teka-teki ini! Kau harus mencari tahu siapa pria yang aku lukis, jangan khawatir, aku akan meninggalkan beberapa petunjuk dalam lukisanku"." Katanya lagi berusaha menirukan suaraku. "Elena, walaupun mungkin aku tidak mengenal siapa pria ini, tapi aku benar-benar berharap di tugas akhirmu nanti, kau memberikanku jawaban."
Aku mengangguk perlahan. Merasa bingung atas ucapan panjang lebar Mr. Greg, sekaligus tidak menyangka bahwa lukisan yang ku buat seolah-olah saling berhubungan.
Aku kembali menatap ke lukisan-lukisanku yang masih terpampang di atas meja. Mata Praja, Tangan Praja, Tato Praja. Aku menahan senyuman ketika mengingat kapan Praja mendapatkan tato itu.
Jika dipikir-pikir, tugas akhirku memang menjawab semuanya. Tapi kenapa semuanya harus bersangkutan? Aku bahkan tidak menyadarinya.
"Kau mempunyai bakat, Elena. Aku mungkin tidak pernah mengatakannya karena aku selalu ingin tau apakah kau memang mempunyai maksud tertentu dalam lukisan ini atau tidak. Aku kagum padamu dan ingin kau terus mengembangkan bakatmu."
Mr. Greg lalu melipat kembali lukisanku dan memasukkannya ke dalam tas. "Baiklah, sampai bertemu minggu depan."
"Umm... Sebenarnya, tugas akhir yang sedang aku kerjakan merupakan jawaban atas lukisan-lukisanku yang lain." Kataku. Lalu mata Mr. Greg membesar, seakan-akan aku baru saja mengatakan bahwa aku akan mengajaknya jalan-jalan keliling dunia. "Tapi bukan berarti aku merencanakannya.. oke, kedengarannya memang seperti sudah direncanakan, tapi sungguh, aku tidak merencanakan apa-apa."
Mr. Greg tersenyum, lalu mengusap kepalaku. "Mau itu direncanakan atau tidak, aku tidak peduli, El. Kau keren dan aku bangga padamu."
Ucapan Mr. Greg berhasil membuat semangatku bertambah. Dari saat umurku aku masih kecil, aku sudah suka menggambar, dan seiring umurku yang bertambah, aku mulai menemukan minatku.
"Aku berjanji kau tidak akan merasa penasaran lagi, Mr. Greg."
Mr. Greg mengangguk-anggukan kepalanya. "Aku senang mendengarnya, setelah sekian lamanya aku memendam rasa penasaranku. Akhirnya aku akan mendapatkan jawaban."
Kami berdua terkekeh. Lalu Mr. Greg melangkahkan kakinya meninggalkanku.
Dibalik mata berbinar itu, dibalik rasa penasaran itu.. Akankah lukisanku membuatnya puas? Atau sebaliknya? Tapi jika Mr. Greg sudah mendapatkan jawabannya, apakah ia akan menatapku berbeda seperti... Gadis aneh yang mempunyai gangguan mental dan terobsesi dengan pria dilukisan itu. Bisa saja.
***
Aku menghabiskan waktu soreku dengan mencoba untuk menyelesaikan lukisan tugas akhirku. Kuas yang ada di genggaman tanganku bergerak mempertegas wajah Praja di kanvas putih yang sudah dipenuhi oleh setengah badan Praja.
Ini bagian yang paling aku suka, melukis mata Praja. Aku tidak menggunakan foto atau bahkan Praja sendiri untuk jadi objek lukisanku karena sebenarnya aku tidak memerlukannya. Aku hanya perlu memikirkan wajah Praja, lalu melukisnya sesuai dengan imajinasiku. Lukisan sudah hampir jadi dan aku merasakan sesuatu yang bergejolak di dalam diriku. Rasa cemas, juga semangat bercampur menjadi satu. Kali ini aku melukis bukan hanya semata-mata untuk nilai. Tapi juga untuk menjawab rasa penasaran seseorang yang tak lain adalah Mr. Greg.
Berbagai step sudah aku lakukan, sekarang, aku hanya butuh sentuhan terakhir, yaitu mempertegas setiap garis dan kerutannya.
Kemudian aku mendengar suara deritan pintu terbuka dari arah seberang balkonku. Praja. Aku segera menutup lukisanku dan bergegas ke arah balkon. Untuk alasan tertentu, aku tidak mau Praja tau bahwa aku sering melukisnya.
"HEI!" Teriakku sambil memberinya cengiran.
Praja tersenyum. Ini hanya perasaanku atau Praja hari ini terlihat dua kali lipat lebih tampan dari biasanya?
"Hai!" Praja melipat kedua tangannya di atas pagar balkon. "Aku tertidur."
"Dasar tukang tidur."
Dia terkekeh, "Aku sudah mendapatkan nomornya."
Aku mengedipkan mataku beberapa kali. "Nomornya?" Tanyaku. "Nomor siapa yang kau maksud?" Sebagian dalam diriku sudah bisa menebak siapa yang Praja maksud, tapi aku ingin memastikannya lagi dan berharap bahwa tebakanku salah.
"Erika."
Tapi tentu saja tebakanku tidak akan salah. Siapa lagi kalau bukan Erika?
"Wow!!! Akhirnya!" Lanjutku, berusaha mati-matian menutupi rasa kecewaku dengan memberinya sebuah cengiran lebar. Bagus, El. Kau memang pandai berpura-pura. Dasar ular!
"Tapi aku belum berani menelpon atau mengirimnya pesan singkat." Dia menggaruk-garuk rambutnya, lalu terkekeh lagi. "Aku tidak tau... Maksudku, jika aku menelponnya, aku harus bilang apa? El, apakah menurutmu sebaiknya aku telepon dia atau mengirimnya pesan singkat?"
Bagaimana jika kau hapus saja nomornya? "Hhmm... Menurutku, telepon saja dia dan beritahu kalau itu adalah nomormu. Hanya sekedar mencaritahu apakah dia tertarik atau tidak denganmu. Jika dia tertarik, dia akan menyimpan nomormu."
Praja terdiam sebentar, lalu mengangguk perlahan. "Oke... Tapi bagaimana kita tau bahwa dia menyimpan nomorku?"
"Keesokan harinya, kau kirimi dia pesan singkat. Jika dia menyimpan nomormu, dia tidak akan menanyakan siapa dirimu lagi."
"Pintar." Praja memujiku. "Oke, aku akan menelponnya."
Aku tersenyum dan mengangguk. "Pilihan yang bagus! Lebih cepat lebih baik."
Praja menatapku dalam dan merentangkan kedua tangannya. "Aku benar-benar ingin memelukmu. Kau sahabat yang luar biasa. Aku tidak tau apa jadinya aku tanpamu, El."
Aku memutar kedua bola mataku dan mengusirnya untuk cepat-cepat menelpon Erika. Di detik berikutnya, Praja masuk ke dalam kamarnya tanpa menutup pintu kamarnya.
Kalau saja dia tau bahwa jauh di dalam diriku, aku hancur.
Aku tersenyum lirih. Kata pepatah, jika kita mencintai seseorang, kita harus merelakannya. Tapi kenapa sulit sekali untuk merelakan? Aku sudah pernah ada diposisi ini, tapi kenapa aku belum juga bisa belajar dari pengalamanku dulu? Dari awal aku sudah sadar bahwa kita berdua akan tumbuh dewasa. Praja dan aku tidak mungkin selalu bersama. Suatu saat kami akan berpisah. Entah karena cita-cita atau cinta. Tapi masalahnya, aku selalu yakin bahwa kami berdua akan menikah kelak. Bodoh sekali, bukan?
Aku kembali masuk ke kamarku dan menutup pintu kamarku. Dari jendela kamarku, aku bisa menatap balkon milik Praja yang pintunya terbuka sehingga aku bisa melihat tembok kamar Praja dengan poster band All Time Low yang sudah 4 tahun ini setia menempel disana.
Praja menyukai Erika. Tentu saja. Erika cantik, dia mempunyai suara yang merdu, dia bisa bermain piano, dia pintar, dia mempunyai senyum yang menawan, rambut yang indah, dia baik. Siapa juga yang tidak jatuh cinta padanya? Bahkan Jika aku menjadi seorang pria pun mungkin aku akan jatuh cinta padanya. Tapi masalahnya adalah aku perempuan dan sangat menyukai pria yang sedang menyukainya. Ini tidak adil. Aku mengenal Praja lebih baik. Aku yang sudah melewati susah senang bersamanya.
Siapa yang menyemangatinya ketika nilai ulangan matematikanya jelek? Siapa yang kadang rela tidur di sofa kamar demi Praja bisa menginap di kamarku? Siapa yang mengusap air matanya ketika dia sedang menangis? Siapa yang memeluknya ketika dia membutuhkan seseorang yang mengerti dirinya? Aku. Aku lah orangnya dan aku juga lah orang yang mendapat ketidakadilan.
Tiba-tiba amarahku meluap. Tatapanku kini tertuju ke arah lukisan tugas akhirku yang masih tertutup. Dengan segera, aku membukanya dan meraih kuas di di sebelahku. Aku mengarahkan kuas ku tepat di depan wajah lukisan Praja dan mencoret-coretnya secara brutal. Dan sedetik kemudian aku menangis.
Aku marah. Marah pada diriku sendiri karena tidak bisa menerima kenyataan bahwa Praja tidak akan pernah bisa jatuh cinta padaku. Semua yang sudah kami lewati tidak ada artinya sama sekali untuknya. Padahal, semua itu sangat berarti untukku.
Praja selalu tersenyum dan menatapku lekat-lekat ketika aku menceritakan sesuatu, dia selalu meminjamkan pundaknya untuk kutiduri di bus, dia selalu bersedia menyanyikanku sebuah lagu, yang terkadang itu lagu cinta. Oh, benar. Dia hanya menganggapku sebagai sahabatnya. Tidak lebih. Apa sih yang sedang aku pikirkan? Dia melakukannya bukan atas dasar menyukaiku. Mungkin ini hanya perasaanku saja yang terlalu percaya diri.
Aku menatap hasil lukisanku yang kini penuh coretan. Aku kembali menangis. Kini aku memiliki dua alasan untuk menangis; pertama, Praja. Kedua, aku sudah berjanji pada Mr. Greg dan lihat apa yang ku perbuat. Aku menghancurkan semuanya.
Lima hari setelah Praja mendapatkan nomor Erika, Praja sudah jarang lagi berangkat dan pulang sekolah bersamaku. Jika biasanya sebelum ujian--mau itu ujian nasional atau ujian akhir semester--Praja selalu mengajakku untuk belajar bersama, kini ia lebih memilih untuk menghabiskan waktunya bersama Erika. Entah itu lewat telepon atau secara langsung.
Aku berharap aku bisa mengukir kenangan indah di masa-masa terakhirku di sekolah ini bersama Praja. Tapi ternyata kenyataan tidak pernah sesuai dengan harapan. Praja sedang mengukir kenangannya bersama orang lain.
Ngomong-ngomong soal Prom. Aku juga sudah tidak tau bagaimana nasib Promku. Aku yakin sekali Praja lebih memilih Erika untuk ia ajak menjadi pasangan Promnya dibanding aku. Dan bagaimana dengan nasibku? Haha. Tidak usah dipikirkan. Aku sudah merencanakan rencana B untuk antisipasi kejadian semacam ini terjadi. Rencana B ku adalah; tidak datang ke Prom dan memilih untuk tidur. Lebih baik begitu daripada harus melihat Praja dan Erika menjadi pusat perhatian. "Si cantik dan si tampan.", "Ohhh mereka sangat serasi!" Blah blah blah.
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Fokus, Elena. Ujian Nasional sudah akan mulai lusa minggu depan. Belajarlah yang giat! Jika kau bisa mendapatkan nilai yang bagus, kau akan lebih mudah diterima di Universitas pilihanmu.
Aku kembali berusaha mengisi soal-soal di buku paket. Setelah lulus. Aku akan pergi ke luar kota. Mencari kerja paruh waktu sembari kuliah. Aku juga akan membeli apartemen didaerah dekat kampusku nanti dengan uang tabunganku selama tiga tahun. Tidak usah apartemen yang bagus. Yang penting aku bisa berteduh dari panas dan hujan. Untung saja aku suka menabung. Jadi aku tidak terlalu merepotkan kedua orang tuaku, walaupun pasti mereka akan menyumbang suntikkan dana. Tapi itu tidak akan terlalu banyak dibanding jika aku tidak menabung sama sekali.
Aku berhasil mengisi sepuluh soal dari buku paket ketika tiba-tiba suara dari arah balkon terdengar memanggilku
Aku beranjak dari dudukku dan menghampiri sipemilik suara. Dan betapa terkejutnya aku ketika melihat bahwa Praja tidak sendirian. Dia bersama orang lain dan kalian bisa menebak siapa orang itu.
"H-hai." Sapaku. "Hai Erika."
Erika menyimpulkan senyuman manisnya sambil melambaikan tangannya. Cih.
"Kau seang belajar?" Praja bertanya.
Aku mengangguk .
“ Bagai mana jika kau kemari , El? Kita belajar bersama saja . “ Tawar nya tapi wah, suatu kehormatan bagi ku , tapi tidak , terima kasih. Aku tidak berminat .
“ Aku baru saja selesai .” Ucap ku .
Aku tidak mau bergabung dan menontoni mereka berdua . Melihat mereka berdua dari sini saja rasanya memuak kan .
“ Wah kau sangat jahat .Kenapa sudah selesai duluan ? Ayo lah , El. Kau tidak mau mengajari ku matetika?” Rengek Praja dan membentuk wajah nya seperti ini -> :(
Apa - apaan sih dia . Berani - berani nya dia memasang wajah seperti itu . Itu menggemas kan tau . Aku menjadi agak luluh nih sehabis melihat nya memasang wajah seperti itu . TAPI TIDAK. Aku tidak akan luluh .
“ Erika bisa mengajari mu. “ Kata ku lalu aku beralih pada Erika . “ Iya , kan Erika ?” Tanya ku sambil menunggu Erika menjawab.
Tapi sebelum menjawab ku , Erika menyempat kan diri nya untuk melirik ke arah Praja dan dia akhir nya berbicara . “ Hehe sebenar nya aku itu payah sekali dalam Matematika .” Ucap nya dengan jujur . “ Aku punya ide . Bagaimana jika kau mengajari kami berdua?" Pinta Erika sebelum aku sempat menjawabnya.
Aku terdiam. Erika mengakui bahwa dia payah dalam Matematika. Aku pintar Matematika. Oh tuhan... Apakah ini petunjukmu?
Dengan senyuman bangga, aku pun mengangguk mantap. "Boleh saja. Dirumahku atau dirumah Praja?"
* * *
"Jadi untuk menemukan X, kalian harus mengerti mana sekutu X dan mana sekutu Y. Lalu kalian hitung. Jika angka dipindah ke kiri, atau ke kanan. Maka mereka akan berubah sifatnya. Dari minus ke plus, atau sebaliknya." Jelasku.
Erika terlihat sangat serius dan mengangguk-anggukan kepalanya. Sedangkan Praja, Praja tidak terlalu fokus dengan apa yang aku jelaskan. Matanya memang menatapku. Tapi dia sering mencuri-curi pandang kepada Erika.
"Oke, sekarang aku mengerti." Erika tersenyum. Ia menjepit pensil dengan kedua bibirnya sambil memperhatikan soal-soal yang ku contohkan.
Praja melirikku. Ia tersenyum. Jika biasanya senyuman itu menjadi senyuman yang selalu aku nantikan, kali ini tidak. Karena senyuman Praja tadi adalah sebuah bentuk kekaguman yang berlebih pada seorang insan disebelahnya. Disini aku yang pintar matematika. Tapi kenapa Erika yang Praja kagumi?
"She is so cute." Praja menggerakan bibirnya tanpa suara.
Aku tersenyum maklum dan mengangguk sebagai tanda setuju.
Satu jam kemudian, Erika pamit pulang karena ia harus membantu Ibunya memasak. Nanti malam akan ada acara makan malam besar dirumahnya. Ya, ya. Aku tidak peduli. Praja sempat menawarkan dirinya untuk mengantar Erika pulang, tapi Erika menolaknya dengan alasan supirnya yang akan menjemputnya. Dan benar saja, dua menit kemudian supirnya datang.
"Sampai bertemu hari senin." Ucap Praja sambil melambai kan tangannya ke arah Erika.
Erika mengangguk kan kepala nya, ia tersenym malu. Lalu mata nya beralih pada ku sekarang.“ Terima kasih sudah menajari ku , ya, El.“ Ucap nya.
Aku mengangguk , lalu kemudian mobil itu pun melaju , meninggal kan kami ber dua .
“Kau tidak pulang, Praja ?” Tanya ku malas. Aku masih ngambek pada nya !
“Kau mengusir ku ?” Tanya Praja balik .
“Terserah apa kata mu .” Kata ku lalu beranjak meninggal kan Praja yang masih ber diri di depan gerbang .
“Aku merindukan mu , Elena. Apa kau tidak merindu kan sahabat mu yang menggemas kan ini ? Aku main ke rumah mu ya ?” Ucap nya sambil berusaha menyamai langkah ku .
“Tidak dan tidak . “ jawab ku bohong karena wah, aku juga merindukan nya dan sebenar nya aku mengijinkan nya main ke rumah ku . Tapi dia menyebal kan jadi hari ini adalah pengecualian .
“El.” Panggil Praja dan hal itu membuat ku tambah diam . Aku tetap diam dan aku tetap ber jalan tanpa menoleh ke arah nya sama sekali .
“Elena Mahardika . Tolong jawab aku .” Ucap nya .
Percis ketika dia memanggilku lengkap dengan nama belakangku, aku menoleh. Praja selalu memanggilku dengan nama lengkapku ketika ada sesuatu yang serius.
“Kau ini kenapa sih ? “ Tanya nya bingun . Dia menatap ku denga kedua alis nya yang menyatu membentuk sebuah protes karena dari tadi aku mendiami nya berbicara .
"Kenapa apanya?" Tanyaku balik, aku kembali meluruskan pandanganku dan melangkah masuk ke dalam rumahku. Praja tidak menjawab pertanyaanku, tapi dia terus mengikutiku sampai aku akhirnya sampai di dalam kamarku.
“Aku mengenal mu bukan hanya satu hari atau dua hari , Elena Mahardika . Aku tau ada yang kau sembunyi kan kalau kau sudah diam begini . Aku juga tau kau marah kalau diam . Jadi ada apa ?” Tanya Praja lagi meminta penjelasan dari ku .
Aku tidak mau memberikan penjelasan apa pun , jadi aku hanya menggidik kan bahuku, lalu berjalan ke arah balkon.
"Elena Darren!" Serunya. Ia mencengkram kedua pundakku, memaksaku untuk menatapnya. "Kau tidak suka jika aku dan Erika dekat?" Tanyanya tiba-tiba ketika mata kami bertemu.
Aku membulatkan kedua mataku. "Hah?" Aku melepaskan cengkraman Praja di pundakku dengan paksa. Aku memang tidak suka. Tapi aku tidak bisa mengiyakan pertanyaan Praja yang langsung ke intinya itu.
Aku tersenyum simpul, lalu mengacak-acak rambut Praja yang sudah mulai gondrong itu. "Dengar ya, Praja. Kenapa juga aku harus tidak suka jika kau dengan dengan Erika? Untuk saat ini, Erika adalah sumber kebahagiaanmu. Aku ikut bahagia jika kau bahagia. Mengerti?"
Praja hanya pasrah saat aku bergantian dari mengacak-acak rambutnya menjadi mencubit pipinya ke kiri dan ke kanan.
Mungkin memang seperti ini takdirku dengan Praja. Tidak akan pernah bisa bersatu. Aku dan Praja sedekat nadi. Tapi entah kenapa sulit sekali untuk bersatu.
Aku melepas cubitanku dan menopang tubuhku di pagar balkon. Menatap lurus ke arah dimana Praja selalu berdiri di seberang sana. Di balkon kamarnya. Aku tersenyum lirih ketika mengingat Praja pernah berdiri disana mengobrol denganku hanya dengan kaus hitam polosnya dam boxer cumi-cuminya.
"Cukur rambutmu, Cal. Lusa sudah Ujian Nasional. Kau tidak mau, kan, kalau diusir keluar kelas hanya karena melanggar aturan sekolah yang sepele itu?"
Praja tidak menjawab ucapanku, ia malah memelukku erat dari samping. Tangannya menuntun kepalaku untuk beristirahat di dadanya. Kami tidak mengatakan apa-apa. Hanya ada suara nafas kami dan detak jantung Praja. Detak jantungnya berpacu normal. Beda dengan milikku yang berpacu dua kali lebih cepat. Aku tau ini menyakitkan, tapi aku tetap menyukai pelukan Praja. Aku merasa aman disini.
"Ngomon-ngomong, kau sudah menyiapkan gaun untuk Prom nanti?" Tanyanya tiba-tiba tanpa melepas pelukannya.
Aku mengangguk semangat. Tapi kemudian mengingat bahwa Praja tidak akan menjadi pasangan Promku, pundakku terasa merosot.
"Tapi seperti nya aku tidak akan datang deh." Ucap ku membuat Praja melepas kan pelukan nya pada ku dengan kaget . Dia juga menatap ku dengan kaget dan tidak percaya dengan apa yang baru saja aku ucap kan .
"Kalau kau tidak datang berarti aku tidak punya pasangan Prom . Kau tega jika aku datang ke Prom sendiri tanpa pasangan Prom?" Tanya Praja .
Sebentar. Apa maksud nya ini?
Aku mengedip kan mata ku beberapa kali dengan cepat karena masih bingung dengan pertanyaan yang Praja ajukan pada ku . "Aku pikir kamu datang ke sana sama si Erika?" Tanyaku.
Praja lalu memutar kedua bola mata nya ketika mendengar pertanyaan dari ku. Percis seperti yang selalu aku lakukan bila mendengar perkataan bodoh dari Praja. Dan kini dia melakukan nya pada ku. Hahaha.
"Aku memang sedang dekat dengan nya. Tapi buka berarti aku akan merubah pikiran ku." Ucap nya sambil menusuk - nusuk pipi ku dengan telunjuk nya .
"Oke, Elena sahabat ku yang sangat menggemas kan dan juga yang sering sekali ngambek. Kamu mau nggak jadi pasangan Prom ku nanti? Sebenar nya ini bukan pertanyaan sih . Tapi ini permintaan dan kamu di larang menolak ! Titik ! " Ucap nya membuat ku terkekeh.
Meskipun begitu aku masih tidak percaya dengan apa yang aku dengar . Walau pun jika pada akhir nya praja tidak akan pernah jatuh cinta kepada ku . Setidak nya aku dan Praja akan membuat kenangan termanis yang bisa aku kenang selama nya . Hore.
"Oke kalo begitu pak Praja . Aku nggak bisa nolak . Jadi yaudah iya aja deh kan kamu maksa. " ucap ku membuat Praja tertawa dan mengacak-ngacak rambut ku membuat ku protes.