"Bagaimana dengan Mall?" Tanya Praja berusaha mem beri kan ku sebuah referensi tentang ke mana kita akan pergi siang ini.
Mall terdengar tidak asik. Aku tidak mau ke mall.
Bukan karena apa-apa, mungkin di lain waktu mall terdengar asik. Tapi kali ini aku sedang tidak ingin ke mall. Kalau sudah ke mall memang nya mau ke mana lagi? Pasti makan di food court atau nonton bioskop atau karaoke kan?
Aku ingin suasana baru dan tidak ingin ke mall. Sungguh.
Terdengar sangat ribet, ya?
"Tidak." Jawab ku singkat , memberi tahu bahwa apa yang aku pikir kan ya memang tidak mau ke mall.
"Kedai Pizza?" Tanya Praja lagi, dia berusaha dengan keras.
Tapi kedai pizza membuat ku muak karena terlalu sering ke sana. Jadi itu juga tidak.
"Praja kita selalu kesana setiap pulang sekolah saat kau tidak latihan! Tempat lain!" Ucap ku membuat Praja tetap harus memutar otak nya.
Aku hanya tinggal menimbang saja apakah aku mau ke tempat yang Praja ucap kan atau tidak.
"Lalu kau mau ke mana huh?" Tanya Praja setengah frustasi dibuat oleh ku.
"Entah lah." Jawab ku lagi dengan singkat , terdengar seperti gadis yang tidak mau capek - capek berpikir untuk memutus kan makan apa .
"Astaga." Keluh Praja, tapi pada akhir nya dia tetap menerus kan referensi yang dia aju kan untuk ku. "Taman?" Tawarnya kemudian.
Taman.
Terdengar sempurna .
"Sounds good." Jawabku dengan wajah sumringah , yang mana juga membuat Praja sumringah karena akhir nya ada tujuan yang aku setujuin . " Come on . " Ajak ku kemudian .
Praja mengangguk lalu kami berdua pun bergegas pergi ke taman di komplek rumah kami .
* * *
"Kau masih ingat taman ini?" Tanya Praja saat kami sudah sampai di taman yang selalu menjadi tempat favorite kami saat masih kecil dulu.
"Tentu." Jawab ku dengan masih ter pukau dengan apa yang sedang ter bentang di hadapan ku . Taman ini tidak banyak perubahan . Hanya ada satu kolam ikan yang berada di tengah taman ini yang dulunya hanya lapangan kosong disana .
Aku menghampiri ayunan yang dulu sering ku duduki , oh bukan sering tapi selalu . Ayunan ini selalu menjadi favoriteku karena dari sini aku bisa memandangi Praja yang sedang asyik main perosotan . Aku ingat betul , aku selalu ter senyum sendiri melihat Praja di sana. Di perosotan.
"Aku selalu memperhatikanmu dari sini." Ucapku. Senyum ku tak pernah hilang sejak pertama kita sampai di taman ini tadi.
Rasa nya aku ingin kembali ke masa itu, masa di mana aku bisa dengan bebas nya memperhatikan dan memandangi Praja dari sini. Dia begitu tampan, kau tau?
Praja tersenyum dan duduk di ayunan yang tali tambang nya sedang ku pegang. "Aku suka di perhatikan oleh mu dari sini." Ucap nya.
"Oh ya?" Tanyaku. Aku sengaja menggodanya.
"Ya. Sangaaaat suka." Jawab Praja. Aku ingin mencubit pipinya ke kanan dan ke kiri jika dia sudah seperti ini. Seperti anak kecil yang imut.
"Sangat suka?" Tanya ku lagi.
"Sangaaatttt!!!" Jawab Praja dengan sangat antusias.
"Sangat amat?" Tanya ku lagi, berusaha membuat Praja kesal.
"Sangat amat!!!" Jawab Praja. Dia masih belum sadar ternyata aku menggoda nya dari tadi.
"Sangat amat sekali?" Tanya ku sekali lagi.
"Sangat amat-" Praja tidak menerus kan ucapan nya, dia melihatku dengan tatapan tajam, dia sadar bahwa aku sedang mengerjainya. Ha. "Sini kau!" Teriak nya seraya berdiri dan meraih pinggangku.
Dia menggeliti ku dan seperti biasa, aku hanya bisa meronta-ronta memohon untuk Praja berhenti menggelitiku. Tapi bukan Praja nama nya jika dia semudah itu ber henti. Dia semakin giat menggeliti ku sampai kami ber dua jatuh. Kami ber dua jatuh dan paling parah nya Praja menindih ku.
"Aw!" Teriak ku saat badan besar nya menimpa badan ku. Tapi Praja tidak bangun , dia hanya menggeser tubuh nya sedikit dan menopang badan nya dengan ke dua tangan yang ia letakan di antara leher ku . Lebih tepat nya leher ku berada tepat di antara kedua tangan nya yang kekar itu .
Dia memandangi wajah ku .
Hening.
Sunyi.
Sepi.
Tidak ada suara apapun sekarang.
Yang ada, hanya suara degupan keras dari jantung ku yang ter dengar sekarang seolah - olah menggambar kan perasaan ku yang campur aduk tidak karuan di buat nya .
Kenapa dia melaku kan ini kepada ku ?
Aku masih tidak tau harus bagai mana menanggapi ini semua .
Aku yakin muka ku kali ini sangat amat merah seperti buah tomat yang menanda kan bahwa aku ini sangat nervous.
Oh tuhan . Aku tidak bisa menahan rasa malu ku dengan posisi seperti ini.
"Eh. Pra?" Aku berusaha sedikit mendorong tubuh nya namun tetap saja , badan ku yang kecil selalu kalah dengan badan nya yang besar dan tinggi itu. Hei! Aku tidak se kecil itu ! Maksud ku, aku perempuan dan dia laki-laki , tentu tenaga nya lebih besar.
"Hm ? " Dia ber suara namun tidak sedikit pun menggeser badan nya .
Kenapa sih dia malah diam saja ?
"Bisa kah kau." Ucap ku terpotong dan tergantung karena tidak mau melanjut kan ucapan ku . Aku membiar kan Praja mengerti sendiri dengan isyarat tangan ku yang menyuruh nya untuk bergeser .
"Oh!" Praja bangun dan duduk di sebelah ku , dia tertawa dengan canggung sembari menepuk - nepuk ke dua telapak tangan nya yang kotor akibat me nyentuh tanah tadi. "Maaf maaf," Lanjut nya yang ternyata juga tidak engeh dengan posisi kami yang tidak terasa nyaman itu.
Aku mengangguk dan bangun. Aku duduk di sebelah nya dan meminta nya menepuk punggung ku yang aku yakin pasti kotor.
"Maaf," Dia sekali lagi meminta maaf dan sekali lagi juga aku mengangguk. Kenapa dia selalu meminta maaf berkali-kali? "Aku sedang menghayal bahwa kau itu Maddi. Tadi . " Lanjut nya .
Apa yang... Oh ya ampun . Aku langsung membalik kan badan ku dan menghadap nya . Aku adalah Maddi ? Tidak akan pernah terjadi walalu pun Praja hanya ber khayal tadi . Tapi aku adalah aku .
Maddi .
Tunggu dulu ! Apa yang Praja maksud itu Maddi ? Kau ingat ? Saat Praja bilang bahwa dia jatuh cinta . Oh . . . Tentu saja . Praja jatuh cinta pada Maddi . . .
Dia jatuh cinta .
Kepada Maddi .
Si senior populer yang cantik , kaya , dan pintar .
Idaman semua pria di sekolah kami .
Dan siapa sih aku ini ? Aku cuma teman kecil nya saja dan dia tidak menganggap ku lebih dari itu .
"El ? " Panggil Praja yang ber hasil mem buyar kan lamunan ku .
"Y-ya ? " Tanya ku .
"Aku sedang membersih kan punggung mu . Kenapa kau malah ber balik badan ? " Tanyanya heran dengan tinda kan ku yang tiba - tiba tersebut .
"Oh!" Aku menggaruk tengkuk ku yang tidak gatal . " Tidak . . . Tidak . . . Ayo teruskan . " Aku membalik kan badan ku kembali dan Praja mulai membersih kan dengan cara menepuk punggung ku dengan telapak tangan nya .
Aku merasa tidak rela jika Praja jatuh cinta pada Maddi . Tapi aku juga tidak bisa mengaku pada Praja tentang hal itu . Tentang ketidakrelaan ku soal perasaan nya pada Maddi . Karena aku tidak bisa melarang seseorang untuk jatuh cinta .
Karena aku sendiri pun sedang jatuh cinta .
Dari dulu .
Tapi sial nya orang yang aku jatuh cintai malah jatuh pada orang lain .
Aku selalu sial , kau tau ? Oke , tidak selalu . Tapi aku merasa aku sering mengalami kesialan . Aku selalu menjadi bahan ejek kan para senior populer , aku sering sekali jatuh dan parah nya aku pernah jatuh di depan Richard - senior populer yang selalu mengejek ku , aku selalu men dapat permen karet di bangku ku , dan oleh sebab itu Praja selalu mengajak ku untuk datang ke sekolah lebih pagi . Aku tau sekali dia tidak mau aku mendapat permen karet lagi , tapi dia selalu bilang bahwa dia ingin berangkat pagi agar tidak ter lambat . Alasan yang aneh bukan ? Dan sekarang kesialan yang paling besar di dalam hidup ku ; Aku jatuh cinta pada Praja , dan Praja jatuh cinta pada orang lain . Malang sekali aku ini .
Aku selalu sial , kau tau ? Oke , tidak selalu . Tapi aku merasa aku sering mengalami kesialan . Aku selalu menjadi bahan ejek kan para senior populer , aku sering sekali jatuh dan parah nya aku pernah jatuh di depan Richard - senior populer yang selalu mengejek ku , aku selalu men dapat permen karet di bangku ku , dan oleh sebab itu Praja selalu mengajak ku untuk datang ke sekolah lebih pagi . Aku tau sekali dia tidak mau aku mendapat permen karet lagi , tapi dia selalu bilang bahwa dia ingin berangkat pagi agar tidak terlambat . Alasan yang aneh bukan ? Dan sekarang kesialan yang paling besar di dalam hidup ku ; Aku jatuh cinta pada Praja , dan Praja jatuh cinta pada orang lain . Malang sekali aku ini.
"Praja , kau benar - benar menyukai Maddi?" Tanya ku memberani kan diri untuk bertanya .
Kenapa aku bertanya ini padahal aku tau sendiri bahwa dia memang benar - benar menyukai Maddi . Kenapa aku bodoh sekali sih terdengar nya?
Maksud ku ya pasti saja Praja menyukai Maddi . Dia terlihat jelas menyukai Maddi . Lagi pula Praja tidak mempunyai alasan untuk tidak menyukai Maddi.
"Kenapa kau menanya kan itu?" Taya Praja membalik kan pertanyaan ku .
"Hmmm... Kenapa ya? Entah lah. Aku rasanya ingin bertanya saja. Kau tidak pernah curhat soal Maddi pada ku . " Jawab ku sekena nya.
Aku seperti bunuh diri saja bertanya soal ini.
Aku seperti bermain api padahal aku sudah tau kalau api itu panas . Tapi aku malah membiar kan api menjalar ke tubuh ku dan membakar ku hidup - hidup . Begitu lah penggambaran diri ku saat ini yang berani - berani nya bertanya hal yang membuat ku sakit kepada Praja .
"Aku tidak mau cerita." Jawab Praja .
Oh... Oke, diam saja, Elena! Diam!
Tapi entah kenapa aku malah terus mengeluar kan ucapan yang tidak perlu. Aku tetap melanjutkan ucapan ku .
"Kenapa? Memang nya kau tidak nyaman bercerita dengan ku?" Tanyaku.
Satu lagi pertanyaan bodoh .
Ugh, aku benar-benar harus diam.
"Tidak saja, hehe . Bisa kah kita tidak membahas ini?" Pinta Praja.
Dan dengan begitu aku pun menuruti permintaan Praja .
"Oke. Maaf. " Ucapku.
"Tidak. Tidak apa-apa. Aku tidak keberatan. Hanya saja aku malu membicarakannya." Jelas Praja.