Part 2

1179 Words
Dira mematung dengan nampan di tangannya. Pria yang dinamakan Ryan itu sedang terbaring dengan mata terpejam. Dalam keadaan tidur seperti itu pun, ia terlihat tampan sekali. Sebenarnya ia sangat enggan memanggil dengan nama Ryan seperti nama mantan kekasihnya. Sayangnya ia sudah memberikan identitas mereka saat mendaftarkan pernikahan. Dira meletakkan nampan dengan hati-hati. Ia duduk di sisi dipan untuk membangunkannya. Dira gemetaran, ia menyentuh kulit tangan Ryan yang sangat putih dan lembut."Ry~Ryan~bangun." Mata Ryan terbuka dengan cepat. Tampaknya ia juga tak tidur dengan nyenyak."Hai~,"katanya dengan senyuman. "Maaf membangunkanmu. Ayo makan." Ryan bangkit dengan perlahan. Dira membantunya karena lelaki itu sedikit sempoyongan. Dira membantu Ryan duduk dikursi berbahan plastik yang tak jauh dari sana. "Keadaanmu mengkhawatirkan sekali. Aku takut kau akan semakin parah besok." Ryan tersenyum."Setelah makan dan minum keadaanku pasti membaik kok. Setelah ini aku akan istirahat dengan benar. Aku pasti sembuh besok." "Silakan dimakan." "Terima kasih. Oh, ya~bagaimana dengan orang tuaku? Atau orang tuamu?" "Kita sama sama tidak memiliki orang tua. Hanya ada kita berdua. Itulah alasan kenapa kita bersama. Karena kita memang memiliki latar belakang yang sama. Aku akan menceritakannya nanti ketika kamu nggak pusing lagi. Sebaiknya jangan memikirkan apa pun sekarang,"kata Dira. "Ah, benar...besok hari yang penting. Maafkan aku." Dira tersenyum memerhatikan lelaki itu makan. Sikapnya menunjukkan bahwa lelaki itu bukan orang sembarangan. Hati Dira kini bertanya-tanya darimana Lelaki ini berasal dan kenapa ia bisa ada di sungai. Mana mungkin Dira menanyakannya, dia saja tidak ingat apa pun. Tetapi, lupakan mengenai hal itu. Dira harus menyelamatkan dirinya. Jika seandainya lelaki itu memiliki ingatannya kembali, ia akan menjelaskan alasannya. "Kamu tidak makan?"tanya Ryan yang sadar sedang diperhatikan. Dira menggeleng dengan wajah bersemu merah."Aku sudah makan sebelum kita pergi bersama di sungai." "Ah, baiklah...aku mengerti." Dira terdiam sembari memerhatikan Ryan makan dengan lahap. Suasana hatinya sedikit berubah mengingat mereka akan menikah besok. Entah akan terjadi atau tidak, Dira belum memikirkan bagaimana kelanjutannya. Bagaimana jika ia ketahuan berbohong. Ia pasti akan dikucilkan semua orang. Ryan mendongak menatap Dira."Apa yang sesang kau pikirkan?" Dira menggeleng."Tidak ada. Aku hanya cukup deg-degan untuk besok." "Pasti ini adalah hal yang kita nantikan sejak lama, ya?" "Bagaimana kamu bisa mengatakan demikian? Kamu tidak ingat apa pun, kan?" Ryan tersenyum penuh arti."Meskipun aku tidak ingat apa pun, aku merasakan sesuatu di dalam hati. Perasaan yang sangat bahagia,yaitu cinta. Aku pasti sangat dicintai orang di sekitarku. Dan itu kamu. Lalu, aku juga pasti mencintai lebih dari kamu mencintaiku. Perasaan ini begitu tenang dan damai. Rasanya tidak ada keinginan lain selain hidup bersama dengan bahagia." Ucapan Ryan terdengar begitu manis dan melelehkan hati Dira. "Oh, ya~apa pekerjaanku?" "Apa?" Dira tercekat. Pekerjaan Ryan selama ini adalah Petani. Tetapi, mana mungkin orang setampan lelaki itu ia sebut Petani di Desa. Terlebih lagi kulitnya mulus tanpa cela. Dira memutar otaknya,"sebenarnya kau punya usaha kios sembako. Tapi, seminggu lalu terbakar habis." "Apa? Setragis itu kah hidupku selama ini? Lalu aku tak akan bisa menghidupimu." "Ah, jangan khawatir, kita sudah memiliki tabungan yang cukup. Kita bisa memulai hidup yang baru. Sebaiknya kita pindah saja dari sini setelah menikah,"kata Dira. Lelaki itu pasti memiliki keluarga dan pasti akan mencarinya. Dira tidak bisa tinggal di sini selamanya. Ia harus pindah dan memulai hidup baru. Ini juga untuk menutupi kecurigaan warga di sekitarnya. "Baiklah kalau begitu. Aku berjanji akan bekerja dengan keras untuk membahagiakan kamu." "Terima kasih,"ucap Dira tersipu. Rasanya sangat bahagia mendengarnya. Pria itu sangat bertanggung jawab meskipun ingatannya hilang. Karakternya terlihat baik dan kebaikan tak akan pernah pudar. "Aku sudah selesai makan. Terima kasih atas makanan dan minumannya, Dira." "Kurapikan dulu, ya. Setelah ini kamu bisa istirahat lagi,"kata Dira dengan cekatan. Ryan menyeka mulutnya. Ia bergerak pelan naik kembali ke atas dipan. Ia berbaring dengan hati yang bertanya-tanya. Tempat ini terasa begitu asing. Namun, hati dan jantungnya terasa berdebar seakan ada yang memanggil namanya. Ryan melihat sosok Dira yang muncul kembali. Wanita itu tampak sederhana. Wajahnya polos tanpa make up dan juga skincare. Biar pun begitu, Dira memiliki kulit yang bagus. Kecantikannya tidak kalah dengan kecantikan wanita-wanita metropolitan. "Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" Ryan menggeleng."Tidak ada. Hmmm~aku melihat hanya ada satu tempat tidur di sini. Apa ada tempat tidur lainnya?" Dira gelagapan. Hidupnya memang sangat miskin hingga keadaan rumahnya seperti ini. Tetapi, ia menemukan sesuatu di saku celana lelaki itu. Melihat penampilan Ryan saat ditemukan, sepertinya lelaki itu kerja kantoran. Untung saja warga tidak terlalu curiga dengan penampilannya saat ditemukan tadi. Dira tidak menemukan dompet atau identitas apa pun di celananya. Tetapi, ia menemukan dua ikat uang yang masih basah. Dira menyimpannya rapat-rapat di suatu tempat. Ia juga sudah menyembunyikan pakaian bekas lelaki itu. "Dira?"panggil Ryan lagi karena Dira tak menjawab. "I-iya, cuma satu tempat tidur. Tapi, nggak apa-apa, aku punya tikar kok." Dira menatap tikar yang sudah usang di sudut ruangan. Biar pun usang, tikar itu masih bisa ia gunakan untuk tidur. Ryan menghela napas berat."Ini sudah malam, kan, ayo kita istirahat. Kamu juga harus istirahat. Ayo, tidurlah di sebelahku." "A-apa? Mana mungkin?" Dira tercekat. Ryan menatap Dira lekat-lekat."Kenapa kamu secanggung itu? Kita ini sepasang kekasih bukan? Besok kita juga sudah sah menjadi suami istri. Selamanya kita akan berdekatan dan bersama." Wajah Dira merona."Iya, aku mengerti. Tapi, ya tetap saja aku merasa canggung." "Tidurlah di sini. Kita hanya akan tidur,"kata Ryan. Ia tidak merasakan apa pun saat melihat Dira. Tapi, saat ini ia sedang kehilangan ingatannya. Jika ia bersikap acuh, itu akan melukai hati wanita itu. Terlebih lagi mereka akan menikah besok. "Baiklah." Dira naik ke atas dipan dengan gemetar. Ryan berbaring di dekat dinding dengan tenang. Pria itu memang langsung tertidur. Mungkin karena kelelahan dan masih merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Dira berbaring dengan tegang. Ia terlihat sulit tidur karena ada pria asing di sebelahnya. Beberapa menit suasana menjadi hening. Sesekali terdengar suara jangkrik dan serangga-serangga di pohon. "Kamu udah tidur?"tanya Ryan pelan. "Belum. Kenapa?" "Ada hal yang ingin kutanyakan sebelum kita menikah besok." Jantung Dira berdegup kencang. Ia mencurigai pertanyaan lelaki itu tidak akan bisa ia jawab."Iya, tanya saja." "Kamu bilang usahaku sudah habis terbakar. Bagaimana cara kita melanjutkan hidup? Aku harus mencari pekerjaan baru, kan? Maksudku, aku akan melakukan apa pun. Tapi, ingatanku hilang. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan." Ryan sangat mencemaskan hal ini. Ia akan menikah besok tapi ia tidak punya pekerjaan sama sekali. Bagaimana ia bertanggung jawab atas pernikahan ini. Kenapa pernikahan ini bisa disetujui dalam keadaan ia pengangguran. "Kita akan pindah dari tempat ini. Kita akan memulai hidup baru di suatu tempat. Kita sudah punya tabungan cukup. Kamu jangan khawatir soal makan. Kita bisa bertahan sampai kamu mendapatkan pekerjaan." Dira tidak tahu apa keahlian lelaki itu. Jika lelaki itu benar pekerja kantoran, maka tidak akan bisa bertani atau berkebun. Dira akan memikirkannya besok. Saat ini ia merasa lelah dan bingung. Kebohongannya berefek panjang. Tapi, ia harus menyelamatkan diri dari orang-orang yang ingin memanfaatkannya. "Maaf kalau akhirnya aku menyusahkanmu." "Tidak kok. Kita sudah berjanji untuk berjuang bersama,"kata Dira dengan kata-kata manisnya. Ia ingin meyakinkan lelaki itu sekali lagi. Ia harap tidak ada lagi pertanyaan mengenai hal ini. "Terima kasih, selamat istirahat." Lelaki itu benar-benar tidur. Tak lama kemudian Dira pun ikut tertidur karena sudah larut malam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD