Part 3

1184 Words
Pukul sembilan pagi, Dira dan Ryan pun menikah. Acara berjalan singkat karena hanya acara sederhana. Usai menikah, mereka menikmati aneka kue tradisional dan teh hangat. Dira menyapa tetangga yang hadir memberikan ucapan selamat. Lalu, secara tak sengaja ia mendengarkan percakapan tamu yang datang. "Ada polisi di sekitar sungai. Rame banget. Mereka bawa perahu karet menyusuri sungai. Pak Kades nyusul ke sana. Warga juga rame lihat." "Apa?" Dira tercekat,"Po-polisi? Kenapa?" Dira ikut nimbrung di obrolan karena ingin tahu. "Katanya baru ada yang kecelakaan. Mobilnya jatuh ke jurang. Kemungkinan korban jatuh ke jurang dan hanyut ke sungai. Kemungkinan korbannya lewat atau sangkut di daerah ini." Wajah Dira berubah pucat pasi.Itu pasti pria yang ia temukan. Korbannya pasti adalah pria yang sekarang telah menjadi suaminya."Semoga aja korbannya segera ditemukan. Kalau begitu saya pamit ya, Bu, mau pulang." "Pengantin baru udah nggak sabar, ya?" Dira tersipu malu."Bukan, Bu, kita mau persiapan pindahan. Kan kita mau langsung pindah." "Kenapa buru-buru pindah, Dira." "Iya, males lihat Pak Sarjo. Takut terusik. Lebih baik pergi, Bu." "Ih iya. Ya udah hati-hati, Dira. Semoga semua lancar dan menjadi keluarga yang samawa." "Terima kasih, Bu." Dira mencari keberadaan suaminya. Lelaki itu sedang duduk sendirian memerhatikan sekeliling. Dira menghampirinya dengan cepat."Ayo kita pulang." Ryan mengangguk."Iya." Keduanya pulang berjalan kaki. Sepanjang jalan Dira melihat ke sana ke mari. Mungkin saja ada yang melaporkan bahwa mereka menemukan orang tenggelam di sana. Banyak orang berseliweran di dekat rumahnya. Padahal biasanya sunyi sekali. Sepertinya mereka melihat sungai yang sedang ramai. Sesampai di rumah, Dira mengunci pintu rapat-rapat. Ryan sampai terheran-heran dengan sikap Dira. "Ry-Ryan~" Dira memegang tangan Ryan. "Ada apa? Kenapa wajah kamu pucat?" Dira menggeleng."Nggak, aku cuma kelelahan. Hmmm~bagaimana kalau kita segera pindah sekarang?" "Kenapa?" "Itu sudah kesepakatan kita sebelum pernikahan. Begitu kita menikah, kita akan pindah ke tempat yang sudah kita tentukan." Dira menjelaskan dengan cemas. Ia berharap Ryan tak bertanya lebih jauh. Tapi, ia juga tak bisa berharap semuanya akan berjalan lancar. Ia tahu akan ada kesulitan karena Ryan akan melontarkan banyak pertanyaan. "Begitu, ya. Baiklah." "Aku akan menyiapkan segala keperluannya. Kamu duduk saja,"kata Dira. Ia harus bergegas sebelum warga sadar bahwa orang yang di sungai kemarin adalah orang yang menikah dengannya. Jika begini, Dira bisa ketahuan. Dira menyiapkan semuanya dengan cepat. Ia hanya perlu memasukkan pakaian dan uang yang ia temukan di celana pria itu. Untuk pakaian Ryan, ia bisa membelikannya yang baru. Uang yang ia temukan sangat banyak, sebesar dua puluh juta rupiah. Mungkin lelaki ini adalah orang yang kaya raya. "Ryan, ayo~" kata Dira setelah satu jam bersiap. "Aku tidak perlu ganti baju?"tanya Ryan bingung. Ia masih mengenakan kemeja putih yang ia gunakan saat menikah tadi. Dira mengangguk."Iya nanti kita ganti di sana saja." Dira memilih jalan pintas yang jarang dilalui warga. Ryan mengikuti dengan wajah linglung. Ia tidak tahu dengan situasi yang sedang terjadi. Ia hanya terus mengikuti Dira. Sampai akhirnya mereka berhenti di tepi jalan. "Kita naik angkutan umum selama dua jam,"kata Dira sembari menunggu angkutan lewat. Ryan mengangguk saja. Ia mengikuti Dira seperti orang bodoh. Tempat di sekelilingnya terasa begitu asing. Tapi, tak bisa ka pungkiri bahwa udara di sini sangat segar dan pemandangannya bagus. Angkutan melintas. Dira dan Ryan naik dan mobil berjalan menjauh dari Desa tersebut. Dira mengembuskan napas lega. Akhirnya ia bisa terlepas dari orang-orang yang menakutkan di sana. Ryan tertidur di perjalanan. Sementara Dira tak bisa tidur karena kecemasan melanda. Ia tidak bisa tenang jika ia belum sampai ke lokasi tujuan. Dira akan mengunjungi tempat milik keluarganua dulu. Sudah lama sekali tidak ditempati karena semua sudah tiada. Tapi, rumah itu sangat kuat karena terbuat dari kayu asli. Dira masih ingat beberapa kilometer dari tempat itu ada pasar. Ia akan membeli perlengkapan rumah di pasar itu. Dua jam berlalu terasa cepat. Dira dan Ryan turun di persimpangan jalan. Mereka harus naik ojek lagi menuju ke dalam. Setelah itu, mereka harus berjalan kaki sepanjang dua kilometer. Ryan merasa kelelahan, tapi, Dira tampak begitu bersemangat. Suara keheningan terdengar begitu dekat. Dira tersenyum senang. "Kita hampir sampai." "Ini di mana?" "Ini rumah peninggalan keluargaku. Kita akan tinggal di sini. Rumahnya besar, kita hanya perlu membersihkannya. Kita bisa memulai hidup baru di sini." Ryan melihat ke sekeliling. Tidak ada rumah. Ia melihat beberapa rumah sebelum mereka tiba di sini. Rumah yang akan mereka tempati di tepi danau kecil yang cantik. Ia yakin kalau danau itu tidak begtu dalam. Di sekitarnya ada pepohonan yang besar. Sangat nyaman jika kita duduk santai di rerumputan di bawahnya."Aku akan bersih-bersih." "Apa kamu bisa melakukannya?" Ryan terkekeh."Kenapa tidak bisa." Keduanya masuk ke rumah yang memang terlihat lama tidak ditinggali. "Setelah membersihkan rumah, kita akan membeli perlengkapan rumah." Ryan menatap Dira."Biar aku yang bersihkan rumah ini. Kamu istirahat saja." Dira menggeleng."Bagaimana bisa begitu. Hmmm supaya adil, aku pergi belanja, kamu yang bersihkan?" Ryan mengangguk setuju. Entah akan selesai atau tidak sebelum Dira pulang, setidaknya ia bertanggung jawab atas kehidupan mereka selama di sini."Apa kamu tahu tempat kamu ingin belanja?" Dira tersenyum dan mengangguk."Aku tahu. Aku akan segera kembali." Wanita itu menyimpan tasnya,"aku akan membeli makanan sekalian. Maaf kamu kelaparan." "Kita sama sama kelaparan. Ya sudah hati-hati, ya, dan cepat kembali." Dira mengangguk. Ia berjalan cepat menuju ke pasar untuk membeli perlengkapan rumah. Sebagian besar uang mungkin akan terpakai. Tapi, yang terpenting adalah ia bisa hidup tenang berdua bersama lelaki itu. Hamir dua jam kemudian, Dira kembali dengan beberapa orang yang membawakan barang-barang belanjaannya. Ryan keluar dengan wajah heran. Banyak sekali yang dibeli oleh wanita itu. Dira menghampiri Ryan setelah barang-barang diletakkan di teras rumah. "Kamu sudah selesai?" "Maaf, ya, belum. Masih sisa area belakang saja. Rumahnya sangat kotor jadi membutuhkan waktu yang lama,"jelas Ryan. Pekerjaan ini sangat melelahkan. "Kita makan dulu, ya. Nanti kita lanjut beberes lagi,"kata Dira. "Beberapa meter dari sini ada sungai kecil. Sepertinya air aliran dari danau. Airnya jernih sekali. Nanti aku akan buat pancuran air di sana. Kita bisa mandi di sana." Senyum Dira merekah."Iya. Maaf, ya kita harus memulai semuanya benar-benar dari nol." "Asalkan bersama, kita pasti bisa melewatinya,"balas Ryan. "Setelah ini, biarkan aku yang membereskan rumah. Kamu membuat pancuran." Dira membagi tugas agar pekerjaan ini cepat selesai. Ia sudah melapor ke bagian penanggung jawab wilayah dengan menunjukkan surat bukti pernikahan mereka. Dengan begitu, kehidupan mereka di sini tak akan ada masalah. "Iya. Memangnya kamu nggak capek? Kamu jalan kaki, kan?" Ryan memperhatikab wajah Dira yang penuh peluh. Tapi, wanita itu tampak bersemangat sekali. "Kalau sekarang belum terasa capek. Lagi pula aku senang melakukannya. Aku senang Krena akhirnya aku kembali ke rumah keluargaku. Walaupun terpencil seperti ini, yang terpenting ini milik kita sendiri." "Katakan kalau kau butuh bantuan, ya. Aku masih butuh penyesuaian dengan situasi ini. Maaf kalau aku juga canggung denganmu, Dira. Katakan apa pun yang ingin kau katakan." Dira memegang tangan Ryan."Aku mengerti apa pun yang sedang terjadi. Jangan mengkahwatirkan perasaanku. Karena sejujurnya aku khawatir dengan kondisi kesehatanmu. Terima kasih karena kau selalu berusaha membuatku nyaman. Walau aku tahu ini tak mudah bagimu." Ryan terenyuh mendengar ucapan Dira. Ia merasa bersalah karena wanita itu ternyata benar-benar tulus dan sabar. Dalam kondisi lupa ingatan seperti ini, Dira bisa menerimanya. Ryan berjanji akan selalu menjaga perasaan Dira. Ia akan berprilaku sebaik mungkin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD