Syarat dari Lean

859 Words
Malam itu di kediaman Maxwell sedang melaksanakan makan Malam di Restoran ternama. Martin juga ingin membahas pada anaknya tentang pengangkatan Lean yang akan menggantikannya. "Lean...Papi ingin membahas hal serius sama kamu" kata Papi Martin "iya Pi...bicara aja" jawab Lean "Lean karena kamu kini sudah menyelesaikan kuliah kamu,maka saat ini Papi ingin kamu segera menggantikan Papi menjadi CEO di perusahaan keluarga kita." Lanjut Papi Martin "Tapi Lean kan baru sampai di kota ini beberapa hari yang lalu...apa tidak sebaiknya tunggu beberapa bulan lagi supaya Lean bisa belajar dulu sama Papi." Jawab Lean "Itu terlalu lama sayang...Biarkan Papi kamu istirahat di rumah mulai sekarang,Papi sudah terlalu lelah mengurus perusahaan." Sela Mami Debora "Lagian Papi yakin jika kamu sudah mampu melanjutkan bisnis keluarga kita ini,kalo bukan kamu siapa lagi." Ucap Papi Martin sambil melirik anak perempuannya Lava "Ih apaan sih Papi ini...Nyindir aku pasti,aku memang ngga sepintar kak Lean tapi aku juga bisa di andalkan" Ucap Lava sambil cemberut memanyunkan bibirnya "Bisa di andalkan apanya sih Va...dari dulu kakak selalu mendengar hal yang selalu jelek dari kamu,ngga pernah kakak mendengar sekalipun prestasi kamu." Sargah Lean "Ih kalian sekongkol nyudutin aku kali ini ya,aku kan wanita bisa aja nanti nyari laki-laki kaya buat dijadikan suami,ngga usah susah-susah bekerja tinggal minta aja sama suami aku nanti." Ucap Lava membela dirinya sendiri "Enggak gitu juga donk sayang,...lagian laki-laki sekarang sukanya wanita yang ngga hanya cantik tetapi juga harus good looking juga dalam segala hal,kalo kamu hanya mengandalkan kecantikan saja saingan kamu sudah banyak,karena wanita cantik juga banyak.kamu harus punya keahlian buat memikat laki-laki." sambung Mami Debora "Iya Va...kamu itu harus dewasa mulai dari sekarang,belajarlah mandiri mulai saat ini.jangan manja terus kaya anak kecil." Nasihat Lean tapi malah sekaligus terlihat sebuah olokan di hati Lava "Iya iya...Lava akan lebih baik buat kedepannya,seperti kak Lean.Lava pasti bikin bangga kalian semua." "Aku harap kamu benar-benar membuktikan ucapannu Lava." Papi Martin "Gimana Lean,apa kamu sudah setuju buat gantiin Papi di perusahaan?" "Papi percaya pada Lean,tapi bagaimana kali Lean belum sanggup Pi?" "Papi pasti akan membantu kamu sayang,sesekali ke kantor membantu kamu dan memantau perusahaan kan ngga apa-apa kan Pi?." Ucap Mami Debora "Iya...Papi pasti akan sesekali memantau kinerja perusahaan." "Lean akan setuju,tetapi bolehkan Lean Meminta sebuah syarat?." Ucap Lean kemudian "Syarat apa Lean...Papi pasti akan kabulkan jika itu bisa membuat kamu mau menduduki jabatan di perusahaan menggantikan Papi" "Lean....Lean ingin pas nanti Lean di angkat menjadi CEO menggantikan Papi Lean ingin mengundang adik Vio ke acara Itu juga." Ucap Ivan dengan rasa takut dan was-was "Apa ngga ada syarat lain sih sayang,Vio kan sudah di asingkan sejak bayi,kenapa juga kamu harus mengingat anak itu...dan apa tadi?? kamu panggil Adik? jangan bercanda deh Lean." Ucap Mami Debora "Terserah kali memang kalian ngga setuju,aku juga ngga akan setuju nurutin keinginan kalian" Ucap Lean sambil melangkahkan kaki meninggalkan meja makan dan berjalan menuju kamarnya Di meja makan...mereka bertiga menjadi terlihat tegang tanpa mengucapkan sepatah katapun. Papi dengan pikirannya yang entah harus bagaimana,sebenarnya ia senang tapi di sisi lain merasa takut jika istrinya pasti akan marah-marah Debora juga berfikir,bagaimana bisa anak laki-lakinya mengingatkan dirinya dengan anak tirinya itu.Dia jadi semakin benci jika memikirkannya Lava juga sependapat dengan sang Mami,di hatinya ngga ingin Vio si anak pembawa sial itu kembali lagi ke rumah itu,takut ia ikut kena sialnya Setelah lumayan lama saling diam akhirnya sang Papi tampak membuka mulutnya "Mi...gimana jika seperti ini? ini bukan kemauan Papi lho ya,tetapi keinginan Lean sendiri." "Tapi Pi...Mami ngga ingin anak itu kembali ke rumah ini,karena kalo dia kembali bisa-bisa kita semua ikut kena sialnya." "Mami berarti ngga akan menyetujui keinginan putra kita,mungkin ngga ada salahnya sekali-kali mengundang Vio,lagian 20 tahun bukan waktu yang sebentar untuk melupakan masalah itu.apa Mami selalu mengingatnya terus?!" Lama Mami Debora sama Papi Martin saling berdebat,Papi ingin mengundang Vio sesuai keinginan Lean,tapi Mami Debora inginnya tidak usah mengundang Vio segala Lava yang mendengar perdebatan kedua orang tuanya justru terlihat pusing,dan tanpa sengaja juga memegang telinganya karena pertengkaran orang tuanya sangat bising sekali Karena mereka saling berdebat dan ngga ada yang mau ngalah,akhirnya semuanya meninggalkan tempat duduknya masing-masing. Papi Martin dan Lava tampak terlihat berjalan menuju kamar,sedangkan Mami Debora terlihat masuk ke kamar sang Putra "Lean...Mami ngga ingin kamu mengundang anak sialan itu ke acara pengangkatan kamu menjadi CEO nanti" Ucap Mami Debora setelah berhasil membuka pintu kamar sang putra "Pokoknya Lean ngga mau tau Mi...Lean hanya ingin permintaan Lean satu itu Mami kabulkan.Lagian selama ini Lean selalu menuruti kata-kata Mami,hanya kali ini saja Mi,tolong ijinkan Vio ikut di pesta itu." "Pokoknya Mami ngga setuju sayang,kamu minta hal lain aja pasti mami akan turuti keinginanmu." "Pokoknya Lean hanya ingin itu Mi...jadi tolong kabulkan." Ucap Lean dengan Nanda sedih sambil menangkupkan kedua tangannya di dada Mami yang merasa frustasi atas jawaban dari sang putra,berjalan keluar meninggalkan kamar itu dengan wajah yang terlihat sangat jengkel Setelah kepergian sang Mami...Lean kemudian membuka Galeri di Hpnya dan mencari Foto seseorang di sana "Vio...padahal kakak hanya ingin bertemu dengan kamu,apa ini sungguh sangat sulit?" Ucap Ivan sambil memperhatikan Foto Vio yang ia dapatkan dari kiriman Shelly Ivan sungguh merasa kangen dan ingin bertemu dengan sang adik,karena ntah perasaan apa,Lean merasa ingin sekali membawa sang adik kembali ke rumah ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD