Bab 2 Keputusan Mendadak

1442 Words
“Kakak, kita ke rumah sakit saja, ya?” ucap Maya begitu sudah berhasil “Sakit sekali, May. Aku tak tahan lagi,” balas Nanda dengan suara yang lemah. Keringat sudah memenuhi dahi dan leher dari ibunda Leo itu. Tiba-tiba saja Nanda sudah tidak sadarkan diri dalam pelukan Maya. Pengasuh Leo itu panik. Ia ingin teriak tapi takut bangunkan Leo yang bakal menyita perhatiannya. Ia akhirnya katupkan mulutnya. Maya memapah tubuh Nanda yang semakin berat bertumpu padanya, ke kursi sofa panjang terdekat. Setelah Maya baringkan majikannya dengan hati-hati, ia menuju kamar Leo. Wanita lajang itu mendekati tempat tidur di mana mertua Rico berada. Ibu dari Nanda memang sedang berkunjung ke rumah putrinya untuk melihat keadaan cucunya. “Ibu Lydia, bangun! Bangun, Bu!” bisik Maya sambil menggoyang pelan bahu mertua Rico. Wanita setengah baya itu bergerak dan membuka matanya menatap Maya. “Maaf, Bu. Kak Nanda pingsan,” lanjut Maya. Sontak mata ibu Nanda membuka lebar dan segera bangkit dari rebahannya. Keduanya bergegas keluar dari kamar Leo tanpa buat kegaduhan. “Apa yang terjadi?” tanya Lydia begitu mereka sudah ada di ruang tamu. “Saya juga tidak tahu, Bu. Belum sempat bicara, Kak Nanda sudah tidak sadarkan diri di depan saya, makanya saya langsung bawa ke sini karena paling dekat letaknya.” “Di mana suaminya?” sambung ibunda Lydia yang sudah meraba kening dan lengan putrinya untuk rasakan suhu tubuh Nanda. “Masih tidur, Bu. Saya coba panggil dari tadi tapi tidak bangun juga,” elak Maya berbohong. Ia tidak ingin perpanjang membahas pria b***t itu. Maya sudah muak dengannya. “Ambilkan bawang merah dan saya cari minyak penghangat tubuh dulu!” usul Lydia sudah bergegas kembali ke kamar cucunya. Keduanya kembali dapati tempat berbaring Nanda dalam waktu yang hampir sama. “Apa yang harus kita lakukan, Bu?” tanya Maya sambil menaruh pecahan bawang merah di bawah ujung hidung majikannya. Sesuai dengan petunjuk dari mertua Rico yang sibuk menggosok minyak di batang hidung, leher, tangan dan perut putrinya. “Kita tunggu sebentar!” Sudah sepuluh menit mereka menanti tapi tidak ada reaksi apa pun dari Nanda. “Ya, Allah! Putriku belum membuka matanya juga. Tolong telepon taksi, Maya. Saya akan bawa putri saya ke IGD rumah sakit,” ucap mertua Rico yang dari tadi mondar mandir menanti putrinya siuman. “Baik, Bu. Saya telepon ambulans saja. Ada layanan khusus antar jemput yang disediakan oleh pemerintah,” balas Maya. Pengasuh itu memang cakap dalam pekerjaannya dan masalah layanan penting seperti ini sudah ada dalam catatannya. Maya memang pernah bekerja sebagai pengasuh di luar negeri sehingga ia paham banyak hal yang harus diperhatikan untuk keselamatan majikannya. Lima belas menit kemudian, ambulans sudah tiba dengan dua orang tenaga medis. Mereka memeriksa tubuh Nanda beberapa saat sebelum akhirnya menaikkan Nanda ke atas mobil medis itu agar bisa menuju rumah sakit terdekat. Waktu tunjukkan pukul enam pagi saat ambulans tinggalkan rumah Nanda dan Rico. Maya tidak lagi ributkan soal peran Rico sebagai suami. Begitu pula mertua Rico yang tidak lagi ingat kalau mantunya ada tidur di kamar dan bisa ia ajak ke rumah sakit juga. Semuanya terjadi begitu cepat dan mereka hanya fokus pada Nanda yang memang harus segera ditangani. Mereka khawatir akan terjadi sesuatu pada bayi dalam kandungan Nanda. Jam delapan barulah Lia, saudara sekaligus selingkuhan Rico keluar dari kamarnya. Maya hanya berpapasan dengannya saat ada di dapur namun ia memilih untuk diam saja. Lia pun tidak begitu menggubris kehadiran Maya. Mereka jarang sekali saling menyapa. Terkecuali ada orang lain di antara mereka. Jadi, reaksi saling diam itu sudah biasa. Tiba-tiba ponsel Lia berdering saat wanita itu sedang mengoles selai pada roti yang ia ambil dari dalam kulkas. ‘Astaghfirullah, kaget!’ batin Maya karena deringan nada sambung yang menggema di dalam dapur kecil itu. “Kamu masih di kamar? Mau aku bawakan sarapan roti?” tanya Lia menjawab panggilan yang bisa didengar Maya dengan baik. Entah apa jawaban dari lawan bicara Lia, yang bisa Maya amati adalah Lia membuat empat tangkup roti dan ditaruh di dalam satu piring makan. Lia juga menyeduh kopi satu cangkir dan ia bawa keluar dari dapur. “Ya, Allah. Apa aku harus pastikan lagi kedekatan mereka?” gumam Maya pelan. Ia akhirnya menguntit langkah Lia dan ia intip ke dalam kamar Rico dan Nanda dari arah luar. Matahari sudah terbit jadi banyak cahaya yang bantu penglihatan Maya. Kaca jendela kamar ditempel stiker bergaris jadi ada sedikit celah bagi Maya untuk mengintip. Pintu kamar tertutup rapat jadi dia bisa amati sekilas apa yang ada di dalam kamar, dari luar. Maya dapati kedua manusia tanpa akhlak itu sedang saling menyuap di atas tempat tidur. Untungnya, mereka masih dengan pakaian yang lengkap. Maya mengelus bagian depan tubuhnya dan kembali ke dapur dengan langkah seribu. Maya selesaikan tugasnya masak menu buat Leo sesegera mungkin. Biasnya, bayi gempal itu terjaga pukul depalan. Ia hanya antisipasi selesaikan semua tugas kalau-kalau, ia butuh harus ke rumah sakit menemani Nanda. Pukul sembilan, mertua Rico dan putrinya sudah kembali. “Kenapa tidak rawat inap, Bu?” bisik Maya melihat Nanda masuk ke dalam kamarnya perlahan-lahan. Majikannya itu menolak untuk diantar oleh Lydia atau pun Maya. “Alhamdulillah, kata dokter tidak begitu masalah. Hanya kontraksi otot rahim. Saat Maya sadar, ia sendiri yang minta pulang karena rasa sakitnya sudah hilang,” balas Lydia menjelaskan. “Alhamdulillah, Bu. Semoga tidak ada lagi sakit susulan,” sahut Maya pelan. “Eh, kami sudah sarapan di kantin rumah sakit tadi. Saya mau bersihkan diri dan main dengan Leo.” “Baik, Bu. Saya mandikan Leo dulu. Dia baru saja selesai makan.” Beberapa jam kemudian. Rumah kecil yang ditempati oleh pasangan suami istri yang baru menikah itu terlihat sepi dari luar. Tapi, sebenarnya ada kesibukan di dalamnya. Waktu baru menunjukkan pukul dua siang. Karena akhir pekan, penghuninya memilih untuk berdiam dan tidak ke mana pun. Menggunakan waktu santai setelah lelah bekerja selama seminggu. Nanda Kusuma dan Rico Sanjaya pemilik utama rumah tersebut. Masih belum lunas kreditannya karena mereka baru saja membelinya dengan uang tabungan Nanda setelah bekerja selama lima tahun. Leo, putra pertama mereka yang berusia delapan belas bulan sedang pergi jalan-jalan bersama pengasuhnya, Maya dan neneknya yang sudah seminggu berada di kota Surabaya. Rumah tiga kamar itu kebetulan sedang ramai. Selain mertua Rico, juga ada saudara jauh Rico yang sudah hampir sebulan tinggal bersama mereka. Seorang gadis tamatan SMA dan niatnya ingin mencari pekerjaan, tetapi masih belum dapat. Rico sendiri bekerja di sebuah pabrik konveksi dan Nanda adalah pegawai biasa di sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang perniagaan. “Aku harus pulang ke kampung sekarang,” kata Rico masuk ke dalam kamar mereka dengan tergesa-gesa. Ia membawa aura kepanikan yang membuat Nanda yang sedang sibuk dengan ponselnya juga ikut menoleh. “Ada apa?” Sulit bagi Nanda untuk bergerak dengan cepat. Makin hari perutnya makin membesar. Ia sedang hamil lima bulan, anak kedua mereka. Ia baru saja keluar dari IGD tadi pagi, hingga ia memang berbaring saja setelah makan siang. Setelah berhasil bangun dari rebahannya, ia turun dari tempat tidur dan menghampiri suaminya. Pria yang sedang mengambil koper pakaian itu sudah membukanya di atas lantai. Pintu lemari pakaian juga barusan ia buka. Nanda masih bingung dengan kesibukan mendadak dari Rico. “Aku baru menerima telepon dari adikku kalau mama masuk rumah sakit. Ia jatuh di kamar dan tidak sadarkan diri. Hasil pemeriksaan sementara, ada gejala stroke.” “Lalu, kapan kamu akan pulang?” tanya Nanda. Memang, beberapa menit yang lalu ponsel suaminya berbunyi. Ia melihat Rico mengangkatnya sambil berjalan keluar dari kamar. Nanda tidak menyangka akan menerima kabar yang mengejutkan tentang keadaan ibu mertuanya. Rico sudah yatim sejak masih SMA sehingga ia sangat sayang pada ibunya. Berbeda dengan Nanda yang sudah piatu, hanya tersisa ibu kandungnya sekarang. Jika terjadi sesuatu pada ibu dari Rico, maka sebagai anak sulung, ia pasti harus pulang ke kampung. Sekitar empat jam perjalanan dengan bis umum. Nanda belum pernah dibawa ke kampung Rico, karena keadaan kesehatan dan juga kesibukan kerja. Rencananya mereka baru akan mengadakan resepsi di kampung setelah melahirkan anak kedua. Sekaligus tunggu liburan panjang. Perusahaan swasta tidak memberikan waktu libur cuti yang panjang kecuali saat-saat akan hari raya. Apalagi Nanda dan Rico hanya pegawai biasa saja. “Aku masih belum tahu. Aku lihat keadaan mama dulu,” sahut Rico sudah hampir selesai dengan mengepak pakaiannya. Nanda merasa ada yang aneh. Sepertinya semua barang penting milik Rico juga dimasukkan ke dalam koper seperti map ijazah yang memang mereka pisahkan di tempat tersendiri. Jika hanya ingin pulang ke kampung, mengapa butuh membawa map itu. Jika benar kalau mertuanya stroke, bisa lama waktu yang dibutuhkan untuk penyembuhan. Ringan atau berat juga menentukan lamanya perawatan. Dalam diam, Nanda menjadi cemas. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD