bc

Pernikahan Kontrak Si Janda

book_age18+
73
FOLLOW
1K
READ
love-triangle
HE
stepfather
single mother
heir/heiress
drama
bxg
loser
detective
harem
selfish
like
intro-logo
Blurb

“Selamat pagi!” sapa Maya sedikit mengencangkan suaranya.

Leo ikut membeo mengucapkan selamat pagi berulang kali, khas celoteh anak usia balita.

Jantung Nanda berdebar semakin kencang saat ada balasan dari dalam rumah diikuti bunyi langkah kaki.

“Sel…” kata Rico terperanjat melihat tamu yang ada di hadapannya sekarang. Ucapannya terputus. Bola matanya membulat sempurna seperti ingin keluar dari rongganya.

“Papa!” panggil Leo membuat gadis yang sedang bersandar di bahu Rico memandang Leo. Wajah mungil itu begitu cantik. Rico tidak bereaksi pada teriakan Leo sama sekali.

Nanda pun menahan lengan putra sulungnya agar tetap di tempat dan tidak perlu mendekati pria yang ia masih kenal sebagai ayahnya.

“Akhirnya kita bertemu juga. Ini anak kedua kamu.” Nanda menyampaikannya dengan tegas. Tidak ada senyuman. Wajahnya tanpa ekspresi.

Lukman yang sudah Nanda gendong juga dalam keadaan tenang. Nanda tidak tahu apa yang Rico pikirkan. Tapi, ia tidak peduli. Ia harus sampaikan niatnya.

“Aku ingin minta cerai.” Nanda tidak ingin basa basi lagi.

Rico dengan cepat membalas, “Kita tidak pernah menikah secara sah. Aku tidak punya kewajiban untuk menceraikanmu. Kamu bebas.”

Rico tertunduk menatap punggung Nanda yang menjauh. Apakah ia menyesal?

Foto sampul dan desain dari Canva

chap-preview
Free preview
Bab 1 Kebusukan Rico Terendus
Maya melirik jam duduk di nakas yang terkena pantulan lampu tidur. Beberapa jam lagi sudah pagi. Panggilan alam yang pengaruhi siklus tubuhnya yang buat ia terbangun dari tidur malamnya. Dengan mata yang masih belum terjaga sempurna, Maya keluar dari kamarnya menuju kamar mandi yang letaknya dekat dapur. Rumah sederhana itu memang tidak sediakan toilet di semua kamar. Hanya ada di kamar utama yang ditempati pemilik rumah sekaligus majikan Maya, Pak Rico dan Kak Nanda. Maya keluar dengan mata yang sebenarnya masih berat dan ia ingin sekali rasakan kasur empuknya beberapa menit lagi, tapi rasa haus mendorongnya untuk ke dapur. Mendekati dapur ia dengar derik tempat tidur yang nyaring bergema di pagi yang sunyi itu. Bukan sekali tapi berkali-kali. Maya mesti lewati kamar tamu yang letaknya di seberang kamar utama, tepat di samping dapur. Ia abaikan suara tersebut dan langsung tuntaskan niatnya, meneguk segelas air. "Alhamdulillah!” gumam Maya setelah dahaganya terpuaskan. Maya berniat langsung masuk ke kamarnya tapi bebunyian dari kamar tamu sungguh mengganggu inderanya. Apalagi ada suara rintihan pelan yang buat Maya terusik. Rumah itu dalam keadaan gelap karena semua lampu padam. Hanya cahaya lampu teras yang pantulannya menerobos dari celah pintu depan. Dengan rasa penasaran yang tinggi, Maya mendekati pintu kamar tamu yang tertutup rapat, namun kamar itu ada hiasan jendela. Kain gorden yang agak tersibak dari dalam karena kurang sempurna ditutup, buat Maya bisa mengintip suasana di dalam kamar. Apa yang Maya lihat buat matanya membeliak sempurna. Semua rasa kantuknya lenyap sudah. Kamar itu terang benderang. Ia dapati Pak Rico, ayah dari bayi yang ia jaga, sedang berada di atas tubuh wanita yang bernama Lia, tanpa sehelai benang pun. Mereka sedang bergerak bersama dengan wajah yang rapat dan tangan saling bertaut, begitu lengket. Lalu wajah mereka terpisah tapi Pak Rico tenggelamkan mukanya ke organ di bawah leher Lia. Sontak Maya fokus pada wanita yang sedang ada di bawah kendali Pak Rico. Wajah Lia nampak mengerikan bagi Maya karena mulutnya terbuka dengan sebagian rambut menutupi pipinya dan helai yang lain berserakan di atas bantal, alas kepalanya. Jantung Maya bertalu cepat dan lututnya gemetaran. ‘Astaghfirullah! Astaghfirullah! Ternyata suara itu datang dari mulut Lia dan goyangan di tempat tidur,’ batin Maya dengan tenggorokan yang sudah mengering karena ia bahkan tidak sanggup menelan salivanya sendiri. “Maya, apakah itu kamu?” panggil sebuah suara dari belakang Maya buat ia terpaku beberapa detik sebelum langsung berbalik menghampiri pemanggilnya. “Astaghfirullah, Kakak kagetkan May. Kak Nanda kenapa sudah bangun?” sahut Maya berupaya secepat kilat menguasai dirinya. Suaranya sudah pasti bergetar tapi ia harap Nanda tidak perhatikan hal itu. “Kakak sepertinya dengar suara Leo dan juga haus mau minum dulu,” balas Nanda, istri Rico mengucak matanya sambil menguap satu kali. “Kakak langsung ke kamar Leo saja, saya nanti menyusul dengan segelas air,” sahut Maya menatap ke pintu kamar tamu sekilas dan menyentuh pundak Nanda dari belakang untuk menggiring majikan perempuannya ke kamar putranya yang ada di pojok, menjauh dari dapur dan kamar tamu. Jantungnya bertalu semakin cepat karena takut Nanda berubah pikiran dan ingin ke dapur terlebih dahulu. Setelah Nanda masuk, Maya tarik pintu dan kunci gerendelnya dari luar. Dia biasanya pakai cara itu saat bersama Leo, agar bayi itu tidak merangkak keluar dari kamarnya saat mereka berdua sendirian di rumah saja. Maya bergegas ke dapur untuk mengambil air seperti janjinya. Tapi, kali ini ia ambil sesuatu yang ada di atas meja dan saat melewati kamar tamu, ia pukulkan dengan keras ke pintu dan berlalu begitu saja langsung ke dapur. Suara gesekan permukaan dua benda keras yang beradu menggema memenuhi ruangan tamu dan harusnya seisi rumah juga. Bang! Setelah Maya nyalakan lampu di dapur, baru ia sadar kalau yang ia raih tadi adalah asbak dari kaca. Ia tenangkan dirinya dan bergegas sembunyikan benda berat tersebut di dalam lemari makan. Maya tarik napas dalam-dalam baru ia hembuskan untuk tenangkan jantungnya yang hampir copot. Setelah itu barulah ia mencari gelas dan menuju dispenser. Ia minum terlebih dahulu untuk mengembalikan rasa warasnya. “Alhamdulillah,’” gumam Maya telah meneguk habis air di gelas dan merasa agak tenang. Setelah itu barulah ia gantikan gelas baru untuk majikannya. ‘Aku rapikan asbak itu nanti saat bereskan rumah setelah mereka semua ke kantor. Pasangan tidak tahu malu itu semoga cepat berbenah diri sebelum diketahui Kak Nanda,’ batinnya sambil menunggu air di gelas penuh. Ia segera menuju kamar Leo dan sempat ia lihat kelebat bayangan ayah Leo baru saja masuk ke kamar istrinya menyisakan rasa lega dalam hati Maya tapi juga rasa muak atas kemunafikan dari dua orang yang mengaku ada hubungan keluarga tersebut. Maya buka kunci pintu dari luar dan temui Nanda dengan wajah datar, tanpa ekspresi. Meski, jantungnya masih belum tenang benar, tapi ia sudah tidak terlalu khawatir seperti beberapa menit sebelumnya. “Bunyi apa tadi, May. Seperti ada benturan keras,” tanya Nanda sebelum meneguk air di gelas yang ia ambil dari Maya. “Sepertinya dari arah luar, Kak. Aku juga kaget.” “Terima kasih,” balas Nanda kembalikan gelas yang sudah kosong. Maya terpaku setelah menerima kembali gelas dari Nanda. Ia amati majikannya menunduk untuk perbaiki letak selimut putranya. “Untung, Leo tidak terbangun.” “Iya, Kak,” sambung Maya. “Apa kamu lihat ayahnya Leo? Tadi aku bangun ia tidak ada di dalam kamar?” tanya Nanda sudah berdiri tegak lagi. “Tadi ada di dapur juga tapi sudah kembali ke kamar,” elak Maya menghindari untuk menatap wajah Nanda. Ia berpura-pura mengintip ke luar jendela kamar Leo yang kebetulan dekat dengan jangkauannya. Dalam diam, Maya bimbang antara jujur pada Nanda atau biarkan semuanya seperti sedia kala. Seolah-olah ia tidak pernah tahu apa yang ia barusan saksikan di kamar tamu. Suara adzan memecah heningnya pagi, menyentak kesadaran Maya dan Nanda. “Aku kembali ke kamar untuk salat subuh, ya Kak,” pinta Maya setelah ada hening sejenak di antara mereka. “Iya, May. Aku juga mau balik karena Leo ternyata masih pulas.” Nanda masih melempar pandangannya ke tempat tidur di sudut, di mana ibunya berada. Beliau memang sedang menginap di rumahnya sejak seminggu yang lalu. Karena rumah mereka yang kecil, ia hanya bisa sediakan tempat tidur di kamar Leo. Dia ingin pindahkan saudara Rico, Lia ke kamar Leo, agar ibunya, Lydia, bisa tempati kamar tamu, tapi ibunya sendiri yang bersikeras ingin satu kamar dengan cucunya. Maya dan Nanda keluar beriringan dan masuk ke kamar masing-masing. Maya kembali ke kamarnya sendiri untuk tunaikan doa wajibnya, sekaligus minta petunjuk bagaimana ia harus bersikap. Sedang Nanda mengunci pintu kamarnya dari dalam. Ia dapati suaminya Rico sedang berbaring di tempat tidur. “Papa, apa mau salat dulu?” tanya Nanda melihat Rico berbalik badan. “Terlalu ngantuk!” balas Rico menutup matanya rapat sedikit menggumam. ‘Untuk apa salat, percuma saja, hidup kita tidak pernah berubah dari dulu sampai sekarang,’ gerutu Rico dalam diam mengomeli istrinya. Sedang Nanda tidak ingin berdebat lagi karena suaminya tidak bergerak turun dari tempat tidur. Bahkan matanya saja tidak dibuka. Nanda akhirnya masuk ke kamar mandi untuk bersihkan diri agar bisa tunaikan kewajibannya beribadah. Setelah selesai salat, Nanda rasakan perih pada pinggulnya. Ia memang sedang hamil anak keduanya, adik dari Leo. Ia buka mukenanya dan rapikan sejadahnya. Namun rasa sakit yang ia rasakan tidak juga berkurang. Nanda terpaksa harus berhenti bergerak dan memegangi panggulnya sambil diurut sendiri perlahan-lahan, demi hilangkan rasa nyeri yang ia derita. Karena tidak tahan lagi, Nanda akhirnya mengaduh kesakitan. “Aduh… nyeri sekali, ini kenapa, Ya Allah?” teriak Nanda melangkah mencari pegangan supaya bisa menopang bobot tubuhnya. Ia sedang ada dalam bulan ke lima kehamilannya. Rintihan Nanda terdengar begitu pilu. Sayangnya, Rico bergeming. Pria itu memeluk erat gulingnya. Ia benar-benar tenggelam dalam mimpinya padahal jeda antara percakapannya dan Nanda, tidak begitu lama, sekiranya kalau mau dihitung, kurang dari lima belas menit. Sedang di kamarnya, Maya sudah beres rapikan tempat tidurnya setelah salat. Ia lalu keluar dan masih mengecek kamar Leo seperti rutinitas yang biasanya ia lakukan. Ia tutup pintu kamar Leo dan menuju dapur untuk mulai siapkan sarapan dan tugas lainnya. Saat itulah ia dengar rintihan dari kamar Nanda. ‘Ya, Allah! Kenapa hari ini aku selalu dengar suara rintihan. Tapi, kenapa ini sepertinya berbeda,’ batin Maya memperlambat langkahnya. “Kak Nanda, apa Kakak baik-baik saja?” tanya Maya sambil mengetuk pintu kamar karena yakin kalau dia dengar suara rintihan yang beda, lebih karena sakit. Maya sampai gedor pintu karena memang terkunci. Di balik pintu, Nanda dengar suara Maya dan bersusah payah seret kakinya agar bisa meraih kunci dan gagang pintu. Akhirnya ia berhasil dan melemparkan tubuhnya ke dalam pelukan Maya karena ia sudah tidak sanggup berdiri lagi. “Astaghfirullah! Apa yang sakit, Kak?” sambut Maya menahan bobot tubuh Nanda. Ia berusaha memapah tubuh majikannya ke sofa panjang di ruang tamu. Sekilas Maya bisa lihat punggung majikan prianya yang terbujur seperti orang kaku, tertidur, mati rasa.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
35.8K
bc

Pacar Pura-pura Bu Dokter

read
3.1K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
51.3K
bc

Takdir Tak Bisa Dipilih

read
10.3K
bc

Jodohku Dosen Galak

read
31.0K
bc

Desahan Sang Biduan

read
54.1K
bc

Silakan Menikah Lagi, Mas!

read
13.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook