Bab 1 Pertemuan yang tak di rencanakan
Hujan turun deras, membasahi aspal kota yang asing bagiku. Kota ini seolah memiliki denyut
nadi sendiri — tenang di permukaan, tapi ada sesuatu yang berdenyut gelap di bawahnya.
Langit kelabu menekan rendah, seolah menahan rahasia-rahasia yang belum waktunya
terungkap.
Aku menepi di bawah atap kafe tua, mencoba meneduhkan napas. Tas kerjaku terasa berat di
bahu, berisi semua dokumen yang kubawa dari kota lamaku — tempat yang kini terasa seperti
kehidupan orang lain. Aruna Kirana, aku mengingatkan diriku dalam hati. Ini awal yang baru.
Tidak ada yang perlu ditakuti.
Namun perasaanku berkata lain. Sejak aku melangkahkan kaki di kota ini kemarin, aku merasa
ada yang mengawasi. Bukan sekadar perasaan biasa — ada tatapan yang menyelinap di antara
kerumunan, langkah kaki yang berhenti tepat saat aku berbalik. Aku mencoba
mengabaikannya, mengatakan pada diriku sendiri bahwa itu hanya paranoia karena kelelahan.
Saat aku hendak melangkah keluar untuk berlari menuju taksi yang terlihat di kejauhan,
langkahku terhenti.
Di seberang jalan, di bawah lampu jalan yang remang, berdiri seorang pria.
Dia berdiri tegak, seolah waktu berhenti di sekelilingnya. Tinggi, bahu lebar, mengenakan
setelan jas hitam yang pas di tubuhnya — tidak ada satu pun kerutan, seolah kesempurnaan
adalah pakaian keduanya. Rambut hitamnya sedikit basah karena hujan, namun tetap tertata
rapi. Wajahnya tegas, rahangnya kuat, dan bibirnya tertutup rapat seolah tak pernah terbiasa tersenyum. Tapi yang paling membuatku terpaku adalah matanya — cokelat gelap, tajam, dan
dalam, seolah samudra yang tak berdasar.
Dia menatapku. Bukan sekadar melihat — dia sedang meneliti.
Jantungku berdebar kencang, bukan karena takut, tapi karena ada sesuatu di sana. Sesuatu
yang familier, namun terlarang.
Dia melangkah menyeberang jalan. Setiap langkahnya terarah, mantap, seolah dia menguasai
setiap jengkal aspal yang dipijaknya. Hujan membasahinya, tapi dia tidak terlihat peduli.
Semakin dia mendekat, semakin aku merasa terjebak — bukan karena dia menakutkan, tapi
karena kehadirannya mendominasi segalanya.
Saat dia berdiri tepat di hadapanku, aku bisa mencium aroma hutan dan hujan yang melekat
pada dirinya. Di saku jas kirinya, aku melihat sesuatu yang mencolok — ujung sebuah pulpen
kayu tua yang terlihat sederhana, bahkan sedikit usang, kontras dengan segala kemewahan
yang melekat pada dirinya.
"Kau seharusnya tidak ada di sini," ucapnya. Suaranya rendah, namun ada peringatan yang
tegas di sana — seperti ombak yang tenang namun mampu menghancurkan tebing.
Aku mengangkat dagu, mencoba terlihat berani meski kakiku sedikit gemetar. "Kota ini bukan
milik siapa-siapa. Saya bebas berada di mana pun saya mau."
Dia menatapku lama, seolah sedang menimbang sesuatu yang berat di dalam pikirannya. Lalu
bibirnya sedikit terangkat — bukan senyum yang ramah, melainkan senyum yang penuh teka-
teki.
"Belum kau tahu segalanya, Aruna."
Darahku membeku. Aku belum pernah bertemu pria ini sebelumnya. Aku belum menyebutkan
namaku kepada siapa pun di kota ini. Tapi dia tahu namaku.
"Siapa Bapak?" tanyaku, suaraku sedikit bergetar meski aku berusaha menahannya.
Dia tidak langsung menjawab. Tangannya perlahan terangkat, jari telunjuknya mengusap ujung
pulpen kayu tua di saku jasnya — gerakan pelan, hampir tak terlihat, seolah benda itu adalah
jangkar yang menahannya agar tidak hanyut dalam pikirannya sendiri.
"Namaku Raga Aditya," akhirnya dia berkata. "Dan kau sekarang berada di wilayah yang jauh
lebih berbahaya daripada yang kau bayangkan."
"Apa maksud Bapak?"
Dia melangkah mundur sedikit, memberi jarak, tapi tatapannya tidak pernah lepas dari mataku.
"Datanglah ke gedung Aditya Corp besok pagi, pukul delapan tepat. Jangan terlambat. Dan
jangan beri tahu siapa pun ke mana kau pergi."
"Kenapa saya harus menuruti perkataan orang asing yang tiba-tiba muncul di tengah hujan dan
tahu nama saya tanpa saya perkenalkan?" tantangku, meski di dalam hati aku merasa seharusnya aku lari secepatnya dari sini.
Raga menatapku, dan untuk sepersekian detik, aku melihat kilatan sesuatu di matanya —
kekhawatiran? Atau mungkin rasa bersalah?
"Karena kalau kau tidak datang, kesempatanmu untuk mengetahui mengapa kau dikejar — dan
apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu yang kau coba tinggalkan — akan hilang selamanya."
Napasku tertahan. Bagaimana dia tahu aku sedang lari dari sesuatu? Bagaimana dia tahu ada
bagian dari masa laluku yang kusembunyikan bahkan dari diriku sendiri?
Sebelum aku sempat bertanya lebih lanjut, dia sudah berbalik. Langkahnya mantap menghilang
di balik tirai hujan, meninggalkanku berdiri terpaku di bawah atap kafe, basah kuyup oleh
perasaan yang tak bisa kucerna.
Hujan terus turun. Di kakiku, di tanah yang basah, ada selembar kartu nama yang entah kapan
dia taruh di sana. Sederhana, hanya tertulis namanya dan satu alamat — gedung tertinggi di
pusat kota ini. Dan di sudut bawah, ada coretan kecil dengan tinta cokelat tua:
"Hati-hati. Mereka sudah menemukan jejakmu."
Malam itu aku tidak bisa tidur. Aku berdiri di dekat jendela kamarku di penginapan kecil,
menatap hujan yang terus mengguyur kota ini. Di luar sana, lampu-lampu jalan memantul di
aspal basah, terlihat seperti mata yang mengawasi. Aku tahu aku bisa saja tidak pergi besok
pagi. Aku bisa saja berkemas dan pindah ke kota lain, memulai lagi dari nol. Tapi sesuatu di
dalam diriku — mungkin rasa penasaran, mungkin naluri, atau mungkin sesuatu yang lain —
memberitahuku bahwa aku tidak bisa lari selamanya.
Dan entah mengapa, saat aku teringat wajah Raga Aditya, aku tidak merasa takut. Aku merasa
bahwa di balik sikap dinginnya yang seperti es, ada sesuatu yang sedang terbakar. Dan
mungkin, hanya mungkin, api itu adalah satu-satunya yang bisa melindungiku dari kegelapan
yang perlahan mulai mengepungku.
Aku meletakkan kartu nama itu di bawah bantalku. Esok pagi, aku akan pergi. Ke tempat yang
mungkin tidak akan bisa aku tinggalkan lagi setelah melangkah masuk.