bc

Diantara hujan dan rahasia

book_age16+
0
FOLLOW
1K
READ
HE
confident
boss
sweet
bxg
lighthearted
city
office/work place
like
intro-logo
Blurb

Di sebuah kota yang tenang namun menyimpan banyak rahasia, Aruna datang untuk memulai hidup baru — tanpa tahu bahwa ia baru saja melangkah ke dalam pusaran misteri yang telah disembunyikan selama sepuluh tahun. Raga Aditya, CEO dingin yang dijuluki "Raja Es", menyembunyikan luka mendalam di balik sikapnya yang tak tergoyahkan. Pertemuan mereka bukan kebetulan. Setiap langkah diawasi, setiap kebenaran disembunyikan, dan bahaya mengintai di setiap sudut bangunan tua yang kini menjadi tanggung jawab Aruna. Di antara hujan yang tak kunjung reda dan rahasia yang semakin terungkap, bisakah mereka saling mempercayai saat kebenaran bisa berarti nyawa?

chap-preview
Free preview
Bab 1 Pertemuan yang tak di rencanakan
Hujan turun deras, membasahi aspal kota yang asing bagiku. Kota ini seolah memiliki denyut nadi sendiri — tenang di permukaan, tapi ada sesuatu yang berdenyut gelap di bawahnya. Langit kelabu menekan rendah, seolah menahan rahasia-rahasia yang belum waktunya terungkap. Aku menepi di bawah atap kafe tua, mencoba meneduhkan napas. Tas kerjaku terasa berat di bahu, berisi semua dokumen yang kubawa dari kota lamaku — tempat yang kini terasa seperti kehidupan orang lain. Aruna Kirana, aku mengingatkan diriku dalam hati. Ini awal yang baru. Tidak ada yang perlu ditakuti. Namun perasaanku berkata lain. Sejak aku melangkahkan kaki di kota ini kemarin, aku merasa ada yang mengawasi. Bukan sekadar perasaan biasa — ada tatapan yang menyelinap di antara kerumunan, langkah kaki yang berhenti tepat saat aku berbalik. Aku mencoba mengabaikannya, mengatakan pada diriku sendiri bahwa itu hanya paranoia karena kelelahan. Saat aku hendak melangkah keluar untuk berlari menuju taksi yang terlihat di kejauhan, langkahku terhenti. Di seberang jalan, di bawah lampu jalan yang remang, berdiri seorang pria. Dia berdiri tegak, seolah waktu berhenti di sekelilingnya. Tinggi, bahu lebar, mengenakan setelan jas hitam yang pas di tubuhnya — tidak ada satu pun kerutan, seolah kesempurnaan adalah pakaian keduanya. Rambut hitamnya sedikit basah karena hujan, namun tetap tertata rapi. Wajahnya tegas, rahangnya kuat, dan bibirnya tertutup rapat seolah tak pernah terbiasa tersenyum. Tapi yang paling membuatku terpaku adalah matanya — cokelat gelap, tajam, dan dalam, seolah samudra yang tak berdasar. Dia menatapku. Bukan sekadar melihat — dia sedang meneliti. Jantungku berdebar kencang, bukan karena takut, tapi karena ada sesuatu di sana. Sesuatu yang familier, namun terlarang. Dia melangkah menyeberang jalan. Setiap langkahnya terarah, mantap, seolah dia menguasai setiap jengkal aspal yang dipijaknya. Hujan membasahinya, tapi dia tidak terlihat peduli. Semakin dia mendekat, semakin aku merasa terjebak — bukan karena dia menakutkan, tapi karena kehadirannya mendominasi segalanya. Saat dia berdiri tepat di hadapanku, aku bisa mencium aroma hutan dan hujan yang melekat pada dirinya. Di saku jas kirinya, aku melihat sesuatu yang mencolok — ujung sebuah pulpen kayu tua yang terlihat sederhana, bahkan sedikit usang, kontras dengan segala kemewahan yang melekat pada dirinya. "Kau seharusnya tidak ada di sini," ucapnya. Suaranya rendah, namun ada peringatan yang tegas di sana — seperti ombak yang tenang namun mampu menghancurkan tebing. Aku mengangkat dagu, mencoba terlihat berani meski kakiku sedikit gemetar. "Kota ini bukan milik siapa-siapa. Saya bebas berada di mana pun saya mau." Dia menatapku lama, seolah sedang menimbang sesuatu yang berat di dalam pikirannya. Lalu bibirnya sedikit terangkat — bukan senyum yang ramah, melainkan senyum yang penuh teka- teki. "Belum kau tahu segalanya, Aruna." Darahku membeku. Aku belum pernah bertemu pria ini sebelumnya. Aku belum menyebutkan namaku kepada siapa pun di kota ini. Tapi dia tahu namaku. "Siapa Bapak?" tanyaku, suaraku sedikit bergetar meski aku berusaha menahannya. Dia tidak langsung menjawab. Tangannya perlahan terangkat, jari telunjuknya mengusap ujung pulpen kayu tua di saku jasnya — gerakan pelan, hampir tak terlihat, seolah benda itu adalah jangkar yang menahannya agar tidak hanyut dalam pikirannya sendiri. "Namaku Raga Aditya," akhirnya dia berkata. "Dan kau sekarang berada di wilayah yang jauh lebih berbahaya daripada yang kau bayangkan." "Apa maksud Bapak?" Dia melangkah mundur sedikit, memberi jarak, tapi tatapannya tidak pernah lepas dari mataku. "Datanglah ke gedung Aditya Corp besok pagi, pukul delapan tepat. Jangan terlambat. Dan jangan beri tahu siapa pun ke mana kau pergi." "Kenapa saya harus menuruti perkataan orang asing yang tiba-tiba muncul di tengah hujan dan tahu nama saya tanpa saya perkenalkan?" tantangku, meski di dalam hati aku merasa seharusnya aku lari secepatnya dari sini. Raga menatapku, dan untuk sepersekian detik, aku melihat kilatan sesuatu di matanya — kekhawatiran? Atau mungkin rasa bersalah? "Karena kalau kau tidak datang, kesempatanmu untuk mengetahui mengapa kau dikejar — dan apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu yang kau coba tinggalkan — akan hilang selamanya." Napasku tertahan. Bagaimana dia tahu aku sedang lari dari sesuatu? Bagaimana dia tahu ada bagian dari masa laluku yang kusembunyikan bahkan dari diriku sendiri? Sebelum aku sempat bertanya lebih lanjut, dia sudah berbalik. Langkahnya mantap menghilang di balik tirai hujan, meninggalkanku berdiri terpaku di bawah atap kafe, basah kuyup oleh perasaan yang tak bisa kucerna. Hujan terus turun. Di kakiku, di tanah yang basah, ada selembar kartu nama yang entah kapan dia taruh di sana. Sederhana, hanya tertulis namanya dan satu alamat — gedung tertinggi di pusat kota ini. Dan di sudut bawah, ada coretan kecil dengan tinta cokelat tua: "Hati-hati. Mereka sudah menemukan jejakmu." Malam itu aku tidak bisa tidur. Aku berdiri di dekat jendela kamarku di penginapan kecil, menatap hujan yang terus mengguyur kota ini. Di luar sana, lampu-lampu jalan memantul di aspal basah, terlihat seperti mata yang mengawasi. Aku tahu aku bisa saja tidak pergi besok pagi. Aku bisa saja berkemas dan pindah ke kota lain, memulai lagi dari nol. Tapi sesuatu di dalam diriku — mungkin rasa penasaran, mungkin naluri, atau mungkin sesuatu yang lain — memberitahuku bahwa aku tidak bisa lari selamanya. Dan entah mengapa, saat aku teringat wajah Raga Aditya, aku tidak merasa takut. Aku merasa bahwa di balik sikap dinginnya yang seperti es, ada sesuatu yang sedang terbakar. Dan mungkin, hanya mungkin, api itu adalah satu-satunya yang bisa melindungiku dari kegelapan yang perlahan mulai mengepungku. Aku meletakkan kartu nama itu di bawah bantalku. Esok pagi, aku akan pergi. Ke tempat yang mungkin tidak akan bisa aku tinggalkan lagi setelah melangkah masuk.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Suamiku Bocah SMA

read
2.6M
bc

Keyra, Gadis Kecil Kesayangan Om Dirga

read
213.6K
bc

Satu Atap Tanpa Cinta

read
28.8K
bc

Tentang Cinta Kita

read
231.3K
bc

Pernikahan Rahasia sang CEO: Menyerah pada Cinta yang Menggila

read
1.0K
bc

Sentuh Aku, Daddy!

read
175.2K
bc

Demo Dulu, Jatuh Cinta Kemudian

read
12.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook