Bab 5 Pulang Sendiri

1010 Words
"Apa yang kalian bicarakan? Gadis kecil, kau belum tidur?" tanya Marvel yang tiba-tiba datang. "Tidak ada. Urusan wanita, Om tidak perlu tahu," ucap Mika asal. Marvel mendekat dan menghela napas sedikit kasar, ia gemas sekali dengan sikap Mika dengan wajah polosnya yang imut. "Masih marah padaku?" tanyanya dingin. "Maaf, Tuan, Nona, saya permisi," pamit Bi Dory yang disertai anggukan Marvel dan Mika. Marvel menarik kursi meja rias dan duduk di hadapan Mika. Gadis itu melipat kedua tangannya di d**a dan membuang muka. Sebenarnya, bukan kesal karena Marvel tidak mengantarnya di hari pertamanya. Mikaila merasa tidak enak hati jika teman-teman, dan seluruh staf kampus tahu hubungan dirinya dengan Marvel. Meski pemuda itu mengaku pamannya. Namun, tetap saja, Mikaila tidak ingin semua menjadi canggung padanya karena tahu siapa Marvel. Padahal, Marvel melakukan semua itu agar tidak ada yang berani menindas Mikaila karena ia tidak bisa mengawasi gadis itu dua puluh empat jam. "Gadis kecil, maaf jika aku berlebihan. Ini semua demi kebaikanmu. Aku hanya ingin melindungi mu, sebagai suamimu, hanya ini yang bisa aku lakukan untuk menjagamu. Juga untuk antisipasi jika sewaktu-waktu paman dan bibimu mengetahui keberadaan mu," jelas Marvel panjang lebar. "Aku rasa tidak perlu. Aku bisa menjaga diriku sendiri," tolak Mika lembut. "Benarkah?" "Tentu saja." "Bagaimana kau akan menjaga dirimu? Apa kau lupa kejadian beberapa waktu lalu? Kau yang datang dan meminta bantuan ku, lalu sekarang, kau mengatakan itu?" Jelas Marvel mengingatkan. "Waktu itu ...." "Kau mengalami banyak luka. Lebam pada wajah, sekujur tubuhmu penuh luka, itu yang kau sebut bisa melindungi diri sendiri?" potongnya dengan kesal. "Om, aku ...." "Aku tidak ingin berdebat denganmu. Istirahatlah dengan baik. Besok pagi, aku akan mengantarmu ke kampus," ucap Marvel sambil berdiri. "Om, bisakah aku pergi ke kampus sendiri?" tawar Mika mencoba mencegah Marvel. "Dengan sopir." "Om, aku bisa naik kendaraan umum sendiri," tawarnya kembali. Marvel kembali duduk dan meraih wajah Mika. Menangkupkannya dan menatap lamat-lamat istri kecilnya itu. "Kalau begitu, aku yang akan mengantarmu ke kampus dan mengatakan pada semua bahwa kau bukan keponakanku, melainkan istriku!" ucapnya penuh penegasan di akhir kalimat. "Om!" "Jangan keras kepala, Gadis kecil. Jika kau tidak menuruti perkataan ku, aku akan menghukum mu!" ucapnya kembali penuh penekanan. Mika mendengkus kesal sambil menepis tangan Marvel dari wajahnya. "Om keluar sana! Aku mau istirahat!" serunya sambil mendorong sedikit tubuh Marvel, menjauh darinya. "Kau ini ...." "Om sendiri yang menyuruhku istirahat cepat. Jika Om terus berada di sini, bagaimana aku mau istirahat?" protesnya. "Aku mau tidur denganmu," goda Marvel. "Om!" Mika melayangkan tatapan tajam ke arah Marvel. Kemudian, memalingkannya. Gadis itu lalu menunduk sambil meremas ujung selimut. Marvel tersenyum gemas dengan sikap polos Mika. "Sudahlah, kau istirahat saja, Gadis Kecil. Aku tidak akan menggoda mu lagi" ucap Marvel sambil mengacak pelan rambut Mika. Gadis itu menghela napas lega setelah Marvel keluar dari kamar. Meniup pelan dahinya hingga poninya sedikit bergoyang. "Dasar Om Marvel. Bikin merinding saja kata-katanya," monolog Mika. Gadis itu menarik selimut dan menyalakan lampu tidur. Memejamkan kedua matanya dan pergi ke alam mimpi. *** Marvel memenuhi janjinya mengantar Mika ke kampus. Meski keberatan, tetapi gadis itu tidak bisa menolaknya, ia takut Marvel marah dan menghukumnya. "Stop, Om!" seru Mika saat tiba di dekat kampus. "Kenapa? Belum sampai, loh," ucap Marvel bingung dan hampir terbentur kursi saat sopir mengerem mendadak. "Sampai sini saja. Aku tidak ingin ada yang lihat jika aku keluar dari mobil Om," alasan Mika. "Apa aku terlalu memalukan hingga kau tidak ingin aku antar sampai gerbang?" curiga Marvel. "Bu--bukan begitu, Om. Aku hanya ... tidak ingin terlalu mencolok. Tolong Om mengerti. Aku mohon," jelas Mika sambil menangkupkan tangannya penuh harap. Marvel menghela napas sedikit kasar dan menatap tajam ke arah Mika. Gadis itu mengedip-ngedipkan matanya dengan tangan yang masih ia tangkupkan. "Baiklah, Gadis Kecil. Nanti aku akan menjemputmu. Tidak ada penolakan," putus Marvel pada akhirnya. "Terima kasih, Om," ucap Mika senang. "Aku pergi dulu," pamitnya. "Tunggu dulu!" cegah Marvel. Ada apa?" "Bekalmu tertinggal. Ingat! Makan dengan teratur dan jangan sampai telat!" serunya dingin. "Tapi, Om ...." "Aish. Kau ini terlalu banyak tapi. Mau aku antar sampai dalam kampus?" ucapnya sedikit kesal. "Baiklah. Aku pergi dulu," putus Mika sambil membuka pintu dan melangkah meninggalkan Marvel. "Menggemaskan sekali," ucapnya sambil geleng-geleng kepala. Belum pernah aku melihat Tuan Marvel tersenyum seperti itu. Semenjak kejadian malam itu, Tuan Marvel jarang tersenyum. Bahkan selalu bersikap dingin dan suka marah-marah. Namun, semenjak Nona Mikaila datang, kehidupannya menjadi berubah. Sepertinya, Tuan Marvel sedang jatuh cinta dengan Nona Mika? Sandro, sopir sekaligus asisten pribadi Marvel memperhatikan bosnya dari balik sepion mobil. Merasa senang melihat perubahan pada diri pria yang terkenal dingin itu. "Ada apa?" tanya Marvel curiga, membayarkan lamunan Rama. "Emm. Tidak ada, Tuan." Sandro berusaha mengelak agar tidak membuat Marvel kesal. Dalam hati pemuda itu tersenyum melihat pola Marvel yang salah tingkah tidak jelas seperti itu. "Kembali ke kantor!" perintah Marvel. "Baik, Tuan." ~~~ Mikaila selesai kuliah lebih awal, ia keluar kampus dan melangkah sendiri menuju halte bus. Sengaja tidak mengatakannya pada Marvel karena tidak ingin merepotkannya. "Lebih baik aku jalan kaki ke halte bus. Kata teman-teman, tempatnya tidak jauh dari kampus. Aku tidak ingin merepotkan Om Marvel. Nggak saja sedang olah raga, gumamnya sambil melangkah santai Gadis itu sudah berjalan lebih dari satu setengah jam. Namun, belum sampai juga di halte. Rasa lelah mulai melanda. Sinar mentari yang cukup terik membuatnya berkeringat dan merasa letih. "Kenapa belum sampai juga? Aku sudah lelah sekali berjalan. Apa aku salah arah, ya?" monolognya sambil menyeka dahinya menggunakan lengan. Mika membungkuk dan memukul-mukul pelan lututnya. Mencoba meredakan rasa pegalnya. Napasnya mulai tersengal dan terasa sedikit sesak. "Apa masih jauh, ya? Aku sudah tidak sanggup lagi," ucapnya hampir tumbang. Seseorang datang menghampiri dan memapah tubuh Mikaila agar tidak terjatuh. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya lembut. Mika melirik ke arah sumber suara. Sesaat, ia terdiam. Memandang wajah tampan nan rupawan milik orang yang menolongnya. Tersenyum manis di hadapan dirinya. Membuat Mika meleleh. "Hei! Apa kau baik-baik saja?" tanyanya kembali penasaran. "A--aku baik-baik saja. Te--terima kasih sudah menolongku," ucap Mika setengah gugup. "Sama-sama. Apa yang lakukan siang hari seperti ini? Wajahmu tampak pucat," ucap orang itu penasaran. "Aku ...." "Mikaila!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD